
Setelah meeting selesai, semua orang pergi keluar dari ruang meeting. Tinggal Alex yang masih berada di ruang meeting.
Pak Rajasa dan Alex memang punya banyak cabang perusahaan. Dan Alex tidak menetap di kantor ayahnya, karena Alex juga punya kantor sendiri.
Setelah lama Alex ikut bekerja di kantor ayahnya, dia saat ini sudah bisa mendirikan perusahaan sendiri dan sudah bisa membuka cabang perusahaan baru yang sudah membuat namanya melambung tinggi. Namun dia tetap masih menjalin kerja sama dengan perusahaan lama ayahnya Raharja group dan sering bolak-balik ke kantor ayahnya.
Berkat kegigihannya, Alex bisa menjadi seorang pengusaha muda terkenal seperti ayahnya. Bahkan, namanya lebih dikenal luas dari pada ayahnya. Dia juga sudah dikenal di kalangan artis papan atas, karena Alex juga punya perusahaan di bidang fashion.
Alex bangkit dari duduknya. Dia kemudian keluar dari ruang meeting. Dia berjalan ke arah ruangannya yang ada di dekat ruangan ayahnya.
Alex masuk ke dalam ruangannya dan duduk di tempat kerjanya. Beberapa saat kemudian, telpon yang ada di atas meja kerja Alex berdering. Alex mengangkat panggilan telpon itu.
"Halo..."
"Alex, ke ruangan Papa sekarang,"
"Baik Pa."
Tut Tut Tut...
Alex bangkit dari duduknya setelah memutuskan saluran teleponnya. Dia kemudian keluar dari ruangannya dan berjalan untuk ke ruangan ayahnya. Alex masuk begitu saja ke ruangan ayahnya. Membuat Pak Rajasa sedikit geram pada anaknya.
Tidak sekali dua kali Alex seperti itu, tapi sudah sering sekali dia tidak ketuk pintu atau mengucapkan salam dulu sebelum masuk ke ruangan.
"Alex, bisa nggak kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan," ucap Pak Rajasa menatap Alex tajam.
"Untuk apa aku harus ketuk pintu. Kan aku masuk ke ruangan Papa. Bukan ke ruangan orang lain."
"Tapi kamu tetap harus menjaga sopan santun di kantor ini Alex. Kamu anaknya seorang bos besar, kamu harus bisa menjaga sopan santun. Kamu harus bisa menjaga harga diri keluarga kita. Apa yang akan orang katakan, kalau mereka melihat seorang CEO sangat tidak sopan seperti mu."
"Nggak usah bicara harga diri. Kayak papa punya harga diri aja. Apa papa lupa, dengan apa yang sudah papa lakukan pada mama."
Pak Rajasa diam. Dia tidak suka jika Alex menyinggung Pak Rajasa tentang masa lalunya.
"Alex, bisa nggak sih kalau kamu lagi bicara dengan Papa, jangan bahas soal mama kamu. Ini di kantor. Tidak pantas rasanya membicarakan hal pribadi di dalam kantor."
"Pa, apa selama ini Papa pernah memikirkan Mama. Nggak kan, padahal mama itu masih istri sah papa. Kalian belum bercerai. Tapi papa nggak pernah memikirkan keadaan mama," ucap Alex.
"Alex, berhenti untuk bicara begitu. Siapa yang nggak memikirkan Mama kamu. Papa setiap hari selalu memikirkan Mama kamu. Dan Papa juga memikirkan kamu Alex. Kamu anak kebanggaan Papa. Anak laki-laki satu-satunya yang akan mewarisi semua kerajaan bisnis Papa."
__ADS_1
Alex menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Dia kemudian menatap ayahnya tajam.
"Semua ucapan Papa itu salah. Aku tahu, kalau yang selama ini Papa fikirin itu cuma si Rita, istri baru Papa. Asal Papa tahu ya, Rita itu tidak pernah mencintai Papa. Dia cuma mencintai harta Papa. Tapi kenapa papa begitu bodoh, terus saja percaya sama dia."
