
Rita mengambil ponselnya yang ada di tasnya. Dia kemudian menelpon suaminya.
"Halo..." Suara Pak Rajasa sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Mas.."
"Halo Rita. Dari mana aja kamu...! kenapa aku telpon nggak di angkat-angkat! persis seperti Alex, dia juga nggak mau angkat telpon dari aku. Kalian pada kenapa sih!"
"Duh, maaf Mas. Hape aku ketinggalan tadi di rumah."
"Kamu dari mana?"
"Aku jenuh di rumah terus Mas. Di rumah juga nggak ada teman. Jadi aku jalan-jalan keluar sama teman-teman aku."
"Ah, kamu ini bagaimana sih. Kalau mau pergi kenapa nggak izin dulu sama saya."
"Maaf Mas."
"Ya udah. Kamu sekarang udah ada di rumah?"
"Iya Mas. Oh iya Mas. Aku mau tanya sama kamu."
"Tanya soal apa?"
"Mbak Vivi mas pindahkan ke mana? kenapa di rumah sakit jiwa dia nggak ada?"
"Apa! Vivi nggak ada di rumah sakit jiwa?"
"Iya Mas. Tadi kan aku pengin nengokin Mbak Vivi. Tapi kata satpam dia nggak ada di sana. Dan udah lama dia nggak ada di sana. Apa Mas tahu tentang masalah ini?"
"Aku nggak tahu menahu tentang masalah ini Rita."
"Tadi aku dengar cerita dari satpam, katanya Mbak Vivi itu kabur dari rumah sakit jiwa."
"Apa! kabur?"
"Iya Mas. Jadi mas nggak tahu apa-apa soal ini ya."
"Nggak Rita. Nggak ada pemberitahuan apa-apa dari RSJ soal ini. Aku harus hubungi Alex. Siapa tahu dia tahu soal ini."
"Ya udah ya Mas. Aku capek. Aku tutup dulu telponnya."
"Iya."
__ADS_1
Rita kemudian menutup saluran telponnya. Setelah itu dia menatap Martin.
"Benar, Pak Rajasa itu tidak tahu apa-apa soal istrinya. Karena Mbak Vivi itu kabur dari rumah sakit jiwa," ucap Rita.
Martin tersenyum.
"Itu artinya kamu masih punya kesempatan dong Rita untuk melenyapkan wanita tua itu."
"Maksud kamu?"
"Sekarang kamu cari istrinya Pak Rajasa, lalu temukan dia. Dan kalau kamu sudah menemukan dia, buang dia ke pulau terpencil atau ke hutan. Jadi kamu nggak akan ada penghalang lagi untuk merebut harta Pak Rajasa "
Rita diam dan tampak berfikir. Dia kemudian tersenyum pada pacar gelapnya itu.
"Benar juga apa kata kamu Mas. Kalau aku yang berhasil menemukan Mbak Vivi, aku bisa saja membuang dia ke luar kota atau luar negeri. Dia kan gila. Mana mungkin dia bisa kembali ke rumah."
"Mendingan kamu buang saja dia ke laut atau ke hutan. Biar dia di makan ikan hiu atau harimau. Kan lebih cepat beres. Dari pada di buang ke luar kota, pasti Pak Rajasa akan memasang iklan pencari orang hilang."
"Iya. Lumayan juga ide kamu mas."
Sesampainya di depan rumah Pak Rajasa, mobil Martin dan Rita masuk ke dalam halaman depan rumah Pak Rajasa. Martin kemudian melajukan mobilnya sampai ke garasi. Setelah itu Martin dan Rita turun dari mobilnya.
Rita menatap Martin lekat.
"Iya sayang. Suami kamu kan sekarang nggak ada di rumah. Jadi sekarang kita bebas ngapa-ngapain dong."
"Iya dong. Kita jangan pernah sia-siakan kesempatan ini. Kita bisa sepuasnya jalan-jalan."
"Ya udah. Udah malam. Aku pulang dulu ya."
"Iya Mas."
