
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah Dara sampai ke kampus, akhirnya mobil Alex sampai juga di depan kampus Dara.
"Ini kampus kamu sayang?" tanya Alex.
"Iya Mas," jawab Dara singkat.
"Kamu ambil jurusan apa? bisnis?" tanya Alex lagi.
Dara menggeleng.
"Nggak. Aku ambil tata boga Mas."
"Tata boga? kenapa tata boga?"
"Karena aku suka dengan memasak. Dan aku pengin jadi chef. Siapa tahu, besok aku jadi chef terkenal dan bisa masuk tv."
Alex hanya tersenyum saat mendengar ucapan Dara.
"Oh begitu. Ya udah, besok aku akan kembangkan bisnis aku di bidang perhotelan. Biar kalau suatu saat aku punya hotel sendiri, aku nggak perlu susah-susah nyari Chef. Dan aku juga punya restoran yang lumayan ramai. Setelah kamu lulus, nanti kamu bisa kerja sama aku sayang"
Dara tersenyum. Dia tidak mau berlama-lama berada di dalam mobil Alex.
"Aku turun dulu ya Mas," ucap Dara.
Dara membuka pintu mobilnya. Namun, Alex buru-buru menutupnya kembali.
"Ada apa Mas?" tanya Dara bingung.
"Ada yang ketinggalan," jawab Alex.
"Apa?" tanya Dara menatap sekeliling. Namun di sekeliling Dara tidak ada sesuatu yang tertinggal.
"Apanya yang tertinggal Mas?" tanya Dara.
"Ini Dara."
Alex memegang kening dan pipinya. Namun Dara sama sekali tidak tahu apa sebenarnya maksud Alex.
"Apa sih?"
"Cium Dara," ucap Alex tiba-tiba yang membuat Dara terkejut.
"Apa! kamu minta aku cium kamu? nggak! aku nggak mau. Kita kan belum nikah. Untuk apa kita melakukan seperti itu."
"Tapi kan cuma kening sama pipi sayang."
"Tetap aja dosa Mas. Udah ah, aku turun dulu."
"Dara, tunggu." Alex kembali menghentikan Dara.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih Mas? aku udah telat nih."
"Kamu pulang jam berapa hari ini?"
"Aku nggak tahu Mas. Dan lagian setelah pulang kampus kan, aku mau langsung ke kantor ayah kamu Mas. Aku masih kerja di sana."
"Iya. Maksud aku, biar aku yang antar jemput kamu ke kampus dan ke kantor. Biar kamu nggak susah-susah nyari taksi atau ojek gitu lho Dara "
"Mas, udahlah. Kamu fokus saja sama kerjaan kamu. Aku tuh tahu, kalau kamu itu orang sibuk. Nggak usah fikirin aku. Aku bisa kok kemana-mana sendiri."
"Tapi kalau ke kampus aku tetap harus ikut Dara. Bagaimana nanti kalau ada anak yang jahatin kamu di sini. Kamu kan anak baru. Bagaimana nanti kalau ada cowok yang godain kamu. Aku nggak rela lho, calon istri aku di godain lelaki lain."
"Mas, sudah deh. Lagian, kenapa kamu punya fikiran seperti itu sih. Mana ada Mas, cowok yang mau godain cewek cupu seperti aku. Nggak ada. Paling, cuma kamu satu-satunya cowok aneh yang suka sama aku."
"Hehe... ya udahlah." Alex menyodorkan tangannya.
"Apa!"
"Cium tangan aku sayang."
"Untuk apa?"
"Kan aku calon suami kamu.Jadi mulai sekarang, kamu harus cium tangan aku kalau mau pergi. Biar nanti kita akan bawa rutinitas ini setelah kita nikah sampai punya anak nanti."
Dara tersenyum.
Ih, dasar cowok aneh. Siapa juga yang mau nikah sama dia. Aku aja masih kuliah. Aku nggak mau dong, sebelum lulus kuliah nikah dan punya anak. Nggak kebayang bagaimana repotnya aku. Kuliah, ngurus suami, dan ngurus anak.
"Aku pergi dulu ya Mas."
"Iya sayang. Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, kamu kabarin aku."
