
Siang ini, Alex dan Dara sudah sampai di depan rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran, Alex dan Dara kemudian turun dari mobil mereka.
"Mas, kamu mau bawa pulang mama kamu kapan?" tanya Dara menatap Alex lekat.
"Sekarang Dara," jawab Alex.
"Kok cepat banget? kenapa nggak tunggu besok atau lusa Mas?"
"Kelamaan Dara. Mama aku sekarang lagi ada dalam bahaya Dara. Aku tidak mau lengah untuk menjaganya. Kalau di rumah kan banyak orang. Banyak yang jagain. Jadi lelaki bertopeng itu tidak akan berani untuk masuk ke rumahku. Kalau mama tetap di sini, aku takut lelaki itu akan dengan mudah masuk ke ruangan mama."
"Iya juga sih. Tapi apa dokter sudah membolehkan mama kamu pulang?"
"Sudah Dara."
Alex dan Dara melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Di depan ruangan Bu Vivi, sudah tampak dua orang bertubuh kekar sedang berjaga di sana.
Dara terkejut saat melihat dua bodyguard Alex itu.
"Mas, mereka siapa? menyeramkan sekali," ucap Dara sembari bersembunyi di belakang Alex.
Alex tersenyum.
"Nggak usah takut. Mereka bodyguard aku Dara," jawab Alex.
"Doni?"
"Bukan, Mereka anak buahnya Doni."
"Terus, mana yang namanya Doni?"
"Entah si Doni ke mana."
Alex mendekat ke arah dua bodyguardnya.
"Selamat siang Pak Alex," ucap ke dua bodyguard Alex bersamaan.
"Siang."
Alex kemudian menggandeng Dara masuk ke dalam ruangan Bu Vivi untuk bertemu Bu Vivi di dalam.
"Bu Vivi," ucap Dara sembari mendekat ke arah Bu Vivi.
Bu Vivi menoleh dan tersenyum.
"Dara..."
Dara duduk di sisi Bu Vivi. Dia kemudian menatap Bu Vivi lekat..
"Bagaimana kondisi Bu Vivi sekarang?" tanya Dara.
"Ibu sudah mulai membaik Dara" jawab Bu Vivi.
__ADS_1
"Oh. Syukurlah. Dara seneng dengarnya."
"Dara, kenapa kamu lama sekali pulangnya? ibu sudah nungguin kamu dari tadi pagi."
"Maaf ya Bu. Dara baru nyampe. Tadi Dara di ajak Mas Alex makan dulu di cafe. Jadi agak lama," jelas Dara.
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu mau datang ke sini."
"Ibu sudah mau pulang hari ini?" tanya Dara.
"Kata Alex, iya. Ibu akan pulang hari ini. Kata dokter juga ibu sudah boleh pulang sekarang."
"Syukurlah."
Alex menatap Dara dan Mamanya. "Mama, Dara, aku keluar dulu ya. Aku mau ngurus administrasi pembayaran dulu,"
"Iya Mas. Biar aku temani mama kamu di sini."
Alex mengangguk. Setelah itu dia pergi meninggalkan Dara dan ibunya keluar.
Setelah beberapa hari Bu Vivi berada di rumah sakit, akhirnya hari ini Bu Vivi sudah diperbolehkan pulang. Dan Alex akan membawa pulang mamanya sekarang. Namun dia akan selesaikan pembayaran administrasinya dulu.
"Bagaimana Don, apakah ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Alex pada Doni.
"Aman Bos. Nggak ada sesuatu yang mencurigakan," jawab Doni.
"Syukurlah. Aku takut dengan keselamatan mama. Aku nggak mau sampai mama dicelakai sama orang."
"Pak Alex tenang saja. Selama ada saya dan dua bodyguard saya, semuanya akan aman terkendali.."
"Ngomong-ngomong, cewek yang tadi sama si Bos, siapa bos? pacar barunya si Bos?" tanya Doni.
Alex mengernyitkan alisnya.
"Siapa? Dara maksud kamu?"
"Oh. Namanya Dara. Lumayan juga cantiknya. Tapi sayang banget penampilannya."
