Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Flashback


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu.


Sesampainya di depan rumah panti, Alex turun dari mobilnya. Dia mengambil bayi yang ada di dalam mobilnya. Dia kemudian melangkah ke teras depan rumah panti dengan menggendong bayi Alessa.


Alex menatap bayi mungil yang ada di dalam gendongannya itu. Dia kemudian meletakkan bayi itu di depan pintu rumah panti.


"Maaf kan aku Kinara. Aku harus buang bayi ini di sini. Aku nggak bisa menerima anak kamu di kehidupan aku. Aku memang lelaki pengecut Kinara. Aku tidak berani untuk mengakui darah daging aku sendiri. Aku memang tidak pantas untuk dipanggil ayah," ucap Alex yang masih menatap bayi kecil itu.


Setelah meletakkan bayi itu di depan rumah panti kecil, Alex mengetuk pintu rumah panti itu.


Dia kemudian melangkah dan kembali ke dalam mobilnya.


Di dalam mobilnya, Alex masih tampak memperhatikan bayi itu.


"Kenapa, nggak ada orang yang keluar dari rumah itu. Ini kan ada tulisan panti asuhan. Apa rumah ini memang nggak berpenghuni. Kalau rumah ini nggak ada yang menempati, kasihan dong kalau aku tinggal bayi Kinara sendiri di sini. Bagaimana nanti kalau bayi itu di bawa orang jahat atau di bawa orang gila," gumam Alex.


Alex sejak tadi masih tampak berfikir. Dia masih tampak ragu untuk meninggalkan bayi itu sendiri di rumah sepi itu. Alex tidak tega dengan bayinya.


Alex memang jahat karena tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilan Kinara. Namun Alex juga masih punya hati nurani. Dia tidak mungkin meninggalkan bayi itu di rumah kosong itu.


Oek...oek... Oeek..


Alex terkejut saat tiba-tiba bayi itu menangis. Sejak tadi belum ada orang yang datang dan membawa bayi itu. Alex menatap ke sisinya duduk. Alex kembali terkejut saat tiba-tiba saja bayangan Kinara ada di sisinya.


"Kinara, kamu kok bisa ada di sini," ucap Alex saat melihat bayangan Kinara ada di depannya.


Alex, di mana hati nurani kamu sebagai seorang ayah. Kamu boleh membuang aku, tapi apa kamu tega membuang darah daging mu sendiri. Dia darah daging mu sendiri Alex... Dia darah daging mu Alex...


Bayangan itu hanya sekejap melintas di fikiran Alex. Setelah Alex mengerjapkan matanya, bayangan Kinara sudah hilang entah kemana. Mendadak tubuh Alex mulai merinding.


Kenapa Kinara selalu menemuiku. Dia itu kan sudah meninggal. Nggak di dunia nyata, nggak di dunia mimpi, aku selalu saja di teror Kinara. Apa yang sebenarnya Kinara inginkan. Kenapa dia selau muncul dalam fikiran aku dan dalam mimpi aku, batin Alex.


Alex membuka pintu mobilnya dan turun dari mobilnya. Setelah itu dia mendekat ke arah rumah sepi itu untuk mengambil bayinya.


"Sayang, kenapa kamu nangis? Maafkan papa karena papa sudah tega ingin membuang kamu. Padahal papa sudah janji sama nenek kamu, kalau papa akan menjamin kehidupan kamu sampai kamu dewasa."


Setelah Alex menimang-nimang bayi itu, bayi itu pun terdiam dan mulai terlelap kembali. Alex tersenyum saat menatap bayi itu. Bayi itu sangat cantik. Dia tidak mirip dengan Kinara ibunya. Mungkin dia lebih mirip dengan Alex.


Beberapa saat kemudian, seseorang menepuk bahu Alex.


Alex lantas menoleh ke belakang. Alex terkejut saat melihat seorang wanita sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Alex memutar tubuhnya dan menghadap ke arah wanita itu.


"Ada perlu apa Mas?" tanya wanita itu pada Alex.


Alex mengulurkan tangannya.


"Kenalkan, saya Alex Rajasa. Apa anda pemilik rumah panti ini?" tanya Alex.


Wanita itu mengangguk.


"Iya. Nama saya Ani. Saya memang sudah lama mengurus panti ini sejak saya masih gadis."


