
Malam ini, Ica masih berada di rumah sakit. Luka-lukanya yang cukup parah juga sudah diperban oleh dokter.
Dokter menatap Pak Rajasa.
"Tidak usah khawatir Pak. Anak ini cuma luka ringan saja. Saya sudah mengobati luka-lukanya. Dan besok dia juga sudah bisa pulang," ucap Dokter setelah memeriksa kondisi Ica.
"Makasih banyak ya Dok," ucap Pak Rajasa.
Dokter mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak."
"Iya Dokter."
Dokter itu kemudian pergi meninggalkan ruangan Ica. Setelah dokter pergi, Rita masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.
"Mas, udah malam. Kita pulang aja yuk!" ajak Rita pada suaminya.
"Rita, saya mau di sini saja. Kasihan anak ini, kalau ditinggal. Dia juga lagi tidur."
"Mas, jangan kamu korbankan waktu kamu hanya untuk anak seperti dia. Dia seperti ini karena kesalahan dia sendiri. Siapa suruh dia nyebrang sembarangan. Lagian, harusnya Anton kan yang nungguin dia di sini. Kan Anton yang nabrak dia. Bukan kita."
"Anton memang yang nabrak. Tapi mobil itu kan punya kita. Jadi kita juga harus ikut bertanggung jawab."
"Terserah kamu kalau mau di sini Mas. Tapi aku tetap mau pulang," ucap Rita.
Pak Rajasa menatap Rita. Dia tahu, kalau istrinya sudah lelah karena terlalu lama berada di rumah sakit.
"Ya udahlah, kita akan pulang. Tapi tunggu anak ini bangun. Kalau dia bangun, kita bisa tanyakan siapa keluarga anak ini. Biar kita bisa telpon keluarganya dan menyuruhnya datang ke sini."
Rita menghela nafas dalam.
'Dasar Pak Tua, suka banget nyusahin orang kayak gini. Apa dia nggak tahu kalau aku sudah ngantuk. Aku pengin tidur di rumah'
Beberapa saat kemudian, Ica mengerjapkan matanya. Dia menatap ke arah Pak Rajasa dan Rita yang masih berdiri di sisinya.
Pak Rajasa tersenyum.
"Kamu sudah bangun?" ucap Pak Rajasa.
Ica beringsut duduk. Dia kemudian menatap sekeliling.
"Aku masih ada di rumah sakit?" tanya Ica.
"Iya Nak. Dokter sudah mengobati luka-luka kamu. Dan kata dokter, besok pagi kamu sudah boleh pulang," ucap Pak Rajasa.
"Aku mau pulang sekarang. Pasti kakak aku sudah nungguin aku," ucap Ica.
Pak Rajasa dan Rita saling menatap.
"Pulang? tapi ini sudah malam Nak. Kondisi kamu juga masih belum pulih," ucap Pak Rajasa.
"Nggak apa-apa. Aku mau pulang sekarang. Aku nggak mau nginap di sini."
"Mas. Biarkan saja dia pulang. Lagian, kalau dia sampai besok pagi di sini, kita juga kan yang repot. Harus nungguin dia sampai pagi. Atau telpon saja keluarganya suruh jemput anak ini ke sini," ucap Rita mengusulkan.
__ADS_1
"Iya. Saya akan antar kamu pulang Nak," ucap Pak Rajasa.
Ica tersenyum. "Makasih Om."
"Oh iya. Nama kamu siapa? kamu punya keluarga kan? kalau boleh saya tahu, siapa keluarga kamu yang bisa dihubungi?"
"Aku nggak hafal nomer keluarga aku Om," ucap Ica.
"Ya udah. Kalau begitu, saya akan antar kamu pulang sampai rumah."
***
Oca dan Dara malam ini masih berada di ruang tengah. Setelah makan malam selesai, mereka menunggu kabar dari Ica. Namun, sampai larut malam belum ada kabar apapun dari Ica.
"Ke mana ya sebenarnya Ica, dan bagaimana keadaan dia saat ini," ucap Dara yang tampak masih resah dengan kondisi Ica.
"Kak, sudahlah. Kita tidur saja. Besok saja kita lanjutkan mencari Kak Ica."
"Bagaimana kakak bisa tidur Oca. Kakak nggak bisa tidur, kalau Ica belum ada kabar. Kakak bingung banget Oca. Di mana sebenarnya Ica sekarang."
