Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kejutan kecil


__ADS_3

"Dara...!" suara bariton Alex sudah terdengar dari lantai bawah.


Dara yang sejak tadi masih berada di kamar, tampak panik. Dia saja belum memakai high heels nya. Tapi kenapa Alex sudah memanggilnya.


Dara kemudian segera memakai high heels yang baru Alex belikan tadi.


"I-iya Tuan. Tunggu sebentar...!"seru Dara.


Setelah memakai sepatunya, Dara mengambil ponselnya yang sudah dia nonaktifkan beberapa jam yang lalu. Setelah itu, Dara menyimpan ponsel itu ke dalam tasnya.


Dara kemudian pergi ke luar dari kamarnya untuk menemui Alex yang sudah menunggunya di lantai bawah.


Dara menuruni anak tangga dengan perlahan. Alex terkejut saat melihat penampilan Dara saat ini. Dara sangat cantik sekali. Dia sangat berbeda jauh dari Dara yang sebelumnya.


Alex sejak tadi masih menatap Dara tanpa berkedip. Sementara Dara, masih tidak nyaman dengan gaunnya itu. Dia sejak tadi masih menarik-narik gaunnya itu ke bawah. Rasanya gaun itu terlalu pendek bagi Dara.


'Ih, kenapa Tuan Alex menatap aku seperti itu. Apakah gaun ini, membuat lelaki terangsang. Kalau Tuan Alex saja seperti ini, bagaimana dengan lelaki yang ada di luar sana.' batin Dara.


"Tuan. Kenapa Tuan menatap aku seperti itu," ucap Dara yang membuat Alex tersadar dari bengongnya.


"Eh, Dara. Kamu cantik banget Dara," ucap Alex.


"Apa kita jadi pergi Tuan?"


"Harus dong."


Dengan sigap, Alex segera merangkul bahu Dara. Membuat Dara risih dibuatnya.


'Ih, kenapa aku jadi nggak nyaman begini ya. Apa aku kembalikan saja uang yang dua puluh juta itu. Tapi, aku harus cari kemana lagi uang sebanyak itu. Aku tidak mungkin ngumpulin uang gajiku sampai dua puluh juta. Kelamaan. ibu saja, sudah sangat membutuhkannya sekarang.'


Dara dan Alex berjalan ke luar dari rumah.


"Pak Tino...!" seru Alex memanggil satpamnya saat dia sudah sampai di teras depan.


Beberapa saat kemudian, Pak Tino menghampiri Alex.


"Iya Tuan. Ada apa ?" tanya Pak Tino.


"Buka gerbang! aku mau pergi sekarang," ucap Alex.

__ADS_1


Pak Tino mengangguk. "Baik Tuan."


Pak Tino kemudian berjalan ke arah pintu gerbang dan membuka gerbang untuk mobil majikannya.


Setelah Alex dan Dara sudah berada di dekat mobil, Alex membukakan pintu mobil untuk Dara.


"Silahkan sayang...!" ucap Alex yang sudah memperlakukan Dara dengan sangat romantis, bak pangeran di negri dongeng


"Makasih Tuan," ucap Dara. Setelah itu, dia masuk ke dalam mobil Alex.


Setelah Dara masuk ke dalam mobilnya, Alex kemudian ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah.


Di dalam perjalanan ke cafe, Dara sejak tadi masih diam. Dia masih menatap ke luar jendela mobilnya. Walau saat ini dia sedang bersama Alex, namun fikiran Dara tertuju pada ibu dan ke dua adiknya.


'Duh ibu, Ica, Oca, maafkan aku ya, karena aku nggak bisa pulang ke rumah. Aku sekarang lagi sama Tuan Alex. Aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. Tuan Alex memaksaku untuk ikut dengannya'


Alex sesekali masih menatap Dara. Dia masih terpesona dengan kecantikan gadis itu.


Dara terkejut, saat tiba-tiba saja, Alex memegang tangannya.


"Dara, kamu memang wanita yang kecantikannya sangat sempurna," ucap Alex.


Dia sering membawa wanita-wanita cantik untuk tidur dengannya. Bahkan terkadang Alex membawa wanita-wanita itu, ke rumahnya untuk bermalam di sana.


