
Setelah lama Oca berada di dalam ruang UGD, beberapa saat kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu.
Dara, Alex dan Ica langsung menghampiri dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Dara menatap dokter lekat.
"Adik kamu tidak apa-apa. Dia cuma sesak nafas saja karena dia sudah kebanyakan menghirup asap," jawab Dokter datar.
"Terus, apakah dia sudah sadar Dok?" tanya Dara sekali lagi.
"Dia belum sadar. Tapi sebentar lagi mungkin dia akan sadar dan bisa di pindahkan ke ruang rawat," ucap dokter menjelaskan.
"Alhamdulilah. Oca tidak kenapa-kenapa ya Kak," ucap Ica. Dia sudah bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter, kalau adiknya tidak kenapa-kenapa.
"Iya Ica. Kakak khawatir banget tadi adik kita kenapa-kenapa," ucap Dara pada Ica.
Sejak tadi Dara dan Ica memang sangat mengkhawatirkan Oca. Dara dan Ica takut terjadi apa-apa sama Oca. Mereka tidak mau kehilangan Oca. Setelah dokter mengatakan kalau Oca tidak kenapa-kenapa, betapa bahagianya Dara dan Ica. Mereka merasa lega sekarang.
"Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu ya," ucap Dokter
Dara mengangguk."Iya Dok."
Dokter kemudian pergi meninggalkan Dara, Alex dan Ica.
***
Di ruang tamu rumah Alex, Bu Vivi tampak masih mondar-mandir sendiri. Ratih menatap Bu Vivi dari kejauhan. Setelah itu dia mendekat ke arah Bu Vivi.
"Nyonya Vivi, Nyonya Vivi kenapa? dari tadi aku perhatikan Nyonya mondar-mandir terus kayak orang bingung. Ada apa sih Nya? Nyonya lagi ada masalah?" tanya Ratih pada Bu Vivi.
Bu Vivi menatap Ratih lekat.
"Saya lagi nelpon Doni. Tapi nomer Doni nggak aktif. Padahal saya lagi butuh dia. Saya mau ke rumah sakit, tapi Alex melarang saya untuk pergi sendirian," ucap Bu Vivi menjelaskan.
"Oh. Begitu. Emang Bang Doni kemana? biasanya dia sudah ada di luar," tanya Ratih.
"Doni semalam pulang ke rumah istrinya. Dan dia belum kembali ke sini lagi Ratih," jawab Bu Vivi.
"Emang, nyonya Vivi mau ke rumah sakit, mau ngapain?"
"Saya mau lihat kondisi adiknya Dara. Katanya Oca sekarang ada di rumah sakit."
Ratih terkejut saat mendengar jawaban Bu Vivi.
"Oca sakit apa?" tanya Ratih penasaran.
__ADS_1
"Tadi pagi, Dara dan Alex buru-buru pergi dari rumah. Dan ternyata mereka pergi ke rumah Dara. Rumah Dara tadi pagi kebakaran Ratih," ucap Bu Vivi menuturkan.
"Apa! rumah Dara kebakaran?" Ratih kembali terkejut.
"Iya. Ica dan Oca terjebak di dalam kebakaran itu. Dan sekarang, Oca ada di rumah sakit," jelas Bu Vivi.
"Jadi mereka berdua terjebak di dalam kebakaran itu. Lalu bagaimana kondisi Ica?" tanya Ratih menatap Bu Vivi lekat.
"Kalau Ica tidak kenapa-kenapa. Tapi Oca, dia harus dilarikan ke rumah sakit."
Beberapa saat kemudian, pintu depan rumah Bu Vivi terbuka. Doni menghampiri Bu Vivi dan Ratih yang saat ini sudah berdiri di ruang tamu.
"Bu Vivi, Bu Vivi nelpon saya ya? ada apa Bu?" tanya Doni setelah berada di dekat Bu Vivi.
"Kamu dari mana aja Don. Saya sudah menghubungi kamu berkali-kali. Tapi nomer kamu nggak aktif. Dan saya tadi menghubungi istri kamu. Katanya kamu lagi pergi."
"Iya Bu. Saya lagi beli sarapan tadi untuk istri saya. Dan kata istri saya ibu nelpon saya. Makanya saya buru-buru ke sini. Saya juga belum sempat sarapan," jelas Doni.
"Ya udah, cepat antar saya ke rumah sakit!" pinta Bu Vivi.
