Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Amarah Desi


__ADS_3

Siang ini, mobil Alex sudah berhenti tepat di depan kampus Dara. Alex sejak tadi masih menatap ke arah kampus untuk menunggu Dara.


"Duh, kemana ya Dara. Kenapa dari tadi aku nggak ngelihat dia keluar. Harusnya kan jam segini dia sudah pulang. Apa jangan-jangan, dia sudah pulang ya," ucap Alex.


Alex kemudian menelpon ke kantor ayahnya.


"Halo.." Suara Ranti sudah terdengar dari balik telpon.


"Mbak Ranti, ada Dara nggak di situ?"


"Dara belum datang Pak Alex."


"Belum datang ya."


"Iya. Mungkin dia masih di kampus atau lagi di perjalanan pulang."


"Oh. Ya udah, kalau begitu."


Alex kemudian menutup saluran telponnya.


"Dara juga belum nyampe ke kantor. Atau dia memang sedang dalam perjalanan pulang ya. Aku telpon aja deh," ucap Alex.


Alex kemudian mencoba untuk menelpon Dara. Namun, nomer yang Alex telpon tidak bisa dihubungi. Mungkin karena tidak ada sinyal di toilet tempat di mana Dara terkurung. Sehingga membuat Alex susah untuk menghubungi Dara.


"Apa aku samperin dia aja ya ke dalam. Siapa tahu Dara masih ada di dalam," ucap Alex.


Alex kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam kampus.


"Mbak tunggu Mbak..." ucap Alex pada seorang perempuan yang lewat di depannya.


"Kamu lihat cewek ini nggak? dia anak baru di sini. Dan dari tadi aku nggak lihat dia. Dia sudah pulang, atau masih di dalam? " tanya Alex sembari menunjukan foto Dara pada perempuan itu.


"Oh, ini seperti foto Dara teman aku," ucap Syafa. Dia kemudian menatap Alex lekat.


"Mau cari Dara ya Om?" tanya Syafa.


Alex diam dan mengusap wajahnya.


Apa aku sudah kelihatan tua ya, makanya gadis ini manggil aku Om.


"Om mau cari Dara ya?' tanya Syafa sekali lagi.


"Oh. Iya. Kamu kenal dengan Dara?"


"Iya Om. Dara lagi ada di toilet tadi. Tapi nggak tahu sekarang dia ada di mana. Om siapanya Dara? Omnya ya?"


Ih, ini cewek, cerewet juga ya ternyata. Ngapain sih dia nanya-nanya tentang aku.


"Bukan, saya Opanya."


"Hah! Opanya? Opanya Dara kok masih muda?"


Alex diam. Dia tidak mau menghiraukan Syafa. Dia lebih memilih masuk untuk melihat Dara di dalam kampus.


Alex mencari-cari Dara di setiap toilet.


"Duh, Dara sebenarnya ke mana sih," ucap Alex.


Alex menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara tangisan seorang perempuan dari dalam toilet.


"Tunggu, seperti ada orang nangis. Tapi di mana ya."

__ADS_1


Alex mencari suara tangisan itu.


"Kayaknya tangisannya ada di dalam sini," ucap Alex


Alex yang penasaran, kemudian mengetuk pintu toilet itu.


Tok tok tok ..


"Apa ada orang di dalam?" ucap Alex.


Dara menghentikan tangisannya saat dia mendengar suara Alex dari luar toilet.


"Mas Alex...! Mas Alex...! tolong aku Mas. Tolong keluarkan aku dari sini," ucap Dara sembari menggebrak-gebrak pintu toilet.


Alex terkejut saat mendengar suara Dara dari dalam toilet.


"Dara, apakah kamu yang ada di dalam?" tanya Alex.


"Iya Mas. Aku terkunci di dalam. Tolong bukain pintunya Mas."


"Iya. Kamu sabar ya sayang. Aku akan dobrak pintunya."


Bruak.


Satu tendangan Alex, sudah membuat pintu itu terbuka. Alex terkejut saat melihat Dara terkunci di kamar mandi.


"Sayang, kamu nggak apa-apakan?" tanya Alex sembari menangkup wajah Dara.


Dara menggeleng. "Aku nggak apa-apa Mas Alex."


"Kenapa kamu bisa terkunci di sini? siapa yang ngunciin kamu di sini sayang?" tanya Alex.


Dara menatap manik mata Alex lekat.


Tiba-tiba saja Dara memeluk tubuh Alex dengan erat.


