
"Apa! benarkah begitu Sus?"
"Iya Mbak."
"Ya udah. Terimakasih untuk informasinya ya sus," ucap Dara.
Suster mengangguk. "Iya Mbak. Sama-sama."
Dara melangkah pergi ke ruang ICU untuk melihat Alex. Ternyata benar kalau Alex ada di sana. Alex tampak sedang duduk di ruang tunggu yang ada di depan ruangan itu.
Dara menatap Alex dari kejauhan.
"Tuan Alex. Kasihan banget dia," ucap Dara.
Dara kemudian mendekati Alex dan duduk di sisinya.
"Tuan Alex," ucap Dara.
Alex diam. Dia seperti tidak merasakan kehadiran Dara di sisinya. Hatinya sangat kalut saat ini, karena melihat kondisi ibunya yang masih terbaring koma di dalam ICU
"Tuan Alex," panggil Dara sekali lagi.
"Bagaimana kondisi Bu Vivi?" tanya Dara.
Alex menatap ke arah Dara. Tiba-tiba saja, Alex memeluk Dara dan menangis sesenggukan di pelukan gadis itu.
"Dara, aku nggak sanggup kehilangan mama Dara. Aku masih ingin bersama mama. Aku ingin menikah dan memberikan mama cucu. Seperti apa yang mama inginkan dulu, aku ingin mengabulkan permintaan mama, jika mama sembuh." ucap Alex tiba-tiba.
Dara memejamkan matanya. Setetes air mata Dara membasah pipi mulusnya. Dara hanya bisa mencoba untuk menenangkan Alex dengan mengusap-usap punggung Alex. Dia tahu kalau bosnya itu sedang sangat kalut.
"Tuan Alex, aku tahu apa yang sedang kamu rasakan sekarang," ucap Dara.
Alex melepaskan pelukannya.
"Maaf kan aku Dara. Aku sudah berani memeluk kamu lagi."
Dara tersenyum.
"Nggak apa-apa Tuan. Aku tahu bagaimana perasaan kamu saat ini. Karena aku juga pernah merasakan kehilangan orang tua," ucap Dara.
Alex terkejut saat tiba-tiba saja dara mengusap air mata di pipi Alex.
"Kenapa Tuan Alex nangis? nggak pantas rasanya seorang lelaki nangis," ucap Dara.
Alex diam. Dia masih sibuk menyeka air matanya.
"Tapi aku merasa nggak sanggup untuk melewati semua ini Dara."
"Tuan, mungkin ini adalah sebuah ujian untuk kamu. Kamu harus bersabar untuk melewati ujian ini. Tidak ada manusia yang di uji di luar kemampuannya. Yakinlah Tuan, kalau semua ini akan baik-baik saja. Yang harus Tuan lakukan sekarang adalah berdoa, mendekatkan diri pada Nya. Aku yakin, dengan itu Tuan pasti akan bisa jauh lebih tenang."
Alex menatap Dara lekat. Baru kali ini ada seorang wanita yang mau mengingatkannya pada kebaikan. Sementara pacar-pacar Alex tak ada satu pun yang mau mendekati Alex. Di saat-saat Alex sedang susah dan butuh dukungan seperti saat ini, mereka semua entah ke mana.
"Dara. Makasih banyak ya, udah mengingatkan aku."
__ADS_1
"Iya Tuan."
Ring ring ring....
Ponsel Dara tiba-tiba saja berdering.
"Tunggu ya Tuan, aku mau angkat telpon dulu."
Alex mengangguk.
Dara kemudian menjauh dari Alex untuk mengangkat telpon.
"Halo..."
"Dara, kamu ada di mana? apa kamu sudah nyampe rumah sakit?"
"Iya Pak Rajasa. Aku udah ada di rumah sakit."
"Kamu udah bertemu sama Alex?"
"Sudah Pak. Tapi sepertinya Pak Alex lagi sedih banget dengan kondisi ibunya."
"Sebenarnya, bagaimana sih kondisi istri saya Dara? apa kamu tahu kondisi Bu Vivi?"
"Pak Rajasa yang sabar ya. Bu Vivi saat ini ada di ruang ICU. Dia koma Pak."
"Apa! koma?"
"Iya. Kata suster sih seperti itu."
"Halo... halo Pak Rajasa... halo..."
Beberapa saat kemudian, Alex mendekat ke arah Dara.
