Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Martin ternyata...


__ADS_3

"Astaghfirullahaladzim Mbak. Apa yang kamu katakan? itu semua nggak benar Mbak. Aku berada di kamar Tuan Alex karena aku mau menyiapkan air hangat untuk Tuan Alex mandi. Dan Tuan Alex menyuruhku untuk menyiapkan baju-bajunya juga." Dara mencoba untuk menjelaskan pada Ratih kalau yang dilihat Ratih tadi itu tidak seperti apa yang ada di dalam fikiran Ratih.


"Oh benar begitu? terus semalam kamu tidur di mana?" tanya Ratih.


"Di kamar Tuan Alex," jawab Dara "Tapi kan aku tidur sendiri Mbak nggak sama dia. Tuan Alex semalam tidur di kamar Bu Vivi,"


"Tuh kan benarkan. Kamu hati-hati Dara. Tuan Alex dekat sama kamu itu karena ada maunya. Jangan sampai suatu saat kamu terjebak oleh rayuannya Tuan Alex. Dan akhirnya kamu mau merelakan semuanya untuk dia. Seperti para wanita itu."


"Mbak. Mbak jangan berprasangka buruk dulu dong Mbak sama aku. Aku dan Tuan Alex nggak punya hubungan apa-apa kok. Kami dekat karena Bu Vivi. Tuan Alex menyuruh aku untuk ikut merawat Bu Vivi sampai dia sembuh. Tidak ada maksud yang lain kok."


"Dara. Aku sebagai teman kamu, cuma mau ngingetin aja. Hati-hati Dara. Jangan sampai kamu kemakan rayuannya Tuan Alex. Kamu ingatkan kejadian waktu itu. Tuan Alex hampir saja merenggut kesucianmu."


Dara diam. Dia memang masih ingat akan hal itu. Tapi Dara yakin kalau Alex itu sudah berubah. Alex juga sudah janji pada Dara, kalau dia tidak akan macam-macam sama Dara.


"Mbak. Dulu memang Tuan Alex itu pernah akan melakukan hal itu. Tapi sekarang dia udah berubah kok Mbak. Dia sudah tidak akan macam-macam sama aku lagi."


"Terus, kamu mau percaya gitu aja sama lelaki itu?"


"Aku percaya sama Tuan Alex kok Mbak"


Ring ring ring...


Di sela-sela Dara dan Ratih ngobrol, ponsel Dara tiba-tiba saja berdering. Dara terkejut saat melihat panggilan dari Alex.


"Tunggu sebentar ya Mbak. Tuan Alex nelpon," ucap Dara.


"Ayo angkat Dara," pinta Ratih.


"Iya Mbak."


Dara kemudian mengangkat panggilan dari Alex.


"Halo..."


"Halo Dara. Maaf ya, aku ngga dengar kamu nelpon. Tadi hape aku ketinggalan di mobil. Jadi aku nggak dengar panggilan dari kamu."


"Mas Alex, gimana? Pak Rajasa ngga apa-apa kan?"


"Nggak apa-apa Dara. Cuma..."


"Cuma apa mas?"


"Barang-barang berharga milik papa tidak ada yang selamat termasuk perhiasan. Perampok itu sudah membawa kabur semua barang-barang berharga itu."


"Ya ampun."


"Dan papa juga terluka."

__ADS_1


"Terluka?"


"Iya Dara. Papa mau melawan perampok itu. Tapi lengannya malah terkena pisau yang di bawa perampok itu."


"Ya ampun Mas. Kasihan banget ya Papa kamu Mas. Terus sekarang bagaimana kondisinya? dia tidak apa-apa kan?"


"Nggak. Nggak apa-apa Dara. Aku sudah mengobati lukanya."


"Ya syukurlah. Aku khawatir banget Mas sama kamu dan Pak Rajasa."


"Kami nggak apa-apa Dara. Sekarang kamu nggak usah khawatir lagi ya. Karena sekarang kamu nggak apa-apa."


"Syukurlah kalau kalian nggak apa-apa."


"Udah ya Dara. Aku mau beresin rumah papa dengan Doni dan kedua bodyguard aku. Tolong ya, kamu jagain mama."


"Iya Mas."


"Aku tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."


"Iya Mas. Wa'alakiumsalam."


Setelah menerima telpon dari Alex, Dara menatap Ratih.


"Bagaimana kondisi Tuan besar?" tanya Ratih yang ikut mengkhawatirkan kondisi Pak Rajasa.


"Syukurlah kalau begitu."


