
Sore ini Alex masih berada di dalam ruangannya. Setelah mengantar ayahnya pulang, Alex tidak kembali ke rumah sakit lagi melainkan dia langsung pergi ke kantornya. Sudah lama dia tidak aktif datang ke kantor sejak Bu Vivi sakit.
Alex mengambil ponselnya. Dia terkejut saat melihat beberapa panggilan dari Dara.
"Dara nelpon aku sejak tadi siang. Panggilannya juga banyak banget begini," ucap Alex.
Alex kemudian menelpon balik Dara. Namun nomer Dara tidak aktif.
"Ya sudahlah, lagian setelah ini aku juga mau ke rumah sakit kok," ucap Alex.
Alex membereskan semua berkas-berkasnya. Setelah itu dia mematikan layar monitornya.
Alex kemudian bangkit dari duduknya. Dia memakai jasnya dan melangkah pergi meninggalkan ruangannya. Dia akan pergi kembali ke rumah sakit untuk melihat ibunya.
Sesampainya di depan pintu ruangannya, Alex terkejut saat melihat Viko.
"Viko," ucap Alex.
"Lex, maaf ya, aku belum sempat jengukin ibu kamu. Soalnya beberapa hari ini aku lagi sibuk banget," ucap Viko.
"Kamu ngapain datang ke sini?" tanya Alex.
"Sebenarnya aku ke sini cuma mau ketemu kamu. Aku ingin melihat kondisi mama kamu Lex."
"Kenapa nggak langsung ke rumah sakit saja sih?"
"Nggaklah. Aku pengin kita bareng ke sananya."
"Ya udah yuk!"
Alex dan Viko berjalan ke luar dari kantor. Mereka menuju ke tempat parkir di mana mobil mereka diparkirkan.
"Vik, kamu mau bawa mobil sendiri, atau kita bareng saja?" tanya Alex.
"Kita sendiri-sendiri saja"
"Baiklah."
Alex kemudian masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan Viko. Dia juga masuk ke dalam mobilnya sendiri. Mereka pergi dengan mobil mereka masing-masing.
Sesampainya di depan rumah sakit, Viko dan Alex memarkirkan mobil mereka di tempat parkir. Setelah itu mereka turun dari mobilnya dan masuk menuju ke ruang ICU rumah sakit.
Alex terkejut saat dia tidak melihat ibunya ada di dalam ruangan itu.
"Mama, ke mana ya," ucap Alex.
"Kenapa Lex?" tanya Viko.
Alex menatap Viko.
"Mama nggak ada di dalam ruangannya. Apa jangan-jangan, sudah terjadi sesuatu ya dengan Mama."
Viko dan Alex tampak cemas. Alex kemudian bertanya pada seorang suster yang kebetulan lewat di depan ruang ICU.
"Sus, pasien yang bernama Bu Vivi ada di mana ya? kenapa dia nggak ada di ruang ICU?" tanya Alex.
"Oh, Bu Vivi sudah dipindahkan ke raung rawat Pak," ucap Suster.
Alex terkejut saat mendengar ucapan suster.
"Apa! dipindahkan ke ruang rawat?"
__ADS_1
"Iya. Dia sudah siuman dan keadaannya juga sudah membaik. Jadi dia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat."
"Di mana ruangannya?"
"Di kamar Mawar no 1 Pak."
"Oh. Makasih banyak ya Sus."
"Iya. Sama-sama Pak."
Suster kemudian pergi meninggalkan Alex. Alex dan Viko saling menatap.
"Ya udah, ayo kita ke ruangan mama kamu," ucap Viko.
Viko dan Alex kemudian pergi ke ruangan Bu Vivi. Sesampainya di depan ruangan itu, mereka masuk ke dalam. Alex terkejut saat melihat Dara sedang menyuapi ibunya.
"Dara,Mama," ucap Alex.
Dara menatap ke arah Viko dan Alex. Dia kemudian bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke arah Alex.
"Mas Alex, dari mana aja sih?" tanya Dara.
"Dara, aku dari kantor."
"Aku telponin dari tadi siang, nggak di angkat-angkat."
"Maaf Dara. Aku lagi ada meeting di kantor. Dan aku juga lagi banyak banget kerjaannya."
Alex dan Viko menatap Bu Vivi.
"Dara, kenapa mama bisa ada di sini? dan kapan dia siuman?" tanya Alex yang tampak bingung melihat kondisi ibunya saat ini.
Dara tersenyum.
