
Sore ini ke dua orang tua Desi masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Setelah mendengar kabar kalau Desi anaknya saat ini sedang kritis di rumah sakit, Pak Dio dan Bu Afifah langsung meluncur pulang ke Indonesia. Mereka tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat Desi di sana.
"Pa, ayo cepat sedikit Pa. Kita harus cepat-cepat sampai di rumah sakit. Kasihan Desi. Dia saat ini pasti sangat membutuhkan kita," ucap Bu Afifah ibu Desi.
Sejak tadi Bu Afifah masih tampak panik. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Desi anaknya.
"Iya Ma. Sabar. Ini juga Papa udah ngebut nih," ucap Pak Dio ayah Desi di sela-sela menyetirnya.
Beberapa saat kemudian, mobil ke dua orang tua Desi sudah sampai di depan rumah sakit. Sesampainya di depan rumah sakit, Pak Dio memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
Ring ring ring...
Tiba-tiba saja, ponsel Bu Afifah berdering. Bu Afifah kemudian mengambil ponsel itu dari dalam tasnya.
"Siapa Ma yang nelpon?" tanya Pak Dio menatap istrinya lekat.
"Dari nomer Desi Pa. Sepertinya ini bibi yang nelpon."
"Angkat Ma, cepat!"
"Iya Pa."
Bu Afifah kemudian mengangkat panggilan dari nomer Desi.
"Halo..."
"Halo Bu, Bu Afifah sudah sampai mana?"
"Saya sudah di depan rumah sakit Bik. Saya sudah ada di parkiran sekarang. Bagaimana kabar Desi?"
"Non Desi sudah siuman Bu. Kata dokter dia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat."
"Baiklah. Sekarang Desi ada di mana?"
"Dia masih ada di ruang UGD."
"Ya udah, nanti saya langsung ke sana ya."
"Iya Bu."
Bu Afifah memutuskan saluran telponnya.
"Bagaimana Ma? apa kata Bik Irah?" tanya Pak Dio.
"Katanya, anak kita sudah siuman. Dan dia akan dipindahkan di ruang rawat."
"Oh begitu. Ya udah Ma, ayo kita turun."
"Iya."
Ke dua orang tua Desi kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Sesampainya di depan ruang UGD, mereka mendekat ke arah Bik Irah.
"Bik, bagaimana kondisi Desi?" tanya Bu Afifah pada Bik Irah.
__ADS_1
"Bu, Pak, Non desi sudah siuman. Dari kemarin dia kritis dan nggak sadar-sadar. Tapi tadi dia sudah siuman. Tapi..."
"Tapi kenapa Bik?" tanya Pak Dio menatap Bik Irah lekat.
"Dari tadi dia nangis-nangis dan memanggil-manggil nama Alex terus," Ucap Bik Irah.
Pak Dio dan Bu Afifah saling menatap.
"Pa, sebenarnya apa yang terjadi dengan anak kita?"
"Aku tahu Ma, anak kita seperti ini, pasti gara-gara Alex. Aku harus bikin perhitungan sama Alex. Aku yakin, kalau Alex sudah menyakiti Desi," geram Pak Dio yang tidak terima kalau Alex sudah menyakiti hati anaknya dan membuat anaknya minum racun.
"Papa harus bilang dong sama Alex. Papa harus cerita masalah ini sama Alex."
"Urusan Alex, biarlah papa yang akan turun tangan."
****
Pagi ini Alex sudah duduk di dalam ruangannya. Dia sudah fokus dengan pekerjaannya. Setelah mengantar Dara ke kampusnya, Alex langsung buru-buru meluncur ke kantor.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu dari luar ruangan Alex terdengar.
Tok tok tok...
"Permisi..." Suara Widia sudah terdengar dari balik pintu.
"Masuk...!" seru Alex.
"Selamat pagi Pak Alex," sapa Widia.
"Pagi Wid? ada apa?" tanya Alex menatap Widia lekat.
"Ada orang yang ingin bertemu dengan anda Pak Alex," jawab Widia.
"Siapa?"
"Pak Dio."
Alex terkejut saat mendengar ucapan Widia
"Apa! Pak Dio ke sini? mau ngapain dia ke sini?"
"Iya Pak. Saya juga kurang tahu Pak Alex.
Aku yakin nih, Pak Dio datang ke sini pasti ini ada hubungannya dengan Desi. Ah, tapi apapun yang akan terjadi, aku harus tetap hadapi dia.
"Suruh dia masuk Wid!" pinta Alex.
"Baik Pak Alex."
Widia kemudian keluar dari ruangan Alex untuk memanggil Pak Dio.