Deru mobil dari luar rumah Dara tiba-tiba terdengar. Dara menatap Oca.
"Oca. Ada suara mobil di depan. Mobil siapa ya," ucap Dara.
"Mobil siapa ya Kak."
"Kamu tunggu di sini ya Oca. Biar Kaka lihat di depan"
Dara berjalan ke ruang tamu untuk melihat mobil siapa yang datang.
Dara mengintip dari balik ke jendela sebelum dia membuka pintu depan.
Seorang lelaki setengah abad turun dari mobilnya. Setelah itu, Ica pun turun dari mobil mengikut lelaki itu.
Dara terkejut saat melihat Ica. Dara buru-buru membuka pintu rumahnya.
"Ica..." ucap Dara.
Ica tersenyum. Dara langsung memeluk adiknya.
"Ica, kamu kemana aja Ica? kamu sudah membuat kakak khawatir," ucap Dara sembari memeluk adiknya erat.
"Auh..."
Dara terkejut saat mendengar erangan Ica. Dara melepas pelukannya dan dia menatap Ica.
"Ica. Kamu kenapa?" tanya Dara.
"Sakit Kak," ucap Ica sembari memegangi lukanya yang ada di tangannya.
Dara terkejut saat melihat di kaki dan tangan Ica penuh luka dan perban..
"Kamu terluka?" tanya Dara.
Ica mengangguk.
__ADS_1
Dara menatap ke arah seorang lelaki yang berdiri di samping Ica.
Pak Rajasa tersenyum.
"Perkenalkan. Saya Rajasa. Saya yang sudah membuat Ica seperti ini. Tapi saya sudah membawanya ke rumah sakit dan sudah mengobati luka-lukanya."
Dara menatap Pak Rajasa tanpa berkedip. Dara pernah mendengar nama itu. Tapi Dara lupa. Dan wajah Pak Rajasa juga seperti tidak asing bagi Dara.
"Bapak yang sudah membawa adik saya?" tanya Dara.
"Iya. Saya ke sini mau mengantar Ica pulang. Tadi sore, Ica keserempet mobil saya. Dan saya langsung membawanya ke rumah sakit. Dan sekarang saya antarkan Ica pulang," ucap Pak Rajasa.
Dara tersenyum.
"Kalau begitu, saya sangat berterima kasih kepada bapak. Karena bapak sudah mau bertanggung jawab terhadap adik saya."
"Iya. Seharusnya saya yang minta maaf. Karena kelalaian sopir saya, Ica jadi terluka."
Rita sejak tadi masih menatap tajam ke arah Pak Rajasa.
"Kenapa lama sekali sih. Bicara sama keluarganya Ica saja lama sekali," gerutu Rita.
Rita buru-buru turun dari mobilnya dan berjalan ke arah Pak Rajasa.
"Mas, udah malam. Apa kamu mau tetap di sini? apa kamu mau nginap di sini? kenapa ngobrol saja lama sekali," ucap Rita dengan nada tinggi.
Pak Rajasa menatap Rita.
"Iya sabar Rita. Aku cuma lagi menjelaskan sama kakaknya Ica."
"Mas, sudahlah. Untuk apa kita buang-buang waktu di sini. Kita itu masih banyak kerjaan."
"Iya. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Ica."
Ica mengangguk.
"Makasih ya Om," ucap Ica.
"Makasih banyak Pak Rajasa," ucap Dara.
"Iya. Sama-sama."
Pak Rajasa kemudian berjalan ke arah mobilnya bersama dengan istrinya. Mereka masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah Ica.
Setelah Pak Rajasa pergi, Dara merangkul Ica dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, sudah tampak Oca berdiri. Dia tiba-tiba saja memeluk Ica.
"Kak Ica. Maafkan aku ya. Karena aku udah lalai menjaga kakak," ucap Oca.
"Oca, jangan peluk-peluk Ica. Ica masih sakit," ucap Dara.
Oca melepaskan pelukannya. Dia kemudian menatap Ica.
"Kamu terluka?" tanya Oca.
__ADS_1
Ica hanya mengangguk. "Iya. Tapi aku udah nggak apa-apa. Cuma luka sedikit aja. Dan udah diobati oleh dokter."