Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kegeraman Alex


__ADS_3

"Dia itu namanya Desi Pak Rajasa. Dia wanita yang sering ke sini dan sering membawakan Pak Alex makan siang. Sepertinya dia itu pacarnya Pak Alex," ucap Ranti menjelaskan.


Ranti memang sering melihat Desi datang ke kantornya Pak Rajasa untuk membawakan makanan untuk Alex. Ranti juga sudah bisa menebak kalau Desi itu adalah pacarnya Alex.


"Oh. Pacarnya Alex. Kok aku nggak tahu ya," ucap Pak Rajasa.


Pak Rajasa memang tidak pernah tahu hubungan Alex dengan para wanita itu. Dia hanya tahu, kalau Alex setiap hari kerja di kantor, dan dia sering datang ke kantor Pak Rajasa untuk membantu pekerjaannya.


Pak Rajasa kemudian merangkul Dara dan mengajaknya untuk duduk.


"Duduk di sini dulu ya Dara," ucap Pak Rajasa.


Dara mengangguk. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruangan Alex. Begitu juga dengan Pak Rajasa yang mengikuti Dara duduk.


"Ranti, ambilkan air putih untuk Dara minum ya," pinta Pak Rajasa menyuruh Ranti untuk mengambilkan minuman untuk Dara.


Ranti mengangguk."Baik Pak"


Tanpa butuh waktu lama, Ranti pun pergi meninggalkan ruangan Alex. Dia akan mengambil air putih untuk Dara.


Alex menarik tangan Desi sampai keluar dari kantor. Nampaknya Alex sangat marah saat melihat Desi yang tiba-tiba menyerang Dara dan menjambak rambut Dara.


"Mas Alex, lepas! lepaskan aku Mas. Tangan aku sakit Mas," ucap Desi yang sejak tadi masih mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Alex.


Alex menghempaskan tangan Desi begitu saja. Tatapannya menyorot tajam ke arah Desi. Sementara Desi, masih memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman Alex.


"Desi, apa yang tadi kamu lakukan sama Dara heh...!" bentak Alex.


"Maafkan aku Mas Alex. Aku tadi nggak bisa mengontrol emosi aku. Maafkan aku. Aku menyesal Mas dengan apa yang sudah aku lakukan," ucap Desi.


"Kamu kenapa jadi kasar banget sih Des. Kalau kamu kayak gini, mending kita putus aja sekarang Des. Aku nggak suka punya pacar yang kasar seperti kamu."


Desi meraih tangan Alex dan menggenggamnya erat.


"Mas Alex, maafkan aku. Aku nggak mau putus dari kamu Mas. Aku mohon, maafkan aku. Aku nggak mau putus dari kamu Mas. Aku itu cinta banget sama kamu."


Alex dengan kasar melepaskan genggaman tangan Desi.


"Sudahlah Des, mendingan kamu pergi saja dari sini. Malu-maluin aja kamu ini Des."


Alex menatap sekeliling. Semua orang yang ada di depan kantor Pak Rajasa, menatap Alex dan Desi.


Alex yang sudah tidak mau menjadi pusat perhatian karyawan sekantor, langsung melangkah masuk kembali ke dalam kantor. Sementara Desi hanya bisa menangis di depan kantor Pak Rajasa.


"Mas Alex jahat. Mas Alex jahat...! gara-gara gadis cupu itu, dia mutusin aku. Aku nggak akan pernah mau maafin gadis itu. Aku cinta sama Mas Alex, dan aku nggak akan pernah melepaskan Mas Alex. Jangan harap office girl itu bisa mendapatkan cintanya Mas Alex, aku nggak terima diperlakuan seperti ini oleh Mas Alex," ucap Desi.


Desi sudah tidak mau berlama-lama lagi berada di kantor Pak Rajasa. Dia tahu kalau saat ini, dia sedang menjadi pusat perhatian orang sekantor. Tanpa banyak berfikir, Desi kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan kantor Pak Rajasa.


Di ruangan Alex, Dara masih menangis. Sementara Pak Rajasa masih menemani Dara duduk di sampingnya sembari menenangkannya.


Beberapa saat kemudian, Ranti datang dengan membawa segelas air putih untuk Dara.


"Ini Pak, air putih untuk Dara," ucap Ranti sembari meletakan gelas yang berisi air putih itu di atas meja.


"Makasih ya Ranti. Kamu bisa kembali kerja."

__ADS_1


"Iya Pak Rajasa. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Ranti.


