Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Tangisan Dara


__ADS_3

"Iya. Setelah masuk ke dalam, dia keluar sambil nangis. Seperti telah terjadi sesuatu padanya," ucap Doni menjelaskan.


Aku yakin, Dara pasti marah saat melihat aku berduaan dengan Desi. Aku tahu dia gadis keras kepala. Dia tidak gampang percaya dengan ucapan orang. Apalagi dengan ucapan aku. Aku yakin, pasti sulit untuk menjelaskan masalah ini sama Dara.


"Bos. Kenapa malah bengong?" tanya Doni sembari sesekali melirik bosnya yang ada di sampingnya duduk.


"Hah, bodoh kamu Don. Seharusnya kamu jangan biarkan Dara pergi. Dara itu sudah salah paham sama aku Don!" ucap Alex dengan nada tinggi.


Duh, kenapa si bos malah nyalahin aku terus sih. Emang apa salah aku. Aku aja ngga tahu apa-apa tentang masalah si bos sama Dara.


Doni sejak tadi masih fokus menyetir. Matanya masih menatap taksi-taksi yang ada di depannya. Dia berharap akan menemukan taksi yang ditumpangi Dara.


Karena kalau tidak menemukan taksi itu, Alex pasti akan mengomeli Doni disepanjang jalan. Sebenarnya sejak tadi, Doni juga geram sama Alex. Karena dia tidak mau sabar dan selalu menyalahkan Doni.


Namun Doni tahu kalau Alex adalah bosnya. Tidak mungkin Doni balik membentak Alex. Dia hanya bisa menahan geram di dada dan berusaha untuk menyabari sikap bosnya.


"Don, cepat dong Don! Kita harus cegat taksinya Dara. Aku nggak mau Dara pergi. Aku harus menjelaskan semuanya sama dia."


"Sabar bos. Ini aku juga lagi nyari nih," ucap Alex.


"Seharusnya kamu jangan bawa Dara ke kantor Don tadi. Sekarang dia pasti marah banget sama aku, karena tadi dia melihat aku lagi makan berdua sama Desi. Dia pasti sudah salah paham nih,"


"Lah, emang aku tahu kalau si bos lagi sama Desi. Kalau aku tahu si bos lagi pacaran di dalam, mana mungkin aku akan biarkan Dara mengganggu bos Alex di dalam."


"Bukan masalah mengganggu atau tidaknya Don. Tapi masalahnya Dara pasti marah sama aku. Karena tadi dia melihat aku dan Desi sedang berduaan di dalam ruangan."


Alex diam dan tampak berfikir.


"Untuk apa Dara marah bos Alex?" tanya Doni yang sama sekali tidak tahu hubungan Dara dengan Alex.


"Duh, kamu nggak tahu ceritanya ya Don. Sebenarnya aku ini lagi pedekate sama Dara. Aku kemarin ke makam ke dua orang tua Dara dan melamar Dara di depan makam ke dua orang tuanya."


Doni terkejut saat mendengar ucapan Alex.


"Bos Alex melamar Dara di makam ke dua orang tuanya?"


"Ya iya. Aku itu suka sama Dara. Aku izin dan meminta doa restu ke orang tuanya Dara. Karena aku ingin seriusan sama Dara. Dan aku ingin menikahinya."


Doni terkekeh.


"Hehe.. Bos, untuk apa bos minta restu ke orang yang sudah meninggal. Kenapa bos tidak langsung ke rumah Dara saja dan melamar Dara di depan keluarganya Dara."


"Keluarganya Dara siapa? Dara itu cuma punya dua adik perempuan. Dan mereka mana tahu Don masalah seperti itu."


"Ya kan bisa ke Omnya, Tantenya Padhenya, atau Budhenya. Masa nggak ada sih saudara yang lain."


"Mungkin ada, tapi jauh. Tapi kenapa kita malah curhat dan santai-santai begini ya Don. Ayo Don kejar Dara! Kalau kamu nggak bisa nyetir, lebih baik gantian aku saja yang nyetir."


"Ya udah ini Bos saja yang nyetir. Aku juga capek, kalau diteriakin terus dari tadi."

__ADS_1


"Siapa yang neriakin kamu Don. Aku cuma lagi kesel aja sama kamu dan Dara. Kalian datang itu di waktu yang tidak tepat."