"Mas Alex. Hiks...hiks.."


"Sabar sayang, kamu tenang aja ya. Aku akan selalu ada buat kamu sayang."


Dara melepaskan pelukannya. Dia tampak gugup saat berada di dekat Alex.


"Maaf mas, aku nggak sengaja peluk kamu," ucap Dara.


Alex tersenyum.


"Sengaja juga nggak apa-apa sayang."


"Ih. Mas Alex kok gitu sih."


"Udah, sekarang kita pulang ya."


Dara hanya mengangguk. Setelah itu Dara dan Alex pun pergi meninggalkan kampus.


Dara dan Alex masuk ke dalam mobilnya. Sebelum kembali menyetir Alex menatap Dara lekat.


"Sebenarnya kenapa kamu bisa terkunci di dalam kamar mandi Dara?" tanya Alex.


"Sepertinya ada orang yang sengaja ngunciin aku Mas."


"Siapa?"

__ADS_1


"Aku juga ngga tahu siapa."


"Ya udah. Lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi ya Dara. Kalau ada anak rese yang mau jahatin kamu, kamu bilang sama aku."


"Iya Mas."


****


"Aku benci sama kamu Mas Alex...! aku benci...! kamu sudah menyakiti hati aku dan mengkhianati cinta aku. Aku nggak terima kamu perlakukan aku seperti ini."


Desi sejak tadi masih merancau sendiri. Dia tidak terima dengan perlakuan Alex yang sudah memutuskan dia tiba-tiba.


"Ini pasti gara-gara gadis cupu itu. Aku nggak akan pernah membiarkan mereka bahagia di atas penderitaan ku."


"Aaagghhhh...."


Desi menjerit dan membuang semua benda-benda yang ada di atas tempat tidurnya. Mulai dari selimut, guling, bantal, dan boneka-boneka kesayangannya.


Desi turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke meja riasnya. Desi kemudian membuang semua benda-benda yang ada di meja riasnya.


Praaang...


Suara pecahan sudah menggema memenuhi sudut kamar Desi. Wanita paruh baya yang ada di lantai bawah terkejut saat mendengar suara itu.


"Ya ampun. Non Desi kenapa ya. Kenapa dia ngamuk. Aku harus ke kamarnya Non Desi," ucap Bik Irah asisten rumah tangga Desi.


Bik Irah melangkah untuk ke kamar Desi anak majikannya itu.


Tok tok tok...


"Non...! Non Desi! buka pintunya Non. Ini Bibik Non. Ada apa dengan Non?"


Bik Irah sangat mengkhawatirkan kondisi Desi saat ini. Bik Irah takut kalau kejadian yang dulu akan terulang lagi.


Ya, sebelum pacaran dengan Alex, Desi memang pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Dan hubungan itu putus di tengah jalan, dan membuat Desi depresi.


Desi beberapa kali mencoba ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, untunglah hal itu tidak jadi dia lakukan. Karena banyak orang yang memergokinya dan menghalanginya untuk melakukan hal itu.


"Duh, gimana nih. Jangan sampai deh Non Desi kenapa-kenapa. Apa aku harus telpon Nyonya dan Tuan. Tapi, janganlah. Mendingan aku minta tolong tetangga aja di depan untuk dobrakin pintu."


Bik Irah kemudian melangkah ke depan untuk meminta pertolongan.


"Mas Wahyu..." ucap Bik Irah pada seorang pemuda yang sedang nongkrong di pinggir jalan depan rumah Desi.


Pemuda yang bernama Wahyu itu menoleh ke arah Bik Irah.


"Ada apa?"


"Mas Wahyu, bisa bantu saya nggak?" tanya Bik Irah pada Wahyu.


"Bantu apa Bik?"


"Itu, Non Desi ngamuk-ngamuk di kamarnya. Dia mecahin semua barang-barangnya yang ada di dalam kamar."


"Lho, emang nggak ada orang tuanya di dalam?"


"Orang tuanya belum pulang Mas. Mungkin lusa baru mereka pulang. Saya takut terjadi apa-apa sama anak majikan saya. Saya takut nanti dia malah nekat mencoba bunuh diri lagi seperti dulu."


"Ya udah, ayo kita samperin."


Tanpa butuh waktu lama, Wahyu dan Bik Irah kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Desi untuk melihat kondisi Desi di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Ya udah. Ayo kita masuk!" pinta Wahyu.


Bik Irah mengangguk. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah Desi.


__ADS_2