
"Ayah, ibu, maafin Dara ya, karena Dara baru bisa datang ke sini. Akhir-akhir ini Dara memang lagi sibuk banget," ucap Dara sembari menabur bunga di atas makam ke dua orang tuanya.
Setelah bunga itu sudah rata berada di atas makam ke dua orang tuanya, Dara dan Alex kemudian mendoakan ke dua orang tua Dara.
"Ibu dan Ayah yang tenang ya di sana. Dara akan selalu mendoakan kalian. Dara juga janji akan menjaga adik-adik Dara."
"Dara, kamu nggak mau ngenalin aku sama ke dua orang tua kamu," bisik Alex tepat di dekat telinga Dara.
Dara menatap Alex.
"Apa! memperkenalkan kamu sama ayah dan ibu aku untuk apa? lagian mereka udah meninggal."
"Katanya kan kalau orang udah meninggal bisa melihat kita. Jadi kenapa kamu nggak kenalin aku ke mereka."
"Ya udah, kenalan sendiri aja mumpung masih ada di sini."
Alex mengusap-usap batu nisan ibunya Dara.
"Bu, kenalkan. Nama aku Brian Alexander Rajasa. Aku anak dari Pak Rajasa dan Bu Vivi pemilik perusahaan Rajasa Group. Aku anak tunggal yang akan mewarisi semua harta orang tuaku. Aku ke sini, karena mau meminta doa restu dari kalian dan ingin melamar Dara. Aku ingin menikahi Dara. Aku ingin menjadikan Dara istri. Karena aku cinta sama anak ibu," ucap Alex yang membuat Dara terkejut.
"Kenalannya kok kayak gitu Mas. Dan apa maksud kamu bilang kalau kamu cinta sama aku?"
Alex meraih tangan Dara.
"Aku punya sesuatu untuk kamu."
"Sesuatu apa?" tanya Dara.
Alex mengambil sesuatu dari saku celananya. Dara terkejut saat melihat kotak cincin yang di ambil Alex.
Alex membuka kotak cincin itu. Dia kemudian menyematkan cincin itu di jari manis Dara.
"Wah, pas banget kan ternyata cincinnya di jari manis kamu Dara," ucap Alex.
Dara masih syok saat Alex tiba-tiba saja melamarnya.
Dara mencoba untuk melepaskan cincin itu dari jari manisnya
"Kamu mau ngapain?" tanya Alex.
"Aku mau lepas lah cincin ini."
"Kenapa di lepas. Jangan dong Dara."
"Tapi kamu itu konyol sekali Mas. Aku kan belum menerima kamu jadi pacar aku. Kenapa kamu tiba-tiba melamar aku di sini dan memakaikan cincin ini di jari aku."
Dara sejak tadi masih ingin melepaskan cincin dari Alex. Tapi cincin itu sangat sulit untuk dilepaskan.
"Ih, susah banget lagi lepasnya."
Alex meraih ke dua tangan Dara dan menggenggamnya erat.
"Untuk apa di lepas sayang. Itu cincin kan buat kamu, jangan dilepas dong. Biarkan saja cincin itu nempel di jari kamu. Agar kamu selalu ingat kalau kamu sekarang milik aku."
__ADS_1
Dara menatap Alex.
Deg deg deg...
Jantung Dara tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya saat dia menatap wajah Alex. Dara memang gugup jika saja Alex memperlakukannya dengan sangat romantis. Tapi Dara selalu menepis rasa itu karena Dara tidak mau jatuh cinta beneran sama Alex. Dara tidak mau patah hati karena Dara tahu kalau Alex itu seorang playboy.
Tes.
Setetes air dari atas jatuh mengenai tangan Dara dan Alex.
"Gerimis Dara. Kayaknya sebentar lagi mau hujan deh," ucap Alex.
"Ya udah Mas. Ayo kita pulang. Keburu hujan gede. Lagian, kita kan udah tabur semua bunganya."