"Oh. Bolehkah saya ngobrol-ngobrol dengan Bu Ani?" tanya Alex.


Bu Ani mengangguk.


"Iya. Mari masuk Mas..."


Setelah Bu Ani mempersilahkan Alex masuk, Alex pun kemudian masuk ke dalam rumah panti Bu Ani. Alex dan Bu Ani kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa Mas?" tanya Bu Ani menatap Alex lekat.


"Bayi? bayi siapa itu?"


"Ini bayi saya. Ini anak saya, darah daging saya."


Bu Ani mengernyitkan alisnya.


"Untuk apa anda menitipkan bayi anda di panti asuhan?" tanya Bu Ani.


"Tolong terimalah bayi ini. Saya tidak bisa merawat dan membesarkan bayi ini sendiri tanpa ibunya."


"Maksudnya?"


"Ibunya sudah pergi meninggalkan dia. Tolong terima, rawat dan besarkan lah bayi ini. Anggaplah bayi ini seperti anak anda sendiri. Saya janji, kalau anda mau merawat bayi saya, saya akan jamin kehidupan anda dengan anak-anak panti di sini. Saya akan menyumbangkan sebagian harta saya untuk panti ini."


Alex menyerahkan bayi itu pada Bu Ani. Bu Ani menerima bayi itu dengan kebingungan.


"Tolong jangan banyak tanya mengenai siapa saya dan siapa bayi ini. Saya ingin ini menjadi rahasia kita berdua. Jangan sampai ada yang tahu kalau bayi ini adalah anak kandung saya. Begitu juga dengan bayi ini. Jangan pernah kamu beri tahu pada bayi ini kalau saya adalah ayah kandungnya."


Bu Ani mengangguk. Dia hanya bisa menuruti saja ucapan Alex untuk tidak banyak bertanya mengenai bayi itu.

__ADS_1


"Saya akan sering ke sini untuk nengokin dia. Tapi saya tidak mau anak ini tahu tentang siapa saya yang sebenarnya."


"Iya Mas Alex, saya mengerti. Mas Alex tenang saja. Saya tidak akan pernah membocorkan semua rahasia ini."


Alex tersenyum


"Bagus kalau begitu."


"Oh iya. Siapa nama bayi cantik ini?" tanya Bu Ani sembari sesekali menatap wajah bayi cantik itu.


Alex diam dan tampak berfikir.


Siapa ya, nama bayi itu. Neneknya Kinara, nggak pernah bilang tentang nama anak itu. Apa harus aku sendiri yang kasih nama untuk bayi itu.


"Mas Alex..."


"Eh iya Bu."


"Siapa nama bayi ini? dia sudah punya nama apa belum?"


"Namanya. Alessa..."


"Nama yang cantik. Secantik bayinya."


"Iya. Entah kenapa, cuma nama itu yang ada di kepala aku."


"Nggak apa-apa Mas Alex. Yang penting bayinya sehat."


Mudah-mudahan anak Kinara nanti, akan menjadi anak yang berakhlak baik dan menjadi anak yang soleha, batin Alex


Setelah lama Alex dan Bu Ani ngobrol-ngobrol di rumah panti kecil itu, akhirnya Alex pun memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, dia berpamitan dulu pada Bu Ani.


"Bu, sudah sore, saya mau pamit pulang dulu ya Bu," ucap Alex sembari bangkit dari duduknya.


Bu Ani ikut bangkit sembari menggendong tubuh kecil Alessa. Alex kemudian keluar dari rumah panti diikuti Bu Ani di belakangnya. Bu Ani mengantar Alex sampai di depan rumah panti.


"Hati-hati ya Mas Alex."


Alex mengangguk. Setelah itu dia pun masuk ke dalam mobilnya. Sebenarnya Alex masih ingin berlama-lama dengan bayi Alessa. Namun waktunya tidak memungkinkan dia untuk berlama-lama berada di panti asuhan itu.


Pasti sekarang ke dua orang tuanya sedang menunggunya di rumah. Karena Alex sudah sejak kemarin dia tidak pulang ke rumah. Sejak kemarin dia masih sibuk mencari panti asuhan yang jauh dari rumahnya untuk menitipkan Alessa bayinya.

__ADS_1


__ADS_2