Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kesabaran


__ADS_3

Setelah beberapa lama Alex, Dara, Rizal dan Anton menunggu di ruang tunggu UGD, seorang dokter yang menangani Pak Rajasa keluar dari ruangan itu.


Alex buru-buru mendekat ke arah dokter itu.


"Dokter, bagaimana kondisi papa aku?" tanya Alex pada dokter itu.


Dokter diam. Sepertinya ada sesuatu yang sudah menimpa ayahnya Alex.


"Pak Rajasa tidak apa-apa. Dia sudah bisa melewati masa kritisnya. Tapi..." Dokter menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa dokter?" tanya Alex penasaran.


"Pak Rajasa patah tulang di salah satu kakinya. Dan ada keretakan di bagian punggung dan lehernya," ucap dokter melanjutkan.


Alex terkejut saat mendengar ucapan dokter. "Apa? patah tulang."


"Iya. Dan secepatnya, kita akan melakukan tindakan operasi."


"Kenapa Papa bisa sampai seperti ini," ucap Dara.


"Dokter, tapi papa aku bisa sembuh kan Dok?" tanya Alex yang saat ini tampak sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya.


"Iya. Insya Allah kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan ayah anda. Tapi saya mau meminta persetujuan Pak Alex dulu untuk melakukan tindakan operasi," ucap Dokter.


"Dokter, lakukan yang terbaik untuk ayah saya dokter. Berapapun biayanya saya akan tanggung. Bila perlu, saya akan bawa ayah saya ke rumah sakit di luar negeri yang peralatannya lebih komplit dari rumah sakit yang ada di sini."


Dokter tersenyum.


"Pak Alex, berdoa saja untuk kesembuhan Pak Rajasa. Kalau hidup mati seseorang itu sudah ada yang mengatur."


"Iya. Aku tahu itu."


****


Malam ini di ruang tengah, Bu Vivi dan ke dua adik Dara masih menonton tivi. Mereka sejak tadi masih menunggu Dara dan Alex pulang.


"Kenapa Kak Dara nggak pulang-pulang ya," ucap Ica.


"Nggak tahu. Biasanya Kak Alex dan Kak Dara kalau jam segini udah sampai rumah," Oca menimpali.


"Mungkin jalanan macet kali." ucap Ica lagi.


Beberapa saat kemudian, Ratih menghampiri Bu Vivi sembari membawa minuman teh hangat pesanan Bu Vivi.


"Ini Nya, minuman Nyonya," ucap Ratih sembari meletakan minuman teh hangat itu di atas meja.


"Makasih ya Ratih."


"Iya Nya."


"Oh iya Ratih. Kapan kamu mau pulang ke kampung halaman kamu?"


"Mungkin nanti Nya hari minggu."


"Nikahannya kapan?"

__ADS_1


"Kalau nikahannya sih masih lama Nya sebenarnya. Satu bulan lagi."


"Kata Dara, minggu depan nikahannya."


"Nggak Nya. Non Dara salah dengar mungkin."


"Kalau nanti kamu nikahan, rencananya saya dan Dara ingin ke kampung kamu Ratih untuk menghadiri acara pernikahan kamu."


"Oh. Iya Nya. Saya senang kalau nyonya mau hadir ke acara saya nanti."


Di sela-sela Bu Vivi dan Ratih ngobrol, tiba-tiba saja ponsel Bu Vivi berdering. Bu Vivi mengambil ponselnya yang ada di atas meja dan mengangkat panggilan dari Alex.


"Halo Alex."


"Halo Ma. Maaf Ma. Alex dan Dara nggak bisa pulang sekarang. Alex dan Dara masih di rumah sakit."


"Apa! di rumah sakit? ngapain di rumah sakit?"


"Papa Ma, papa ada di rumah sakit sekarang. Tadi siang papa jatuh dari kamar mandi. Dan sekarang papa lagi di operasi."


"Apa! Alex, kenapa kamu baru memberi tahu mama sekarang. Mama akan ke sana sekarang."


"Ma, jangan Ma. Udah malam, mama nggak usah ke sini. Besok aja sekalian datang ke sininya. Alex dan Dara saja yang nungguin papa di rumah sakit malam ini."


"Tapi Alex, mama juga khawatir dengan kondisi papa kamu."


"Ma, Alex minta mama di rumah aja. Besok aja ke sininya sama Doni."


"Ya sudahlah, besok aja mama ke sananya."


"Ya udah Alex. Besok nanti mama ke situ."


