
Alex dan Desi sudah saling berhadap-hadapan.
"Oke, sekarang kamu maunya apa?" tanya Alex pada Desi.
"Aku pengin makan bareng kamu di sini Mas," jawab Desi. "Ini udah jam istirahat kan?"
Alex mengangguk."Oke. Kita makan sekarang. Tapi jangan peluk-peluk lagi ya."
"Iya Mas."
Alex melangkah ke sofa dan dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Sementara Desi, mengambil rantang dan duduk di sisi Alex.
Dari pacar-pacar Alex, Desi lah wanita yang paling agresif. Dia itu seperti sudah tergila-gila pada Alex. Dan Alex harus fikirkan baik-baik untuk memutuskan Desi.
Desi membuka rantang itu satu persatu. Setelah itu Alex dan Desi makan bersama.
****
"Bang, Bang Doni mau nggak tungguin aku di sini?" tanya Dara sebelum dia turun. "Aku mau ngantar makanan ini dulu untuk Mas Alex."
"Oke. Aku tungguin kamu ya di sini."
Dara tersenyum.
"Oh iya. Kalau nanti Mas Alex minta Dara untuk temani dia makan, Bang Doni nggak apa-apa kan nungguin rada lama?"
"Siiplah Dara. Aku juga mau beli rokok dulu."
"Iya Bang."
Dara kemudian turun dari mobil. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam kantor Alex. Karena Dara sudah tahu, dimana letak ruangan Alex, Dara melangkah begitu saja sampai ke ruangan Alex.
Dara membuka pintu ruangan Alex. Betapa terkejutnya Dara saat melihat ke dalam ruangan Alex. Dara melihat dengan mata kepala Dara sendiri kalau Alex sedang suap-suapan dengan Desi pacarnya.
Mata Dara sudah mulai memanas. Air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya.
"Mas Alex..." ucap Dara.
Prank...
Rantang yang ada di dalam genggaman tangannya, Dara jatuhkan begitu saja sampai membuat Desi dan Alex terkejut.
Dara menangis sembari berlarian pergi keluar dari kantor Alex.
"Dara..." ucap Alex sembari bangkit berdiri.
Alex akan mengejar Dara. Namun Desi buru-buru mencekal tangannya.
"Mau ke mana Mas? kita kan belum selesai makan?" tanya Desi.
"Aku mau ngejar Dara."
"Untuk apa kamu ngejar office girl itu."
__ADS_1
"Dia..." Alex bingung untuk menjelaskan pada Desi siapa Dara sebenarnya.
Alex hanya bisa menghela nafas dalam.
Duh, kenapa jadi runyam begini masalahnya. Kenapa Dara harus datang ke sini sih. Biasanya juga dia nggak pernah ke sini. Bisa-bisanya Dara dan Desi datang secara bersamaan. Jadi gini kan masalahnya.
Setelah sampai di depan kantor Alex, Dara menghentikan larinya. Dia kemudian menangis sesenggukan di depan kantor Alex.
"Hiks...hiks...Mas Alex jahat...! Mas Alex jahat...! hiks...hiks .." ucap Dara di sela-sela tangisannya.
Dara menangis sembari salah satu tangannya mengusap-usap air mata yang sejak tadi masih mengalir di pipinya.
Doni yang baru turun dari mobilnya terkejut saat melihat Dara.
"Dara kenapa? kok cepat banget keluarnya," ucap Doni.
Doni kemudian buru-buru menghampiri Dara. Ingin tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
"Dara, kamu kok cepat banget keluarnya. Bos Alexnya nggak ada di dalam?" tanya Doni.
Dara menggeleng.
"Terus kenapa kamu nangis?" tanya Doni lagi.
"Aku nggak apa-apa Bang. Aku mau pulang," jawab Dara.
"Ya udah kalau mau pulang. Ayo kita pulang!"
Dara kemudian melangkah pergi meninggalkan Doni. Dia menuju ke jalan raya untuk menyetop taksi.
Doni yang melihat Dara, tampak bingung saat melihat Dara. Dia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati kenapa dengan Dara.
Kenapa ya dengan Dara. Apa yang terjadi di dalam. Tadi dia ceria banget, setelah masuk ke dalam, kenapa dia malah nangis. Apa jangan-jangan sudah terjadi sesuatu di dalam sana.
Setelah Dara meluncur pergi dengan taksi, Alex datang dan menghampiri Doni.