Alex menatap tajam Doni.
"Kenapa kamu tanya-tanya soal Dara? kamu naksir sama dia?" tanya Alex yang tampak cemburu saat ada lelaki yang bertanya soal Dara.
Doni terkekeh.
"Hehe... bos, siapa sih lelaki yang mau bersaing dengan bos besar seperti anda. Saya cuma mau tanya aja. Soalnya saya baru lihat cewek tadi. Saya nggak berani lah, nikung bos dengan memacari salah satu ceweknya si bos," ucap Doni.
Doni memang kadang suka bercanda. Dia tidak suka jika bosnya terlalu serius. Karena pada dasarnya Doni lelaki yang humoris.
"Kalau boleh sih, saya naksirnya sama Ratih dan Tari. Mereka masih single kan bos?"
"Ya. Mereka masih single. Kalau mau ambil saja mereka. Tapi salah satunya aja."
__ADS_1
"Emang kalau sekaligus kenapa bos?"
"Serakah namanya,"
"Apa cuma bos aja yang boleh mendapatkan julukan playboy si raja gombal. Kenapa aku nggak boleh dapat julukan seperti itu juga," ucap Doni.
Alex menatap Doni tajam.
"Aku nggak ada waktu untuk bercanda Don," ucap Alex.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alex masuk ke dalam ruangan ibunya.
"Mama, Dara, kita siap-siap sekarang."
"Kita mau pulang sekarang Mas?" tanya Dara.
"Ya. Kamu tolong, bantu aku berkemas Dara."
"Iya Mas."
Dara dan Alex kemudian mengemasi semua barang-barang mereka. Seperti baju Bu Vivi dan barang-barang yang lain. Setelah semua siap, Alex dan Dara membantu Bu Vivi untuk naik ke atas kursi roda. Setelah itu mereka keluar dari ruangan dan menghampiri Doni.
"Don, ikut aku pulang!" ucap Alex.
"Baik Pak Alex."
Alex dan Dara kemudian mendorong kursi Bu Vivi sampai ke luar dari rumah sakit.
Alex dan Doni kemudian membantu Bu Vivi untuk masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Bu Vivi masuk, Alex dan Dara kemudian ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
Begitu juga dengan Doni dan dua bodyguard Alex yang lain. Mereka juga meluncur pergi meninggalkan rumah sakit untuk mengiringi mobil Alex.
Di sisi yang lain, dua orang lelaki tampak menggerutu. Mereka sudah kehilangan kesempatan mereka untuk melenyapkan Bu Vivi.
"Kurang ajar, gara-gara semalam kita ketahuan, Alex sekarang mengajak pulang ibunya dan memperketat penjagaannya," ucap Badrun lelaki yang berambut ikal.
"Kita sudah nggak punya kesempatan lagi sekarang. Karena susah jika Vivi sudah berada di rumah Alex," ucap Toni.
"Iya. Ini semua gara-gara kamu Ton," Badrun tampak menyalahkan Toni temannya.
"Kok gara-gara saya."
"Kan semalam kamu yang masuk ke ruangan Vivi. Kenapa kamu tidak bergerak cepat agar tidak ketahuan. Atau kamu tunggu suster itu keluar."
"Emang aku tahu, kalau ada suster yang mau masuk ke ruangan itu."
Badrun dan Toni saling menyalahkan satu sama lain. Mereka takut dengan kemarahan Rita. Seandainya Rita dan Martin marah, pastilah mereka tidak akan memberikan uang pada Badrun dan Toni. Bisa saja Rita dan Martin mencari orang bayaran lain yang bisa diandalkan.
"Kita nggak usah lapor si Bos. Bisa kena tampar lagi nanti kita. Kita cari cara saja agar kita bisa masuk ke dalam rumah Alex Rajasa," ucap Badrun.
__ADS_1
"Ya. Kita cari cara agar kita bisa lenyap kan Vivi." Toni menyetujui ucapan Badrun.
Badrun dan Toni kemudian pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka tampaknya sangat kecewa setelah banyak kegagalan yang mereka alami untuk menghancurkan Alex dan ibunya.