
Siang ini Dara sudah sampai di depan kantor Pak Rajasa. Seperti kesepakatannya dengan Pak Rajasa, kalau Dara akan bekerja paruh waktu.
Mulai saat ini Dara akan ke kantor setelah jam makan siang, karena sekarang, setiap pagi dia harus ke kampus dulu untuk kuliah.
Setelah masuk ke dalam kantor, Dara tersenyum saat melihat Ranti dan teman-temannya yang lain sedang berkumpul di belakang.
Dara melangkah dan mendekat ke arah mereka.
"Hai..." Ranti, Silvi, dan teman-teman Dara yang lain menatap ke arah Dara.
"Dara, kamu baru masuk? aku fikir, kamu hari ini nggak masuk," ucap Ranti.
"Iya Dara. Dari mana aja kamu?" tanya Silvi menatap Dara sinis.
"Aku dari kampus," jawab Dara singkat.
Ranti dan Silvi terkejut saat mendengar ucapan Dara.
"Kampus?" ucap mereka kompakan.
"Iya. Kenapa?"
"Kamu kuliah?" tanya Ranti.
"Iya Mbak Ranti. Sekarang di sini aku cuma kerja paruh waktu. Karena kalau pagi aku harus kuliah. Dan hari ini, adalah hari pertama aku kuliah," ucap Dara menjelaskan.
Wah, hebat banget Dara, bisa kuliah. Uang dari mana dia bisa kuliah lagi. Memang gaji sebulan jadi office girl bisa untuk makan dan bayar kuliah. Dara saja punya tanggungan dua orang adik yang masih SMP. Kayak ada yang aneh. batin Silvi.
Silvi sepertinya masih belum percaya kalau Dara bisa kuliah lagi.
"Wah, hebat banget ya kamu ini. Kamu bisa kuliah lagi. Syukurlah biar kamu nanti bisa naik pangkat dan jadi staf di kantor ini," ucap Mbak Ranti yang ikut bahagia melihat kebahagiaan temannya.
"Amin. Doain aja ya Mbak Ranti,"
Ranti mengangguk.
"Eh, Dara. Tadi Pak Alex nyariin kamu tuh," ucap Mbak Ranti menuturkan.
"Pak Alex nyariin aku? emang Pak Alex ke sini?" tanya Dara.
"Iya. Tadi dia mau ngajakin kamu makan siang Dara," tutur Mbak Ranti.
"Terus sekarang dia di mana?"
"Mungkin masih di ruangannya. Coba saja kamu ke sana."
"Ah, malas Mbak. Aku lagi malas ketemu sama dia."
Dara kemudian menghempaskan tubuhnya di sisi Mbak Ranti duduk.
"Lho, kenapa? dia itu anak bos kita lho. Kamu temui saja dia. Siapa tahu, dia itu mau ngasih kamu komisi," ucap Mbak Ranti.
Komisi apaan. Muak banget aku sama dia.
Ring ring ring...
Tiba-tiba saja ponsel Dara berdering. Dara mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Dia terkejut saat melihat panggilan dari Alex.
__ADS_1
"Siapa Dara?" tanya Ranti.
"Pak Alex," jawab Dara.
"Kenapa dibiarkan aja. Angkat dong Dara...! siapa tahu penting."
Dara mengangguk. Setelah itu dia mengangkat panggilan dari Alex.
"Halo..."
"Halo Dara, kamu ada di mana sekarang?"
"Aku ada di kantor ayah kamu Pak Alex."
"Oh, sekarang kamu ke ruangan aku ya."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian. Cepat ke ruangan aku."
Tut Tut Tut...
Alex langsung memutuskan saluran telponnya sebelum Dara selesai bicara.
"Bagaimana Dara?" tanya Ranti.
"Dia nyuruh aku ke ruangannya," ucap Dara menjelaskan.
" Ya udah, cepat sana temui dia."
"Iya."
Tok tok tok....
Beberapa saat kemudian, Alex membuka pintu ruangannya. Dia tersenyum saat melihat Dara. Dengan sigap, Alex segera meraih tangan Dara dan menarik Dara masuk ke dalam ruangannya.
Alex kemudian langsung memeluk tubuh Dara dengan erat.
