Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Pertemuan Rajasa dengan Vivi


__ADS_3

"Em... begini Tuan Rajasa. Sebenarnya Tuan Alex melarang saya untuk mempertemukan anda dengan Nyonya Vivi," ucap Ratih menjelaskan.


Pak Rajasa mengernyitkan alisnya bingung.


"Kenapa?" tanya Pak Rajasa menatap Ratih lekat.


"Saya juga nggak tahu Tuan Rajasa. Soalnya, akhir-akhir ini banyak kejadian aneh di rumah ini," jawab Ratih.


"Kejadian apa?" tanya Pak Rajasa yang semakin tidak mengerti.


"Kemarin-kemarin, sering ada orang yang datang ke sini, untuk meneror Bu Vivi. Dan Tuan Alex melarang Bu Vivi untuk ketemu dengan orang asing."


"Tapi kan saya suaminya Ratih. Bukan orang asing. Nggak apa-apa dong kalau saya ketemu istri saya," ucap Pak Rajasa yang masih ngotot untuk bertemu dengan Bu Vivi.


"Tapi, kata Tuan Alex, Tuan Rajasa juga nggak boleh ketemu sama Nyonya."


"Sekarang Alex ke mana? apa dia sudah pulang?" tanya Pak Rajasa.


"Tuan Alex sudah pulang. Tapi tadi dia pergi lagi. Katanya lagi ada urusan penting di luar."


"Ratih, tolong izinkan saya masuk. Saya ingin melihat istri saya. Saya kangen sama dia."


Ratih tampak berfikir.


"Tapi saya harus telpon Tuan Alex dulu."


"Nggak usah Ratih. Untuk apa telpon Alex. Saya juga di sini hanya sebentar. Saya cuma ingin melihat istri saya saja sebentar."


Ratih masih diam dan masih tampak berfikir. Dia masih ragu untuk mempertemukan Bu Vivi dengan Pak Rajasa.


"Ratih...! Ratih...!" seruan Bu Vivi sudah terdengar dari dalam rumah Alex.


Pak Rajasa tersenyum saat mendengar suara istrinya.


"Itu pasti suara istri saya kan," ucap Pak Rajasa bahagia.


Beberapa saat kemudian, Bu Vivi mendekat ke arah Ratih untuk melihat siapa yang datang.


"Siapa yang datang Ratih?" tanya Bu Vivi setelah sampai di pintu.


Bu Vivi membelalakkan matanya saat melihat Pak Rajasa. Dia terkejut saat melihat kehadiran suaminya.


"Mas Rajasa," ucap Bu Vivi.


Pak Rajasa tersenyum.

__ADS_1


"Vivi, kamu masih mengenaliku?" tanya Pak Rajasa.


Bu Vivi memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam. Dia akan melangkah masuk, namun Pak Rajasa buru-buru mencekal tangan Bu Vivi.


"Lepaskan tangan aku Mas," ucap Bu Vivi sembari menghempaskan tangan Pak Rajasa.


"Vivi kamu mau ke mana?" tanya Pak Rajasa.


"Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi Mas. Untuk apa kamu menemui aku lagi. Kamu itu sekarang sudah punya istri. Lebih baik kamu urus saja istri kamu itu."


"Vi, kamu itu juga istri aku. Dan aku seneng banget Vi, melihat kamu sudah sembuh dan kembali lagi seperti dulu. Vi, izinkan aku untuk bicara sebentar sama kamu."


"Kamu mau bicara apa Mas? aku nggak mau bicara sama kamu lagi. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini Mas! pergi ..!" Bu Vivi mengusir Pak Rajasa pergi dari rumah Alex. Tanpa memperdulikan Pak Rajasa lagi, Bu Vivi pergi meninggalkan Pak Rajasa di ruang tamu.


Pak Rajasa hanya bisa menatap Bu Vivi sampai dia menghilang dari hadapannya. Sementara Ratih, sejak tadi masih bengong. Dia tidak menyangka kalau Bu Vivi ternyata sudah mengenali Pak Rajasa.


Jadi, Bu Vivi itu sudah kembali pulih ingatannya. Kenapa aku nggak tahu ya, atau selama ini dia memang pura-pura hilang ingatan.


Pak Rajasa menatap Ratih.


