Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Tangisan wanita


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah sakit, Pak Rajasa turun dari mobilnya. Sebelum pergi, dia menatap Anton.


"Ton, tunggu di sini Ton. Saya mau masuk ke dalam dulu sebentar," ucap Pak Rajasa.


Anton mengangguk. "Baik Tuan."


Pak Rajasa kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Dia menuju ke ruangan Oca. Sesampainya di depan ruangan Oca, Pak Rajasa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


"Dara," ucap Pak Rajasa saat melihat Dara sedang menyuapi Oca.


Dara menoleh ke belakang.


"Eh, Pak Rajasa," ucap Dara sembari bangkit berdiri.


Dara meletakan mangkuk di atas nakas. Dia kemudian mencium punggung tangan Pak Rajasa.


"Oca lagi makan ya?" tanya Pak Rajasa.


Oca tersenyum.


"Iya Om," jawab Oca.


"Ini, Om bawain Oca buah-buahan," ucap Pak Rajasa sembari meletakan parcel buah di atas meja.


"Makasih banyak ya Om," ucap Oca.


"Duh Pak Rajasa, harusnya Pak Rajasa nggak perlu repot-repot seperti ini," ucap Dara.


"Nggak apa-apa Dara. Ini buat Oca," ucap Pak Rajasa. Dia kemudian mendekat ke arah Oca.


"Oca, bagaimana keadaan kamu?" tanya Pak Rajasa menatap prihatin Oca.


"Aku baik-baik aja kok Om," jawab Oca.


"Kamu terluka ya?"


"Sedikit Om, di bagian bahu. Karena waktu kebakaran terjadi, api mengenai bahu aku. Tapi aku udah nggak apa-apa kok Om," jelas Oca.


Pak Rajasa menatap Dara lekat.


"Oh iya, kok sepi di sini Dara? di mana Ica?" tanya Pak Rajasa menatap sekeliling. Namun tak nampak ada Ica di sekelilingnya.


"Ica udah dibawa Bu Vivi pulang," jawab Dara.


"Oh, Ica ikut Vivi?"


"Iya Pak Rajasa. Tadi Bu Vivi ke sini, dan membawa Ica ke rumahnya. Soalnya Ica seperti masih trauma dengan kejadian tadi pagi."

__ADS_1


Pak Rajasa hanya manggut-manggut mengerti dengan apa yang Dara ceritakan.


"Ayo, duduk dulu Pak Rajasa." Dara mempersilahkan Pak Rajasa duduk.


"Iya."


Pak Rajasa kemudian duduk di kursi yang tersedia di dalam ruangan Oca. Begitu juga dengan Dara yang ikut duduk.


"Alex mana? dia tidak ada di sini?" tanya Pak Rajasa.


"Mas Alex dari tadi pagi memang ada di sini. Tadi dia keluar mau beli martabak katanya. Untuk cemilan kita," ucap Dara menjelaskan.


"Oh..." Pak Rajasa hanya ber'oh ria .


"Dara, sebenarnya apa sih yang tejadi? kenapa rumah kamu bisa kebakaran?" tanya Pak Rajasa penasaran.


"Saya juga kurang tahu Pak Rajasa. Karena waktu kejadian itu, saya tidak ada di rumah. Saya nginap di rumahnya Mas Alex," jawab Dara.


"Oh. Jadi adik kamu tadi pagi, cuma berdua aja di rumah?"


Dara mengangguk.


"Iya Pak Rajasa. Dan waktu kejadian itu, ke dua adik saya masih terlelap di atas tempat tidurnya. Untunglah pas kejadian itu, mereka terbangun. Jadi mereka bisa meminta tolong dan mencoba menyelamatkan diri."


"Kenapa bisa ada kebakaran ya? padahal Ica dan Oca kan tidak menyalakan apapun," Ucap Pak Rajasa heran.


"Oh, begitu? yah syukurlah yang penting Ica dan Oca selamat."


"Tapi rumah kita yang nggak selamat Pak Rajasa. Semuanya sudah ludes terbakar. Begitu juga dengan barang-barang peninggalan ayah dan ibu aku. Semuanya ikut terbakar dan tak ada yang tersisa."


