Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Ke rumah Maria


__ADS_3

Ring ring ring...


Ponsel Alex tiba-tiba saja berdering. Alex segera mengangkat panggilan dari Maria.


"Halo Maria..."


"Halo sayang. Maaf ya, aku baru buka chat kamu. Aku baru bangun sayang,"


"Jam berapa ini Maria. Jam segini baru bangun?"


"Semalam aku pulang subuh Mas. Dan aku tidur juga pas ada adzan subuh."


"Dari mana aja semalam?"


"Biasalah. Nongkrong di bar sama teman-teman. Tapi kamu tenang aja. Aku nggak macam-macam kok di sana. Aku pergi juga sama teman-teman perempuan aku. Bukan teman cowok."


"Aku mau ke rumah kamu Maria."


"Oh ya? Tumben banget Mas."


"Ya udah, kamu sekarang dandan yang cantik ya. Dan sambut aku di rumah kamu. Sebentar lagi aku sampai."


"Iya Mas."


Setelah itu Alex menutup saluran telponnya.


"Kita ke rumah Maria ya Don."


"Baik Bos."


****


Hiks...hiks...hiks...


Sofi masih menangis sesenggukan di ruang tamu. Setelah Alex pergi begitu saja meninggalkan rumahnya, Sofi sampai saat ini masih menangis.


Mungkin hatinya terlalu sakit saat Alex lelaki yang dia cintai telah mencampakkannya begitu saja. Dan Alex sama sekali tidak memberi alasan ke Sofi, kenapa dia memutuskan Sofi.


Beberapa saat kemudian, ibu Sofi datang menghampiri Sofi dan duduk di sisi Sofi.


"Sofi, kamu kenapa? kenapa kamu nangis? mana tamu kamu tadi?" tanya ibu Sofi sembari menatap sekeliling.


"Perasaan tadi lelaki itu masih duduk di sini," lanjut ibu Sofi.


Sofi menatap ibunya lekat.


"Mama, Mas Alex sudah mutusin aku Ma. Hiks...hiks..." ucap Sofi. Tangisannya semakin kencang saja saat ada di dekat ibunya.


"Apa! cowok kamu sudah mutusin kamu?" Ibu Sofi terkejut saat mendengar ucapan Sofi.


"Iya Ma. Dia sudah mutusin aku," jawab Sofi.

__ADS_1


"Terus, kenapa dia mutusin kamu?" tanya ibu Sofi menatap anaknya lekat.


"Aku nggak tahu kenapa Mas Alex mutusin aku Ma. Dia mutusin aku tanpa sebab yang jelas," ucap Sofi di sela-sela tangisannya.


Tiba-tiba saja Sofi memeluk ibunya dengan erat.


"Mama, aku harus bagaimana Ma. Aku nggak mau kehilangan Mas Alex. Aku nggak tahu apa salah aku sampai-sampai Mas Alex mutusin aku," ucap Sofi di pelukan ibunya.


Ibu Sofi sejak tadi masih mencoba untuk menenangkan anaknya dengan mengusap-usap punggung Sofi.


"Sabar ya sayang. Mungkin Alex itu bukan jodoh kamu. Jangan tangisi Alex, karena dia bukan lelaki yang baik untuk kamu. Mama yakin kok Nak, kalau suatu saat nanti, kamu akan di pertemukan dengan lelaki yang baik yang mencintai kamu dengan tulus dan mau menerima semua kekurangan kamu," ucap ibu Sofi.


Mana mungkin, aku bisa melupakan Mas Alex begitu saja, sementara kami sudah pernah melakukan hubungan satu malam di hotel. Maafkan aku Ma, aku tidak bisa menjaga kehormatan aku sebagai seorang wanita. Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Mas Alex. Aku fikir, Mas Alex mau serius dengan hubungannya dan mau menikah dengan ku, tapi kenyataannya malah seperti ini, batin Sofi.


Ibu Sofi melepaskan pelukannya dan menatap anaknya lekat, dia kemudian mengusap air mata Sofi.


"Sofi, jangan nangis lagi ya. Tidak pantas lelaki seperti Alex kami tangisi."


Sofi mengusap kembali sisa-sisa air matanya. Sanggupkah Sofi untuk menjalani kehidupannya setelah Alex tinggalkan.


****


Doni dan Alex sudah sampai di depan halaman rumah Maria. Maria adalah salah satu pacar Alex yang akan Alex putusin selanjutnya.