"Saya pulang dulu Ratih. Tapi nanti saya akan ke sini lagi. Urusan saya dengan istri saya belum selesai."


"Iya Tuan Rajasa."


Setelah berpamitan pada Ratih, Pak Rajasa kemudian pergi meninggalkan Ratih. Dia melangkah keluar dari rumah Alex untuk kembali ke mobilnya.


"Anton, ayo kita pergi dari sini," ucap Pak Rajasa.


"Kita mau langsung pulang Tuan?"


"Iya dong. Kita harus pulang sekarang."


"Baik Tuan Rajasa."


Anton kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Alex.


****


Pagi ini, Ica dan Oca sudah siap untuk pergi ke sekolah. Sebelum pergi ke sekolah, mereka berpamitan dulu pada Dara. Seperti biasa mereka mencium punggung tangan Dara.


"Kak Dara, kita pergi ke sekolah dulu ya," ucap Ica dan Oca bersamaan.


Dara tersenyum dan mengangguk.


"Iya. Hati-hati ya kalian di jalan," ucap Dara.

__ADS_1


"Iya Kak Dara," Jawab Ica.


Ica dan Oca kemudian pergi meninggalkan rumahnya untuk pergi ke sekolah. Setelah ke dua adiknya pergi, Dara teringat kembali dengan cincinnya yang kemarin dia jatuhkan di depan rumahnya.


"Cincin itu, ternyata harganya satu milyar. Dan Tuan Alex, sama sekali nggak sayang sama uang satu milyar. Aku hilangkan cincin itu, dia sama sekali nggak marah," gumam Dara sembari menatap sajian sarapan yang masih ada di atas meja.


Dara bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mengambil piring-piring kotor sisa yang ada di atas meja makan. Dara kemudian membawa piring-piring kotor itu ke dapur dan mencucinya.


"Aku harus cari cincin itu. Sayang banget kalau hilang dan ditemukan orang. Bisa kaya mendadak mereka itu," ucap Dara di sela-sela mencuci piring.


Selesai mencuci piring, Dara kemudian berjalan keluar untuk mencari cincinnya.


"Duh, ke mana ya cincin itu. Kemarin cincin itu kan aku jatuhkan ke sini." Sejak tadi mata Dara masih menelusuri tanah untuk mencari cincin dari Alex yang kemarin dia hilangkan.


"Kemana ya. Kenapa cincinya nggak ada. Apa jangan-jangan sudah ada yang nemu ya. Tapi siapa?"


Dari kejauhan Bu Ratna masih menatap Dara. Dia kemudian mendekat ke arah Dara yang sedang mencari cincin.


"Dara, dari tadi kamu ngapain aja di sini? kamu seperti lagi nyari sesuatu. Kamu nyari apa sih Dara?'' tanya Bu Ratna.


"Aku lagi nyari cincin aku Bu. Apa ibu melihat cincin aku?"


"Cincin kamu yang mana, yang seperti apa? saya juga nggak pernah lihat kamu pakai cincin."


"Itu cincin dari majikan saya Bu. Dan kemarin jatuh di sini. Apa mungkin sudah ada yang ngambil ya?" ucap Dara.


"Mungkin saja udah diambil orang Dara. Kan orang yang sering lewat sini kan banyak. Cincin apa sih?"


"Sebenarnya itu cincin mahal Bu. Dan aku nggak sengaja membuang cincin itu. Cincin itu terlepas dan terpelenting jatuh dan menggelinding entah kemana."


"Ya udah, kamu cari saja dulu. Kalau nggak, kamu tanya tuh sama adik-adik kamu. Siapa tahu mereka yang nemuin cincin kamu."


"Iya Bu. Ya udah. Ibu pergi dulu ya."


"Bu Ratna mau ke mana?"


"Mau ke pasar mau belanja. kamu nggak kerja?"


Dara menggeleng.


"Aku lagi nggak enak badan Bu. Aku lagi libur kerjanya."


"Oh. Ya udah. Cari lagi tuh cincinnya. Siapa tahu nanti ketemu. Ibu pergi dulu ya."


"Iya Bu."

__ADS_1


Bu Ratna kemudian pergi meninggalkan Dara. Sementara Dara kembali mencari cincin mahalnya itu.


__ADS_2