Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Karma


__ADS_3

Malam ini Martin sudah sampai di depan rumahnya. Martin menghentikan laju motornya dan turun dari motornya. Setelah itu Martin pun melangkah ke teras depan rumahnya sembari membawa ikan hasil tangkapannya.


"Pasti istri aku seneng nih, aku pulang bawa ikan banyak. Nggak sia-sia aku mancing sampai tengah malam begini," ucap Martin tampak bahagia.


Sesampainya di depan pintu, Martin pun mengetuk pintu rumahnya.


Tok tok tok...


"Selly... Selly sayang...! buka pintunya sayang. Abang pulang nih sayang. Kamu tahu nggak, kalau malam ini, Abang bawa ikan banyak," ucap Martin.


Beberapa saat kemudian, Pak Badrun tetangga dekat rumah Martin menghampiri Martin.


"Dari mana aja kamu Martin? kenapa jam segini baru pulang?" tanya Pak Badrun pada Martin.


"Kenapa Pak emang? biasanya aku juga pulang jam segini. Dan istri aku nggak pernah marah sama aku. Karena setiap aku pulang, aku pasti bawa oleh-oleh ikan hasil mancing aku untuk istriku," jelas Martin.


"Kamu habis mancing?" Pak Badrun menatap tajam ke arah Martin.


Martin mengangguk. "Iya Pak Badrun. Saya memang habis mancing. Makanya saya bawa ikan banyak."


"Jadi selama ini, kamu selalu tinggal istri kamu mancing. Kasihan sekali si Selly punya suami seperti kamu."


"Kenapa dari tadi istriku nggak bukain pintu ya. Ke mana dia. Dia ada di dalam kan," ucap Martin.


"Istri kamu nggak ada di rumah. Dia sudah di bawa ke rumah sakit karena dia mau melahirkan. Seharusnya kamu itu jadi suami siaga. Istri mau melahirkan seharusnya kamu berada di rumah. Kenapa kamu malah keluyuran nggak jelas begini, pakai acara mancing segala."


Martin terkejut saat mendengar ucapan Pak Badrun.


"Apa! istri aku mau melahirkan. Terus, sekarang dia ada di rumah sakit?" tanya Martin menatap Pak Badrun lekat.


"Iya. Dia sudah ada di rumah sakit sama istri saya," jawab Pak Badrun.


"Bu Taria yang membawa istri saya ke rumah sakit?"


"Iya. Dan mereka sekarang ada di rumah sakit."


Martin yang mendengar kalau istrinya itu di rumah sakit, segera memberikan kantong plastik yang berisi ikan itu pada Pak Badrun.


"Pak, ini ikannya buat bapak saja. Bapak bisa goreng ikan ini besok atau lusa. Atau bapak taruh di freezer saja kalau lagi malas goreng. Saya mau ke rumah sakit dulu. Titip rumah ya Pak."


Martin buru-buru melangkah kembali ke arah motornya. Setelah itu dia pun naik ke atas motor dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


Martin mengendari motornya dengan kecepatan penuh. Jam 12 malam dia menerjang jalanan yang cukup gelap.


Sebenarnya Martin sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya saat ini. Dia menyesal kenapa dia tidak ada di rumah saat istrinya mau melahirkan.


"Sayang, kamu yang sabar ya, Abang akan segera datang sayang," ucap Martin di sela-sela dia mengendarai motornya.


Setelah menempuh waktu beberapa menit perjalanan, Martin akhirnya sampai juga di rumah sakit.


Martin buru-buru turun dari motornya dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster, pasien yang bernama Selly di rawat di mana ya?" tanya Martin pada suster penjaga


"Selly siapa Pak?"

__ADS_1


"Itu, istri saya yang tadi sore di bawa ke sini karena mau lahiran."


"Oh. Dia ada di kamar Cempaka No 5 Pak."


"Makasih ya Sus."


Martin kemudian buru-buru melangkah ke ruangan itu. Di sana, tampak Bu Taria masih mondar-mandir di depan ruang rawat Selly.


Martin buru-buru menghampiri Bu Taria.


"Bu Taria. Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Martin pada Bu Taria.


Bu Taria terkejut saat melihat Martin.


"Akhirnya kamu datang juga Martin. Kamu dari mana aja sih Martin? kenapa kamu nggak ada di saat-saat istri kamu mau lahiran. Suami macam apa kamu, istri mau lahiran malah di tinggal main,"ucap Bu Taria yang sangat kesal dengan Martin.


"Maaf Bu, aku juga nggak tahu kalau Selly mau lahiran."


"Kamu ini, benar-benar suami nggak berguna."


Martin sama sekali tidak marah saat mendengar makian dari Bu Taria. Karena dia mengakui kalau dia selama ini belum bisa menjadi suami yang baik untuk Selly.


Hatinya mengakui kalau dia selama ini sudah salah dengan istrinya. Selama ini, Martin sudah selingkuh dengan Rita di belakang Selly. Dan dia juga sudah menafkahi Selly dengan uang haram.


Martin menatap Bu Taria lekat.


"Bu, bagaimana kondisi istri saya saat ini Bu?" tanya Martin.


Bu Taria diam dan wajahnya tampak menunjukkan kesedihan.