Setelah memutuskan Sofi, Alex langsung ke rumah Maria untuk membereskan hubungannya dengan wanita itu.


"Kamu tunggu di sini aja Don. Aku mau masuk ke dalam."


"Baik Bos."


Alex kemudian mengetuk pintu rumah itu.


Beberapa saat kemudian, Maria muncul dari balik pintu. Alex terkejut saat tiba-tiba saja Maria mengecup bibirnya dengan singkat.


Ah, sial. Kenapa dia malah cium aku sih, gerutu Alex dalam hati.


Dari semua pacar Alex, Maria lah wanita yang paling agresif. Dia hampir sama seperti Desi. Bedanya Maria itu mandiri sementara Desi manja.


Maria langsung meraih tangan Alex.


"Sayang, tumben banget kamu datang ke sini, kamu pasti kangen kan sama aku," ucap Maria yang sudah menggandeng Alex masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo kita duduk di sini sayang." Maria sudah mempersilahkan Alex untuk duduk di ruang tamu.


Alex dan Maria kemudian duduk di ruang tamu.


"Mau mau minum apa sayang?" tanya Maria.


"Tidak usah repot-repot Maria."


"Nggak apa-apa Mas. Aku buatin minum ya."

__ADS_1


"Iya udah deh. Tapi jangan yang anget ya. Yang dingin aja."


"Oke."


Maria kemudian melangkah ke dapur.


"Bik, tolong buatkan sirup dua ya untuk aku dan pacar aku," ucap Maria pada pembantunya.


"Baik Non."


Maria kemudian kembali ke ruang tamu.


"Tunggu ya Mas. Bibi lagi buatkan sirup untuk kamu."


"Iya Maria."


Beberapa saat kemudian, bibi menghampiri Maria dan Alex di ruang tamu sembari membawakan dua gelas sirup dingin untuk Maria dan Alex.


"Silahkan Mas Alex, Non Maria, diminum sirup dinginnya," ucap bibi sebelum pergi kembali ke dapur.


Setelah meletakan dua gelas sirup dingin di atas meja, bibi kemudian kembali untuk ke dapur.


Maria menatap Alex lekat.


"Mas, kamu kenapa sih jadi berubah?" tanya Maria


"Berubah gimana Maria. Perasaan aku nggak ada yang berubah."


"Akhir-akhir ini kamu jarang banget menghubungi aku. Dan kamu juga jarang banget ngajak aku pergi. Kita pacaran seperti orang yang nggak pacaran. Mau sampai kapan Mas, kita punya hubungan seperti ini," ucap Maria.


Memang sudah lama Alex jarang sekali menghubungi Maria. Dia juga jarang mengajak Maria jalan. Sejak ibunya jatuh dari tangga dan hilang ingatan, Alex memang hanya fokus dengan kesembuhan ibunya. Dia sama sekali tidak mau mengurusi wanita-wanita pacarnya itu.


"Akhir-akhir ini aku memang lagi sibuk banget Maria. Aku sibuk ngurus kantor dan ngurus ibu aku."


"Kenapa ibu kamu memang Mas?"


"Ibu aku lagi sakit."


"Oh.." Maria hanya bisa ber'oh ria.


"Sekarang ibu kamu sudah sembuh?"


"Alhamdulillah. Dia sudah membaik."


"Syukurlah kalau gitu. Aku seneng dengarnya. Oh iya. Kapan Mas kamu mau kenalin aku sama orang tua kamu?" tanya Maria.


Alex bingung untuk menjawab pertanyaan dari Maria. Ternyata selama ini, Maria juga sudah sangat mengharapkan keseriusan hubungannya dengan Alex.


Seperti halnya Desi dan Sofi. Mereka juga sangat mengharapkan keseriusan dari Alex. Mereka ingin Alex segera menikahinya.


Memang semua wanita sangat mendambakan Alex untuk jadi suaminya. Siapa sih yang akan menolak menikah dengan lelaki tampan dan rupawan, dan dia juga anak satu-satunya dari orang kaya raya yang memiliki banyak perusahaan besar di mana-mana.

__ADS_1


Pasti tidak akan ada wanita yang menolak lelaki seribu pesona itu. Seandainya Dara bisa menikah dengan Alex, mungkin Dara akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.


__ADS_2