Beberapa saat kemudian, Pak Dio masuk ke dalam ruangan Alex. Dia tampak marah sama Alex.
__ADS_1
"Alex, apa yang sudah kamu lakukan terhadap Desi anak saya?" tanya Pak Dio tanpa banyak basa-basi lagi.
"Saya nggak melakukan apapun sama dia Om," jawab Alex.
"Tidak mungkin kamu tidak melakukan apapun sama Desi. Kamu pasti sudah melukai putriku Alex. Aku nggak terima jika kamu sampai melukai putriku."
"Melukai bagaimana Om? saya tidak tahu maksud anda."
"Jangan pura-pura tidak tahu Alex. Apa kamu tahu Alex, kalau sekarang Desi itu ada di rumah sakit. Dia kemarin minum racun. Dan ini semua gara-gara kamu...!"
"Apa!" Alex terkejut saat mendengar penuturan ayah Desi.
"Desi minum racun Om? kok bisa."
"Jangan pura-pura tidak tahu Alex. Apa yang sudah kamu lakukan sama Desi hah...!" Pak Dio sudah mencengkeram kerah baju Alex
"Sabar Om, aku bisa jelaskan semuanya Om. Tapi tolong Om, jangan seperti ini. Kita bisa kan ngomongin ini baik-baik. Ini kantor Om. Tidak baik kita bertengkar di sini. Aku yakin, Om itu cuma salah paham sama aku."
Pak Dio melepaskan cengkeramannya. Setelah itu dia menegakan kembali tubuhnya. Pak Dio masih menatap nanar ke arah Alex. Namun itu semua tidak membuat Alex gentar. Karena Alex memang tidak pernah melakukan kesalahan sama Desi. Dia juga belum pernah melakukan hubungan ranjang dengan gadis itu.
"Aku nggak akan pernah memaafkan kamu Alex, kalau Desi sampai kenapa-kenapa. Kamu harus tanggung jawab Alex!" ucap Pak Dio dengan nada tinggi.
Alex bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Pak Dio.
"Tanggung jawab bagaimana Om maksud Om? aku nggak pernah ngapa-ngapain Desi," ucap Alex menatap Pak Dio lekat.
"Tapi kenapa Desi sampai mencoba melakukan bunuh diri."
"Kalau itu saya mana tahu Om. Kemarin saya cuma emosi saja sama Desi. Dan saya tidak sengaja bilang putus sama dia," Alex mencoba untuk menjelaskan permasalahan yang sebenernya sama Pak Dio.
Pak Dio diam dan mendengar dengan seksama penjelasan dari Alex.
"Saya nggak ada maksud untuk putusin dia kok Om. Kemarin Desi itu datang ke kantor ayah saya, dan dia menyerang karyawan ayah saya. Ya saja tegur dia dong Om. Bagaimana kalau kemarin ada wartawan yang meliput kejadian itu. Pasti saya juga ikut malu dong, punya pacar yang bar-bar kayak Desi."
"Kamu bilang anak saya bar-bar?" Pak Dio kembali menatap tajam Alex.
"Bukan begitu Om maksud saya. Tapi Desi itu kemarin sudah membuat saya malu. Kalau kejadian itu keliput wartawan bagaimana? Om juga pasti akan ikut malu kan. Desi menjambak karyawan ayah saya Om."
Pak Dio tampak berfikir.
"Om yakin, Desi melakukan hal itu karena ada penyebabnya Alex," ucap Pak Dio datar.
"Emang Om fikir, saya itu sudah ngapain Desi. Kemarin cuma salah paham aja kok Om."
"Benar begitu?" tanya Pak Dio.
"Yah, begitulah Om. Om kayak nggak kenal anak Om aja sih. Dianya aja yang terlalu posesif sama saya."
Pak Dio menghela nafas dalam setelah mendengar penjelasan dari Alex.
"Alex, pokoknya saya nggak mau tahu, kamu harus ke rumah sakit dan minta maaf sama Desi. Saya harap, hubungan kalian itu baik-baik saja. Saya sudah sangat mengharapkan pernikahan kalian terjadi, "Ucap Pak Dio.
Hah, lagian siapa yang mau nikah sama Desi. Desi itu nggak pantas jadi istri saya. Karena saya nggak suka dengan istri manja, boros, posesif, agresif, cerewet pula. Benar-benar melelahkan jika saya punya istri seperti Desi. Lebih baik sama Dara, dia nggak matre dan mau nerima aku apa adanya. Yang penting dia juga mau nerima masa lalu aku. Sepahit apapun masa lalu itu, batin Alex.
__ADS_1