
"Ya ampun mama, ke mana sih mama," ucap Alex di sela-sela menyetirnya.
Alex sejak tadi masih merasa khawatir dengan kondisi mamanya saat ini. Alex takut, kalau mamanya bisa saja dimanfaatkan orang jahat di luar sana.
Alex tidak tahu kemana mamanya pergi. Sudah sejak tadi pagi Alex keliling untuk mencari mamanya. Namun, sampai siang mama Alex belum juga ditemukan.
Alex sudah mencari mamanya mulai dari tempat yang terdekat dengan rumah sakit jiwa, sampai tempat yang terjauh. Namun sampai sekarang mamanya belum juga ketemu.
"Aku harus cari mama ke mana ya. Aku sudah muter-muter nyari mama, tapi mama kenapa ngga ketemu-ketemu juga. Aku nggak mau kalau Papa yang menemukan mama duluan. Bisa-bisa, Papa akan mengembalikan mama ke rumah sakit jiwa. Aku nggak mau Papa sampai memasukan mama aku lagi ke rumah jiwa. Lebih baik aku urus aja mama di rumah."
Sejak tadi Alex masih fokus menyetir mencari mamanya. Sesekali Alex menatap keluar jendela mobilnya. Dia melihat-lihat keluar. Siapa tahu, ada mamanya berada di sisi jalanan yang saat ini masih padat merayap.
"Sabar ya Ma. Alex pasti akan menemukan mama," ucap Alex.
Alex tampak lelah setelah seharian dia mencari mamanya, namun mama Alex tidak kunjung dia temukan.
Alex tampak berfikir.
"Aku harus cari ke mana Mama. Apa aku minta anak buah ku saja untuk mencari mama," ucap Alex.
Alex mengambil ponselnya. setelah itu dia menelpon Doni salah satu anak buahnya.
"Halo Don,"
"Halo Pak Alex. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ibu aku kabur dari rumah sakit jiwa. Aku mau sekarang, kamu kerahkan semua anak buah kamu, dan cari ibu aku sampai ketemu. Setelah itu, kamu bawa ibu aku ke rumahku."
"Baik Pak Alex."
"Ingat ya Don. Kamu nggak boleh sampai gagal. Kalau kamu gagal, aku tidak akan pernah memberikan uang sepeser pun untuk upah kamu."
"Baik Pak Alex."
Alex kemudian mematikan saluran telponnya. Setelah itu dia memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
"Mudah-mudahan, Doni dan anak buahnya bisa cepat menemukan mama aku. Aku khawatir banget dengan kondisi mama. Apalagi, keadaan jiwa mama masih terganggu. Aku nggak mau ada orang di luar sana yang memanfaatkannya. Apalagi Rita. Aku nggak mau wanita sialan itu tahu kalau mama kabur dari rumah sakit jiwa."
****
Sore ini, jalanan masih sangat macet. Pak Rajasa dan Rita masih berada di dalam mobilnya.
Pandangan Rita tiba-tiba saja terpaku pada sosok dekil yang berada di tengah jalan.
"Mbak Vivi," ucap Rita yang membuat Pak Rajasa terkejut.
__ADS_1
"Vivi? mana Vivi?" tanya Pak Rajasa sembari ikut menatap ke belakang.
"Pak berhenti Pak..." ucap Rita pada Anton supir pribadi Pak Rajasa.
Anton kemudian menghentikan mobilnya. Sementara Rita sejak tadi masih menatap ke belakang. Dia seperti melihat Vivi ibu kandungnya Alex, yang tak lain adalah istri pertama Pak Rajasa.
"Ada apa Rita?" tanya Pak Rajasa.
"Aku tadi seperti melihat Mbak Vivi," jawab Rita.
"Vivi? mana?" Pak Rajasa yang tampak penasaran, kemudian melihat-lihat ke belakang mengikuti pandangan Rita.
"Nggak ada Vivi Rita, kamu salah lihat kali," ucap Pak Rajasa yang tidak melihat siapapun di belakang.
"Tapi tadi aku benar melihat Mbak Vivi. Tapi ke mana ya," ucap Rita dengan mata yang masih melirik ke sana kemari mencari keberadaan Vivi.
"Anton, coba kamu turun. Benar tidak ada Vivi dibelakang. Coba kamu cek," ucap Pak Rajasa menyuruh Anton supirnya untuk mengeceknya.
