Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Saling menganggumi


__ADS_3

"Kamu mau mandi kan Mas. Aku ambilin handuk dulu ya di dalam," ucap Dara.


Alex mengangguk."Iya Dara."


Dara bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun melangkah pergi ke kamarnya untuk mengambilkan Alex handuk.


Sesaat kemudian, Dara keluar dengan membawa handuk miliknya.


"Ini Mas handuk aku. Kamu bisa pakai handuk ini," ucap Dara sembari menyodorkan handuk itu di depan Alex.


Alex menerimanya. Setelah itu dia mencium handuk Dara.


"Hem... handuk kamu wangi Dara."


"Kata siapa wangi? orang belum aku cuci Mas."


"Tapi bagi aku, apapun yang pernah kamu pakai itu akan selalu wangi."


Ih. Mas Alex kenapa sih harus nyebelin gini. Mau pakai tinggal pakai doang, ngapain pakai cium-cium handuk aku segala, batin Dara kesel.


Alex menatap sekeliling.


"Mana kamar mandinya Dara?"


"Itu dibelakang."


Alex diam seperti tampak memikirkan sesuatu.


"Kenapa malah diam? apa perlu aku antar kamu juga sampai ke kamar mandi? bisa kan ke kamar mandi sendiri?"


"Oke."


Alex kemudian berjalan ke arah kamar mandi.


"Jangan lama-lama Mas...! aku soalnya juga mau ke kamar mandi." Seru Dara.


"Iya Dara..."


Selesai mandi, Alex keluar dari kamar mandi. Alex saat ini, masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia kemudian menghampiri Dara.


Dara tertegun sejenak saat menatap Alex.


Mas Alex ternyata tampan banget, pantas aja kalau banyak wanita yang mau ngantri untuk jadi pacarnya. Andai Mas Alex benar-benar cinta sama aku dan mau menjadikan aku istrinya, pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Tapi sayang banget, Mas Alex itu playboy dan aku nggak mau jatuh cinta sama Mas Alex. Aku takut dikecewakan.


Alex sejak tadi masih bingung dengan Dara. Tidak biasanya Dara menatapnya seperti itu.


Alex mendekati Dara yang saat ini masih duduk di atas sofa. Setelah itu, dia melambaikan tangannya di depan Dara.

__ADS_1


"Hello... apa yang lagi kamu fikirkan hemm... apakah kamu lagi berfikiran mesum?"


Dara terkejut saat melihat wajah Alex yang sudah sangat dekat sekali dengan wajahnya.


Reflek Dara langsung mendorong tubuh Alex dan bangkit berdiri.


Dara menatap tajam Alex.


"Mas Alex, apa yang mau kamu lakukan sama aku? kenapa tadi kamu dekat-dekat aku? kamu mau cium aku ya?"


"Em, Dara. Kamu salah paham Dara. Aku nggak mau cium kamu kok. Aku cuma bingung aja. Kenapa kamu dari tadi diam aja ngelihatin aku. Padahal tadi aku cuma mau tanya mana kemeja ayah kamu. Kenapa belum kamu siapkan."


"Oh... iya. Aku lupa Mas. Maaf ya."


"Oke."


"Tunggu di sini. Aku ambil baju ganti kamu dulu."


Dara kemudian melangkah pergi ke kamar ibunya. Dia kemudian mengambil baju kemeja dan celana panjang milik almarhum ayahnya. Setelah itu Dara kembali menemui Alex.


"Ini Mas. Sementara kamu pakai ini dulu. Baju kamu soalnya basah. Biar nanti aku cuci baju kamu yang basah ya."


"Iya Dara."


"Tapi kamu pakainya jangan di sini ya. Di kamar aku aja. Takutnya, nanti adik-adik aku pulang."


"Iya Dara."


Beberapa saat kemudian, Alex keluar dari kamar Dara. Dia tidak melihat Dara ada di ruang tengah.


"Ke mana ya Dara," ucap Alex sembari memutar bola matanya ke sana dan kemari.


Alex kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa untuk menunggu Dara.


Selesai ganti baju, Dara keluar dari kamar. Rambutnya tampak basah. Dia berjalan menghampiri Alex dan duduk di dekat Alex.


