Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Suara teriakan


__ADS_3

Alex dan Dara masuk ke dalam rumahnya namun mereka tidak langsung ke kamar. Mereka malah asyik duduk dan kembali bercakap-cakap di ruang tengah.


"Kamu masih kedinginan Dara?" tanya Alex menatap Dara lekat.


"Iya Mas. Cuma udah mendingan setelah memakai jaket kamu."


"Ya udah, pakai dulu aja nggak apa-apa."


"Makasih ya Mas."


Alex bangkit berdiri.


"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Dara.


Alex menatap Dara lekat.


"Aku mau ke dapur," jawab Alex singkat.


"Mau ngapain?"


"Mau buat minuman hangat untuk kita."


"Oh. Ya udah."


Alex kemudian melangkah pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Dia menyeduh dua cangkir kopi untuk Dara dan dirinya.


Beberapa saat kemudian, Alex kembali ke ruang tengah dengan membawa dua cangkir kopi buatannya.


Dia meletakan dua cangkir kopi itu di atas meja.


"Kopi? Kamu kenapa buat kopi? aku nggak suka kopi Mas," ucap Dara.


"Kamu nggak suka kopi?"


"Iya. Kopi pahit Mas."


"Yah, tapi di dapur cuma ada gula dan kopi. Karena teh dan susunya udah habis. Lagian, kopinya juga udah aku tambahin gula kok. Udah nggak pahit kopinya Dara."


Karena tidak mau mengecewakan perasaan Alex, akhirnya Dara mengambil cangkir itu dan menyeruput kopi buatan Alex. Yah, walau sebenarnya dia tidak suka kopi dan tidak pernah minum kopi.


Hoaamm...


"Kenapa Dara, kamu ngantuk?" tanya Alex yang sudah melihat Dara bersandar di sofa.


Dara hanya mengangguk. Sejak tadi sebenarnya Dara itu sudah mengantuk. Karena Alex sejak tadi masih mengajaknya ngobrol, Dara paksakan untuk melek.


"Iya Mas. Aku ngantuk."


"Kok minum kopi malah ngantuk. Gimana sih Dara."


"Nggak tahu Mas."


Sesaat kemudian, Dara sudah terlelap. Alex hanya geleng-geleng kepala saat melihat Dara.


"Duh, dia malah tidur di sini lagi."

__ADS_1


Alex masih menatap Dara lekat. Sejak tadi dia masih memperhatikan Dara.


Setelah lama Dara tertidur di sofa ruang tengah, akhirnya Alex memutuskan untuk membawa Dara ke kamarnya.


Alex mendekat ke arah Dara dan menggendong tubuh Dara. Dia membawa Dara naik ke lantai atas. Sesampainya di depan kamarnya, Alex membuka pintu kamar dan membawa tubuh Dara masuk ke dalam kamar.


Alex membaringkan Dara di atas tempat tidurnya.


Sebelum pergi, Alex melepaskan kaca mata Dara dan meletakan kaca mata itu di atas nakas. Setelah itu Alex menarik selimut dan menutupi tubuh Dara dengan selimut.


"Selamat tidur Dara, semoga mimpi indah."


Cup.


Satu kecupan dari bibir Alex sudah mendarat di kening Dara. Alex kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Dara di kamarnya.


Alex turun ke bawah dan kembali duduk di sofa ruang tengah. Dia menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan ke angka 12.


"Ternyata udah jam 12 malam, tapi kenapa mata aku nggak ngantuk ya," ucap Alex.


"Alex...! Alex...! Tolong...!" Suara Bu Vivi terdengar dari dalam kamar.


Alex terkejut saat mendengar teriakan Bu Vivi.


Kenapa ya dengan Mama. Kenapa dia teriak. Apa jangan-jangan mama histeris lagi dan kambuh penyakit kejiwaannya.


Alex segera melangkah ke kamar ibunya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar ibunya.


"Mama, ada apa Ma?" tanya Alex setelah sampai di dalam kamar Bu Vivi.


Bu Vivi yang sejak tadi masih berada di atas tempat tidurnya menunjuk-nunjuk ke arah jendela.


"Apa! yang benar Ma?" Alex terkejut saat mendengar penuturan ibunya.


"Tadi dia berdiri di luar jendela. Dan dia membawa balok kayu besar seperti untuk mukul Alex."


