
Dara melepas pelukannya. Dia hanya bisa menunduk malu. Dia sama sekali tidak berani untuk menatap Alex.
"Maafkan aku. Aku nggak sengaja memeluk anda Tuan," ucap Dara.
Alex hanya tersenyum.
"Sengaja juga nggak apa-apa, aku malah seneng Dara."
Dara menatap Alex tajam. Rasanya dia saat ini sudah benar-benar kesal dengan Alex. Alex memang sangat suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Ayo aku antar kamu pulang. Sebentar lagi akan turun hujan," ucap Alex.
Dara diam. Dia tampak berfikir.
'Apakah aku harus pulang bareng Tuan Alex, bagaimana kalau dia macam-macam lagi sama aku,' batin Dara.
"Apa yang kamu fikirkan Dara. Ayo masuk mobil. Sebentar lagi akan turun hujan," ucap Alex sembari menggenggam tangan Dara.
"Ta-tapi. Kamu tidak akan macam-macam kan sama aku?"
"Nggak. Siapa yang mau macam-macam. Kalau aku mau jahat sama kamu, seharusnya aku tadi biarkan kamu dijahati dua lelaki tadi."
"Baiklah, aku percaya. Tapi lepaskan aku. Nggak usah pegang-pegang."
"Oke." Alex melepaskan genggamannya.
Alex dan Dara melangkah ke mobil. Alex kemudian membuka pintu mobil untuk Dara.
"Kamu bisa duduk di belakang Dara," ucap Alex.
"Makasih."
Dara kemudian masuk ke dalam mobil Alex.
Dara terkejut saat melihat di dalam mobil ada seorang wanita yang tidur di jok depan.
'Siapa wanita ini.'
Dara hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Wanita siapa yang sedang ada di dalam mobil Alex saat ini.
Alex masuk ke dalam mobilnya. Dia tersenyum saat melihat Desi yang sejak tadi masih terlelap.
"Hah, pasti kamu lelah sayang, makanya tidur kamu lelap banget begini," ucap Alex sembari mengusap rambut Desi.
Sayang? apakah wanita ini pacarnya Tuan Alex. batin Dara
Alex kemudian meluncur pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku mau antar Desi dulu pulang Dara," ucap Alex di sela-sela menyetirnya.
"Kok kamu nggak antar aku duluan?" tanya Dara.
"Karena rumah Desi lebih dekat dari pada rumah kamu. Dan Desi yang lebih dulu ikut denganku."
"Tapi rumah aku juga dekat. Kenapa nggak aku duluan aja yang kamu antar pulang."
"Sekarang aku mau tanya sama kamu. Siapa yang nyetir?"
"Kamu."
"Ya udah dong kamu harus diam dan nurut sama aku. Kalau kamu nggak mau nurut, ini nyetir sendiri."
__ADS_1
"Iya iya..."
Dara akhirnya diam saat Alex menyuruhnya diam.
Beberapa saat kemudian, Alex menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumah Desi. Dia menatap ke sepion kaca mobilnya. Dia tersenyum saat melihat Dara sudah terlelap.
"Ternyata dari tadi Dara tidur. Pantas aja dia mau diam."
Setelah menatap Dara, Alex kemudian menatap Desi.
"Des, bangun Des. Udah sampai Des," ucap Alex sembari menepuk-nepuk pipi Desi.
Desi mengerjapkan matanya dan mengucek matanya.
"Sayang, kita udah sampai?" tanya Desi pada Alex.
"Iya."
Desi yang merasakan ada orang di jok belakang mobil Alex buru-buru menatap ke belakang. Desi terkejut saat melihat ada seorang wanita yang tidur dibelakang mobil Alex.
"Mas, siapa wanita ini?" tanya Desi.
"Dia bukan siapa-siapa. Tadi aku cuma nolong dia aja di jalan. Terus, aku mau antar dia pulang ke rumahnya. Eh, dia malah tidur."
"Kamu yakin?"
"Yakinlah sayang. Lalu kamu fikir dia siapa? pacar aku? pacar aku itu kan cuma kamu sekarang sayang. Lihat saja, penampilannya nggak banget gitu," ucap Alex
Desi masih memperhatikan Dara sejak tadi. "Iya. Aku percaya," ucap Desi setelah itu.
