Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kabar buruk


__ADS_3

Beberapa orang tampak masih berkerumun di pinggir jalanan yang ada di dekat pasar.


"Tadi ada anak ke serempet mobil di sini," seorang lelaki menunjuk tempat di mana letak kecelakaan tadi.


"Seperti apa ciri-cirinya Pak?" tanya seorang ibu pada lelaki itu. Dia tampak penasaran dengan cerita lelaki itu.


"Dia sepertinya masih remaja SMP. Dia mau nyebrang jalan, tapi ada mobil melaju cepat dari arah sana. Dia hampir saja tertabrak mobil itu. Untung, mobilnya ngerem mendadak dan hanya menyerempet sedikit saja tubuh remaja itu," jelas lelaki itu.


"Terus, dia nggak apa-apa?" tanya ibu itu lagi.


"Iya. Untung saja dia tidak apa-apa dan pemilik mobil juga mau tanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit."


Oca terkejut saat mendengar bisik-bisik kerumunan orang-orang itu. Oca takut kalau seseorang yang sedang dibicarakan itu adalah Ica kembarannya.


"Jangan-jangan, itu Kak Ica lagi. Soalnya dari tadi aku nyari Kak Ica nggak ada," ucap Oca.


Oca kemudian berjalan dan mendekat ke arah kerumunan orang-orang itu.


"Pak, Bu, bagaimana ciri-ciri orang yang ketabrak tadi?" tanya Oca tanpa basa-basi lagi.


Seorang lelaki yang tadi melihat tepat kejadian itu terkejut saat melihat Oca.


"Lho dek, kamu bukanya tadi dibawa mobil? kamu kan anak remaja yang tadi ke tabrak mobil?" ucap lelaki itu yang berfikir kalau Oca adalah korban kecelakaan tadi. Karena Ica mempunyai wajah yang sangat mirip dengan Oca.


'Benarkan, kalau itu Kak Ica.' batin Oca yang sudah merasa khawatir dengan kondisi kembarannya.


"Bukan Pak, itu bukan saya. Mungkin itu kembaran saya. Soalnya, saya juga lagi nyari kembaran saya. Namanya Ica. Tadi dia masih bersama saya. Tapi sekarang dia nggak ada," ucap Oca.


"Oh,jadi kalian kembar. Tadi saudara kembar kamu, dibawa mobil dek," ucap bapak itu menuturkan.


Oca terkejut saat mendengar penjelasan salah satu bapak-bapak yang ada di situ. Oca tidak bisa menahan tangisannya. Dia kemudian menangis di depan orang-orang itu.


"Hiks...hiks...hiks..."


"Kakak kembar aku dibawa ke mana Pak?" tanya Oca di sela-sela tangisannya.


"Mungkin ke rumah sakit. Karena tadi kembaran kamu terluka. Dan lukanya cukup parah," jelas bapak-bapak itu.


"Duh, Kak Ica. Kenapa sih, Kak Ica bisa seperti ini," gumam Oca sembari mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Kamu tenang saja Dek. Saudara kamu pasti tidak kenapa-kenapa. Soalnya tadi si penabrak langsung membawa saudara kamu ke rumah sakit."


"Iya Pak. Makasih banyak ya Pak atas infonya."


Setelah mengetahui kejadian itu, Oca langsung bergegas pergi untuk mengumpulkan teman-temannya yang kebetulan sedang main bersama di pinggir jalanan dekat pasar.


"Teman-teman, ada kabar buruk," ucap Oca.


"Kabar buruk apa?" tanya Rida sahabat Oca.


"Ica kecelakaan. Dan dia dibawa mobil tadi."

__ADS_1


Rida terkejut saat mendengar penuturan Oca.


"Kamu serius? Ica kecelakaan."


"Iya. Tadi ada bapak-bapak yang lihat Ica keserempet mobil. Dan Ica dibawa pergi oleh yang punya mobil. Tapi aku nggak tahu mobil itu mau membawa Ica ke mana."


"Terus sekarang kita harus gimana?"


"Aku mau harus telpon Kak Dara," ucap Oca.


****


Dara masih ketar-ketir di dalam rumah Alex. Sebenarnya Dara takut untuk bertemu Alex. Tapi dia tetap ingin menemui Alex untuk mengembalikan cek itu. Menurut Dara, cek itu sudah tidak berguna lagi untuknya setelah ibunya meninggal.


"Dara, kamu kenapa?" tanya Ratih yang melihat Dara masih tampak mondar-mandir sejak tadi.


