Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Mimpi buruk


__ADS_3

"Pergi... pergi... pergi... hiks...hiks..."


Baru saja Alex terlelap, Alex dikejutkan oleh suara tangisan ibunya. Alex mengerjapkan matanya dan buru-buru menghampiri ibunya.


"Mama, mama, bangun Ma..." ucap Alex sembari menepuk-nepuk pipi Bu Vivi.


Beberapa saat kemudian, Bu Vivi mengerjapkan matanya. Dia beringsut duduk dan langsung memeluk Alex.


"Alex, mama takut Alex. Mama takut."


"Tenang Ma. Mama jangan takut. Ada Alex di sini. Alex akan selalu jagain mama ya Ma." Alex mencoba menenangkan mamanya dengan mengusap-usap punggung mamanya.


Bu Vivi kemudian melepaskan pelukannya.


"Ada apa Ma?" Alex menatap manik ibunya berusaha mencari tahu apa yang sudah terjadi pada ibunya sampai-sampai ibunya bisa mengiggau dan menangis.


"Mama mimpi buruk Alex," ucap Bu Vivi.


"Mama mimpi apa?"


"Wanita itu. Wanita itu mau mencekik mama Alex."


"Wanita? wanita siapa? apa mama bisa jelaskan ciri-cirinya."


Bu Vivi tampak mengingat wanita yang dia temui dalam mimpinya.


"Dia wanita sepantaran kamu. Rambutnya ikal, tubuh sedang dan dia mempunyai tahi lalat di pelipisnya."


Alex langsung bisa menebak wanita siapa yang hadir dalam mimpi Bu Vivi.


Rita. Kenapa mama bisa mimpi tentang Rita. Apa yang sebenarnya sedang Rita rencanakan saat ini.


"Alex, mama takut. Wanita itu sudah menyeret mama dan membawa mama masuk ke sebuah gudang tua yang sangat gelap. Dan di situ, mama harus dihadapkan oleh banyak ular beracun." Bu Vivi menatap Alex dengan keringat yang bercucuran di keningnya.


"Ma sudahlah Ma. Jangan fikirin soal itu. Itu cuma bunga tidur. Percayalah sama Alex. Nggak akan terjadi apa-apa sama mama. Sekarang mama tidur lagi ya. Ini masih malam Ma."


"Alex, mama haus. Mama pengin minum Alex."


Alex mendekat ke nakas dan mengambil gelas Bu Vivi yang ada di tas nakas. Dia kemudian menyodorkan segelas air putih itu pada ibunya.


"Ini Ma. Minum dulu."


Bu Vivi kemudian meminum segelas air putih itu. Setelah itu dia menatap Alex.


"Alex, mama takut. Mama takut kalau mimpi mama akan jadi kenyataan."


"Ma, mama nggak usah mikirin apa-apa ya Ma. Ada Alex di sini. Alex akan selalu jagain mama."Bu Vivi tersenyum.


Setelah Bu Vivi merasa tenang, Bu Vivi kemudian kembali berbaring. Alex menemani Bu Vivi sampai dia kembali terlelap. Setelah Bu Vivi terlelap, Alex kembali ke sofa dan berbaring di sana.


"Apa mama tadi mimpi Rita. Wanita yang disebutkan mama di dalam mimpinya itu ,seperti ciri-ciri Rita. Semoga nggak akan terjadi apa-apa sama mama."

__ADS_1


Alex kemudian memejamkan matanya dan mencoba kembali tidur.


****


Waktu sudah menunjuk ke angka 5. Dara terbangun dari tidurnya. Dara menatap sekeliling.


"Oh iya. Aku kan tidur di kamar Tuan Alex. Pasti sebentar lagi Tuan Alex akan datang kemari untuk mandi dan ganti baju. Aku harus cepat-cepat pergi dari kamar ini," ucap Dara.


Dara kemudian buru-buru turun dari tempat tidur Alex dan melangkah keluar dari kamar Alex.


"Auh..." pekik Dara saat tubuhnya menabrak sesuatu.


Dara terkejut saat melihat ke depan. Ternyata dia sudah menabrak tubuh Alex yang tinggi dan tegap itu.


Dara masih memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dia kemudian menetap wajah Alex.


"Kenapa Dara? kamu mau kemana? kenapa buru-buru banget?" tanya Alex.


