
Siang ini Alex, Dara dan Bu Vivi masih berada di ruang tengah. Sejak tadi mereka masih tampak bercakap-cakap di ruang tengah.
"Alex, Dara, mama mau bicara serius sama kalian," ucap Bu Vivi menatap Alex dan Dara bergantian.
"Mama mau bicara serius soal apa Ma?" tanya Alex.
"Bagaimana hubungan kalian berdua? apakah sekarang kalian sudah resmi pacaran?" tanya Bu Vivi.
Dara terkejut saat mendengar pertanyaan Bu Vivi.
Sebenarnya Dara belum menerima Alex sepenuhnya.
Namun Dara juga tidak mungkin mengatakan kalau saat ini dia tidak punya hubungan apa-apa dengan Alex. Karena akhir-akhir ini saja Alex dan Dara selalu bersama. Semakin hari, mereka semakin dekat. Dan tidak bisa di pungkiri lagi kalau Dara memang sudah nyaman dengan Alex.
"Hubungan kami, ya seperti yang mama lihat sekarang. Aku ingin seriusan sama Dara Ma. Karena aku memang cinta sama Dara," ucap Alex tampak serius menjawab pertanyaan dari ibunya.
Bu Vivi menatap Dara.
"Kalau kamu Dara?" tanya Bu Vivi.
Dara diam. Dia tampak berfikir.
Duh, aku harus bicara apa? sebenarnya aku juga sudah mulai nyaman sama Mas Alex. Tapi apa Mas Alex sudah benar-benar berubah. Atau dia masih sering bermain wanita di luar sana. Kalau dia masih jadi playboy, aku nggak mau nerima dia. Tapi kalau dia sudah berubah, aku akan pertimbangkan lagi untuk menerima dia menjadi suami aku," batin Dara.
"Dara, apa yang lagi kamu fikirkan?" tanya Bu Vivi yang melihat Dara diam sejak tadi.
"Eh, Bu. Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok. Kalau Bu Vivi tanya tentang hubungan aku dengan Mas Alex, ya seperti yang kita jalani saat ini. Andai aku dan Mas Alex berjodoh, pasti kami bisa melanjutkan hubungan ini sampai ke jenjang pernikahan," ucap Dara memberi jawaban.
"Kalau kalian sudah serius dengan hubungan kalian, saya pengin kalian cepat menikah. Karena usia Alex sekarang sudah sangat dewasa. Seharusnya dia itu sudah menikah dan punya anak," ucap Bu Vivi
Dara dan Alex saling menatap. Setelah itu mereka kembali menatap Bu Vivi.
"Kalau aku sih, terserah Dara aja Ma. Tapi kalau Dara, katanya dia nggak mau cepat-cepat nikah. Dia katanya mau nikahnya nanti kalau sudah lulus kuliah," ucap Alex menjelaskan keinginan Dara pada ibunya.
"Benar begitu Dara?" tanya Bu Vivi menatap Dara lekat.
__ADS_1
"Em... sebenarnya sih aku belum siap nikah Bu. Aku kan lagi kuliah. Kalau aku nikah terus aku punya anak, bagaimana nanti kuliah aku. Dan usia aku juga masih muda. Belum ada dua puluh. Apa tidak terlalu muda untuk aku menjalani kehidupan rumah tangga?"
"Dara, kalau menurut saya nih, kalau kamu nggak mau nikah sekarang, nggak apa-apa. Yang penting kalian tunangan dulu aja lah. Nikah mah, bisa tahun depan. Biar semua orang tahu, kalau kamu itu tunangan Alex Rajasa. Agar di kampus kamu nanti, nggak akan ada lagi orang yang macam-macam sama kamu.Kamu bisa undang semua teman sekampus kamu," ucap Bu Vivi.
"Bagaimana Dara, apa kamu mau tunangan dulu sama aku?" tanya Alex. "Aku akan bikin pesta yang mewah di acara pertunangan kita nanti. Aku akan undang semua teman-teman aku dan rekan-rekan kerja aku. Aku juga akan undang teman-teman sekampus kamu juga," ucap Alex. Dia sangat berharap, Dara setuju dengan usulannya.
Dara diam.
Kalau Mas Alex ngadain pesta yang mewah dan besar, pasti semua orang akan tahu kalau aku tunangannya Mas Alex. Dan bagaimana dengan mantan-mantan Mas Alex yang sudah pernah dikecewakan dan diputusin Mas Alex. Bagaimana nanti kalau mereka semua membenci aku.
Berbagai macam fikiran buruk membuat Dara bimbang untuk mengiyakan apa yang Alex dan Bu Vivi ucapkan.
