
Malam ini Bu Vivi dan Alex sudah duduk berdua di ruang makan. Mereka menunggu pembantunya menyiapkan makanan untuk mereka.
Beberapa saat kemudian, Mbak Mirna dan Lestari mendekat ke arah meja makan sembari membawa makanan untuk mereka sajikan di ruang makan.
Mereka berdua kemudian menyajikan makanan itu di atas meja makan.
"Makasih ya Mbak," ucap Alex.
Mbak Mirna tersenyum dan mengangguk. "Iya Tuan. Sama-sama."
"Kalian berdua sudah makan?" tanya Bu Vivi menatap ke arah Lestari dan Mirna bergantian.
"Belum Nya," jawab Lestari.
"Ya udah, setelah ini kalian langsung makan aja ya."
Lestari dan Mbak Mirna mengangguk secara bersamaan.
"Iya Nya, setelah ini kami juga mau makan, "ucap Mbak Mirna.
Setelah menyiapkan makanan di atas meja makan, Mbak Mirna dan Lestari kembali ke dapur.
"Alex, Dara udah nggak mau ke sini lagi ya?" tanya Bu Vivi pada Alex yang sedang mencedokan nasi ke piringnya.
"Nggak Ma. Dia itu memang gadis keras kepala. Semaunya sendiri. Kalau dia sudah minta tinggal di rumahnya sendiri, ya udah. Dia mana mau diajak ke sini."
"Ya sudahlah, biarin saja dia. Mungkin dia masih marah sama kamu. Habisnya, kamu sih. Pakai ngajak cewek makan siang segala di ruangan mu. Jadi Daranya ngambek kan."
"Tapi kan aku nggak tahu Ma, kalau Dara mau ke kantor aku. Mama juga nggak bilang-bilang kalau mau ngirimin aku bekal makan siang."
"Ya sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Sekarang kita makan ya. Katanya kamu lapar."
"Iya Ma."
Setelah Alex mencedokan nasi dan lauk ke dalam piringnya, dia kemudian mencedokan nasi dan lauk ke dalam piring ibunya.
"Ini Ma, buat Mama." Alex menyodorkan piring di depan ibunya.
"Makasih ya Alex."
"Iya Ma."
Alex dan ibunya kemudian makan bersama di ruang makan.
Mas Rajasa kenapa sih, harus datang ke sini segala. Aku nggak suka melihat dia. Aku muak sama dia. Batin Bu Vivi.
Sejak tadi Bu Vivi diam. Dia melamun dan hanya menatap ke arah makanannya saja. Sepertinya sejak kedatangan Pak Rajasa kemarin, membuat hati Bu Vivi tidak nyaman. Membuat Bu Vivi sering melamun karena kefikiran dengan suami yang sudah melukai hatinya itu.
Namun Alex anaknya, sama sekali tidak tahu menahu apa yang sedang difikirkan ibunya. Alex fikir, kalau ibunya masih hilang ingatan. Padahal sebenarnya Bu Vivi sudah mengingat semua masa lalunya. Dia juga sudah sembuh dari gangguan mentalnya.
"Mama kenapa Ma? kok diam aja?" tanya Alex di sela-sela kunyahannya.
Bu Vivi yang sejak tadi masih melamun tidak menjawab pertanyaan Alex. Sepertinya dia memang tidak mendengar Alex bicara.
Mama kenapa sih, dari tadi diam aja. Apa dia lagi mikirin Dara? batin Alex.
"Ma. Mama ngelamun ya?" ucap Alex meninggikan nada suaranya.
"Eh, Alex. Mama nggak apa-apa Alex," ucap Bu Vivi tergagap.
"Ma, apa yang lagi mama fikirin? apa mama lagi mikirin Dara? Mama pengin Dara kerja di sini lagi ya?" tanya Alex.
__ADS_1
Bu Vivi tersenyum dan menggeleng.
"Sebenarnya mama udah kenyang Alex. Kamu ngambilin nasi buat Mama kebanyakan."
"Masa sih, perasaan mama makannya juga segitu kan biasanya."
"Tapi mama sudah kenyang Alex."
Bu Vivi bangkit dari duduknya.
"Terus mama mau ke mana?" tanya Alex menatap ibunya lekat.
"Mama mau ke kamar Alex. Mama lagi nggak enak badan. Kamu lanjutkan saja makannya."
Setelah berkata seperti itu, Bu Vivi pun melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Sementara Alex hanya bisa bengong melihat sikap ibunya yang mendadak berubah.
"Mama kenapa sih, kok jadi aneh gitu," ucap Alex.
Alex kemudian menyuapkan satu sendok nasi lagi ke dalam mulutnya. Setelah itu dia melanjutkan makannya.
Ring ring ring...
Suara ponsel Alex tiba-tiba saja berdering. Alex mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan dan mengangkat panggilan dari Desi.
"Halo Des."
"Halo sayang. Kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi makan. Ada apa Des?"
"Sayang, kapan ada waktu? aku pengin ketemu sama kamu. Lama banget Mas Alex kita nggak keluar."
"Keluar mau ngapain?"
"Duh, maaf ya Des. Aku juga lagi sibuk banget di kantor."