"Em... aku mau ke bawah. Aku mau lihat Bu Vivi."


"Nggak usah. Dia sudah sama Ratih. Lebih baik kamu temani aku saja."


"Temani kemana?" tanya Alex.


"Temani ke kamar."


"Ke kamar, mau ngapain?"


"Siapkan baju aku dan siapkan air hangat untuk aku. Aku semalam kedinginan Dara. Dan aku nggak bisa tidur. Biarkanlah mama sama Ratih. Aku mau mandi air hangat lagi."


Alex tersenyum.


"Dua-duanya sayang."


"Ih... nyebelin banget sih!" Dara memukul-mukul dada bidang Alex.


"Kenapa kamu panggil aku sayang lagi. Aku bukan pacar kamu...! jangan panggil aku sayang...!"


Alex sukses sudah membuat Dara marah-marah pagi ini. Dengan sigap Alex mencekal ke dua tangan Dara sehingga membuat Dara berhenti memukulnya.


Sejenak mereka saling menatap.


"Dara, berhenti. Jangan pukul aku lagi. Nanti tangan kamu bisa sakit."


Dara diam. Memang sakit. Kepala Dara juga sakit saat menabrak tubuh Alex tadi. Tubuh Alex memang keras seperti batu. Mungkin karena setiap hari, dia sering melakukan olah raga. Seperti angkat besi dan oleh raga lainnya.


"Ya udah, ayo. Aku mau berangkat kantor. Ada meeting penting pagi ini Dara. Cepat! aku nggak mau kesiangan."


Dara mengangguk. Dia kemudian menurut untuk masuk kembali ke kamar Alex.


Sesampainya di kamar, Alex menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


"Kamu mau mandi sekarang?" tanya Dara.


Alex menggeleng.


"Sebentar lagi Dara," jawab Alex yang matanya sejak tadi tidak lepas dari menatap wajah Dara.


"Terus, ngapain kamu nyuruh aku kembali ke kamar?"


"Ya kita ngobrol-ngobrol aja dulu di sini."


"Ngobrol? di dalam kamar? nggak. Aku nggak mau. Aku mau keluar aja. Bagaimana nanti kalau ada yang mikir macam-macam tentang kita kalau kita sering berduaan di dalam kamar begini."


"Ya nggak apa-apa. Emang kenapa? siapa yang akan berani menggerebek kita di sini Dara. Mereka semua pembantu aku. Nggak ada yang berani macam-macam dengan aku."


Dara menghela nafas dalam. Sejak pertama kali dia kenal dengan Alex, Alex itu memang keras kepala. Dia sangat susah untuk dibilangin. Dara juga bingung sekarang dengan Alex. Apa sebenarnya yang dia mau sekarang.


"Kenapa berdiri aja. Ayo duduk sini, samping aku."


"Em..."


"Ayolah...! temani aku."


"Ta-tapi..."


"Aku ingin cerita sesuatu sama kamu."


Dara akhirnya menurut juga untuk duduk di sisi Alex.


"Kamu mau cerita apa?" tanya Dara.


"Semalam mama aku mimpi buruk Dara," ucap Alex.


"Terus? dia emang mimpi apa?"


"Dia mimpi ada seorang wanita yang mau mencekiknya."


"Oh iya."


"Perasaan aku jadi nggak enak Dara. Aku takutnya Rita sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai mama aku. Sejak kejadian di rumah sakit, aku jadi sering was-was begini Dara.


"Mas, kita doa aja deh. Agar tidak terjadi sesuatu pada Bu Vivi. Kamu harus selalu jagain Bu Vivi."


"Itu pasti dong Dara."


Di sisi lain, Bu Vivi mengerjapkan matanya. Dia menatap sekeliling. Tak dilihatnya Alex ada di dalam kamarnya.


"Ratih, mana Alex?" tanya Bu Vivi.


"Tuan muda, lagi ke kamarnya. Dia mau siap-siap untuk berangkat ke kantor."


"Kalau Dara?"

__ADS_1


Ratih diam dan tampak berfikir.


Dara, tidur di mana ya semalam. Dia nggak mungkin pulang kan ke rumah. Karena Tuan muda kan sudah menyuruh Dara untuk kerja di sini untuk merawat Bu Vivi sampai dia sembuh.


__ADS_2