
Ratih terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Mata-mata?" Ratih tampak tak mengerti apa yang Alex maksudkan itu.
"Di sana, ayahku memelihara ular. Dan ular itu bisa mematuk orang kapan saja," ucap Alex.
Ratih bergidik ngeri saat mendengar nama hewan itu di sebut.
"Apa! ayah anda memelihara ular. Dan anda mau memperkerjakan saya di sana? apa itu artinya anda ingin membunuh saya dengan ular yang ada di sana?" tanya Ratih.
Hati Ratih sudah mulai tidak tenang. Apalagi Alex bicara tampak sangat serius.
Ratih tampak berfikir, mungkinkah karena kesalahannya, Alex akan menghukumnya dengan menaruh Ratih di tempat yang ada banyak ular di rumah Pak Rajasa.
"Bukan itu maksudku Ratih. Ular itu bukan ular yang sesungguhnya. Ular yang aku maksudkan itu adalah Rita. Dia wanita ular yang sudah membuat ibu aku gila. Kamu kenal kan dengan Rita?"
"Iya. Bukankah dia itu ibu tiri mu Tuan?"
"Ya"
Ratih manggut-manggut mengerti. Walaupun Ratih baru dua tahun kerja di rumah Alex, namun Ratih sudah tahu banyak tentang kondisi keluarga Alex dari Mirna
"Masalah gaji, aku akan lebih kan gaji kamu. Asal kamu harus mau menuruti semua perintahku. Kamu awasi terus gerak-gerik si ular itu, dan lapor saja padaku jika ada sesuatu yang mencurigakan," ucap Alex.
"Iya Tuan."
"Rita itu menikahi ayahku, hanya menginginkan harta ayahku. Dia tidak benar-benar mencintai ayahku. Dan aku takut, dia akan menghancurkan semua keluargaku dan mengambil semua harta ayahku. Karena dia juga sudah membuat ibuku hancur," ucap Alex dengan wajah sendu.
'Sebenarnya, kasihan juga Tuan Alex. Dia pasti sedih banget dengan kondisi ibunya yang sekarang. Dia terkena tekanan mental saat suaminya menikah lagi. Nggak kebayang kalau aku yang ada di posisi ibunya Tuan Alex.' batin Ratih.
"Ya udah Tuan. Kapan saya pindah ke sana?" tanya Ratih.
"Lusa. Saya akan antar kamu ke sana."
"Baik Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Ratih balik badan dan melangkahkan kakinya untuk pergi, namun Alex buru-buru mencegahnya.
"Tunggu...!" seru Alex.
Ratih menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya kembali ke arah Alex.
"Ada apa lagi Tuan?" tanya Ratih.
"Kamu mau ke mana? saya belum selesai bicara...!"
'Duh, mau bicara apa lagi sih ini Tuan Alex. Nggak tahu aku udah capek apa.' batin Ratih.
"Duduk!" pinta Alex.
Ratih kemudian duduk setelah Alex menyuruhnya duduk.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana. Aku mau ke kamar dulu," ucap Alex.
Alex bangkit berdiri. Setelah itu dia pergi untuk ke kamarnya dan meninggalkan Ratih sendiri di ruang tengah.
"Lama banget sih, Tuan Alex. Lagi ngapain dia di kamar," ucap Ratih.
Ratih sejak tadi masih menunggu Alex keluar. Beberapa saat kemudian, Alex menghampiri Ratih.
Alex kemudian duduk di dekat Ratih dan menatap Ratih tajam.
"Kamu bawa ponsel kamu?" tanya Alex.
Ratih mengangguk.
"Telpon Dara sekarang!" Alex menyuruh Ratih untuk menelpon Dara.
"Ta-tapi Tuan?" ucap Ratih.
"Cepat! lakukan perintahku...!" sentak Alex.
Ratih mengambil ponsel yang ada di saku bajunya. Setelah itu dia menekan nomer Dara.
Tut...Tut...Tut ...
"Nggak di angkat Tuan," ucap Ratih.
"Telpon sekali lagi..."
Ratih kemudian menelpon Dara satu kali lagi. Namun, lagi-lagi Dara tidak mengangkat panggilan dari Ratih.
"Sini! berikan ponsel kamu padaku!"
Ratih menyodorkan ponselnya pada majikannya.
"Ini Tuan."
Alex kemudian menelpon Dara dengan nomer Ratih.