"Ya mana aku tahu, kalau di dalam si bos lagi pacaran."


****


Dara sejak tadi masih menangis. Dia sesekali mengusap pipinya yang basah.


"Neng. Kita mau ke mana sebenarnya Neng? dari tadi Neng itu naik taksi nggak ada tujuannya. Nangis melulu," ucap sopir taksi. Sejak tadi dia bingung dengan penumpangnya. Karena sejak naik taksi, Dara hanya bisa menangis dan menangis.


"Aku turun di depan aja Pak," ucap Dara.


"Baik Neng."


Dara kemudian turun dari taksi setelah dia sampai di depan kantor Pak Rajasa. Dara juga langsung membayar ongkos taksi itu.


"Makasih ya Neng."


"Iya Pak."


Setelah taksi pergi, Dara kemudian masuk ke halaman depan kantor Pak Rajasa.


Sebelum masuk ke dalam kantor itu, Dara mengusap-usap sisa-sisa air matanya.


"Pak Rajasa ada di dalam nggak ya," ucap Dara sembari menatap ke gedung besar itu.


"Neng Dara..." ucap seorang karyawan lelaki pada Dara.


Dara tersenyum pada lelaki yang menyapanya.


"Mau ke mana Neng?" tanya lelaki itu.


"Aku lagi ada perlu sama Pak Rajasa. Apa Pak Rajasa ada di kantor?"


"Pak Rajasa ada di ruangannya Neng."


"Makasih ya Pak."


"Iya Neng."


Dara kemudian melangkah untuk ke ruangan Pak Rajasa. Sesampainya di depan ruangan Pak Rajasa, Dara mengetuk pintu ruangan Pak Rajasa.


Tok tok tok ...


"Masuk..."


Beberapa saat kemudian, suara Pak Rajasa terdengar dari dalam ruangan.


Dara membuka pintu ruangan Pak Rajasa.

__ADS_1


"Selamat sore Pak," ucap Dara.


Pak Rajasa menatap ke arah Dara dan tersenyum.


"Dara,ayo masuk Dara!" Pak Rajasa mempersilahkan Dara masuk.


Dara mengangguk. Setelah itu dia masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.


"Dara, tumben kamu datang ke sini? ayo duduk Dara."


Dara kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi setelah Pak Rajasa mempersilahkannya duduk.


"Makasih Pak."


Pak Rajasa kemudian menatap Dara lekat.


"Ada apa Dara?" tanya pak Rajasa.


"Pak Rajasa, Dara pengin kerja di sini lagi. Jadi office girl lagi," ucap Dara.


"Lho, emang kenapa? bukankah Alex menyuruh kamu untuk kerja di rumahnya untuk jagain ibunya?"


"Tapi aku udah nggak betah pak kerja di sana."


"Kenapa nggak betah? kamu lagi ada masalah sama anak saya?" tanya Pak Rajasa.


Dara menggeleng.


"Nggak Pak. Cuma saya kasihan saja sama adik-adik saya kalau harus ditinggal nginap terus. Mereka nggak ada yang ngurusin kalau saya tinggal. Saya lebih suka kerja yang pulang pergi seperti jadi office girl."


Pak Rajasa diam dan tampak berfikir.


"Lalu, bagaimana kondisi mamanya Alex sekarang?" tanya Pak Rajasa.


"Kondisi Bu Vivi sudah membaik kok Pak. Dia sudah bisa makan sendiri, jalan sendiri, dan dia sepertinya sudah sembuh. Karena tadi siang aja dia sudah bisa masak makanan kesukaannya Mas Alex."


Pak Rajasa melebarkan senyumnya.


"Oh iya? secepat itukah dia sembuh Dara?"


"Iya Pak. Kan Mas Alex sering banget bawa teman-teman dokternya ke rumah. Mereka hampir setiap minggu datang ke rumah Mas Alex untuk memeriksa kondisi Bu Vivi."


Pak Rajasa manggut-manggut mendengar ucapan Dara.


"Syukurlah kalau begitu. Saya ikut senang sengarnya Dara. Kapan-kapan kalau udah nggak sibuk, saya ingin main ke rumah Alex untuk melihat kondisi istri saya."


Dara tersenyum.


"Iya Pak."

__ADS_1


__ADS_2