
"Jadi dulu Mas Alex ke sini membawa Alessa dan menitipkan Alessa pada ibu?" tanya Dara penasaran.
"Iya Dara. Pak Alex datang ke sini sembari membawa bayi Alessa. Dia bilang dia akan menjadi donatur tetap di panti ini kalau saya mau merawat dan membesarkan Alessa. Dia bilang dia ingin menitipkan Alessa di sini," ucap Bu Ani menjelaskan.
"Terus, ibu mau?" Dara menatap Bu Ani lekat. Menunggu kelanjutan cerita Bu Ani.
"Iya Dara. Waktu itu panti asuhan ini belum sebesar ini. Dan anak-anak di sini juga hanya sedikit. Tapi berkat bantuan Pak Alex, panti ini sudah berkembang dan kemajuannya juga cukup sangat pesat."
"Mas Alex juga sering ke sini ya?"
"Iya. Dia sering banget datang ke sini. Waktu Alessa kecil, dia bisa seminggu dua kali ke sini Dara."
"Mas Alex ke sini mau ngapain?" tanya Dara.
Bu Ani tersenyum.
"Ya mau melihat tumbuh kembangnya Alessa lah. Dia sayang banget sama Alessa Dara."
"Oh ya?"
"Kalau ada yang bilang Pak Alex sudah menelantarkan Alessa di panti asuhan, itu salah besar. Pak Alex itu sayang banget sama Alessa. Dia sering banget datang ke sini untuk melihat Alessa. Bahkan dia sering banget membelikan barang-barang untuk Alessa dan anak panti yang ada di sini. Kebutuhan anak-anak panti di sini, semua terjamin sejak ada Pak Alex," jelas Bu Ani.
"Oh..." Dara manggut-manggut mengerti.
"Kalau Alessa sakit, ibu telpon Pak Alex, dan Pak Alex langsung datang ke sini. Bahkan dia bela-belain pulang kantor dan malam-malam langsung datang ke sini. Kalau dia tahu Alessa sakit."
"Kenapa Alessa nggak di beri tahu aja kalau Mas Alex itu ayahnya. Bagaimana pun juga, dia berhak tahu orang tua kandungnya," ucap Dara mengusulkan.
"Pak Alex tidak membolehkan ibu untuk menceritakan apapun pada Alessa. Karena katanya, dia yang akan menceritakannya sendiri pada Alessa."
"Tapi kenapa dia nggak pernah cerita apa-apa sama Alessa."
"Entahlah. Mungkin dia belum siap untuk bicara pada Alessa."
Sebenarnya Mas Alex ini sayang sama Alessa. Cuma dia malu saja untuk mengenalkan Alessa pada orang banyak kalau Alessa adalah anaknya. Tapi tetap aja kasihan. Kalau Alessa tidak mendapatkan pengakuan dari ayahnya sendiri. Seharusnya semua orang tahu, kalau Alessa adalah anaknya Mas Alex. Aku harus bujuk Mas Alex, agar Mas Alex mau membawa Alessa ke rumahnya.
****
__ADS_1
Malam ini, Alex dan Dara masih berada di rumah panti asuhan itu. Alex dan Dara masih duduk duduk di teras depan rumah panti. Sementara Alessa, Bu Ani dan anak-anak panti yang lain masih ada di dalam rumah itu.
"Mas Alex," ucap Dara.
"Hemm.."
"Mas, sebenarnya kamu itu sayang apa nggak sih sama Alessa?" tanya Dara pada Alex.
"Aku sayang banget sama Alessa. Jika kamu menganggap aku ini ayah yang kejam kamu salah. Aku tidak pernah menelantarkan Alessa. Aku sudah menjamin kehidupannya di sini.
"Dia juga tidak pernah kurang kasih sayang dari seorang ibu. Karena Bu Ani sudah seperti ibu kandung Alessa sendiri. Dan Alessa juga tidak pernah kekurangan kasih sayang seorang ayah. Karena aku selalu ada untuknya walau kita tidak tinggal satu rumah," ucap Alex panjang lebar.