"Halo..." Suara Dara sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Dara, kamu tidak lupa kan dengan janji kita. Kenapa kamu lari dariku Dara...!"
"Tu-Tuan Alex," suara Dara terdengar bergetar.
"Dara, aku tunggu kamu besok Dara. Kalau besok kamu tidak mau menemuiku, aku akan paksa kamu untuk ikut denganku."
"Tu-Tuan, maafkan aku Tuan. Aku tidak bermaksud membohongi Tuan. Tapi memang ada sesuatu yang mengharuskan aku pergi semalam."
"Jangan banyak alasan. Pokoknya, besok kamu harus temui aku."
"I-iya Tuan."
__ADS_1
Tut Tut Tut ..
Alex memutuskan saluran telponnya dengan sepihak. Setelah itu dia memberikan ponsel itu pada Ratih.
"Kamu boleh pergi!" ucap Alex.
"Makasih Tuan."
Ratih bangkit dari duduknya. Dia kemudian pergi meninggalkan Alex. Hatinya sudah mulai tenang , karena Alex tidak memecatnya. Padahal Ratih sudah pergi seharian tanpa izin dari Alex.
*****
Malam ini waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Dara masih belum bisa tidur di kamarnya. Dia masih kefikiran dengan telpon dari Alex tadi sore. Dara tidak tahu, apa yang akan Alex lakukan padanya setelah bertemu dengannya nanti.
"Aku kembalikan apa nggak ya, cek dari Tuan Alex. Sebenarnya, aku masih membutuhkan uang itu. Tapi bagaimana kalau Tuan Alex memaksaku untuk tidur dengannya dan membawa aku kembali ke hotel. Nggak, aku nggak mau mengorbankan kesucianku hanya karena uang dua puluh juta. Dan aku nggak butuh lagi uang itu. Karena ibu juga sudah meninggal," ucap Dara.
Ceklek.
Pintu kamar Dara terbuka. Ica muncul dari balik pintu.
"Kak Dara, Kak Dara kenapa belum tidur?" tanya Ica.
Dara menatap Ica dan tersenyum.
"Kakak belum ngantuk Ica. Kamu juga kenapa belum tidur?" tanya Dara.
"Aku juga belum ngantuk Kak," ucap Ica.
Ica kemudian duduk di sisi Dara.
"Kak, apa kakak punya uang?" tanya Ica.
"Uang untuk apa?"
"Aku pengin beli sepatu Kak. Sepatu aku udah rusak. Aku malu Kak sepatu aku udah rusak. Aku pengin beli yang baru."
"Ica. Kamu tahu kan kondisi kakak saat ini. Ibu baru saja meninggal. Dan uang kakak, semua untuk mengurus biaya pemakaman ibu. Bagaimana kakak bisa dapat uang Ica. Gaji kakak saja, kemarin sudah kakak ambil di Tuan Alex."
Ica menundukkan kepalanya. Setelah itu dia kembali menatap kakaknya.
"Kak, kenapa sih hidup kita susah banget. Dari dulu, kita nggak pernah bahagia. Kenapa sih Kak, Tuhan itu nggak adil sama kita. Semua teman-teman aku di kasih hidup enak. Sementara kita , dari dulu nggak pernah merasakan hidup enak."
"Ica. Semua itu sudah takdir Ica. Dan janganlah kita menyalahkan takdir. Rezeki orang itu beda-beda. Kalau kita sekarang berada di bawah, bisa saja suatu saat kita bisa berada di atas. Roda kehidupan berputar Ica. Kamu harus sabar."
Ica tiba-tiba saja menangis dan menatap kakaknya tajam.
"Kakak, seharusnya kakak itu bisa berusaha lebih keras lagi untuk mencari uang. Jangan menyerah dengan keadaan. Kakak itu memang payah. Gara-gara kakak nggak punya uang untuk biaya pengobatan ibu, ibu jadi meninggal. Ini semua karena kakak! ibu meninggal gara-gara Kakak!"
Dara terkejut saat mendengar ucapan adiknya.
"Ica. Kok kamu bicara seperti itu sama kakak? kakak kan udah berusaha Ica."
__ADS_1
Ica tidak menghiraukan lagi ucapan Dara. Dia kemudian pergi meninggalkan Dara.
"Apa-apaan sih Ica. Kenapa dia jadi menyalahkan aku," gumam Dara." Kan, uang sekolahnya kemarin aku yang bayar."