
"Kamu mau pulang?" tanya Alex pada Dara.
Dara bingung harus menjawab apa. Dia sebenarnya ingin pulang. Tapi dia juga nggak tega meninggalkan Alex sendiri di rumah sakit. Dara memang wanita yang tidak tegaan saat melihat orang lain susah.
Namun jika dia tidak pulang, dia juga kasihan dengan nasib adik-adiknya di rumah. Semalam saja mereka menanyakan nasi dan lauk. Walau mereka sudah SMP, tapi mereka kurang mandiri karena mereka selalu saja mengandalkan kakaknya.
"Nggak. Aku mau di sini aja temani kamu," ucap Dara.
Dara kemudian mengeluarkan dua bungkus nasi dari kantong plastik. Dia menyodorkan sebungkus nasi pada Alex.
"Ini buat kamu Tuan," ucap Dara.
"Apa itu?" tanya Alex menatap sebungkus nasi itu.
"Nasi bungkus."
"Kamu beli di depan?"
"Iya Tuan."
"Aku nggak mau. Aku nggak biasa makan makanan pedagang kaki lima. Apalagi itu jualannya di rumah sakit. Pasti nggak higienis."
"Tapi Tuan, dari pada kita kelaparan. Lebih baik kita makan seadanya saja. Ambilah Tuan, aku tahu kalau sejak semalam Tuan belum makan apa-apa."
"Aku nggak mau makan Dara. Aku juga lagi nggak nafsu makan."
"Tuan, jangan begitu. Tuan juga harus memikirkan diri Tuan. Gimana kalau Tuan ikut sakit. Kasihan ibu Tuan nanti. Kalau tuan sakit, siapa yang akan jagain dia."
Alex diam.
Tiba-tiba saja, seorang dokter menghampiri Alex dan Dara.
"Maaf Pak Alex. Ada sesuatu yang harus saya sampaikan," ucap Dokter.
Alex bangkit dari duduknya.
"Bisa ikut saya sebentar ke ruangan saya? saya ingin membicarakan sesuatu yang penting."
"Baik Dok."
Alex menatap Dara.
"Kamu tunggu di sini ya Dara. Aku mau ikut dokter sebentar."
Dara mengangguk. Alex kemudian berjalan pergi dengan dokter meninggalkan Dara.
Alex dan dokter saat ini sudah duduk di sebuah ruangan. Dokter menatap Alex dengan wajah yang tampak serius.
"Pak Alex, dengan berat hati saya ingin menyampaikan ini. Bu Vivi sampai saat ini, belum menunjukan tanda-tanda kalau dia akan siuman. Padahal kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menanganinya."
__ADS_1
"Terus Dok? apa yang harus kita lakukan Dok? tolong Dok. Selamatkan lah mama saya. Saya belum siap kehilangan dia."
"Begini Pak Alex. Saya ingin meminta persetujuan bapak. Bagaimana seandainya Bu Vivi di Operasi. Karena benturan yang sangat keras di kepalanya membuat saraf di sekitar otaknya rusak. Dan kita harus melakukan operasi."
"Terserah Dok. Yang penting mama saya sembuh."
"Tapi untuk operasi itu, kita harus menunggu kondisi Bu Vivi stabil. Karena saat ini dia masih dalam keadaan pingsan dan kondisinya masih kritis."
"Lakukan yang terbaik Dok. Kalau mau di Operasi, lakukan sekarang saja."
"Tidak bisa Pak Alex. Kita akan menunggu kondisi Bu Vivi stabil."
"Baiklah. Terserah dokter saja."
***
Dara masih menunggu Alex dengan cemas. Dua bungkus nasi sudah dia masukan ke kantong plastik kembali. Dara juga tidak enak makan karena dia masih memikirkan adiknya yang ada di rumah.
'Ica dan Oca sekolah nggak ya hari ini, mereka semalam kelaparan. Mereka udah makan apa belum ya' batin Dara.
"Ada apa sih sebenernya. Kenapa tadi dokter sepertinya serius banget ngomongnya sama Tuan Alex. Apa ada sesuatu dengan ibunya Tuan Alex," gumam Dara.
Beberapa saat kemudian, Alex berjalan dan menghampiri Dara. Dia menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Dara. Wajah Alex sangat lesu dan pucat.