Dara terbangun dan mengerjapkan matanya saat samar-samar dia mendengar obrolan Alex dan Desi.
Dara sebenernya penasaran dengan Desi. Karena Dara baru pernah melihat wanita yang bernama Desi.
Sebelum Desi, ada wanita yang sering Alex ajak main ke rumah. Dan Dara biasa melihat wanita itu di rumah Alex setiap Dara kerja di sana. Namun wanita itu bukan Desi. Tapi wanita yang berbeda.
Dara terkejut saat melihat Alex berciuman dengan Desi. Dara hanya bisa menelan ludahnya dan pura-pura tidur kembali sebelum Alex mengetahuinya.
'Duh, apa begini cara orang kaya pacaran.'
"Aku turun dulu ya Mas," ucap Desi sebelum turun dari mobil Alex.
Alex mengangguk. Setelah Desi turun, Alex kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Desi.
Tiba-tiba Dara teringat dengan Oca.
'Duh, bagaimana keadaan Oca ya. Aku udah kelamaan perginya. Pasti Oca sekarang lagi nungguin aku'
Dara membuka matanya dan menegakan tubuhnya.
"Tuan Alex. Apakah anda bisa cepat sedikit bawa mobilnya?" ucap Dara tiba-tiba yang membuat Alex terkejut.
"Dara. Kamu nggak tidur? apakah tadi kamu melihat sesuatu?" tanya Alex.
Dara diam. Dia tidak mengerti dengan pertanyaan Alex.
"Sesuatu apa?" tanya Dara dengan polosnya.
'Ah, mudah-mudahan saja Dara tidak melihat aku ciuman dengan Desi.'
"Sudahlah, Dara. Lupakan saja ucapan aku tadi. Udah malam. Aku mau langsung antar kamu pulang."
__ADS_1
"Iya Tuan. Terima kasih."
Beberapa saat kemudian, Alex sampai di depan rumah Dara.
"Tuan Alex, kok Tuan Alex tahu rumahku. Apa sebelumnya Tuan Alex pernah datang ke sini?" tanya Dara.
Dara bingung dengan Alex. Dara tidak pernah menunjukan rumahnya pada Alex, namun Alex langsung tahu saja jalan ke rumah Dara.
"Itu nggak penting kamu pertanyakan Dara. Yang penting aku sudah mengantar kamu sampai rumah dengan selamat," ucap Alex.
Dara kemudian turun dari mobilnya. Sebelum masuk rumah , Dara tersenyum pada Alex yang masih berada di dalam mobil.
"Makasih ya Tuan, saya masuk dulu," ucap Dara
Alex mengangguk. Setelah itu dia buru-buru pergi meninggalkan rumah Dara. Sementara Dara masuk ke dalam rumahnya..
Di ruang tamu, tampak Ica masih menunggunya.
"Kak Dara. Dari mana aja sih Kakak?" tanya Ica menatap tajam ke arah Dara.
"Kakak baru beli obat," jawab Dara
"Lama sekali beli obatnya. Beli obat di mana emang?"
"Di apotik depan. Yang buka 24 jam."
"Yakin kakak beli obat?"
"Yakin lah. Ini obatnya."
"Terus, siapa tadi yang pakai mobil ngantar kakak pulang?"
"Oh, itu Tuan Alex. Mantan majikan Kaka."
"Bukan pacar kakak."
"Ya bukanlah. Kamu ini bicara apa sih Ica."
Dara kemudian mendekat ke sofa dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
"Tuh, Oca. Dari tadi nungguin kakak. Sampai muntah-muntah tadi dia."
"Apa! muntah? Oca muntah-muntah?"
"Iya. Kalau menurut aku sih, dia keracunan makanan kak."
"Kamu yakin kalau Oca keracunan makanan."
"Iya mungkin. Karena di sekolah aku kan banyak jajanan yang kurang higienis. Makanya sering banyak kejadian anak sakit perut."
"Ya udah. Besok kakak akan bawa Oca ke dokter."
Dara menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.
"Sekarang Oca mana?"
"Udah tidur."
"Ya udah. Ini, bawa obat Oca masuk ke kamar. Kakak lelah, kakak juga ngantuk. Kakak ke kamar dulu ya."
Dara kemudian berdiri dan berjalan ke kamarnya.
__ADS_1