"Apa mama serius?"


Alex buru-buru melihat ke luar jendela. Namun, di luar tidak ada siapa-siapa.


Alex mendekati ibunya dan duduk di sisi ibunya.


"Mama, nggak ada siapa-siapa di luar Ma," ucap Alex.


"Mungkin dia sudah kabur Alex," ucap Bu Vivi.


Alex termenung sejenak.


Kenapa ya dengan Mama. Kenapa mama bisa teriak minta tolong. Apa yang sebenarnya terjadi sama mama tadi. Apa benar kalau ada orang jahat di luar. Atau mama hanya sedang berhalusinasi saja.


"Ma, coba mama tenangkan diri mama dulu. Apa yang sebenarnya mama lihat tadi?" Alex sudah memegang ke dua bahu Bu Vivi.


Bu Vivi menghela nafas dalam. Mencoba mengatur nafasnya sebelum dia bercerita.


"Tadi ada orang berdiri di luar jendela. Dia membawa balok kayu besar yang sepertinya akan dia gunakan untuk memukul."

__ADS_1


"Yang benar Ma?"


"Iya Alex benar. Mama tidak bohong. Mama takut Alex. bagaimana kalau orang itu mau mencelakai mama. Tolong Alex, jangan tinggalin mama sendiri di sini. Mama takut."


"Iya Ma. Mama tenang ya. Alex akan temani mama di sini. Mama tunggu dulu di sini ya. Alex akan cek ke depan."


"Jangan Alex, mama takut."


"Mama, sekarang mama katakan sama Alex, seperti apa ciri-ciri orang itu?"


"Dia sepertinya seorang lelaki. Dia memakai baju serba hitam, dan wajahnya memakai topeng. Dan dia membawa balok kayu seperti ingin memukul Mama dengan balok itu."


"Ya udah. Alex mau telpon Doni dulu."


Alex kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya untuk menelpon Doni.


Tut...Tut...Tut...


Angkat dong Don... kemana sih kamu. Kenapa nggak angkat-angkat telpon aku. Apa kamu sudah tidur.


Beberapa saat kemudian, suara Doni sudah terdengar dari balik telpon.


"Halo..."


"Halo Don. Kemana aja kamu Don?"


"Maaf bos. Aku dan Pak Tino ketiduran."


"Kenapa bisa kalian ketiduran heh...! apa kamu tahu Don, mama aku histeris lagi. Tadi kata Mama aku, ada orang bertopeng yang mau membunuhnya."


"Apa! yang benar Bos."


"Iya. Sekarang bangunkan Pak Tino dan cek semua ruangan."


"Baik Bos."


"Ya udah. Kalau ada apa-apa lapor ke saya."


"Siap Bos."


Alex kemudian mematikan saluran telponnya.


Di sisi lain, Dara mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat kalau ternyata dia sudah berada di atas tempat tidur Alex.


Dara beringsut duduk dan menatap sekeliling.


"Kenapa aku bisa ada di sini, perasaan tadi aku ada di sofa. Siapa yang sudah membawa aku ke sini, apa jangan-jangan Mas Alex yang sudah membawaku ke sini," gumam Dara.


Dara melepas jaket yang ada di tubuhnya. Dia kemudian meletakkan jaket itu di sisinya duduk.


Tadi aku dengar ada suara teriakan. Suara apa ya tadi. Apa jangan-jangan itu teriakan Bu Vivi.Atau itu cuma perasaan aku aja kali ya. Mungkin teriakan itu ada dalam mimpi aku


Dara turun dari tempat tidurnya. Dia kemudian melangkah dan mendekat ke arah jendela kamarnya. Dia ingin melihat suasana di luar. Karena dia penasaran dengan suara teriakan waktu dia tidur. Dara membuka jendelanya dan dia terkejut saat melihat keluar.


Dara mengucek matanya saat samar-samar dia melihat seorang lelaki berbaju serba hitam naik ke atas pagar dan pergi meninggalkan rumah Alex.

__ADS_1


"Duh, itu tadi siapa ya. Kenapa ada orang naik ke atas pagar, atau aku cuma salah lihat," gumam Dara.


Dara kemudian menutup korden jendelanya kembali. Dia memutuskan untuk kembali tidur.


__ADS_2