
"Dokter, bagaimana kondisi mama saya?" tanya Alex pada dokter setelah dokter memeriksa kondisi Bu Vivi.
"Dokter, yang saya lihat, mama saya sudah tidak histeris lagi. Apakah itu, tandanya dia sudah sembuh dari gangguan jiwanya?"
Dokter menatap Alex dan Viko bergantian.
"Kalau kondisi kejiwaan Bu Vivi, saya tidak tahu, karena saya bukan dokter ahli jiwa. Tapi kalau soal Bu Vivi tidak ingat apapun bisa jadi, karena dia mungkin amnesia. Karena benturan keras di kepalanya membuatnya amnesia."
"Tapi apakah ibu saya bisa mengingat lagi semua? apakah dia bisa sembuh dari amnesianya?"
"Insya Allah bisa. Tapi untuk sementara Bu Vivi tidak boleh berfikiran yang berat-berat dulu. Jangan paksa Bu Vivi untuk mengingat sesuatu dulu. Biarkan dia dulu. Nanti saya akan obati dia. Agar dia bisa pulih seperti sedia kala. Kalau masalah kejiwaan, anda mungkin yang lebih mengerti dokter Viko?" dokter menatap Viko lekat.
"Iya. Saya pun sedang berusaha untuk mengobati Tante Vivi dengan pengobatan dan perawatan terbaik."
"Ya sudah ya Pak Alex. Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau sudah ada kemajuan dengan keadaan ibu anda, ibu anda lusa mungkin sudah saya perbolehkan pulang."
"Iya Dok. Terima kasih banyak."
Setelah dokter pergi, Alex menatap Viko.
"Vik, thanks banget ya karena kamu sudah membantu mama aku untuk sembuh dari kejiwaannya. Sepertinya mama aku, sudah mulai sembuh dari gangguan jiwanya. Mudah-mudahan setelah ini, mama aku bisa melewati kehidupannya seperti orang normal lainnya."
"Iya Lex. Sama-sama."
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Viko mengejutkan Viko dan Alex.
"Siapa yang nelepon Vik? istri kamu?" tanya Alex.
Viko mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya.
"Iya. Istri aku nelepon. Tunggu sebentar ya Lex. Aku angkat telpon dulu."
"Iya."
Viko kemudian pergi menjauh untuk mengangkat telpon dari istrinya. Sementara Alex masuk ke dalam ruangan ibunya kembali.
Alex menatap Dara yang sedang ngobrol dengan Bu Vivi. Dia kemudian mendekat ke arah Dara dan Bu Vivi.
"Mama, aku mau bicara sebentar sama Dara," ucap Alex.
Bu Vivi menatap Alex.
"Iya Alex. Silahkan."
Alex kemudian mengajak Dara keluar dari ruangan Bu Vivi.
"Ada apa Mas?" tanya Dara menatap Alex lekat.
__ADS_1
"Kamu mau pulang?" tanya Alex.
"Tapi, nanti kamu sendirian gimana?"
"Nggak apa-apa aku sendiri. Lagian Mama juga sudah mulai membaik kok. Kalau kamu mau pulang, pulang aja Dara. Nanti biar aku dan Viko yang gantian jaga Mama di sini."
Dara tampak bingung. Sebenarnya dia memang ingin pulang. Karena ke dua adiknya sudah menunggu dia di rumah.
"Ya udah deh, aku mau pulang. Aku mau naik taksi pulangnya."
"Jangan dong, kenapa naik taksi. Aku kan bisa antar kamu pulang?"
"Tapi nanti Bu Vivi sendiri gimana?"
"Aku bisa titipkan mama dulu ke Viko."
"Kamu tega ya mau ninggalin mama kamu sama orang lain."
"Hei, Viko itu bukan orang lain. Dia sahabat dekat aku. Dia sudah dekat dengan aku waktu kami SMP. Dan aku sudah sangat mempercayai dia. Dia itu, juga dokternya mama."
"Dokternya mama kamu?"
"Iya. Dokter spesialis jiwa."
"Oh..." Dara manggut-manggut tampak mengerti.
"Ya udah deh, aku mau diantar pulang."