"Sabar ya Dara, ini semua cobaan untuk keluarga kamu. Semua cobaan pasti akan ada hikmahnya. Yakinlah, kalau Allah akan mengganti semua kerusakan itu dengan yang lebih baik lagi."


"Rumah memang bisa di beli lagi atau di renovasi lagi. Tapi kenangan ibu dan ayah tidak akan bisa tergantikan," ucap Dara.


Di sela-sela Pak Rajasa dan Dara ngobrol, pintu ruangan Oca terbuka. Alex membuka pintu ruangan Oca. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Dia terkejut saat melihat ayahnya sudah ada di ruangan itu.


"Papa, kok Papa bisa ada di sini?" tanya Alex.


"Alex, kenapa kamu nggak telpon Papa kalau Oca sekarang lagi di rawat di sini? papa ke sini juga tahunya dari Dara. Kalau saja Papa tahu sejak tadi pagi Oca ada di rumah sakit, pasti Papa sudah ke sini sejak tadi pagi," ucap Pak Rajasa.


"Maaf Pa. Aku tadi pagi lupa mau ngabarin papa. Soalnya aku juga panik Pa. Sampai sekarang aja aku masih memikirkan kondisi Oca dan rumah Dara."


"Ya sudahlah, yang terpenting sekarang, Oca dan Ica selamat dari kebakaran itu. Masalah rumah, saya akan bangun kembali rumah itu," ucap Pak Rajasa.


"Kalau Oca dan Ica mau tinggal di rumah saya, saya juga akan izinkan mereka untuk tinggal di rumah saya," lanjut Pak Rajasa.


"Tidak Pa, mereka akan tinggal di rumah aku, untuk sementara," ucap Alex.

__ADS_1


"Ya sudah. Sama aja kok, tinggal di rumah Alex, atau di rumah saya."


Dara bangkit dari duduknya.


"Mas Alex, aku mau ke luar dulu sebentar," ucap Dara.


"Mau keluar mau ngapain?" tanya Alex.


"Mau beli tisu. Tisu sudah habis."


"Iya Dara. Kenapa kamu nggak titip tisu sekalian tadi ke aku.


"Maaf Mas. Aku lupa."


"Mau aku antar?"


"Nggak usah. Aku berani kok sendirian."


Tanpa banyak basa-basi, Dara kemudian melangkah ke luar dari rumah sakit untuk membeli tisu.


Setelah membeli tisu di luar rumah sakit, Dara kembali ke rumah sakit dengan membawa tisu. Dara terkejut saat melihat ada seorang wanita yang sedang duduk menangis di depan rumah sakit.


"Siapa wanita itu. Kenapa dia menangis," ucap Dara.


Dara yang penasaran, segera mendekat ke arah wanita itu. Dia kemudian duduk di samping wanita itu duduk.


"Hiks...hiks... jahat kamu Mas. Kamu sudah membohongi aku. Kamu bilang anak kita masih hidup, ternyata anak aku sudah mati," ucap wanita itu di sela-sela tangisannya.


"Mbak, Mbak kenapa?" tanya Dara pada wanita itu.


Selly menatap Dara lekat.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Selly.


"Maaf Mbak. Tadi aku melihat Mbak menangis sendiri. Aku nggak tega melihat Mbak. Mbak lagi ada masalah? barang kali Mbak mau ceritakan semua masalah Mbak ke aku. Aku akan mendengar semua keluh kesah Mbak. Siapa tahu dengan Mbak cerita masalah Mbak, akan bisa membuat Mbak jauh lebih tenang."


"Untuk apa aku cerita masalah aku sama kamu. Aku aja nggak kenal sama kamu," ucap Selly ketus.


Dara menyodorkan tangannya.


"Nama saya Dara Mbak. Mbak bisa panggil saya Dara."


Selly diam. Dia tampak ragu untuk bersalaman dengan Dara. Selly takut kalau Dara adalah orang yang mau menjahatinya. Akhirnya setelah lama dia berfikir, dia mau juga bersalaman dengan Dara.


"Aku Selly," ucap Selly memperkenalkan diri.


Selly dan Dara kemudian bersalaman.

__ADS_1


__ADS_2