
Dara mengangguk. "Iya Mas."
"Ayo Mas, masuk dulu!" Dara mempersilahkan Alex masuk ke dalam rumahnya.
"Iya Dara."
Alex dan Dara berjalan masuk ke dalam.
"Duduk dulu ya Mas. Aku mau mandi, sekalian mau ganti baju."
"Iya Dara. Aku tunggu di sini ya."
Dara kemudian berjalan ke kamarnya. Dia akan mandi dan bersiap-siap untuk ikut Alex ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, Dara keluar dan menghampiri Alex. Dara sudah siap dengan penampilannya seperti biasa.
"Mas, aku udah siap Mas," ucap Dara setelah berdiri di depan Alex.
"Nggak usah buru-buru. Duduk dulu sini, dekat aku..." Alex menepuk sofa menyuruh Dara duduk di dekatnya.
"Lagian masih pagi Dara, kamu nggak mau buatkan aku kopi dulu?"
"Mas Alex mau ngopi?"
"Ya, kalau ada."
"Ya udah. Aku buatin dulu ya."
Dara kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Alex. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu, sembari membawa secangkir kopi. Dan dia letakan kopi itu di atas meja.
"Kok cuma satu Dara, kamu nggak mau minum kopi?"
"Buat Mas Alex aja. Aku belum sarapan . Jadi aku nggak berani minum kopi. Biasanya perut aku sakit kalau belum makan lalu minum kopi."
"Kenapa belum sarapan? kamu nggak masak?"
"Nggak Mas. Kepala aku lagi sakit."
Alex terkejut saat mendengar ucapan Dara. "Kamu sakit?"
Alex memegang kening Dara dengan salah satu tangannya. Alex tampak mengkhawatirkan Dara.
"Aku nggak apa-apa Mas," ucap Dara sembari melepaskan tangan Alex.
"Katanya kamu sakit. Dara, setelah ini kita mampir dulu ya ke cafe. Kamu harus makan Dara. Gimana nanti kalau kamu sakit. Aku nggak mau sampai kamu sakit."
"Terserah Mas Alex saja."
"Ya udah. Aku minum dulu ya Dara."
Alex kemudian menyeruput kopi buatan Dara. Setelah itu, Alex bangkit berdiri.
"Ayo Dara. Kita berangkat sekarang."
"Kamu nggak habisin dulu kopinya mas?"
__ADS_1
"Nggak usah. Kita berangkat aja sekarang."
"Iya Mas."
Dara dan Alex kemudian keluar dari rumah. Sebelum pergi, Dara mengunci pintu depan rumahnya.
"Mas, tunggu di sini ya. Aku mau nitip kunci ini ke tetangga dulu."
"Iya Dara."
Dara kemudian berjalan ke rumah Bu Ratna untuk menitipkan kunci. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil Alex dan pergi bersama Alex.
****
"Mama kamu sendirian Mas? apa masih sama Mas Viko sekarang?" tanya Dara di sela-sela kunyahannya.
"Mama sama Doni dan anak buah ku yang lain."
Dara mengernyitkan alisnya.
"Doni?"
"Iya. Dia anak buah aku. Aku memang sengaja menyuruh anak buah aku untuk menjaga mama dengan ketat. Karena kemarin ada orang yang mau mencelakai mama aku," jelas Alex.
"Apa! mencelakai mama kamu? siapa Mas?"
"Waktu aku ngantar kamu pulang, ada lelaki bertopeng masuk ke dalam kamar mama. Dan suster yang sudah memergokinya. Tidak ada yang tahu, maksud kedatangan lelaki itu. Tapi sepertinya lelaki itu mau mencelakai mama aku Dara."
"Ya ampun, kasihan banget Bu Vivi."
"Ya ampun, kasihan banget sih Mama kamu Mas."
"Entahlah Dara, akhir-akhir ini banyak banget masalah di keluarga aku. Dan tadi pagi, papa aku laporan. Katanya uang satu milyar yang ada di brankasnya hilang di curi orang."
Dara terkejut saat mendengar penjelasan dari Alex.
"Apa! pak Rajasa kehilangan uang satu milyar. Banyak banget Mas."
"Iya Dara. Dan saat ini Papa mau menyelidiki siapa pelaku pencuri itu."
Dara diam dan tampak berfikir.
