
Dara dan Alex sejak tadi masih menunggu hujan reda sekaligus mereka juga sedang menunggu Ica dan Oca pulang sekolah.
"Mas, kamu dingin nggak?" tanya Dara.
"Iya. Lumayan. Hujannya awet banget. Dari tadi pagi, nggak reda-reda."
"Mas, gimana kalau aku buatin kamu minuman hangat."
"Boleh deh."
"Tapi adanya cuma susu Mas. Apa kamu mau aku buatin susu hangat?"
"Iya deh. Nggak apa-apa. Asal yang buat kamu, aku pasti suka."
Dara hanya tersenyum. Setelah itu dia melangkah ke dapur untuk menyeduh segelas susu untuk Alex.
Beberapa saat kemudian, Dara menghampiri Alex dengan membawa dua gelas susu panas.
"Ini Mas, susu masih panas. Siapa tahu, bisa meredakan rasa dingin kita," ucap Dara sembari meletakan dua gelas susu itu di atas meja.
"Makasih ya Dara."
Dara kemudian duduk kembali di sisi Alex.
"Adik kamu kok nggak pulang-pulang Dara?"
"Nggak tahu. Mungkin di sekolah masih hujan Mas. Dan mereka nggak bawa payung."
"Kita nggak mau susul adik kamu aja ke sekolah."
"Nggak usah Mas. Nanti mereka juga pulang sendiri."
Dara terkejut saat tiba-tiba saja Alex menaikan ke dua kakinya ke atas sofa dan langsung memeluk Dara dengan erat.
Saking eratnya pelukan Alex membuat Dara kesulitan untuk bernafas.
"Dara, ada tikus. Kenapa kamu nggak bilang sih kalau di rumah kamu ada tikus," ucap Alex yang masih berada di pelukan Dara.
"Mas, kamu takut sama tikus?"
"Iya Dara. Tolong kamu usir tikus itu."
Dara menatap ke bawah. Dia tersenyum saat melihat ada tikus kecil ada di bawah meja.
"Kak Dara...! apa yang sedang kalian lakukan di sini!" ucap Ica yang tiba-tiba sudah berada di dekat Alex dan Dara.
Alex dan Dara saling melepaskan pelukannya saat mereka mendengar suara Ica.
Alex dan Dara menatap ke pintu di mana Ica dan Oca berdiri. Mereka terkejut saat melihat Ica dan Oca sudah berdiri di sisi pintu.
Alex dan Dara kemudian bersamaan bangkit berdiri.
"Kalian udah pulang?" ucap Dara.
"Kak Dara. Kenapa kakak peluk-pelukan sama Kak Alex. Kalian pacaran ya?" Tanya Oca menatap Dara dan Alex bergantian.
Dara dan Alex membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Oca.
"Nggak...! " Ucap Dara dan Alex kompakan.
"Tapi kenapa tadi kalian berpelukan?" tanya Oca lagi.
Dara dan Alex tampak bingung untuk menjelaskan pada ke dua anak remaja itu ,kalau apa yang mereka lihat tidak seperti apa yang mereka fikirkan.
Alex dan Dara tadi tidak sengaja berpelukan. Karena takut dengan tikus Alex reflek memeluk Dara.
"Selama ini, Kak Dara itu selalu melarang kami untuk pacaran dan dekat sama cowok. Tapi Kak Dara malah pacaran dengan Kak Alex. Gimana sih, ya nggak adil dong namanya. Kalau kakak melarang kami pacaran, kakak itu harusnya nggak usah pacaran juga dong," ucap Ica.
"Iya benar apa kata Kak Ica. Kenapa Kak Dara itu nggak adil banget."
"Kalian itu bicara apa sih. Siapa yang pacaran. Kakak dan Kak Alex nggak pacaran kok."
"Kalau nggak pacaran apa namanya? Kalian berdua-duaan di dalam rumah dan pakai acara peluk-pelukan segala."
__ADS_1
Dara segera menghampiri kedua adiknya agar mereka berhenti bicara. Dara tidak mau ucapan adiknya terdengar orang di luar. Jika ada yang mendengarnya, pasti mereka akan berfikiran macam-macam dengan Dara dan Alex.
"Ssstttt... jangan berisik kalian. Bagaimana nanti kalau ada tetangga yang dengar ucapan kalian. Mereka pasti akan mikir macam-macam tentang kakak dan Kak Alex," ucap Dara.
"Kak Dara dan Kak Alex tadi nggak sengaja berpelukan. Tadi Kak Alex takut sama tikus. Dan Kak Alex nggak sengaja meluk kakak."
Ica dan Oca saling menatap.
"Benar begitu Kak?" ucap Oca menatap kakaknya lekat.
"Iya benar. Tanya aja Kak Alex. Kami berdua ini sebenarnya lagi nungguin kalian."
