Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Menjadi mata-mata


__ADS_3

Sepulang dari rumah Dara, Ratih kembali untuk ke rumah Alex. Sebenarnya , Ratih itu takut untuk kembali ke rumah Alex. Dia takut kalau Alex akan marah padanya dan langsung memecatnya. Tapi apapun yang terjadi, Ratih harus bisa menghadapinya.


Sebenarnya, Ratih juga capek bekerja di rumah Alex. Dua tahun memang waktu yang cukup lama untuk Ratih. Karena kerja di rumah Alex harus ekstra sabar menghadapi majikan seperti Alex.


Ratih sudah sampai di depan rumah Alex. Ratih tampak ragu untuk memasuki gerbang rumah mewah itu.


Pak Tino sejak tadi masih memperhatikan Ratih. Dia kemudian mendekat ke arah Ratih.


"Mbak Ratih, kenapa nggak masuk? kenapa dari tadi berdiri aja di luar?" tanya Pak Tino.


"Tuan Alex, ada di rumah atau nggak?"


"Dia nggak ada di rumah kok, tenang saja."


"Dia belum pulang dari semalam ya Pak Tino?"


"Dia sudah pulang tadi pagi. Tapi cuma sebentar," jelas Pak Tino.


"Dia nyariin aku nggak?" tanya Ratih.


"Nggak tahu kalau itu. Coba tanya saja sama Mbak Lestari dan Mbak Mirna."


"Ya udah. Aku masuk dulu ya," ucap Ratih.


"Iya Mbak Ratih."


Ratih masuk ke dalam halaman depan rumah Alex. Dia kemudian masuk ke dalam rumah, lewat pintu belakang. Ratih langsung berbaur bersama Lestari dan Mbak Mirna yang tampak masih santai dibelakang.


"Mbak Mirna, Mbak Tari," ucap Ratih.


Lestari dan Mirna menoleh ke arah Ratih dan menatap Ratih. Mereka langsung mendekati Ratih.


"Bagaimana, apa Dara sudah terbebas dari penjara?" tanya Lestari.


"Udah. Tapi ada kabar buruk," ucap Ratih.


"Kabar buruk apa?" tanya Mirna.


"Ibunya Dara meninggal dunia," jawab Dara.


"Apa!" Mirna dan Lestari saling menatap.


"Kamu yakin?" tanya Lestari.


"Ya yakinlah. Orang tadi aku baru dari pemakamannya."


"Duh, kasihan banget ya, sakit apa sebenarnya ibunya si Dara itu?" tanya Mirna.


"Sakit paru-paru Mbak," jawab Ratih.


"Oh, pantesan. Biasanya penyakit paru-paru kalau nggak cepat ditangani bisa fatal akibatnya," ucap Mbak Mirna.


"Oh iya. Mbak Tari, Mbak Mirna. Tuan Alex nyariin aku nggak waktu dia pulang tadi pagi ?" tanya Ratih.


"Iya. Dia nyariin kamu," jawab Lestari.


"Terus, Mbak Tari bilang apa?"


"Ya aku bilang yang sejujurnya. Kalau kamu lagi bebasin Dara."


"Apa! kok Mbak Tari bilang soal itu sih Mbak. Kan aku sudah suruh Mbak Tari jangan bilang apa-apa sama Tuan Alex."

__ADS_1


"Maaf. Tapi aku nggak bisa berbohong Ratih. Aku nggak berani bohong sama Tuan Alex. Karena aku takut dipecat," ucap Lestari.


"Tuan Alex itu, lebih suka kalau kita jujur dari pada berbohong." Mirna menimpali.


"Iya aku tahu itu. Terus, dia bilang apa?" tanya Ratih.


"Dia nggak bilang apa-apa sih. Tapi sepertinya dia marah sama kamu. Kamu siap-siap aja deh, mendapatkan kemurkaan Tuan Alex," ucap Lestari.


Ratih menghela nafas dalam. Dia hanya diam. Setelah itu dia berucap. "Aku pasrah aja deh, terserah Tuan Alex mau ngapain aku. Kalau pun dia mau pecat aku, silahkan saja. Aku juga sudah males kerja di sini."


"Lho Ratih. Kenapa kamu bilang begitu. Cari kerjaan itu susah lho. Belum tentu kan kamu bisa kerja di rumah orang kaya raya seperti ini lagi. Menurut aku, Tuan Alex majikan yang berani menggaji kita mahal. Coba bayangkan, gaji kita, dua kali lipat dari gaji pembantu pada umumnya," ucap Mirna..


"Iya sih. Tapi kalau Tuan Alex mau mecat aku ya terserah dia."


