
Alex sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia akan ke kantor polisi untuk menemui Dara.
''Sebenarnya, Dara sekarang ada di kantor polisi mana ya," ucap Alex di sela-sela menyetirnya. Kantor polisi itu ada banyak. Alex bingung, mau mencari Dara di kantor polisi yang mana.
"Apa aku telpon Ratih aja. Katanya kan, Ratih itu mau ke kantor polisi."
Alex kemudian mengambil ponselnya untuk menelpon Ratih.
Tut...Tut...Tut...
"Ayo angkat dong Ratih...! Kenapa nggak di angkat sih.."
Sejak tadi Alex menelpon Ratih. Namun sampai tiga kali menelpon, Ratih belum mengangkat panggilan dari Alex. Membuat Alex menjadi geram.
"Ke mana ini sebenarnya Ratih. Kenapa dia nggak angkat telpon aku. Benar-benar wanita menyebalkan...!" ucap Alex sembari menatap ponselnya.
Alex meluncur ke salah satu kantor polisi yang ada di dekat rumahnya, untuk menanyakan tentang Dara. Namun, ternyata tidak ada wanita yang bernama Dara di sana.
Alex kemudian meluncur untuk ke kantor polisi yang lain. Namun, Dara juga tidak ada di sana.
Dan yang terakhir, Alex pergi ke kantor polisi yang jaraknya sudah cukup jauh dari rumahnya.
Alex turun dari mobilnya. Seorang polisi mendekat ke arah Alex dan memberi hormat. Sepertinya polisi itu mengenal Alex. Siapa orang yang tidak mengenal Alex. Semua orang mengenal Alex. Dia adalah seorang lelaki berkuasa yang sangat berpengaruh.
"Selamat pagi Pak Alex," sapa polisi itu.
"Pagi..."
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya polisi itu.
"Saya mau ketemu sama wanita yang bernama Dara. Apakah di sini, ada tahanan yang bernama Dara?" tanya Alex tanpa banyak basa-basi lagi.
Polisi itu diam. Dia seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kalau wanita yang bernama Dara, cuma satu di sini. Tapi dia sudah bebas tadi. Karena dia dinyatakan tidak bersalah. Kami semua cuma salah paham saja sama dia."
Alex mengernyitkan alisnya.
"Bebas? siapa yang sudah membebaskan dia?" tanya Alex.
"Temannya. Namanya Ratih," jawab polisi itu.
"Terus sekarang, mereka ke mana?"
"Dari kabar yang saya dengar, mereka mau pergi ke rumah sakit. Karena katanya ibunya Dara itu meninggal dunia."
Alex terkejut saat mendengar ucapan polisi.
"Apa!"
__ADS_1
Alex kemudian mengambil ponselnya. Dia menunjukkan foto Ratih dan Dara.
"Bukankah, mereka seperti ini orangnya?" tanya Alex sembari menyodorkan foto Ratih dan Dara yang ada di dalam ponselnya.
"Oh iya. Benar banget. Baru saja orangnya pergi."
"Pergi ke mana? ke rumah sakit?"
"Iya Pak. Betul."
"Kalau boleh saya tahu, rumah sakit mana?"
"Kalau itu saya kurang tahu Pak. Karena saya tidak sempat menanyakan ke mereka. Mereka pergi juga sangat buru-buru."
"Ya sudahlah, terimakasih untuk informasinya," ucap Alex.
Alex kemudian berjalan dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Dia kemudian meluncur pergi dengan mobilnya untuk mencari Dara ke rumah sakit.
"Ibunya Dara meninggal dunia. Tapi kapan? apakah itu yang membuat Dara kabur dari hotel," ucap Alex di sela-sela menyetirnya.
Alex masih tampak berfikir.
'Aku memang nggak begitu kenal dengan Dara. Aku juga nggak tahu di mana alamat rumahnya. Karena dia kerja di rumahku baru satu bulan. Tapi kenapa aku sangat kasihan melihat dia.'
Ring ring ring....
"Halo..."
"Halo Pak Alex. Meeting akan segera di mulai. Pak Rajasa sudah menunggu anda dari tadi."
"Iya. Nanti aku ke sana."
Tut Tut Tut ..
Alex menutup saluran telponnya dengan sepihak.
Hari ini di kantornya memang ada meeting penting dengan klien. Dan meeting ini adalah meeting besar, di mana Pak Rajasa turut hadir dalam meeting ini.