"Istri kamu mau ngapain nelpon? dia mau nyuruh kamu pulang?" tanya Alex.
"Nggak. Dia cuma nanyain aku ada di mana. Dan aku bilang aku mau temani kamu di rumah sakit."
"Oh."
Viko menatap Dara.
"Ngapain Dara di sini? seharusnya kan dia ada di dalam nemenin mama kamu?' tanya Viko.
"Aku mau antar dia pulang. Kasihan dia dari kemarin belum pulang."
"Oh. Ya udah kalau mau pulang. Biar saya yang di sini nungguin Tante Vivi."
"Makasih ya Vik," ucap Alex.
"Aku mau izin dulu sama Bu Vivi. Sekalian mau ambil tas aku di dalam."
"Iya Dara."
Dara kemudian masuk ke dalam ruangan Bu Vivi untuk mengambil tasnya sekalian berpamitan pada Bu Vivi.
__ADS_1
Dara mendekat ke arah Bu Vivi dan duduk di dekat Bu Vivi.
"Bu, Dara mau pulang dulu ya," ucap Dara." Ibu sama mas Alex dulu di sini."
Bu Vivi menatap Dara lekat.
"Kenapa kamu mau pulang? kamu mau tinggalin ibu sendiri?" tanya Bu Vivi tampak sedih.
"Bu, aku nggak akan ninggalin ibu kok. Aku mau pulang sebentar. Nanti besok aku akan ke sini lagi."
"Tapi ibu takut di tinggal sendiri Dara."
Dara meraih tangan Bu Vivi dan menggenggamnya erat.
"Ibu tenang aja ya. Mas Alex sama Mas Viko akan jagain ibu di sini. Ibu aman kok, sama mereka. Dara pulang cuma mau ganti baju. Besok Dara janji akan ke sini lagi. Mas Alex itu anak ibu. Dia sayang sama ibu. Mas Viko temannya Mas Alex dan dia juga baik kok. Andai ibu bisa mengingat semuanya..."
"Baiklah Dara. Kamu pulang sendirian? ini sudah malam?"
Dara tersenyum.
"Mas Alex yang mau ngantar aku. Dan ibu akan dijagain Mas Viko di sini. Nggak apa-apa ya Bu."
"Baiklah Dara. Nggak apa-apa kalau kamu mau pulang."
Beberapa saat kemudian, Viko dan Alex masuk ke dalam ruangan Bu Vivi.
"Ma, aku mau antar Dara pulang ya. Mama sama Viko dulu di sini."
"Iya Alex."
Setelah berpamitan pada ibunya, Alex kemudian pergi untuk mengantar Data pulang. Mereka melangkah keluar dari rumah sakit dan menuju ke tempat parkir. Dara dan Alex kemudian masuk ke dalam mobil mereka dan meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
Dara menatap Alex lekat.
"Mas, kamu nggak mau telpon Pak Rajasa," ucap Dara.
"Untuk apa Dara?"
"Bilang, kalau Bu Vivi sudah siuman."
"Nggak perlu. Untuk apa Papa tahu hal ini."
"Tapi kan dia juga berhak tahu Mas. Kasihan tadi waktu dia datang ke rumah sakit aja, dia sangat sedih. Dan dia sampai nangis saat melihat kondisi mama kamu," ucap Dara.
"Sudahlah Dara. Jangan bahas Papa saat sedang bersamaku. Karena aku sudah muak. Sebelum Papa cerai dengan Rita, aku pastikan hubungan aku dan Papa tidak akan pernah baik-baik saja."
"Kenapa kamu seperti itu sih Mas? bagaimana pun juga, dia itu ayah kandung kamu. Sejahat apapun dia, sebagai anak kamu harus menghormatinya."
"Papa sudah menyakiti mama dan sudah membuat mama gila Dara. Kalau saja Papa tidak menikahi Rita, pasti mama aku nggak akan gila. Kenapa kamu nggak paham-paham juga sih Dara. Jangan mentang-mentang ayah kamu itu sahabat ayah aku, kamu jadi belain ayah aku terus," ucap Alex dengan nada tinggi.
__ADS_1
Sepertinya Alex marah saat Dara tidak berhenti membahas soal ayahnya.