Ranti kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Alex.


Pak Raja mengambil gelas yang ada di atas meja.


"Dara, minum dulu Dara. Agar kamu bisa sedikit lebih tenang," ucap Pak Rajasa sembari menyodorkan gelas pada Dara.


Dara mengangguk dan meraih gelas itu. Dia kemudian menegak segelas air putih yang ada di gelas itu.


Beberapa saat kemudian, Alex datang dan langsung menghampiri Dara.


"Dara, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Alex sembari mendekat ke arah Dara.


Alex kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Dara.


"Alex, tolong kamu tenangkan Dara. Papa masih banyak kerjaan. Papa mau ke ruangan papa dulu."


"Iya Pa."


Pak Rajasa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Alex.


"Dara, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Alex.


Dara diam.


"Kenapa sih Desi jahat banget sama aku. Kenapa dia tiba-tiba nyerang aku. Padahal aku kan nggak punya hubungan apa-apa sama kamu Mas."


"Sudahlah, jangan fikirin Desi lagi. Aku sudah putusin dia Dara. Dan sekarang aku sudah nggak mau berurusan sama mantan-mantan aku lagi."


Dara mengusap air matanya.


"Iya Dara. Dan aku melakukan itu demi kamu."


Alex meraih tangan Dara.


"Karena aku mau seriusan sama kamu Dara."


Dara tersenyum.


"Kamu sekarang percaya kan sama aku?" tanya Alex.


Dara mengangguk.


"Iya aku percaya kok sama Mas Alex."


*****


Malam ini, Dara masih berada di dalam kamarnya. Dia masih berbaring di atas tempat tidurnya. Dara menatap ke langit-langit kamar.


Fikirannya masih tertuju pada Alex. Dara masih ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Alex sampai kejadian-kejadian yang tidak pernah Dara lupakan.


Ting.


Sebuah notifikasi sudah terdengar dari ponsel Dara.

__ADS_1


Dara mengambil ponselnya yang ada di sampingnya tidur. Dia kemudian membuka whatsapp nya. Dara tersenyum saat melihat chat dari Alex.


(Selamat malam sayang. Kamu sudah tidur apa belum?)


"Ih, Mas Alex, ngapain sih malam-malam gini chat aku. Pakai bilang sayang-sayang lagi. Aku balas nggak ya," gumam Dara.


(Aku belum tidur Mas)


(Sayang, besok aku jemput kamu ya. Aku antar kamu ke kampus.)


Dara terkejut saat membaca chat dari Alex.


"Apa! Mas Alex mau ngantar aku ke kampus. Untuk apa. Aku bisa lagi ke kampus sendiri," ucap Dara.


Dara kemudian membalas lagi chat dari Alex.


(Tidak perlu Mas. Aku bisa ke kampus sendiri.)


(Kenapa nggak mau. Kamu malu ya jalan sama aku. Karena aku sudah tua. Kamu pengin ya cari yang muda)


"Ih, Mas Alex apaan sih. Kenapa dia jadi lebay gini."


(Bukan gitu Mas. Aku cuma nggak mau aja ngerepotin kamu.)


( Aku nggak pernah merasa direpotin kok. Apalagi sama pacar sendiri)


(Pacar? pacar siapa?)


(Kamu kan sekarang pacar aku Dara.)


(Apa! kapan Mas, aku nerima kamu jadi pacar aku)


(Walau kamu tidak mau bicara jujur, tapi aku sudah bisa membaca hati kamu Dara. Kalau kamu itu sebenarnya cinta kan sama aku)


"Ih... Mas Alex nyebelin banget deh. Malas ah."


Dara meletakan ponselnya kembali dan bangun dari tempat tidurnya. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya.


"Oca dan Ica, sudah tidur belum ya," ucap Dara.


"Aku lihat di kamarnya deh."


Dara kemudian melangkah dan masuk ke dalam kamar adiknya.


Dara terkejut saat Ica memegang sebuah cincin cantik miliknya.


Itu kan cincin aku. Kenapa bisa ada sama Ica.


Dara langsung menghampiri Ica.


"Ica. Kamu dapat dari mana cincin itu?" tanya Dara tiba-tiba yang membuat Ica terkejut.


Ica menoleh ke arah Dara.


"Kak Dara, ada apa? tanya Ica.

__ADS_1


Dara mengambil cincin yang ada di tangan Ica.


"Ica, ini cincin siapa? ini kok, mirip cincin aku yang kemarin jatuh di depan?"


__ADS_2