"Siapa yang nelpon Dara?" tanya Alex yang membuat Dara terkejut.
Dara menoleh ke arah Alex dan menghadapkan tubuhnya ke arah Alex.
"Pak Rajasa yang nelepon. Dia nanya kondisi mama kamu," jawab Dara.
"Papa aku tahu kalau mama ada di rumah sakit? apakah kamu sudah menceritakan kondisi mama ke papa aku?"
Dara mengangguk.
"Iya Tuan. Aku sudah cerita semuanya. Maafkan aku, aku nggak bisa membohongi Pak Rajasa."
Alex menepuk keningnya.
"Kenapa kamu cerita ke Papa soal ini. Bagaimana kalau papa aku jantungnya kambuh lagi."
Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Apa! jadi Pak Rajasa punya penyakit jantung?" tanya Dara.
__ADS_1
"Iya."
Dara menundukan kepalanya
"Maafkan aku Tuan Alex. Aku tidak tahu kalau Pak Rajasa punya penyakit jantung. Tadi aku telpon dia. Tapi dia diam saja. Tiba-tiba suaranya menghilang. Tapi telponnya masih nyala. Apa jangan-jangan..." ucap Dara. Fikirannya sudah mulai kacau. Dia takut akan terjadi apa-apa dengan bosnya. Dia tampak menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Bodohnya kamu Dara. Kenapa kamu tidak tanya dulu sama aku," geram Alex.
"Maaf."
"Sini, mana telpon kamu?" Alex meminta ponsel Dara.
Dara kemudian memberikan ponselnya pada Alex.
"Halo pa..halo..."
Beberapa saat kemudian, suara seorang lelaki dari balik telpon terdengar.
"Halo..."
"Halo ini siapa? mana papa aku?"
"Pak Rajasa pingsan tidak sadarkan diri."
"Ayah saya pingsan? tolong, bawa ayah saya ke rumah sakit sekarang. Dia terkena serangan jantung. Saya mohon, tolong selamatkan lah nyawa ayah saya."
"Baik Pak."
Alex kemudian memutuskan saluran telpon itu dengan sepihak. Dia kemudian menatap Dara lekat.
"Puas kamu Dara, sudah membuat Papa aku pingsan. Ini semua pasti gara-gara kamu kan! kamu yang sudah membuat papa aku pingsan. Kalau kamu nggak cerita macam-macam sama papa nggak mungkin papa seperti ini."
Alex tampak marah dengan Dara. Tapi Alex merasa iba pada gadis itu. Karena sejak tadi Dara tidak mau menatap Alex. Dia merasa menyesal sudah membuat Pak Rajasa terkena serangan jantung.
Dara tiba-tiba meraih tangan Alex dan menggenggamnya erat.
"Maafkan aku Tuan. Aku nggak ada maksud untuk membuat ayah anda pingsan. Aku benar-benar nggak tahu Tuan kalau Pak Rajasa punya penyakit jantung," ucap Dara menatap Alex lekat.
"Sudahlah Dara. Nggak apa-apa. Makasih ya, kamu sudah mau menguatkan aku," ucap Alex.
Dara tersenyum.
"Iya Tuan."
Ratih dan Lestari menatap dari kejauhan Dara dan Alex. Dara dan Alex sejak tadi masih saling menatap. Mereka juga masih saling diam dengan tangan keduanya yang masih saling bergenggaman.
"Eh, itu kan Dara. Kenapa dia bisa ada di sini?" ucap Lestari.
"Bukankah Dara wanita yang Tuan Alex bawa waktu Bu Vivi terjatuh malam itu." Ratih masih ingat dengan kehadiran Dara di malam itu. Malam di mana Alex membawa Bu Vivi ke rumah sakit.
"Kok mereka bisa berteman lagi Ratih. Bukankah kata kamu Dara itu sangat membenci Tuan Alex. Karena Tuan Alex pernah mau melecehkan dia?" ucap Lestari.
"Aku juga nggak tahu, mereka kenapa bisa sedekat itu. Apa mereka punya hubungan sekarang?" Ratih hanya bisa bertanya-tanya apakah Dara dan Alex punya hubungan lebih.
__ADS_1
"Kita samperin yuk! kita ke sini kan mau jenguk Bu Vivi," ucap Lestari.
Dia menggandeng tangan Ratih dan membawa Ratih untuk mendekat ke arah Dara dan Alex.