"Alex, Rita bukan perempuan seperti itu. Dia perempuan baik-baik. Seharusnya kamu yang berfikir. Selama ini kamu selalu menyalahkan Rita. Kamu selalu bilang kalau Rita penyebab mama kamu gila. Padahal Rita nggak salah apa-apa. Mama kamu, gila karena dia tidak bisa menerima takdirnya."
"Pa, buka mata papa. Aku kenal Rita, jauh sebelum Papa kenal dengan Rita. Rita itu bukan wanita baik-baik. Kenapa papa harus nikahi wanita seperti dia. Padahal di luar sana, wanita yang jauh lebih baik dari Rita itu banyak."
"Alex, cukup! jangan pernah kamu menjelekan Rita di depan Papa. Karena Papa nggak suka itu. Bagi papa Rita itu wanita yang sangat baik. Dan Papa menikah dengan dia karena ibu kamu sudah tidak bisa memberikan anak lagi untuk Papa. Jadi apa salah, kalau papa nikah lagi untuk mendapatkan keturunan.
"Harta papa banyak, dan anak papa cuma kamu. Dan sampai sekarang aja kamu belum mau menikah dan punya anak. Lalu, apa salah kalau papa nikah lagi karena papa ingin punya anak lagi untuk mewarisi harta-harta Papa."
"Keturunan? terus mana keturunan papa? mana? apa Rita bisa memberikan keturunan untuk Papa? Lima tahun kalian menikah. Tapi sampai saat ini, kalian juga nggak diberikan seorang anak."
Pak Rajasa menghela nafas dalam. Dia tidak sanggup berdebat dengan anak keras kepala seperti Alex.
"Alex, kalau kamu ke sini mau berdebat sama Papa, lebih baik kamu pergi saja dari ruangan ini. Papa pusing Alex."
Alex diam. Dia tidak lagi bicara. Alex takut kalau dia banyak bicara, ayahnya akan sesak nafas dan dadanya akan sakit. Karena selama ini, Pak Rajasa punya riwayat penyakit jantung.
"Pa, baiklah. Aku nggak akan bicara soal mama lagi. Sekarang, aku mau tanya untuk apa papa memanggil aku ke sini?" tanya Alex.
"Papa mau ke luar kota, untuk beberapa hari. Apakah kamu mau menggantikan Papa di sini?"
"Terus, bagaimana dengan kantor aku?"
"Ya carilah orang kepercayaan kamu untuk mengurus perusahaan kamu."
Alex tampak berfikir.
"Baiklah. Berapa hari Papa akan pergi?"
"Mungkin, satu minggu paling cepat. Dan paling lama satu bulan."
"Okelah kalau cuma itu. Aku pergi dulu Pa. Masih banyak kerjaan yang harus aku urus."
Alex bangun dari duduknya. Dia kemudian keluar dari ruangan Pak Rajasa.
****
__ADS_1
Siang ini, Dara masih berada di kantin. Dia sedang makan siang bersama dengan karyawan Pak Rajasa yang lain.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Dara berbunyi. Dara segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Setelah itu dia mengangkat panggilan telpon itu.
"Halo Dara..."
"Iya Pak Rajasa."
"Kamu di mana?"
"Saya lagi makan Pak di kantin,"
"Setelah makan, kamu ke ruangan saya ya."
"Iya Pak."
"Ya udah. Saya tunggu."
"Iya."
Setelah Pak Rajasa menutup saluran telponnya, Dara kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dia kemudian melanjutkan makannya.
"Mau ngapain lagi ya, Pak Rajasa mengundang aku ke ruangannya. Apa dia butuh sesuatu, atau dia mau melanjutkan ceritanya lagi," ucap Dara.
Ranti tersenyum saat melihat Dara. Dia kemudian mendekat ke arah Dara.
"Dara, sendirian aja?" tanya Ranti.
Dara menoleh ke arah Ranti.
"Eh, Mbak Ranti. Mau makan juga ya?"
Ranti mengangguk.
"Iya. Boleh saya duduk di sini?" tanya Ranti.
"Iya boleh Mbak. Silahkan. Di sini juga kosong kok."
__ADS_1
Ranti kemudian duduk di dekat Dara untuk makan di kantin.