"Don, kamu lihat Dara nggak?" tanya Alex.
"Baru saja dia pergi Bos," jawab Alex.
"Apa! pergi? bodoh! kenapa kamu biarkan dia pergi sih...!" geram Alex.
"Tadi dia ke sini sama siapa?" tanya Alex menatap Doni lekat.
"Sama saya bos," jawab Doni singkat.
"Doni...! seharusnya tadi jangan biarkan Dara pergi sendiri. Sekarang ayo, antar aku untuk mengejar Dara," ucap Alex yang tampak marah pada Doni.
"Emang kenapa sih Bos?" Doni sudah mulai kepo.
"Nggak usah banyak tanya! Ambil mobil mu. Dan kita pergi cari Dara. Aku takut Dara akan pergi jauh."
"Baik Bos."
__ADS_1
Doni kemudian melangkah ke parkiran untuk mengambil mobil. Sementara Alex menunggu Doni di depan kantornya.
Dengan tergesa-gesa Desi menghampiri Alex.
"Mas Alex, kamu kok tinggalin aku sih. Kamu mau kemana? kita kan belum selesai makan," ucap Desi.
Sebenarnya, Alex geram dan marah pada Desi. Dia hanya bisa menahan amarahnya itu karena Alex tahu, Desi itu adalah anak dari rekan bisnis Alex yang sangat berpengaruh besar terhadap perusahaan Alex.
Jadi Alex tidak berani macam-macam sama Desi, apalagi untuk memutuskan hubungannya dengan Desi. Bisa-bisa Alex akan berurusan dengan orang tua Desi kalau dia sampai menyakiti Desi.
Namun Alex sudah janji sama Dara, kalau dia akan memutuskan semua pacar-pacarnya. Namun itu tidak bisa sekaligus Alex lakukan karena wanita yang sedang punya hubungan dengan Alex itu sangat banyak. Dan Alex harus dengan perlahan memutuskan hubungan dengan mereka semua.
Beberapa saat kemudian, mobil Doni sudah sampai di depan Alex.
"Sorry Des. Aku harus pergi," ucap Alex sembari menyingkirkan tangan Desi dari lengannya.
Alex masuk ke dalam mobil Doni dan dia buru-buru pergi meninggalkan kantor untuk mengejar Dara.
"Mas Alex kenapa sih. Sejak kedatangan office girl itu, dia kok jadi aneh gitu. Apa jangan-jangan dia punya hubungan dengan gadis cupu itu," ucap Desi.
"Ah, nggak mungkin lah. Masa Mas Alex dan wanita cupu itu punya hubungan sih. Nggak level banget gadis itu sama Mas Alex. Mas Alex pergi pasti karena ada alasan lain."
Setelah Alex pergi, Desi pun pergi meninggalkan kantor Alex. Tentu saja dia pergi dengan membawa rantangnya lagi.
"Mana taksi yang ditumpangi Dara Don! mana...!"
"Sabar dong bos. Aku juga lagi nyari nih. Taksi kan bukan cuma satu. Tapi banyak. Aku juga nggak tahu, taksi mana yang tadi ditumpangi Dara," ucap Doni.
Alex menghela nafas dalam. Dia benar-benar bingung. Baru saja Alex akan mendapatkan hatinya Dara, sekarang malah Alex sudah membuat Dara kecewa.
Alex tahu kalau Dara gadis yang sangat sulit ditaklukkan. Dia juga sangat keras kepala. Dengan kejadian tadi, Alex takut Dara akan membencinya dan akan menjauh darinya.
"Dara... kamu kemana sih Dara," ucap Alex yang masih tampak cemas.
"Bos. Mungkin Dara pulang ke rumah bos."
"Nggak mungkin dia pulang ke rumahku. Dia itu lagi marah sama aku."
"Marah kenapa bos?" tanya Doni.
"Kenapa kamu nggak telpon aku dulu sih ngasih tahu aku kalau Dara mau ke sini."
"Kenapa aku harus telpon Bos."
"Ya setidaknya ngabarin aku, kalau Dara akan datang ke sini. Sekarang jadi runyam kan semua urusannya."
Doni masih tidak mengerti apa maksud Alex. Dia saja belum tahu duduk permasalahannya.
"Sebenarnya kenapa sih Bos? kenapa Dara tadi nangis?"
"Dara nangis?"
Doni mengangguk.
__ADS_1