Sebelum pergi, Martin mencium kening Rita. Setelah itu Martin meluncur pergi dengan motornya. Karena Martin hanya punya motor yang biasa dia gunakan untuk berpergian. Sementara jalan-jalan hari ini, mereka menggunakan mobil pribadinya Pak Rajasa yang masih baru.
Di sisi lain, Pak Rajasa masih berada di dalam kamarnya. Sejak tadi dia mencoba untuk menelpon ke nomer Alex. Tapi nomer Alex tidak aktif.
Pak Rajasa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Alex. Dari kemarin Alex sudah susah untuk dihubungi. Padahal Pak Rajasa ingin memberi tahu kalau Bu Vivi itu kabur dari rumah sakit jiwa. Dia juga mau menanyakan soal itu ke Alex.
Pak Rajasa menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
"Duh, kemana sebenarnya ini anak, kenapa dari kemarin di telponin susah banget. Aku harus bicara penting sama Alex."
Pak Rajasa kemudian duduk kembali di sisi ranjangnya. Dia kemudian teringat dengan Dara.
__ADS_1
"Oh iya. Aku kan punya nomernya Dara. Mungkin Dara bisa membantu aku, karena Dara kan kerja di kantorku. Itu artinya dia setiap hari pasti akan ketemu Alex. Tapi kalau aku telpon dia sekarang, dia pasti udah tidur. Besok aja deh aku telpon Dara."
***
Pagi ini, ke dua adik Dara sudah berangkat ke sekolah. Sementara Dara masih duduk di ruang makan. Dia tampak masih melamun. Sepertinya dia memang masih memikirkan Alex.
"Bagaimana ya keadaan mamanya Tuan Alex. Apa dia sudah membaik atau dia masih kritis. Aku telpon Tuan Alex saja deh."
Dara kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian menelpon nomer Alex. Namun nomer Alex tidak aktif.
"Kok nomernya nggak aktif. Apa ponselnya mati ya. Duh, kenapa aku jadi gelisah begini. Aku takut akan terjadi apa-apa dengan Bu Vivi," ucap Dara.
Dara bangkit dari duduknya. Dia memakai tas selempangnya. Setelah itu, Dara berjalan keluar dari rumahnya.
Hari ini dia sudah siap untuk berangkat bekerja. Dia tidak mungkin bolos lagi karena kemarin dia juga sudah bolos.
Tidak lupa Dara mengunci pintu rumahnya dan dia titipkan kunci itu pada Bu Ratna. Setelah itu Dara pun pergi untuk ke kantor Pak Rajasa.
Seperti biasa, Dara pergi ke kantor naik kendaraan umum seperti angkot. Karena naik angkot jauh lebih murah dari pada naik ojek, Dara harus bisa mengirit pengeluarannya sampai dia gajian bulan depan.
"Stop bang..." ucap Dara setelah dia sampai di depan sebuah kantor besar milik Pak Rajasa.
Dara kemudian membayar ongkos angkot itu dan turun dari angkot. Dara kemudian berjalan masuk ke dalam kantor itu dan menuju ke tempat di mana teman-temannya berkumpul.
"Dara, kamu baru masuk? dari mana aja kemarin nggak masuk?" tanya Ranti pada Dara.
Dara diam. Dia bingung untuk menceritakan semua itu pada Ranti dan kawan-kawannya.
Seorang wanita yang juga rekan kerja Dara mendekat ke arah Dara.
"Kamu kenapa Dara? kenapa mukanya ditekuk gitu? lagi ada masalah?" tanya Vera.
Dara menatap Vera.
"Bos Alex sudah datang atau belum?" tanya Dara.
"Belum. Kemarin dia juga nggak ke sini Dara. Emang ada apa? ada sesuatu yang kamu tahu terang si bos?" tanya Vera.
"Sebenarnya ada kabar buruk yang harus kalian tahu."
"Kabar buruk apa?" tanya Ranti.
"Iya. Kabar buruk apa? apa terjadi sesuatu dengan bos Alex?" tanya Vera yang sudah sangat penasaran dengan ucapan Dara.
__ADS_1