Alex menatap Dara lekat. Dara terlihat sangat cantik. Rambutnya yang basah terurai, dan wajahnya tanpa kaca mata, membuat Alex terpesona.


Luar biasa sebenarnya kecantikan gadis ini. Aku memang sudah lama menyadarinya. Kalau gadis ini sangat cantik, jika dia tidak memakai kaca mata dan rambutnya terurai begini.


"Mas Alex, kenap sih. Ngelihatin aku seperti itu."


"Eh, Dara. Kamu cantik banget Dara."


"Apaan sih. Udah basi tahu Mas gombalan kamu."


"Lho. Aku nggak lagi gombal Dara. Kamu memang cantik kalau penampilan kamu seperti ini."

__ADS_1


Alex meraih rambut Dara yang menutupi mata. Setelah itu dia menyibak rambut Dara dan meletakan rambut itu ke belakang telinga Dara.


"Dara, aku lebih suka dengan penampilan kamu yang seperti ini. Berpenampilan lah seperti ini terus Dara. Rambut kamu jangan di ikat yang aneh-aneh gitu. Bila perlu, kamu lepas saja kaca mata kamu."


Alex masih saja berharap kalau Dara mau merubah penampilannya.


"Dari kecil, ibu aku selalu kepang rambut aku Mas. Dan itu berlangsung sampai aku dewasa. Dan kalau aku uraikan rambut aku begini, aku ngerasa nggak srek aja. Perasaan gerah banget Mas."


Alex manggut-manggut.


"Kalau kaca mata, aku memang sudah berkaca mata dari kecil. Kalau nggak pakai kaca mata, aku nggak akan bisa baca tulisan Mas. Kadang pandangan aku juga kabur kalau ngelihat orang."


"Tapi buktinya kamu masih bisa ngelihat aku kan?"


"Iya. Kita kan sekarang lagi dekat Mas.Kalau dari jarak jauh, kadang aku sering samar gitu. Kayak semalam aja aku ngelihat maling di rumah kamu loncat dari pagar rumah kamu."


Alex terkejut saat mendengar ucapan Dara.


"Apa? melihat maling loncat dari pagar? tapi kenapa kamu diam aja?"


"Aku nggak tahu itu orang atau bukan. Karena aku melihat lelaki itu, aku pas nggak pakai kaca mata Mas. Bisa jadi aku salah lihat."


"Terus ciri-cirinya seperti apa?"


"Ya aku nggak tahu ciri-cirinya. Orang aku ngelihatnya dia sudah ada di atas pagar mau keluar. Yang penting dia itu berbaju serba hitam."


Alex diam. Dia tampak mencerna semua ucapan Dara.


"Jadi benar, apa yang semalam mama lihat, kalau ada orang misterius yang datang malam-malam ke kamar mama. Tapi, mau apa dia mendatangi mama," gumam Alex.


"Kenapa Mas?" tanya Dara.


"Semalam mama aku itu teriak kenceng banget Dara. Katanya dia melihat ada lelaki bertopeng dan memakai baju serba hitam di jendela kamarnya. Katanya dia membawa balok kayu besar seperti untuk memukul. Mungkin maling yang kamu bilang tadi, lelaki yang semalam mama lihat di jendela kamarnya."


"Jadi benar kalau itu maling? dan semalam aku juga seperti mendengar suara teriakan. Jadi itu benar teriakannya mama?"


"Iya Dara. Tapi kayaknya itu bukan maling Dara. Tapi orang yang mau mencelakai mama. Kamu ingat kan kejadian di rumah sakit. Ada orang yang masuk ke dalam ruangan mama. Dia akan mencelakai mama. Dan sampai sekarang aku nggak tahu siapa orangnya. Susah sekali untuk diselidiki."


Dara meraih lengan Alex dan menggenggamnya erat.


"Mas, kok aku jadi takut ya. Apa yang sebenernya mereka inginkan? "


"Kamu nggak perlu takut. Ada aku Dara. Mereka nggak akan berani macam-macam sama aku dan mama. Paling mereka cuma nakut-nakutin aja," ucap Alex.


"Mereka cuma neror aja ya Mas."


"Yah, begitulah Dara."

__ADS_1


__ADS_2