
"Tuan, tadi Dara sudah pulang Tuan."
"Dia ke sini?"
"Tadi pagi Dara memang ke sini. Dia kerja seperti biasa. Dia sudah mencuci dan menyetrika baju-baju Tuan," ucap Ratih menjelaskan.
"Terus sekarang dia ke mana?" tanya Alex.
"Dia sudah pulang Tuan," jawab Ratih yang membuat Alex tampak marah.
"Pulang? kenapa kamu biarkan Dara pulang? aku masih punya urusan sama dia." Alex menatap Ratih tajam. Membuat Ratih sedikit takut. Namun Ratih sudah biasa menghadapi kemarahan Alex.
"Maaf Tuan. Tapi tadi Dara buru-buru pulang karena ada sedikit masalah di rumahnya."
"Masalah apa?" tanya Alex.
Ratih diam. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Alex. Haruskah Ratih menceritakan semua masalah Dara pada Alex. Belum tentu juga Alex akan berbaik hati pada Dara.
Di tengah-tengah percakapan Alex dan Ratih. Ponsel Alex tiba-tiba saja berdering.
Ring ring ring ...
Alex kemudian mengangkat panggilan dari Doni anak buahnya.
"Halo Don."
"Pak Alex. Ada kabar bagus buat Anda. Saya sudah menemukan ibu anda."
Alex tersenyum bahagia saat mendengar kalau ibunya sudah ditemukan.
"Sekarang kamu ada di mana?"
"Saya masih ada di jalan Pak Alex bersama ibu anda."
"Baiklah. Bawa mama ke rumah."
"Baik Pak."
Alex kemudian memutuskan saluran telponnya.
"Telpon dari siapa Tuan?" tanya Ratih penasaran.
"Dari Doni. Katanya Mama sudah ditemukan."
Ratih tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu Tuan.
Setelah mendapatkan telpon dari Doni, Alex berjalan pergi meninggalkan ruang tengah. Dia melangkah menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Sesampai di kamar, Alex menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia kemudian menatap ke arah jendela.
Alex bangkit dari duduknya. Dia kemudian mendekat ke arah jendela. Alex menerawang ke luar jendela kamarnya. Membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu, sebelum ibunya gila.
****
flashback
Malam itu, Bu Vivi tampak masih resah memikirkan suaminya. Sudah satu bulan Pak Rajasa tidak pulang ke rumah dan selama satu bulan itu, Pak Rajasa juga tidak pernah menghubungi Bu Vivi.
"Mama, dari tadi pagi mama belum makan. Sekarang mama makan ya, aku temani." Ucap Alex yang sudah duduk di dekat Bu Vivi.
Bu Vivi menatap Alex lekat.
"Ke mana papa kamu Alex? kenapa dia belum pulang juga. Sudah satu bulan papa kamu pergi. Dan sampai sekarang dia juga tidak bisa dihubungi," ucap Bu Vivi dengan wajah sendu.
"Aku nggak tahu, kemana papa pergi Ma. Kalau aku tahu keberadaan Papa, aku pasti sudah menyusul papa ke sana dan menyuruh papa pulang."
Bu Vivi diam. Wanita setengah abad itu hanya bisa menangis.
"Ma, Seandainya aku tahu di mana Papa, aku akan paksa papa pulang atau aku akan bawa mama ke tempat Papa. Aku nggak tega melihat mama seperti ini Ma, jangan nangis Ma. Papa pasti akan kembali."
"Hiks...hiks... mama takut Alex. Mama takut kalau papa kamu punya wanita lain di luar sana," ucap Bu Vivi di sela-sela tangisannya.
Alex terkejut saat mendengar ucapan ibunya. Alex berfikir, mungkinkah ayahnya akan setega itu menyakiti hati ibunya.
"Ma, jangan berfikiran macam-macam. Mama percaya saja sama Papa Ma. Papa itu setia sama mama. Lagian, papa juga sudah tua. Siapa wanita yang mau sama dia."