"Tuan Alex, ada apa?" tanya Dara.
Alex menatap Dara.
"Apa! separah itu kah Tuan?" Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Iya Dara. Aku benar-benar bingung. Dokter belum bisa melakukan tindakan apapun, karena kondisi mama masih kritis dan belum stabil."
"Tuan, mendingan sekarang Tuan ambil wudhu, sholat dan ngaji. Minta kesembuhan untuk ibu anda. Dari semalam saya melihat Tuan ini sedih terus."
Alex terkejut saat mendengar ucapan Dara.
"Apa! ngaji?"
"Kenapa? Tuan muslim kan?"
"Iya. Aku muslim dari kecil. Tapi aku nggak bisa ngaji Dara."
Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Tuan nggak bisa ngaji? ya udah ambil wudhu, sholat dan baca dzikir."
"Tapi aku nggak biasa melakukan itu Dara. Aku nggak bisa wudhu dan sholat."
Dara kembali terkejut saat mendengar ucapan Alex.
__ADS_1
"Terus Tuan bisanya apa? nggak bisa ngaji, nggak bisa sholat dan wudhu. Bisanya cuma pacaran doang?" ucap Dara yang sudah tampak kesal dengan Alex.
Alex hanya diam. Dia sama sekali tidak marah dengan ucapan Dara. Sejak kecil, Alex memang sudah dibesarkan di keluarga yang tidak mengerti apa-apa tentang agama.
Orang tua Alex sejak masih muda tinggal di sebuah negara dengan budaya yang sangat berbeda dengan Indonesia. Wajar saja jika mereka jauh dari ajaran agama yang dianutnya.
Dara bangkit dari duduknya.
"Aku pengin pulang Tuan. Aku kasihan sama dua adik aku," ucap Dara tiba-tiba.
"Ya udah. Aku antar kamu pulang ya."
"Nggak usah Tuan. Aku mau pulang sendiri aja. Kasihan ibu Tuan, kalau nggak ada yang jagain."
"Ya udah Dara. Aku izinkan kamu pulang."
Dara tersenyum.
"Makasih ya Tuan."
"Iya Dara."
Dara kemudian mengambil dua bungkus nasi yang ada di dalam kantong plastik.
"Tuan, Tuan yakin nggak mau nasi bungkusnya?" tanya Dara sebelum pergi.
Alex menggeleng.
"Nggak usah repot-repot Dara. Kalau aku lapar, aku bisa cari makan sendiri. Bawa pulang aja Dara. Siapa tahu kamu dan adik-adik kamu lebih membutuhkan makanan itu."
"Ya udah. Kalau begitu, saya permisi dulu ya Tuan."
"Iya Dara. Hati-hati di jalan."
Dara kemudian berjalan keluar dari rumah sakit meninggalkan Alex. Dia memutuskan untuk pulang karena dia juga sudah sangat lelah. Karena dari kemarin dia belum pulang ke rumahnya. Dia belum mandi dan ponselnya juga belum dia cas
Fikiran Dara juga sejak tadi tidak bisa fokus karena memikirkan nasib ke dua adiknya di rumah.
Dara berjalan ke arah jalan raya. Dia tersenyum saat melihat ada angkot lewat.
"Aku nyoba naik angkot aja deh. Soalnya uangku sudah menipis," ucap Dara.
Beberapa saat kemudian, angkot berhenti tepat di depan Dara. Dara kemudian masuk ke dalam angkot itu. Setelah itu Dara pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit dengan angkotan umum itu.
Beberapa saat kemudian angkot itu sudah sampai di jalan raya dekat rumah Dara. Dara turun dari angkot dan membayar ongkos angkot itu.
Setelah itu Dara pun berjalan memasuki jalan kecil yang akan menuju ke rumahnya.
Dengan sekejap, Dara sudah sampai di teras depan rumahnya. Dia menatap rumahnya yang tampak sepi.
__ADS_1
"Ke mana ya adik-adik aku. Mereka ada di dalam atau mereka sudah pergi ke sekolah," ucap Dara.
Dara kemudian mencoba untuk membuka pintu depan rumahnya. Namun nampaknya pintu itu sudah terkunci. Sepertinya Ica dan Oca sudah mengunci pintu rumah itu dari luar.