"Kira-kira siapa ya Mas, yang mau mencelakai mama kamu? dan siapa ya kira-kira yang udah mencuri uang itu?"
Alex tersenyum.
"Nggak usah ikut mikir Dara, nanti kamu tambah pusing. Makan aja yang banyak. Biar kamu nggak sakit."
Dara mengangguk. Setelah itu dia menyuapkan lagi satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
Dara terkejut saat tiba-tiba saja Alex mendekatinya.
"A-ada apa Mas?" tanya Dara tampak gugup.
"Maaf ya Dara, ada nasi di pipi kamu," ucap Alex sembari membuang sisa nasi yang menempel di pipi Dara.
__ADS_1
Dara langsung mengusap pipinya.
"Kalau makan jangan gelepotan gini dong Dara, bisa nggak sih, kamu makan dengan tertib," ucap Alex sembari mengusap-usap bibir Dara dengan tisu.
"Aku bisa sendiri Mas," ucap Dara sembari mengambil tisu itu dari tangan Alex.
Dara dan Alex sejenak saling menatap. Mereka tersadar saat garpu Alex terjatuh di lantai.
"Oh, garpunya jatuh Dara." Alex kemudian memungut garpunya yang ada di lantai. Setelah itu mereka melanjutkan makannya kembali.
****
Rita menatap nanar ke dua lelaki suruhannya.
"Hah, kalian ini benar-benar nggak ada yang becus ya kerjanya. Saya sudah bayar kalian mahal-mahal, tapi kalian malah gagal! seharusnya Vivi itu sudah mati sekarang..." ucap Rita dengan nada tinggi.
"Maafkan saya bos. Saya ketahuan suster waktu itu. Saya fikir, rumah sakit sudah sepi. Ternyata suster kebetulan masuk mau ganti infus. Dan saya ketahuan suster," ucap seorang lelaki.
Beberapa saat kemudian, pacar Rita datang.
"Ada apa ini sayang?" tanya Martin.
"Ini nih, dua orang ini. Kerja nggak ada yang becus. Masak melenyapkan satu orang aja nggak bisa. Mereka gagal Mas," Rita menuturkan dengan menatap Martin lekat.
Martin menatap nanar ke dua lelaki yang ada di depannya.
"Hah, kalian ini memang nggak ada yang bisa di andalkan lagi. Kalau kalian seperti ini terus, kami tidak akan mempekerjakan kalian lagi. Dan jangan sekali-kali kalian minta bayaran ke kami," ucap Martin.
"Jangan gitu dong Bos. Saya masih butuh uang bos."
"Sudahlah, kalian pergi saja. Jangan laporan padaku kalau gagal. Dan saya sudah tidak mau ngasih kalian uang lagi kalau kerja kalian masih seperti ini," ucap Rita.
"Tapi Bos..."
"Nggak ada tapi-tapian. Kalian sekarang pergi dan lenyapkan Vivi sekarang juga. Dan jangan sampai gagal lagi mengerti...! kalau gagal, jangan pernah kalian menampakkan batang hidung kalian lagi di depan saya," ucap Rita.
"Baik Bos. Kami akan kerjakan perintah bos.."
Ke dua lelaki itu kemudian pergi meninggalkan rumah Rita dan Martin.
Ya, Rita dan Martin sekarang sudah punya rumah sendiri. Dan itu hasil kerja keras Rita merongrong uang Pak Rajasa. Dia sudah berhasil membeli rumah dan membeli dua mobil mewah yang harganya sangat fantastis.
Setelah ke dua anak buahnya pergi, Martin dan Rita kemudian masuk ke dalam rumahnya. Mereka menuju ke kamar mereka.
Martin dan Rita tertawa saat melihat uang satu milyar itu ada di atas ranjang mereka.
"Lihatlah sayang, sekarang kita kaya raya, aku sudah berhasil membobol brankas suami tua bangkamu itu," ucap Martin.
Ke dua bola mata Rita membulat dengan sempurna saat melihat uang itu. Dia kemudian menatap Martin.
"Sungguh luar biasa kamu Mas. Selain licik, kamu juga cerdik ya..."
Hahaha...
Ke dua manusia licik itu tergelak...
__ADS_1
Suara tawanya sudah menggema ke seluruh sudut kamar.