"Dara, maafkan aku. Aku nggak tahu."
"Dara..." seru Bu Vivi memanggil Dara.
Dara menoleh ke arah Bu Vivi dan mendekati Bu Vivi.
"Iya Bu. Ada apa?"
"Siapa yang datang?" tanya Bu Vivi.
"Mas Alex yang datang. Anaknya ibu."
"Alex?"
"Iya Bu."
Viko dan Alex yang penasaran dengan keadaan Bu Vivi segera mendekat ke arah Bu Vivi.
"Mama," ucap Alex. Setetes air mata Alex mengalir dari pelupuk matanya.
Alex benar-benar terharu saat melihat kondisi ibunya. Begitu juga dengan Viko. Dia juga tampak syok saat melihat Bu Vivi. Dia tidak melihat Bu Vivi yang kemarin. Sepertinya, Bu Vivi memang sudah sembuh dari gangguan jiwanya.
Bu Vivi menatap Alex dan Viko tajam. Dia tampak masih asing dengan ke dua lelaki itu.
Alex mengusap air matanya kasar. Dia kemudian mendekati Bu Vivi dan duduk di samping Bu Vivi.
"Mama, ini Alex Ma," ucap Alex sembari meraih tangan Bu Vivi.
__ADS_1
Bu Vivi segera melepaskan tangan Alex.
"Dara, siapa dia?" tanya Bu Vivi.
"Dia mas Alex. Anaknya ibu. Apa ibu lupa, apa yang sudah Dara ceritakan pada ibu barusan."
Bu Vivi menatap Dara.
"Benarkah dia anakku? tapi... aku nggak ingat apa-apa Dara. Ibu benar-benar bingung."
"Ma, Mama nggak ingat sama Alex? ini Alex anak mama. Di rumah, banyak Ma foto aku dan mama. Aku bisa buktikan kalau aku adalah anak mama."
Bu Vivi menatap Viko.
"Dia siapa?" tanya Bu Vivi.
Alex bangkit berdiri. Dia kemudian mendekat ke arah Viko.
"Ini teman aku Ma. Dokter mama juga," ucap Alex memperkenalkan Viko pada Bu Vivi.
Bu Vivi mencoba untuk duduk. Namun lagi-lagi Dara melarangnya.
"Bu, ibu jangan duduk dulu. Ibu lupa apa kata dokter. Ibu belum boleh banyak gerak."
"Tapi ibu capek Dara," ucap Bu Vivi.
Alex mendekati ibunya.
"Aku bantu untuk duduk ya Ma," ucap Alex.
Bu Vivi mengangguk. Alex kemudian membantu ibunya untuk duduk.
"Mama sudah makan?" tanya Alex menatap ibunya lekat.
"Sudah. Dara yang nyuapin mama."
Alex menatap Dara.
"Makasih ya Dara, kamu sudah mau merawat mama aku?"
Dara hanya mengangguk
"Aku akan selalu doakan Bu Vivi. Agar dia cepat sembuh dan bisa cepat pulang."
"Iya Dara. Makasih. Dan maaf karena beberapa hari ini, aku sudah selalu merepotkan kamu."
"Nggak apa-apa Mas Alex. Aku ikhlas kok, membantu keluarga Pak Rajasa. Karena Pak Rajasa itu kan teman ayahku," ucap Dara yang membuat Alex dan Viko menatapnya.
Alex mengernyitkan alisnya bingung.
"Teman? siapa yang kamu maksudkan itu Dara?" tanya Alex.
"Sebenarnya, ayahku dan ayahmu itu berteman Mas."
"Oh..."
Bu Vini menatap ke arah Dara dan Alex bergantian.
"Kalian ngomongin siapa? siapa Pak Rajasa?"
"Bukan siapa-siapa Ma, mama nggak usah mikirin macam-macam ya. Mama fikirin aja diri mama sendiri. Agar mama bisa cepat sembuh dan kita bisa cepat pulang."
__ADS_1
Bu Vivi mengangguk.
'Memang ini sebuah keajaiban yang jarang terjadi. Tante Vivi sepertinya sudah sembuh dari gangguan kejiwaannya. Dia lupa semuanya mungkin karena dia memang amnesia. Mungkin benturan waktu dia terjatuh dari tangga membuat dia hilang ingatan. Tapi nggak apa-apa lah, yang penting Tante Vivi sudah sembuh dari gangguan mentalnya dan tidak histeris lagi," batin Viko.