"Iya."


Bu Vivi kemudian menutup saluran telponnya.


Ratih sejak tadi masih menatap Bu Vivi.


"Ada apa Nya?" tanya Ratih.


"Pak Rajasa masuk rumah sakit. Tadi siang dia jatuh dari kamar mandi," jawab Bu Vivi yang membuat Ratih terkejut.


"Terus sekarang gimana keadaannya Nya?"


"Dia lagi operasi."


"Separah itukah Nya?"


"Nggak tahu, cobaan apa lagi ini. Setelah nggak ada Rita, malah papa seperti ini."


Oca dan Ica saling menatap.


"Tante, besok kita ikut ke rumah sakit ya. Kita mau jengukin Om Rajasa," ucap Ica.


"Iya. Tante mau ke kamar dulu ya. Kepala Tante pusing. Kalian kalau mau makan, makan aja. Kalau mau ke kamar, langsung tidur ya jangan banyak begadang. Besok kan kalian sekolah."

__ADS_1


"Tapi kita kan mau ikut Tante ke rumah sakit. Jadi kita nggak usah berangkat sekolah dulu," ucap Oca.


"Iya. Nanti kita ke rumah sakit bareng. Tante nanti nunggu kalian pulang sekolah aja ya ke rumah sakitnya."


"Iya Tan," ucap Ica menyetujui.


Bu Vivi kemudian melangkah pergi untuk ke kamarnya. Dia tampak sedih saat mendengar kabar buruk kalau suaminya itu terjatuh dari kamar mandi dan sekarang dalam keadaan kritis.


****


Siang ini, Bu Vivi, Ica dan Oca sudah sampai di depan rumah sakit.


Mereka semua turun dari mobilnya dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah sakit. Mereka menuju ke ruangan di mana Pak Rajasa di rawat.


"Alex, bagaimana kondisi papa kamu?" tanya Bu Vivi pada Alex.


"Papa nggak apa-apa Ma. Dia sudah di operasi dan sudah melewati masa kritisnya. Kita tinggal menunggu papa siuman aja."


"Iya Alex. Dari semalam mama nggak bisa tidur karena mikirin papa kamu. Mama takut terjadi apa-apa sama papa kamu."


"Mama tenang aja ya. Papa nggak apa-apa kok."


"Maaf Bos. Kalau boleh saya tahu, Pak Rajasa kenapa ya? kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit?"


"Papa jatuh dari kamar mandi Don waktu di kantornya. Papa patah tulang di bagian kakinya dan mengalami keretakan di bagian leher dan punggungnya."


"Oh. Jadi Pak Rajasa tidak akan bisa jalan dong Bos untuk sementara waktu."


"Iya. Sepertinya begitu. Dan mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pemulihan."


"Terus sekarang kan Rita tidak ada. Siapa nanti yang akan ngurus Pak Rajasa di rumahnya bos?" tanya Doni


"Saya akan bawa papa ke rumah saya Don." jawab Alex.


Alex menatap ke arah Bu Vivi.


"Nggak apa-apa kan Ma, kalau kita rawat papa di rumah aku? Mama nggak keberatan kan?" tanya Alex pada ibunya.


"Ngga apa-apa Alex. Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai keluarga untuk mengurus papa kamu."


Ica dan Oca sejak tadi masih menatap sekeliling.


"Kemana Kak Dara?" tanya Ica.


"Dara lagi ke toilet," jawab Alex.


Beberapa saat kemudian, Dara menghampiri Bu Vivi, Ica dan Oca.


"Mama, mama udah dari tadi di sini?" tanya Dara pada Bu Vivi.


"Iya. Mama baru nyampe kok Dara."


Dara mendekat ke arah Bu Vivi.


"Sabar ya Ma. Ini semua itu bentuk ujian dari Tuhan untuk kita. Setiap cobaan pasti akan ada hikmahnya Ma. Selama ini mama sudah sabar menghadapi cobaan demi cobaan yang ada di dalam hidup kita. Dan semoga hari ini mama masih kuat ya Ma, untuk menghadapi ujian ini," ucap Dara sembari mengusap-usap bahu calon ibu mertuanya.

__ADS_1


"Iya. Mama akan selalu berdoa yang terbaik untuk kamu dan Alex. Dan mama juga akan selalu berdoa untuk Pak Rajasa. Mama pengin Pak Rajasa cepat sembuh dan cepat bisa normal kembali. Agar dia bisa melakukan aktifitasnya kembali.


__ADS_2