"Dara, aku kangen banget sama kamu Dara. Sudah satu minggu kita nggak ketemu. Satu hari saja nggak ketemu kamu, rasanya sudah seperti setahun nggak ketemu," ucap Alex di dalam pelukan Dara.
Dara hanya bisa diam saat Alex memeluknya.
Kenapa Dara diam aja ya, batin Alex.
Alex kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Dara lekat.
"Kamu kenapa diam aja Dara? apa yang lagi kamu fikirkan?" tanya Alex sembari menangkup wajah Dara.
Dara menghela nafas dalam dan menggeleng.
"Aku nggak apa-apa Mas."
Alex kemudian merangkul bahu Dara, dan mengajaknya duduk di atas sofa.
"Kita duduk dulu di sini Dara," ucap Alex.
Dara dan Alex kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam ruangan Alex.
__ADS_1
"Kamu sudah makan Dara?" tanya Alex menatap Dara lekat.
Dara menggeleng.
"Belum Mas," jawabnya singkat.
"Kebetulan banget, tadi aku ke sini bawa makanan bekal makan siang aku dari mama. Aku ingin makan bareng kamu Dara."
Dara menatap rantang yang ada di atas meja.
"Itu masakan Bu Vivi atau masakan Desi?" tanya Dara.
"Kok Desi. Apa hubungannya makanan ini dengan Desi."
"Biasanya kan Desi datang ke kantor kamu dan bawain kamu makanan."
"Nggaklah Dara. Desi itu lagi liburan ke Bali dengan teman-temannya. Jadi dia nggak akan gangguin kita."
Alex membuka rantang-rantang yang ada di atas meja. Setelah itu dia mengambilkan Dara nasi dan lauk ke dalam piring.
"Ini aku udah ambilin nasi buat kamu. Sekarang kita makan ya."
Dara mengangguk.
Dara dan Alex kemudian makan bersama di dalam ruangan Alex yang ada di kantor Pak Rajasa.
"Dara, tadi pagi kamu dari mana aja? kenapa jam segini baru datang ke kantor?" tanya Alex di sela-sela kunyahannya.
"Aku dari kampus Mas,"jawab Dara singkat.
Alex terkejut saat mendengar ucapan Dara.
"Kampus? kamu sekarang kuliah?" tanya Alex yang masih belum percaya kalau Dara kuliah.
"Iya Mas. Ini hari pertama aku kuliah," ucap Dara menjelaskan.
"Oh. Kamu kuliah di mana?" tanya Alex.
"Kuliah di kampus yang sama seperti kamu dulu Mas."
Alex tersenyum.
"Oh ya? Kamu yakin kalau itu kampus tempat aku kuliah dulu? kok kamu bisa tahu sih kalau itu kampus aku. Kan aku belum cerita tentang kampus aku."
"Sebenarnya, ayah kamu Mas yang masukin aku ke kampus kamu. Kata ayah kamu, kalau itu kampus tempat kuliah kamu dulu. Dan kata ayah kamu, ayah kamu yang mau menanggung biaya kuliah aku."
"Oh. Ya syukurlah kalau begitu." Alex hanya manggut-manggut mengerti dengan ucapan Dara.
"Terus, bagaimana pengalaman kamu hari ini? nggak ada yang godain kamu kan?" tanya Alex .
Dara mengerutkan keningnya.
"Godain aku? emang siapa yang mau godain aku Mas?"
"Siapa tahu, kakak kelas kamu atau teman baru kamu. Kalau ada yang godain kamu di kampus, kamu bilang ya sama aku. Biar aku hajar orang itu," ucap Alex.
"Nggak ada yang godain aku kok Mas. Lagian, di sana aku juga nggak ada yang kenal."
__ADS_1
Alex menghentikan kunyahannya.
Duh, kenapa Dara harus kuliah di kampus tempat aku kuliah dulu sih. Di sana kan yang kuliah anak orang kaya semua. Cowok dan ceweknya juga cakep-cakep. Bagaimana kalau nanti Dara tergoda dengan cowok-cowok yang ada di sana. Ya ampun, bagaimana kalau Dara jatuh cinta sama teman sekampusnya yang jauh lebih muda dan jauh lebih tampan dari aku.