Tamu yang mereka undang untuk meeting juga bukan tamu sembarangan. Tapi mereka dari pengusaha-pengusaha besar.
"Duh, malas sebenarnya aku harus ikut meeting. Di sana, juga kan ada Papa," ucap Alex. "Mendingan aku cari Dara saja. Karena urusan aku dengan Dara juga belum kelar."
Alex mengemudikan mobilnya sampai ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, Alex pun turun dari mobilnya.
"Mudah-mudahan, aku nggak salah tempat. Mudah-mudahan, Ratih dan Dara, ada di rumah sakit ini, dan ada di dalam."
Alex berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Benar nggak sih, ini rumah sakitnya. Jangan-jangan, aku salah lagi. Aku coba dulu deh, tanya sama penjaga."
__ADS_1
Alex kemudian berjalan ke arah suster penjaga.
"Suter. Saya mau ketemu Dara."
"Dara siapa?"'
"Dara. Katanya, ibunya di rawat di sini. Dan semalam, dia meninggal dunia."
"Siapa nama pasiennya Pak?"
"Saya tidak tahu."
"Kalau anda tidak tahu, nama pasiennya, susah juga ya Pak. Semalam juga kan banyak orang yang meninggal."
"Saya cuma kenal nama anaknya saja. Namanya Dara."
"Duh Pak. Di sini, cuma ada daftar nama pasien. Nggak ada daftar nama penunggu."
Alex menghela nafas. Ratih dan Dara sudah benar-benar membuat kesabaran Alex habis.
''Kurang ajar mereka berdua. Apa mereka memang sengaja, membuat aku marah," geram Alex.
Tanpa banyak bicara lagi, Alex kemudian pergi meninggalkan rumah sakit itu.
"Hah, kalau nama pasiennya saja aku nggak tahu, bagaimana caranya aku mencari Dara. Atau jangan-jangan, Dara sudah kembali ke rumahnya. Dan dia akan memakamkan ibunya hari ini. Apa aku ke rumah Dara saja ya. Tapi, aku kan belum tahu alamat rumah Dara. Nelpon Dara juga percuma, nggak akan di angkat. Ratih juga, nggak tahu ke mana."
Alex sudah mulai berfikir keras untuk menemukan solusi. Agar dia bisa ketemu Dara. Karena Alex tidak akan pernah membiarkan Dara pergi setelah Dara mendapat kan cek sebesar itu.
"Aku harus cari tahu, di mana alamat rumah Dara. Tapi siapa ya yang tahu alamat rumah Dara. Dara itu kan bukan staf kantor. Jadi, nggak ada data-datanya sama sekali. Aku juga lupa, nggak catat nomer KTP dan alamat Dara"
****
Siang ini, semua orang masih berada di pemakaman Bu Dian. Mereka semua ikut serta mendoakan ibunya Dara. Setelah selesai, mereka satu persatu pergi meninggalkan makam. Hanya tersisa beberapa orang saja yang berada di sisi makam.
Dara, Oca dan Ica masih menangis. Sepertinya mereka masih belum ikhlas dengan meninggalnya Bu Dian. Karena cuma Bu Dian satu-satunya orang tua yang mereka punya.
"Hiks...hiks...hiks...ibu...." Isak tangis Oca dan Ica masih terdengar. Begitu juga dengan tangisan Dara. Mereka bertiga menangis di sisi makam ibunya.
"Sabar ya Dara, kamu harus ikhlaskan ibu kamu pergi. Biarkan dia tenang di sisi-Nya," ucap Ratih yang sejak tadi masih mencoba untuk menenangkan Dara.
Alex menatap tajam ke arah makam ibunya Dara. Dia ikut sedih juga, saat menyaksikan pemakaman ibunya Dara.
Dara sama sekali tidak tahu, keberadaan Alex sekarang. Karena Alex tidak mau menampakan batang hidungnya ke hadapan Dara. Dia lebih memilih bersembunyi di balik pohon besar dan menatap Dara dari kejauhan.
"Kasihan Dara. Apakah ke dua gadis remaja itu adiknya Dara, "gumam Alex saat melihat dua sosok gadis remaja yang ada di sebelah Dara.
Alex sejak tadi masih memperhatikan dengan seksama Dara dan ke dua gadis remaja yang ada di sisi Dara. Namun yang membuat Alex bingung, tak ada seorang lelaki pun di samping Dara saat ini.
"Ke mana ayahnya Dara. Dari tadi, aku nggak melihat ada lelaki di sisi Dara."
__ADS_1