"Istri kamu, baru selesai operasi cesar. Dan dia masih belum sadar Martin. Dia masih dalam pengaruh obat bius," ucap Bu Taria menuturkan.


Martin terkejut bukan main saat mendengar ucapan Bu Taria.


"Apa! jadi istriku di sesar?" pekik Martin.


"Iya. Istri kamu di sesar. Karena..."


"Karena apa Bu?"


"Bayi kamu sudah meninggal waktu di dalam kandungan."


"Apa! jadi anak aku nggak bisa di selamatkan?"


"Iya Martin. Bayi kamu, meninggal di dalam kandungan."


Martin meneteskan air matanya. Tubuhnya melemas dan terhuyung ke belakang. Dia kemudian duduk tak berdaya saat mendengar kabar dari Bu Taria kalau anaknya tidak bisa diselamatkan.


"Kenapa semua jadi begini. Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah semua dosa-dosaku. Sudah banyak sekali dosa-dosaku selama ini," ucap Martin. Setelah itu dia menutup wajahnya dengan ke dua tangannya. Dia tampak menyesal dengan apa yang terjadi pada istri dan anaknya.


"Hiks...hiks.. semua ini memang salah aku... aku sudah lalai menjaga istri dan anakku," ucap Martin.


"Sudahlah Martin. Semua ini sudah terlanjur terjadi. Nggak usah kamu tangisi apa yang sudah menjadi takdir. Semua ini sudah menjadi kehendak Nya."


****

__ADS_1


Selly mengerjapkan matanya. Selly terkejut saat melihat Martin sudah ada di sisinya berbaring.


Mas Martin ternyata sudah ada di sini, Kemana aja kamu Mas Martin waktu aku membutuhkan kamu. Di saat-saat aku kesakitan, kamu malah asyik-asyikan mancing sama cewek lain.


"Bang..."ucap Selly dengan nada lemah.


Martin tersenyum. Dia kemudian mengusap-usap rambut Selly.


"Bang, kamu dari mana aja tadi sore? kenapa aku telpon kamu nggak mau angkat. Malah yang angkat telpon aku, seorang perempuan?" tanya Selly pada Martin.


Martin meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.


"Maafkan aku sayang. Aku nggak tahu kalau kamu mau lahiran. Jadi aku berangkat mancing tadi pagi."


"Bang, mana anak kita?" tanya Selly menatap sekeliling.


"Anak kamu..." Martin bingung untuk bicara tentang anaknya. Martin takut kalau Selly akan syok jika dia mendengar kabar buruk tentang anaknya yang sudah meninggal.


"Bang, anak kita cewek apa cowok? dan di mana dia?"tanya Selly yang sangat penasaran dengan jenis kelamin anaknya.


"Anak kita... masih ada sama suster sayang. Mungkin besok dia akan di bawa ke sini," ucap Martin.


Maafkan aku Selly karena aku harus bohongin kamu. Sebenarnya anak kita sudah meninggal. Tapi aku takut kamu akan syok dan kamu akan membenci aku jika kamu tahu tentang kebenaran itu,


Selly menatap sekeliling.


"Ini masih malam ya Bang? ini jam berapa?"


"Jam tiga malam sayang."


"Terus, mana Bu Taria?"


"Dia sudah aku antar pulang sayang. Kasihan dia dari tadi sore udah nungguin kamu di sini."


Selly menatap tajam ke arah Martin.


"Kamu dari mana aja sih Bang? kamu pulang jam berapa tadi? dan kenapa waktu aku telpon yang angkat suara seorang wanita. Siapa sebenarnya wanita itu ? kamu nggak ada hubungan apa-apa kan dengan wanita itu?"


Martin tersenyum dan menggeleng.


"Itu cuma teman sayang. Selama ini aku setia sama kamu sayang. Aku pergi, cuma untuk mancing aja kok."


"Kamu udah berhenti kan jadi rampok?"


Martin menatap sekeliling


"Sssttt...jangan keras-keras ngomongnya sayang. Bagaimana kalau ada orang yang dengar ucapan kamu tadi. Aku sudah insyaf kok."


Selly menghela nafas dalam. Sebenarnya Selly itu sudah capek menghadap sikap suaminya. Selly lelah dan dia sudah ingin bercerai dari Martin. Namun dia tidak mungkin menggugat cerai Martin dalam keadaan dirinya hamil.


"Bang, aku mau kamu berubah bang. Aku mau kamu bertobat. Mumpung kamu masih di beri kesempatan untuk bertaubat, bertaubatlah bang."


"Iya Selly. Aku janji aku akan bertaubat."


Maaf kan aku Selly karena aku sudah sering sekali membohongi kamu. Anak aku meninggal, mungkin semua ini karena karma untuk aku. Aku harus kehilangan anak pertama aku karena kesalahan aku sendiri. Aku yang kurang perhatian sama kamu, dan aku yang sudah menyia-nyiakan kamu dengan selingkuh dibelakang kamu dengan Rita. Semua ini, aku lakukan karena harta. Aku menyesal, karena aku sudah gila harta dan sudah dibutakan oleh harta. Sehingga aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku mau termasuk dengan merampok, batin Martin

__ADS_1


****


__ADS_2