"Kita mau ke mana Tuan?" tanya Dara.


"Kita ke cafe dulu. Setelah itu, aku akan buat kejutan buat kamu," ucap Alex.


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah sampai ke cafe, akhirnya mobil Alex sampai juga di depan cafe.


Setelah sampai di tempat parkir, Alex menghentikan mobilnya dan buru-buru turun dari mobilnya. Tidak lupa, Alex membukakan pintu untuk Dara.


"Ayo Dara, turun!" pinta Alex dengan lembut.


Dara turun dari mobilnya. Sesekali dia membenarkan bagian gaun yang ada di dadanya. Gaun itu menurut Dara sangat terbuka.


Alex dan Dara berjalan masuk ke dalam cafe yang malam ini, tampak sepi. Karena tidak ada satu pengunjung pun yang berada di dalam cafe itu.


Alex sudah memesan tempat khusus yang sudah dihias lilin dan bunga-bunga cantik di atas meja. Untuk dinnernya bersama Dara.

__ADS_1


Dara tersenyum saat melihat kecantikan bunga-bunga yang ada di atas meja. Rasanya, dia terharu saat Alex memberikan kejutan kecil itu. Walaupun begitu, tapi Dara tetap benci saja sama Alex. Karena Alex sama sekali tidak punya rasa perikemanusiaan. Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan Dara. Dia sengaja memanfaatkan Dara untuk kepentingannya sendiri.


Alex menarik kursi dan mempersilahkan Dara duduk.


"Duduklah sayang," ucap Alex.


Dara kemudian duduk. Begitu juga dengan Alex yang ikut duduk di dekat Dara.


Alex kembali menatap Dara. Dia seperti tidak pernah bosan untuk menatap Dara.


"Tuan, kenapa Tuan menatap aku seperti itu?" tanya Dara yang merasa risih saat Alex menatapnya.


Karena saat ini, Dara memakai baju seksi. Dan sebenarnya, Dara juga malu jika harus memakai baju itu untuk keluar rumah. Apalagi untuk pergi ke cafe.


"Karena kamu itu wanita yang tidak membosankan, untuk dipandang sayang," ucap Alex yang sudah mengeluarkan jurus andalannya. Rayuan maut.


Alex menggenggam tangan Dara. Dia kemudian mencium tangan Dara.


"Kamu cantiknya sangat alami sayang. Selain cantik, kamu juga seksi. Coba saja kalau setiap hari, penampilan kamu seperti ini. Aku akan sangat bahagia. Dan kalau kamu mau menjadi teman tidurku, aku akan memberikan apa yang kamu mau sayang. Aku bisa menjamin kehidupan kamu dengan keluarga kamu."


Sebenarnya, Dara muak dengan sikap Alex padanya. Dan Dara juga tidak akan pernah termakan rayuan Alex. Saat ini, Dara hanya memikirkan ibu dan ke dua adiknya.


Dara sejak tadi sama sekali tidak mendengar apa yang Alex ucapkan. Mata Dara sejak tadi, masih menatap sekeliling. Dara tampak bingung, karena di cafe itu, tidak ada orang lain kecuali dirinya dan Alex.


"Kenapa sepi banget ya cafe ini. Padahal, ini masih sore," ucap Dara lirih.


"Kenapa Dara?" tanya Alex.


Dara menatap Alex.


"Kenapa cafe ini sangat sepi. Nggak ada pengunjungnya sama sekali. Coba deh, lihat. Di sekitar kita tidak ada orang lain kecuali kita saja di sini," ucap Dara. Matanya masih melirik sana sini.


"Oh, hehe... Kamu heran ya Dara? ya, apa sih yang tidak bisa Alex lakukan Dara. Semua bisa aku lakukan termasuk menyewa cafe ini."


"Menyewa? maksud kamu?"


"Dara, aku memang sengaja menyewa cafe ini khusus untuk kita malam ini. Aku tidak mau, ada orang yang ganggu keromantisan kita sayang," ucap Alex.


Alex kembali menggenggam tangan Dara.

__ADS_1


__ADS_2