Namun Alex anaknya, tidak pernah menaruh rasa curiga sedikit pun pada ayahnya. Dia masih berfikir kalau ayahnya adalah ayah terbaik untuknya. Karena Pak Rajasa sudah membuat Alex menjadi seorang pengusaha terkenal seperti saat ini.
"Ma, sudahlah. Mama tenang saja. Jangan fikirin Papa terus. Kalau ada apa-apa sama Papa di luar sana, pasti akan ada yang mengabari kita. Sekarang mama makan ya. Aku temani," ucap Alex.
Alex mengambil piring untuk ibunya. Setelah itu dia mencedokan nasi dan lauk pauk ke dalam piring itu.
"Ini buat Mama," ucap Alex sembari meletakan piring itu di depan ibunya.
Bu Vivi hanya diam. Dia sama sekali tidak mau melirik makanannya. Sementara Alex mengambil piring satu lagi untuknya makan. Alex mengambil nasi dan lauk pauk. Setelah itu dia menyantap makanannya.
Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah Bu Vivi.
Bu Vivi tersenyum.
"Alex. Papa kamu pulang," ucap Bu Vivi.
Alex yang sejak tadi masih menyantap makanannya hanya mengangguk.
"Iya Ma."
Bu Vivi bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Mama mau ke mana?" tanya Alex
"Mama mau lihat ke depan," jawab Bu Vivi.
Bu Vivi buru-buru berjalan menuju ke ruang tamu untuk menyambut kedatangan Pak Rajasa.
Bu Vivi membuka pintu depan. Dia terkejut saat melihat Pak Rajasa pulang dengan membawa seorang wanita yang masih sangat muda.
"Papa, dia siapa?" tanya Bu Vivi.
Pak Rajasa tersenyum.
"Ma, kenalin Ma. Ini Rita istri baru Papa."
Deg, bagai tersambar petir di siang bolong. Bu Vivi terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa.
"Apa! istri?" ucap Bu Vivi lirih.
Tubuh Bu Vivi melemas. Hampir saja dia terjatuh. Namun Bu Vivi masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Bu Vivi hanya bisa menahan sesak di dada sembari memegangi dadanya.
Alex yang sejak tadi masih di ruang makan bangkit dari duduknya. Dia kemudian mendekat ke ruang tamu.
Alex terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang bersama ayahnya.
"Rita," ucap Alex.
Wanita yang diketuai bernama Rita itu terkejut saat melihat Alex. Ya, Alex sangat kenal dengan Rita. Rita dan Alex dulu pernah sekampus. Dan Alex tahu siapa Rita. Dia adalah wanita matre. Dan duu, Rita sering sekali jalan dengan Om-om kaya raya. Dan tujuannya hanya untuk memanfaatkan mereka saja.
"Alex kamu sudah kenal dengan Rita? kebetulan banget kalau begitu."
Pak Rajasa menatap Rita.
"Kamu kenal dengan anak saya?" tanya Pak Rajasa.
"Iya Mas. Dia dulu pernah sekampus denganku," jawab Rita.
Alex menatap ibunya yang sejak tadi masih menangis.
"Ma, ada apa Ma?" tanya Alex.
Bu Vivi hanya diam. Tiba-tiba saja Bu Vivi memukul-mukul dada suaminya berkali-kali.
"Jahat kamu Pa, Jahat. Papa sudah mengkhianati mama. Karena wanita ini, papa melupakan mama. Sebulan papa nggak pulang, hanya karena wanita ini," ucap Bu Vivi.
Alex yang melihat kejadian itu hanya diam. Dia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Bu Vivi, tiba-tiba saja menjambak rambut Rita, membuat Rita mengaduh.
"Aduh, mas. Istri kamu kenapa Mas. Apa dia sudah gila Mas, Auh
__ADS_1
..sakit...!" Rita tampak kesakitan saat mendapatkan serangan dari Bu Vivi.