"Iya Dara."
Alex dan Dara memutuskan untuk pulang. Karena hujan yang sudah mulai deras, Alex dan Dara berlarian untuk sampai ke dalam mobil. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil.
"Tuh kan, beneran turun hujan. Untung kita sudah masuk ke dalam mobil ya Dara," ucap Alex.
"Iya Mas."
"Kita sekarang mau ke mana dulu nih. Mau ke rumah kamu kan?"
"Ya iya dong Mas. Terus kita mau ke mana lagi. Sekarang kan lagi hujan."
"Iya sih. Sebenernya aku mau ngajak kamu jalan-jalan Dara."
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ah, aku malas jalan-jalan Mas. Lagian kamu nggak ingat, ibu kamu bilang apa tadi. Kita nggak boleh kan lama-lama perginya."
"Iya sih."
Alex kemudian menyalakan mobilnya. Setelah itu dia meluncur pergi meninggalkan makam.
****
Alex dan Dara saat ini, sudah sampai di depan teras rumah Dara. Dara melangkah ke arah pintu untuk membuka pintu.
"Duh, di kunci lagi pintunya," ucap Dara.
Dara memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Alex.
"Mas Alex tunggu di sini ya. Aku mau ke rumahnya Bu Ratna. Aku mau ambil kunci."
Alex mengangguk. Dara kemudian melangkah pergi ke rumah Bu Ratna untuk mengambil kunci yang biasa ke dua adiknya titipkan itu.
"Assalamualaikum. Bu... Bu Ratna...!" seru Dara.
Beberapa saat kemudian Bu Ratna membuka pintu rumahnya.
"Dara, kok kamu basah kuyup begini? kamu pulang hujan-hujanan ?" tanya Bu Ratna yang melihat sebagian baju Dara basah.
__ADS_1
"Nggak kok Bu. Aku naik mobil sama majikan aku. Tadi aku kegerimisan di makam. Makanya bajunya sedikit basah."
"Kamu baru dari makam?"
"Iya Bu. Aku habis pulang dari makam."
"Kamu ke sini sama siapa?"
"Sama Tuan Alex. Majikan aku."
"Oh. Cuma berdua."
"Iya lah Bu. Dia cuma mau ngantar aku untuk ketemu adik-adik aku aja kok. Terus aku mau ikut dia lagi pulang."
"Kamu nggak mau masuk dulu ke dalam?"
"Nggak usah Bu. Aku mau ambil kunci aja."
"Tunggu sebentar ya. Ibu ambilin kuncinya di dalam. "
Bu Ratna kemudian masuk ke dalam untuk mengambil kunci. Beberapa saat kemudian, dia datang dengan membawa kunci rumah Dara.
"Ini kuncinya."
"Makasih ya Bu."
Dara melangkah kembali menghampiri Alex yang sejak tadi masih berdiri di teras depan rumah Dara. Dara kemudian membuka pintu rumahnya.
"Ayo mas. Masuk!" Dara mempersilahkan Alex masuk ke dalam.
"Iya Dara."
Alex dan Dara kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka berdua kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Mas Alex, Mas Alex basah juga bajunya?" tanya Dara menatap tubuh Alex.
"Nggak begitu basah."
"Mas Alex kalau mau ganti baju, aku punya baju kemeja cowok."
Alex menatap Dara tajam.
"Punya siapa? punya mantan kamu?"
"Apaan sih. Emang aku punya mantan. Baju itu punya ayah aku. Masih aku simpan sampai sekarang."
"Oh. Aku kira, punya mantan kamu."
"Mana ada cewek simpan-simpan bajunya mantan."
"Ya udah deh. Kalau punya ayah kamu masih ada. Aku mau pakai. Aku juga sekalian mau numpang mandi Dara. Nggak apa-apa kan?"
"Ya nggak apa-apa kalau Mas Alex mau mandi di kamar mandi yang kecil dan sempit."
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa. Asal kamar mandinya bersih."