"Ke rumah sakit mau ngapain Bu? siapa yang sakit?" tanya Doni.
"Adiknya Dara yang sakit. Tadi pagi rumah Dara kebakaran. Dan ke dua adiknya terjebak di dalam kebakaran itu. Dan salah satunya selamat dan satunya lagi dia harus dilarikan ke rumah saki,"ucap Bu Vivi menjelaskan.
"Ya udah. Ayo Bu kita ke sana. Bos Alex sudah tahu belum tentang masalah ini?"
"Alex memang ada di sana saat ini Don."
"Ya udah, tunggu apa lagi. Ayo Bu Vivi, kita segera ke sana."
"Iya. Tunggu sebentar. Saya mau ambil tas saya dulu."
Bu Vivi kemudian melangkah ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Sementara Ratih mendekat ke arah Doni.
"Bang, boleh nggak aku ikut ke rumah sakit. Aku khawatir dengan kondisi adiknya Dara."
Doni menatap tajam ke arah Ratih.
"Apa! kamu mau ikut? untuk apa? bukankah di sini kamu harus kerja?"
"Iya sih. Kerjaan aku masih banyak. Tapi aku pengin lihat kondisinya Oca. Aku kasihan sama anak itu. Dia kan anak yatim."
"Ya tapi kan aku mau bawa majikan. Masa kamu mau ikut mobil majikan gimana sih."
Beberapa saat kemudian, Bu Vivi menghampiri Doni dan Ratih.
__ADS_1
"Ratih, Doni, ada apa? kenapa kalian bisik-bisik begitu?" tanya Bu Vivi.
Doni dan Ratih tersenyum.
"Nggak ada apa-apa Bu," ucap Doni.
"Nyonya, kalau saya ikut ke rumah sakit boleh nggak?" tanya Ratih pada Bu Vivi.
"Kamu mau ikut ke rumah sakit?".
"Iya Nya. Aku juga khawatir dengan kondisi Oca."
"Ya udah. Kalau kamu mau ikut. Ayo...!"
"Iya Nya. Makasih banyak ya Nya. Nanti aku ambil tas aku dulu."
****
Setelah siuman, Oca langsung di pindahkan ke ruang rawat. Di sisinya berbaring, sudah ada Ica, Dara, dan Alex yang menemani Oca sejak tadi.
"Oca, tadi kakak takut banget kalau kamu tidak akan bisa di selamatkan. Dan Kakak seneng banget, melihat kamu sudah sadar seperti ini," ucap Dara sembari menggenggam tangan Oca erat.
"Kakak nggak usah khawatir kan aku. Aku udah nggak apa-apa Kak," ucap Oca tersenyum saat melihat kakaknya.
"Iya."
"Tapi... bagaimana dengan rumah kita Kak?" tanya Oca menatap lekat kakaknya.
"Kamu jangan fikirin rumah. Yang penting sekarang kamu tidak apa-apa. Kalau rumah dan barang-barang kita, bisa kita cari lagi dan bisa kita beli lagi. Kalau nyawa kamu yang melayang, kamu tidak akan bisa kembali lagi ke dunia ini," ucap Dara.
"Iya Kak."
Ica sejak tadi masih menundukan wajahnya. Dia seperti sedih saat memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa Ica? adik kamu sadar, kenapa kamu malah kelihatan sedih begitu?" tanya Alex yang melihat Ica murung sejak tadi.
Ica menatap Alex lekat.
"Kalau rumah ayah dan ibu ludes oleh si jago merah itu, lalu setelah ini, Oca, aku dan Kak Dara mau tinggal di mana. Rumah itu kan rumah satu-satunya yang kami punya dan rumah itu, juga peninggalan orang tuaku," ucap Ica tampak sedih.
Sejak tadi ternyata Ica masih memikirkan, di mana dia akan tinggal setelah rumahnya itu ludes terbakar.
"Ica, kenapa kamu harus sedih. Kan ada Kak Alex. Kak Alex akan selalu bantuin semua kesulitan kalian. Benar apa kata Dara kakak kamu. Kalau rumah dan harta benda itu bisa di cari. Tapi kalau nyawa sudah melayang, itu tidak akan bisa kembali."
"Tapi di dalam rumah itu kan ada barang-barang ayah dan ibu. Rumah itu juga kenangan satu-satunya yang kita punya dari peninggalan orang tua kita"
__ADS_1