"Oh. Begitu ya "
****
Di ruang tengah, Bu Vivi masih tampak menonton tivi sendiri. Di luar hujan masih deras. Para pembantu rumah saat ini juga masih ada dibelakang.
Ring ring ring...
Tiba-tiba saja, deringan ponsel Bu Vivi terdengar. Bu Vivi langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Siapa ya yang nelpon," ucap Bu Vivi yang tampak asing dengan nomer yang menelponnya itu.
Bu Vivi kemudian mengangkat panggilan dari nomer tak dikenal itu.
"Halo..."
Tidak ada sahutan dari dalam telpon.
"Halo ini siapa ya."
Lagi-lagi tak ada suara apapun yang terdengar di dalam telpon.
Bu Vivi mematikan saluran telponnya.
Ring ring ring...
Bunyi telpon itu kembali terdengar. Bu Vivi kemudian kembali mengangkat telponnya.
"Halo..."
Sampai beberapa kali Bu Vivi mengangkat panggilan dari nomer asing itu. Namun tak ada sahutan dari dalam telpon sampai Bu Vivi merasa lelah.
"Siapa sih, yang nelpon. Niat nelpon nggak sih nih orang. Apa cuma mau ngerjain aku aja," ucap Bu Vivi sembari menatap ponselnya.
Ring ring ring...
Bu Vivi tidak mau memperdulikan ponselnya lagi. Dia mematikan tivi dan kemudian pergi meninggalkan ruang tengah.
"Ratih...! Ratih...! Lestari...!" seru Bu Vivi memanggil-manggil pembantunya.
Beberapa saat kemudian, Ratih melangkah dan mendekat ke arah Bu Vivi.
"Iya Nya. Ada apa?"
"Ratih, kamu lagi ngapain? Kerjaan kamu sudah beres kan?"
"Oh. Udah Nyonya."
"Sini ikut Nyonya."
"Iya Nya."
Ratih kemudian mengikuti Bu Vivi pergi ke ruang tengah.
"Duduklah Ratih. Temani saya."
"Iya Nya."
Ratih kemudian duduk di ruang tengah menemani Bu Vivi. Bu Vivi mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian menyodorkan ponsel itu ke Ratih.
"Ratih, tolong telponkan Alex. Suruh dia pulang sekarang."
__ADS_1
"Kenapa tidak Nyonya aja yang telpon."
"Nggak. Aku takut Ratih. Tadi ada nomer asing yang nelpon. Tapi nggak ada suaranya. Saya takut, kalau nomer itu cuma mau neror saya saja."
"Baik Nya."
Ratih kemudian mengambil ponsel Bu Vivi dari tangan Bu Vivi. Dia kemudian menelpon nomer Alex.
Tut...Tut...Tut...
"Ayo angkat dong Tuan..."
Tut...Tut ..Tut...
Sampai beberapa kali , Alex belum mengangkat panggilan Ratih.
"Gimana Ratih?"
"Tuan Alexnya kayaknya nggak ada deh Nya."
"Ya coba kamu telpon Dara."
"Baik Nya."
Ratih kemudian menekan nomer Dara dan menelpon Dara.
"Halo ini siapa ya?" suara dari balik telpon terdengar.
"Halo. Daranya mana?"
"Kak Dara lagi pergi sama Kak Alex."
"Pergi. Pergi ke mana?"
"Lagi beli makan siang di luar."
"Ini siapa?"
"Aku Ica adiknya Kak Dara. Ini siapa?"
"Oh Ica. Aku Mbak Ratih."
"Oh Mbak Ratih. Ada apa Mbak? mau bicara ya dengan Kak Dara.
"Sebenarnya sih iya. Mbak mau nelpon kakak kamu. Tapi kalau kakak kamu belum pulang nanti aja deh Mbak nelpon lagi. Atau kamu suruh kakak kamu nelpon balik ya ke nomer ini."
"Oh. Gitu ya."
"Iya. Emang Kak Alex dan Kak Dara nggak bawa hape?"
"Kak Alex di bawa kok hapenya Mbak. Tapi kalau hape Kak Dara, lagi aku pinjam di rumah."
"Oh. Begitu. Ya udah deh, udah dulu ya Ica. Mbak tutup dulu telponnya."
"Iya Mbak."
"Assalamualaikum"
"Wa'alakiumsalam."
Ratih kemudian menutup saluran telponnya.
"Ratih, bagaimana?"
"Daranya nggak ada Bu. Dara lagi pergi beli makan siang dengan Tuan Alex."
"Hujan-hujan gini beli makan siang. Alex pergi emang nggak bawa hape ya Ratih."
"Kata Ica tadi sih Tuan muda bawa hape kok."
"Kok tadi telponnya nggak di angkat."
"Mungkin nggak dengar kali Bu."
__ADS_1
****