Beberapa saat kemudian, deru mobil dari luar rumah terdengar. Para pembantu itu langsung bergegas untuk kembali berkerja setelah mengetahui kalau majikannya sudah pulang.


Karena jika ketahuan mereka sedang bersantai-santai, pasti Alex akan memarahi mereka. Bisa saja Alex memotong gaji mereka.


Setelah sampai di halaman depan rumah, Alex turun dari mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam rumahnya.


Alex menatap sekeliling ruang tamu.


"Sepi amat sih ini rumah. Kemana para pembantu itu," gumam Alex.


Alex masuk menuju ruang tengah. Dilihatnya Lestari sedang menghampirinya.


"Maaf Tuan, saya dari belakang. Saya tidak tahu Tuan pulang," ucap Lestari.


Alex menyerahkan tasnya kepada Lestari.


"Bawakan tas aku ke kamar," pinta Alex.


Lestari akan beranjak pergi. Namun buru-buru Alex menghentikannya.


"Lestari tunggu," ucap Alex


Lestari menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alex.


"Iya Tuan. Ada apa?" tanya Lestari.


"Mana Ratih? dia udah pulang atau belum?"


"Ratih ada di belakang Tuan."


"Dibelakang? lagi ngapain?"


"Lagi kerja Tuan."


"Pulang jam berapa dia?"


Lestari diam.


'Duh, aku harus bicara apa ke Tuan muda soal Ratih. Ratih kan baru pulang tadi.' batin Lestari.


"Lestari. Aku lagi nanya sama kamu. Kamu nggak tuli kan?"


"Ratih baru pulang tadi Tuan," jujur Lestari.


"Kamu bawa tas aku ke kamar, setelah itu kamu panggil Ratih dan suruh dia menghadap ke aku."


"Iya Tuan muda."

__ADS_1


Lestari kemudian pergi ke kamar Alex untuk menyimpan tas Alex di kamar Alex. Setelah itu Lestari turun ke bawah dan memanggil Ratih.


"Ratih, Tuan Alex sudah pulang. Dan dia nanyain kamu," ucap Lestari setelah bertemu Ratih.


"Kamu yakin dia langsung nanyain aku?" tanya Ratih.


"Iya. Tadi aku bilang kamu ada dibelakang. Sana cepat kamu temui dia. Keburu dia marah-marah."


"Iya."


Dengan rasa takut, Ratih kemudian berjalan pergi untuk menghampiri Alex yang saat ini, sudah duduk di ruang tengah.


"Tuan," ucap Ratih.


Alex menatap Ratih tajam.


"Ratih, dari mana aja kamu?" tanya Alex.


Ratih diam. Dia hanya bisa menundukan kepalanya.


"Ratih, jawab saya. Kamu dari mana?"


"Sa-saya, dari rumah Dara Tuan. Ibu Dara meninggal dunia."


Alex sama sekali tidak terkejut mendengar ucapan Ratih. Karena Alex sudah tahu kalau Ratih seharian ini ada bersama Dara.


"Kenapa kamu tidak izin dulu sama saya?"


"Tuan kan tadi pagi tidak ada di rumah."


"Harusnya kamu telpon saya."


"Saya takut ganggu waktu Tuan."


"Terus, kenapa saya telpon kamu berkali-kali kamu tidak angkat?"


"Sa-saya takut Tuan akan marah sama saya. Kalau Tuan mau pecat saya, saya pasrah Tuan," ucap Ratih tiba-tiba.


"Saya tidak akan pecat kamu. Tapi saya akan pindahkan kamu ke rumah orang tua saya."


Ratih terkejut saat mendengar ucapan Alex. Ratih langsung menatap Alex.


"Apa! pindah?"


Ratih sebenarnya lebih nyaman kerja di rumah Alex dari pada di rumah Pak Rajasa. Karena Alex juga jarang di rumah dan tidak terlalu mengatur ini itu. Kalau di rumah Pak Rajasa, ada Rita. Wanita yang sok berkuasa di rumah itu.


Dan menurut kabar yang beredar, dari sekian banyak pembantu yang dipekerjakan Pak Rajasa, tidak ada yang bertahan lama kerja di rumah Pak Rajasa. Karena di sana terlalu banyak aturan dari Rita.


"Ke-kenapa Tuan tidak pecat saya saja?" tanya Ratih.


Alex menatap tajam ke arah Ratih.


"Kamu maunya begitu?" tanya Alex.


Ratih menggeleng dengan cepat.


"Nggak Tuan. Terserah Tuan saja."


Alex bangkit dari duduknya.


"Aku melihat kamu orang yang jujur Ratih. Aku ingin mempekerjakan salah satu pembantuku di tempat ayahku. Aku ingin kamu jadi mata-mata untuk ku."

__ADS_1


__ADS_2