"Dara, apa yang kamu fikirkan? kenapa dari tadi kamu diam aja?" tanya Alex.
"Em, Mas Alex. Aku nggak mau ngadain pesta yang terlalu mewah dan besar. Aku ingin pesta yang sederhana saja Mas. Lagian, itu kan bukan pesta pernikahan," ucap Dara. Dia sama sekali tidak setuju dengan usulan Alex.
"Dara, kenapa kamu bicara seperti itu. Tujuan aku mengundang semua orang yang aku kenal itu, karena aku akan memperkenalkan kamu sama mereka semua. Agar mereka tahu kalau kamu calon istri aku. Dan jika aku mengajak kamu jalan, mereka tidak akan bertanya tentang kamu karena mereka sudah mengenal kamu."
"Iya Dara. Alex itu kan anak satu-satunya di keluarga saya. Jadi saya juga mengharapkan pesta yang meriah untuk pertunangan Alex dan pernikahan Alex," ucap Bu Vivi menimpali.
"Yah, kalau aku sih terserah Mas Alex dan ibu saja. Tapi kalau menikah, untuk sekarang aku belum siap Mas," ucap Dara.
Kali ini Alex memang sudah benar-benar serius ingin mengakhiri masa lajangnya. Dia sudah tidak mau bermain-main lagi dengan banyak wanita. Sudah terlalu banyak wanita yang sudah tersakiti karena Alex. Dan Alex sudah tidak mau mengulangi perbuatannya itu lagi.
Dara tersenyum.
"Iya Mas. Kalau tunangan dulu aku mau Mas. Tapi kalau untuk nikah, sekarang aku belum siap karena aku juga masih baru kuliah."
Dara sudah tidak bisa menolak lagi keinginan Alex dan Bu Vivi untuk mempercepat pertunangan itu. Karena mereka juga sudah terlalu baik sama Dara. Apalagi dengan Pak Rajasa. Dia juga sahabat ayahnya Dara. Dara tidak ingin mengecewakan Bu Vivi dan Pak Rajasa dengan menolak Alex.
Sampai sore, hujan belum juga mereda. Dara masih berada bersama Alex di ruang tengah. Sementara Bu Vivi sudah masuk ke dalam kamarnya. Dan Alex sejak tadi masih sibuk membalas chat yang ada di ponselnya.
"Mas Alex, aku pengin pulang," ucap Dara.
Alex menghentikan aktifitasnya dan menatap Dara lekat.
__ADS_1
"Di luar masih hujan sayang." Alex menatap ke arah jendela.
"Tapi ini sudah sore Mas. Gimana dengan Ica dan Oca." Dara khawatir dengan Ica dan Oca di rumah.
"Telpon aja mereka. Dan kasih tahu kalau kamu ada di sini. Atau aku aja yang telpon mereka,' ucap Alex.
"Ya udah, terserah kamu aja Mas."
Alex menekan nomer Ica untuk menelponnya.
Beberapa saat kemudian, suara Ica sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo..."
"Halo Ica. Ini Kak Alex."
"Ada apa Kak Alex? "
"Ica, Kak Dara nggak bisa pulang sekarang karena masih hujan. Dan sekarang dia ada di rumahnya Kak Alex."
"Oh... begitu ya. Ya nggak apa-apa Kak Alex. Kami juga sudah makan kok, bilang sama Kak Dara, nggak usah terlalu pedulikan kami. Fokus aja dengan pekerjaan dan kuliahnya."
"Dengar kan Dara, adik kamu bilang apa," ucap Alex menatap Dara lekat.
"Iya. Aku dengar."
"Halo Ica, udah dulu ya. Kak Alex cuma mau bilang itu aja. Kalau hujannya nggak reda-reda, mungkin Kak Dara akan nginap di sini dulu semalam. Nggak apa-apa kan?"
"Ya udah, kalau Kak Dara mau nginap di rumah Kak Alex. Kami nggak apa-apa kok. Lagian kami juga sudah mandiri. Kami berdua berani kok, tungguin rumah sendiri."
"Ya udah kalau begitu. Kak Alex tutup dulu ya, telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Alex kemudian menutup saluran telponnya.
__ADS_1
"Dengar kan, tadi Ica ngomong apa. Kamu jangan khawatirkan mereka. Mereka udah gede kok. Dan mereka juga, berdua di rumah. Nggak akan ada apa-apa. Tadi katanya mereka juga udah makan," ucap Alex.
"Ya udah lah kalau begitu. Aku lega dengarnya."