"Iya."
Dara kemudian turun dari mobil Alex dan melangkah pergi masuk ke dalam kampusnya. Setelah Dara masuk ke kampus, Alex kemudian pergi meninggalkan kampus Dara.
***
"Bodoh...bodoh...bodoh...! semua anak buah aku itu bodoh semua. Kenapa mereka nggak ada yang becus sih kerjanya. Aku sudah suruh mereka meneror Vivi dan melenyapkan Vivi. Tapi selalu gagal. Apa aku yang harus turun tangan sendiri, untuk melenyapkan wanita sialan itu," gerutu Rita di kesendiriannya.
Selama ini Rita memang tidak pernah suka dengan Bu Vivi. Dia benci jika Bu Vivi sembuh dari sakitnya. Sudah berbagai macam cara Rita lakukan untuk membuat Bu Vivi kambuh lagi dari gangguan jiwanya.
Rita sudah menyuruh orang untuk meneror Bu Vivi di rumah Alex. Namun dari semua orang suruhan Rita gagal. Karena penjagaan di rumah Alex sangat ketat. Dan di setiap sudut rumah Alex juga sudah di pasang CCTV.
"Aku nggak mau, seperti ini terus. Aku harus segera menguasai harta Mas Rajasa. Aku nggak mau menunggu lama. Aku benar-benar sudah lelah menjadi istri lelaki tua itu. Jika aku bisa menguasai semua hartanya, aku akan usir dia dari rumah ini," ucap Rita.
Deru mobil dari luar rumah terdengar. Rita melangkah ke jendela kamarnya dan menatap ke luar. Di luar, tampak Anton turun dari mobilnya. Dia kemudian membukakan pintu untuk Pak Rajasa.
"Silahkan Tuan," ucap Anton.
__ADS_1
"Makasih Anton."
Pak Rajasa keluar dari dalam mobil.
"Panjang umur itu tua Bangka. Baru aku bicarakan dia, dia sudah nongol," ucap Rita sembari menutup korden jendelanya.
Setelah itu Rita pun pergi keluar dari kamar untuk menyambut kepulangan Pak Rajasa.
Sesampainya di teras depan rumah, Pak Rajasa mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, Rita membuka pintu depan rumahnya dan tersenyum saat melihat Pak Rajasa.
"Mas Rajasa, sudah pulang?" Rita meraih tangan Pak Rajasa dan mencium punggung tangan Pak Rajasa.
Setelah itu dia menggandeng Pak Rajasa masuk ke dalam rumahnya.
"Mas Rajasa, sudah makan?" tanya Rita.
"Belum Rita," jawab Pak Rajasa.
"Belum ya. Mau aku siapkan makan malam?"
"Boleh deh."
Sesampainya di ruang tengah, Pak Rajasa menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Dia kemudian membuka dasinya.
"Mas Rajasa, aku ke dapur dulu ya. Mau panggil pembantu untuk nyiapin makanan."
Baru saja Rita melangkahkan kakinya, Pak Rajasa sudah menghentikannya.
"Rita tunggu..."
Rita menoleh ke arah Pak Rajasa dan menghadapkan tubuhnya ke arah Pak Rajasa.
"Ada apa Mas?" tanya Rita.
"Rita. Aku mau mandi dulu. Tolong kamu siapkan air hangat ya untuk aku mandi. Makannya nanti saja."
"Oh. Baik Mas."
Rita kemudian melangkah ke kamar untuk menyiapkan air hangat untuk suaminya.
Pak Rajasa bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan untuk ke kamarnya.
Sesampainya di dalam kamarnya, Pak Rajasa menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Gimana ya, kuliah Dara. Dia nggak pernah cerita apa-apa sama saya tentang pengalaman barunya di kampus. Mudah-mudahan saja dia betah kuliah di kampus itu," ucap Pak Rajasa.
Beberapa saat kemudian, Rita istri Pak Rajasa keluar dari kamar mandi. Dia kemudian melangkah menghampiri suaminya.
"Mas, sudah aku siapkan air hangatnya. Kamu tinggal mandi saja. Nanti aku siapkan baju kamu ya."
__ADS_1
"Iya Rita. Makasih."