"Tapi kan kita bisa jalan setiap weekend. Atau malam minggu gitu."
"Duh Des. Kalau weekend, aku juga sibuk Des. Jadi kayaknya kita nggak bisa jalan keluar."
"Masa sibuk terus sih Mas. Kapan kamu nggak sibuknya. Kapan kamu punya waktu untuk aku Mas? sudah lama banget kita nggak jalan keluar. Sebenarnya kamu itu kenapa sih Mas? kamu jadi berubah tahu nggak sekarang."
"Des, kalau untuk akhir-akhir ini, aku memang nggak bisa kemana-mana Des. Karena aku lagi sibuk banget dengan pekerjaan aku. Tapi nanti kapan-kapan, aku pasti akan ajak kamu kok, jalan."
"Ya udah deh. Nggak apa-apa. Aku rasa hubungan kita itu udah semakin hambar. Kamu sekarang berubah. Entah kenapa, aku merasa kalau kamu itu sudah nggak sayang lagi sama aku. Apa jangan-jangan, sudah ada wanita lain ya yang ada di hati kamu?"
"Des, sudah deh. Jangan mulai. Aku itu lagi capek banget. Aku nggak punya waktu untuk kamu, karena setiap hari aku memang sibuk di kantor."
"Kalau sekarang, kamu lagi sibuk nggak?"
"Kalau sekarang aku lagi makan."
"Kalau sekarang aku ke rumah kamu boleh nggak? nggak apa-apa deh, kalau kita nggak keluar. Biar aku aja yang ke rumah kamu. Yang penting aku bisa ketemu sama kamu, dan kita bisa bermesra-mesraan berdua."
"Hoaaam... maaf Des. Aku udah ngantuk nih. Aku capek banget."
"Ya udahlah. Kalau mas Alex capek. Nanti kalau kita sudah nikah, aku akan pijitin Mas Alex setiap malam ya kalau Mas Alex capek."
"Iya Des. Udah dulu ya Des. Aku mau lanjutin makan nih."
"Ya udah deh. I love u sayang "
__ADS_1
"Iya Des. Aku tutup dulu ya telponnya."
Alex kemudian menutup saluran telponnya.
Sebenarnya Alex itu risih jika saja ada wanita yang menelponnya atau ingin mengajaknya jalan. Dia memang sudah banyak menjaga jarak dengan wanita-wanita itu.
Alex tidak mau, memberi harapan lagi pada mereka. Karena Alex ingin menjalin hubungan serius dengan Dara. Alex tidak mau Dara salah paham lagi dan ngambek lagi seperti kemarin.
"Ratih...! Ratih...!" seru Alex.
Beberapa saat kemudian, Ratih menghampiri Alex.
"Iya Tuan muda. Ada apa? ada yang bisa saya bantu?" tanya Ratih.
"Ratih, tolong kamu bereskan meja makan. Saya mau ke kamar."
"Baik Tuan."
Alex bangkit berdiri.
"Tuan, kemarin saya lihat Tuan Rajasa ke sini," ucap Ratih menuturkan.
Alex menatap Ratih lekat.
"Papa ke sini? terus?" tanya Alex.
Ratih diam. Bingung untuk memulai dari mana dia akan menceritakan kejadian kemarin.
"Kamu nggak pertemukan Papa dengan mama aku kan?" tanya Alex yang sudah mulai serius.
"Nggak kok Tuan."
"Kamu nggak biarkan Papa aku masuk dan menemui mama kan?"
"Nggak kok Tuan. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Mereka udah ketemu. Dan Nyonya yang menemui Tuan Rajasa langsung."
"Maksudnya?" Alex terkejut saat mendengar ucapan Ratih.
Ratih kemudian menceritakan kejadian kemarin pada Alex.
"Menurut aku, Nyonya itu sudah sembuh deh Tuan. Dia sudah mengenali suaminya."
"Masa sih? kamu yakin?"
"Iya. Nyonya terkejut saat melihat Tuan Rajasa. Dan Nyonya Vivi langsung mengusir Tuan Rajasa dari rumah ini. Terus dia langsung masuk kamarnya kembali dan tidak mau menemui Tuan Rajasa lagi," jelas Ratih.
Alex menghela nafas dalam.
Tadi mama ngelamun terus. Apakah mungkin Mama lagi mikirin Papa. Kenapa aku nggak tahu ya, kalau ingatan mama sudah pulih. Sejak dari kapan ingatan mama kembali.
"Ya udah Ratih. Aku mau langsung ke kamar. Aku capek. Tolong kamu beresin ya meja makannya."
"Iya Tuan."
Selesai makan, Alex kemudian berjalan pergi naik ke lantai atas untuk kembali ke kamarnya.
Alex masuk ke kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya.
__ADS_1
Alex mulai berfikir.
"Kata Ratih tadi, kemarin Papa ke sini dan ketemu sama Mama. Terus, mama langsung ngusir Papa dari rumah ini dan nggak mau menemuinya lagi. Itu artinya, mama sudah ingat dong dengan Papa. Kalau mama marah, berarti dia juga sudah mengingat masa lalunya saat Papa menyakitinya," gumam Alex.