"Mbak, Tuan Alex belum pulang?" tanya Dara.


"Mobilnya nggak ada di depan. Berarti dia belum pulang Dara. Kamu kenapa sih, kayak orang ketakutan gitu?" tanya Ratih.


"Mbak, aku sebenarnya belum siap untuk ketemu Tuan Alex. Aku takut dia akan marah padaku."


"Sabar Dara. Kamu harus bisa menghadapi Tuan Alex. Kamu bicara saja jujur sama Tuan Alex. Tuan Alex lebih suka kejujuran dari pada kebohongan."


"Iya. Aku tahu Mbak."


Ring ring ring...


"Tuh, ponsel kamu bunyi," ucap Ratih


Dara mengambil tasnya yang ada di atas meja. Setelah itu dia merogoh ponselnya yang ada di dalam tasnya.


"Dari siapa Dara? Tuan Alex?" tanya Ratih.


Dara menggeleng.


"Dari adik aku," ucap Dara.


Dara kemudian menerima panggilan dari Oca.


"Halo Kak..."


"Halo Oca. Ada apa?"


"Kak Dara gawat Kak. Gawat ..!"


"Gawat kenapa Ca?"


"Kak Ica Kak. Kak Ica kecelakaan. Dan tadi dia dilarikan ke rumah sakit."


"Apa! Ica kecelakaan. Sekarang kamu di mana?"

__ADS_1


"Aku ada di jalan dekat pasar Kak. Tadi kata bapak-bapak yang melihat Kak Ica kecelakaan bilang, kalau Kak Ica dibawa mobil. Dan aku nggak tahu, Kak Ica itu dibawa ke mana."


"Apa! kok bisa seperti itu sih Ca. Kamu nggak bareng sama kakak kamu. Kalian lagi ngapain main di dekat pasar."


"Maafin aku Kak... aku juga nggak tahu, kejadiannya akan seperti ini. Biasanya kami juga suka main sepeda di sini."


"Ya udah. Kakak pulang sekarang ya."


"Iya Kak. Kita cari Kak Ica sama-sama."


"Iya. Kakak ke sana sekarang."


Dara menutup saluran telponnya. Setelah itu dia menatap Ratih.


"Ada apa Dara?" tanya Ratih.


"Ratih. Aku harus pulang sekarang. Adik aku kecelakaan tadi di jalan," jawab Dara.


"Apa! kecelakaan? siapa yang kecelakaan?"


"Ica. Dia kecelakaan dan sekarang Oca nggak tahu Kakaknya itu ada di mana. Karena setelah kecelakaan Ica langsung dibawa oleh mobil orang yang menabraknya."


"Ya udah. Kamu hati-hati ya."


"Iya."


Dara kemudian pergi meninggalkan rumah Alex untuk menemui Oca yang saat ini masih berada di pinggir jalanan dekat pasar.


****


Setelah kepergian Dara, mobil Alex muncul dari luar gerbang. Setelah seharian Alex mencari ibunya, Alex pun merasa lelah. Dia kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dan saat ini Alex sudah berada di halaman depan rumahnya.


Alex turun dari mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya di ruang tengah, Alex kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Dia kemudian duduk di atas sofa.


"Mama, mudah-mudahan mama nggak kenapa-kenapa," ucap Alex sembari mengurut keningnya.


Tiba-tiba saja, fikiran Alex tertuju pada Dara wanita yang sudah membohonginya dan membawa kabur cek sebesar dua puluh juta.


"Dara, kenapa aku lupa ya sama si cupu itu. Aku harus tanyakan Dara pada Ratih," ucap Alex.


Alex bangkit dari duduknya. Dia kemudian ke belakang untuk menemui Ratih.


"Ratih...! Ratih...!" seru Alex.


Beberapa saat kemudian, Ratih menghampiri Alex.


"Tuan Alex, anda sudah pulang? apakah ibu anda sudah ditemukan?" tanya Ratih.


"Belum Ratih. Mana Dara? apakah dia datang ke sini? atau dia memang kabur dan nggak mau kerja di sini lagi?"


'Duh, kenapa Tuan Alex masih menanyakan soal Dara sih. Kenapa dia nggak ikhlaskan saja cek itu untuk menolong Dara. Kasihan Dara. Kemarin ibunya meninggal, sekarang adiknya kecelakaan. Dan dia juga ada masalah dengan Tuan Alex. Banyak banget sih, masalah Dara'

__ADS_1


__ADS_2