*****


Sore ini, di sebuah bangunan besar yang cukup luas, Martin dan kawan-kawannya masih berkumpul bersama. Mereka memang setiap hari sering nongkrong di sana. Karena bisa dibilang tempat itu adalah markas besar untuk Martin dan kawan-kawannya.


Sudah sejak dulu, Martin memang sudah mengincar rumah Pak Rajasa dan memanfaatkan Rita untuk kepentingannya sendiri. Niat awal Martin mendekati Rita karena dia ingin merampok di rumah Pak Rajasa.


Selama ini dia memacari Rita karena dia ingin ikut menguras harta Pak Rajasa dan Rita. Sebenarnya Martin sudah sejak dulu bekerja menjadi seorang perampok. Namun sampai saat ini, Rita tidak tahu identitas asli Martin. Rita fikir selama ini Martin adalah orang yang baik.


"Ha...ha... ha.... akhirnya kita kaya raya. Kita sudah bisa merampok di rumah orang kaya raya," ucap Martin di sela-sela tawanya.


"Ha...ha...ha..." Beberapa orang teman Martin ikut tertawa.


Di depan mereka duduk, sudah banyak uang dan barang-barang berharga yang sudah mereka rampok dari rumah Pak Rajasa.


Pak Rajasa memang orang kaya raya. Hartanya saja tidak akan habis tujuh turunan. Dan Martin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengeruk semua harta Pak Rajasa lewat Rita istrinya.


"Ini baru awal, sebentar lagi kita bisa mendapatkan mobil, rumah, dan perusahaannya juga, " ucap Martin menatap satu persatu teman-temannya.


"Mimpi apa aku semalam, melihat berlian dan uang sebanyak ini," ucap salah satu teman Martin sembari memegang sebuah kalung berlian di tangannya.

__ADS_1


"Kita pasti akan kebagian kan bos?" tanya salah seorang teman Martin yang lain.


"Ya tentu. Memang semua ini akan aku bagi rata," ucap Martin.


Setelah kumpulan kawanan perampok itu pergi meninggalkan Markas, tinggal Martin yang masih ada di dalam markas.


Setelah Martin cukup lama berada di markasnya, Martin kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Rumah Martin dari Markas tidak begitu jauh. Hanya menempuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke sana jika berjalan kaki.


Sesampainya di teras depan rumah Martin mengetuk pintu rumahnya.


Tok tok tok...


Beberapa saat kemudian, seorang wanita muda tiga puluh tahunan membuka pintu. Dia adalah Selly istri Martin.


"Bang. Kamu udah pulang?" tanya Selly pada suaminya.


Martin hanya mengangguk. Tanpa banyak bicara dia masuk begitu saja melewati istrinya.


"Kamu kenapa Bang?" tanya Selly.


"Aku lelah. Buatkan aku minum Sel."


"Iya Bang."


Selly wanita yang saat ini sedang mengandung delapan bulan itu berjalan ke belakang mengambilkan minum untuk suaminya.


Martin menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Beberapa saat kemudian, Selly menghampiri Martin dengan membawa segelas air putih. Dia kemudian meletakkan air putih itu di atas meja.


"Maaf Bang. Cuma ada air putih. Teh, kopi, susu, gula semuanya sudah habis. Beras untuk makan kita juga sudah habis," ucap Selly menuturkan.


"Semuanya sudah habis?" tanya Martin.


Selly mengangguk. "Iya Bang."


"Kamu tenang saja. Sekarang kamu tidak akan pernah kehabisan barang-barang sembako itu. Karena sekarang kita sudah kaya raya Selly," ucap Martin yang membuat Selly bingung.


"Maksud Abang apa?" tanya Selly.


Martin menunjukkan sebuah koper yang berisi uang dan perhiasan yang sangat banyak. Itu adalah hasil dari dia dan teman-temannya merampok beberapa rumah termasuk rumah Pak Rajasa.


Selly terkejut saat melihat banyak uang dan perhiasan yang ada di dalam sebuah koper yang dibawa Martin tadi.


"Bang. Kamu dapat semua ini dari mana? kamu habis ngerampok apa gimana? kenapa kamu bisa mendapatkan uang dan perhiasan sebanyak ini?" tanya Selly yang masih belum percaya dengan kehadiran uang dan perhiasan-perhiasan itu.


"Sudahlah, kamu nggak usah tanya uang dan perhiasan ini dari mana. Yang penting kita sekarang punya uang. Dan sekarang kita sudah menjadi orang kaya. Kamu nggak akan risau lagi dengan kemiskinan kita," ucap Martin dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


__ADS_2