"Baik Tuan."
Anton kemudian turun dari mobilnya. Dia berjalan ke belakang untuk melihat benar atau tidak ada Vivi dibelakang tadi.
"Mana Nyonya Vivi. Sepertinya nggak ada Nyonya Vivi di sini," ucap Anton yang tak menemukan keberadaan Bu Vivi.
Beberapa saat kemudian, Anton kembali lagi ke mobilnya dan masuk ke dalam mobil.
"Kamu dengar sendiri kan Rita. Nggak ada Vivi dibelakang," ucap Pak Rajasa.
"Ya udah Anton. Jalan lagi!" ucap Rita.
Anton kemudian kembali melajukan kendaraannya setelah Rita menyuruhnya jalan.
Rita masih tampak berfikir.
'Tadi apa aku salah lihat. Tapi itu seperti Mbak Vivi. Bajunya aja seperti baju rumah sakit jiwa,' batin Rita.
Rita dan Pak Rajasa terkejut saat tiba-tiba saja seorang anak remaja perempuan melintas di depan mobilnya.
"Anton minggir...!" teriak Pak Rajasa dan Rita secara bersamaan.
Chiiiitttttt....
Anton menginjak remnya kuat-kuat. Dia ngerem mendadak saat mobilnya akan menabrak seorang anak remaja perempuan di depannya.
Namun apa yang terjadi. Ternyata anak itu keserempet juga perlu mobil Pak Rajasa.
__ADS_1
"Ya ampun Anton. Gimana sih kamu nyetirnya," ucap Pak Rajasa yang masih syok dengan kejadian tadi.
Wajah Anton tampak pucat seketika itu juga. Dia hanya bisa mengelus dadanya saat dia melihat kalau gadis remaja itu tidak kenapa-kenapa.
Gadis remaja itu masih duduk di depan mobil Pak Rajasa. Sepertinya dia masih syok saat tadi dia hampir ketabrak mobil Pak Rajasa.
"Anton, ayo turun. Tolong anak itu. Kalau ada yang luka, bawa dia masuk ke mobil dan antar dia ke rumah sakit," ucap Pak Rajasa.
"Baik Tuan."
Anton kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri anak remaja itu.
"Dek, kamu nggak apa-apa?" tanya Anton.
Anak remaja itu hanya bisa sesenggukan menangis.
"Hiks...hiks...hiks... sakit..."
"Apanya yang sakit dek?" tanya Anton.
Gadis remaja itu kemudian menunjukan luka-lukanya yang cukup parah pada Anton.
"Ya ampun, kamu terluka dek. Kamu harus dibawa ke rumah sakit."
Anton kemudian membopong anak remaja itu dan mendekat ke arah Pak Rajasa.
"Tuan, saya harus bawa anak ini ke rumah sakit Tuan. Luka di kaki dan tangannya cukup parah," ucap Anton.
"Bawa dia masuk mobil!" pinta Pak Rajasa.
"Baik Tuan."
Anton kemudian membawa anak remaja itu masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Anton pun masuk ke dalam mobilnya dan kembali melajukan mobilnya.
"Anton, kita harus putar balik ke rumah sakit," ucap Pak Rajasa.
"Apa! kita mau ke rumah sakit? tapi aku udah capek Mas. Aku mau langsung pulang aja," ucap Rita.
"Rita. Kita tolong anak ini dulu." Pak Rajasa masih ngotot ingin membawa gadis remaja itu ke rumah sakit.
"Lah, siapa yang nabrak. Kan Anton yang nabrak. Kenapa harus kita yang repot."
"Rita, jangan begitu. Bagaimana pun juga, mobil ini kan mobil kita. Kita harus ikut tanggung jawab."
Rita membuang wajahnya.
__ADS_1
"Aku nggak suka Mas kamu terlalu baik sama orang. Apalagi gembel seperti anak itu. Aku nggak mau kebaikan kamu cuma dimanfaatkan saja sama orang-orang miskin seperti dia."
"Rita. Jangan seperti itu kamu bicara. Kita sesama manusia harus saling tolong menolong. Apalagi kita sudah salah telah menabrak dia. Kalau kita kabur dan membiarkan anak ini, kita juga salah Rita."