"Iya. Aku percaya sama kamu. Bu Ani sudah bilang soal itu. Kalau kamu sering sekali datang ke sini untuk melihat Alessa."
"Ya, begitulah Dara."
"Mas, kamu nggak ingin membawa Alessa ke rumah kita?" tanya Dara.
Alex menatap Dara lekat. "Membawa Alessa pulang ke rumah?"
"Iya Mas. Alessa itu darah daging kamu. Seharusnya dia ada di antara kita. Tempat Alessa itu bukan di tempat ini. Tapi di rumah kita. Kenapa kamu nggak ajak Alessa untuk tinggal bareng kita aja?"
Alessa terkejut saat mendengar percakapan Dara dan Alex di teras depan rumah.
Apa! benarkah kalau selama ini aku adalah anak kandungnya Om Alex. Tapi kenapa Bunda Ani dan Om Alex tidak pernah memberi tahuku soal itu. Mereka selalu bilang, kalau orang tua aku itu ada di luar negri. Dan sampai sekarang mereka belum pulang. Jika Om Alex adalah ayahku, lalu siapa ibu kandung aku? dan di mana ibu kandung aku berada?
Alessa buru-buru masuk kembali ke dalam rumah. Tadinya dia mau memanggil Dara dan Alex untuk makan malam. Namun dia urungkan, karena tadi dia mendengar obrolan Dara dan Alex yang sangat mengejutkan.
Alessa buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Dia melewati ruang makan begitu saja.
Alessa kenapa ya. Tadi kan aku suruh dia untuk ke depan, manggil Dara dan Pak Alex. Kenapa dia malah masuk ke kamar. Batin Bu Ani bingung.
Bu Ani bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah untuk ke teras depan rumah di mana Alex dan Dara berada.
"Dara, Pak Alex, masuk yuk! kita makan sama-sama di dalam. Ibu sudah siapkan kalian makan malam. Kita makan sama anak-anak di dalam."
Dara dan Alex menatap Bu Ani bersamaan.
__ADS_1
"Alessa mana? dia udah makan atau belum?" tanya Alex.
"Alessa belum makan. Tapi dia masuk ke kamarnya tadi"
Alex menatap Dara lekat.
"Ayo sayang. Kita makan dulu, setelah makan, baru nanti kita pulang."
"Iya."
Dara dan Alex kemudian mengikuti Bu Ani masuk ke dalam rumah. Mereka melangkah ke ruang makan. Di ruang makan, sudah tampak banyak anak yang duduk di lantai menunggu Alex dan Dara.
Di depan mereka, sudah ada banyak masakan Bu Ani yang terhidang untuk mereka di depan mereka duduk.
Alex dan Dara menatap satu persatu dari lima puluh orang anak itu. Namun tak nampak Alessa ada di ruang makan.
"Ke mana Alessa?" ucap Alex menatap sekeliling.
"Dara, Pak Alex, ayo duduk!" pinta Bu Ani.
Dara mengangguk. Sementara Alex tampak mencari-cari sesuatu.
"Bu Ani. Mana Alessa?" tanya Alex pada Bu Ani.
Bu Ani bangkit berdiri dan mendekati Alex.
"Tadi Alessa ada di kamar. Pak Alex makan dulu saja. Biar saya yang panggil Alessa di kamarnya."
"Iya Bu."
Alex dan Dara kemudian duduk dan berbaur bersama anak-anak panti itu. Sementara Bu Ani masuk ke dalam kamar Alessa.
Alessa sejak tadi masih diam. Dia masih duduk di sisi ranjangnya.
"Alessa. Kamu kenapa?" tanya Bu Ani sembari mendekat dan duduk di sisi Alessa.
Alessa diam. Dia saat ini memang kecewa, karena kebohongan Alex dan ibu pantinya. Alessa menatap Bu Ani tajam.
__ADS_1
Aku yakin, bunda pasti tahu kalau aku ini anaknya Om Alex. Dan bunda ikut menyembunyikan semua ini dari aku. Kenapa mereka jahat sekali. Kenapa mereka tega membohongi aku. Seharusnya mereka mengatakan jujur sama aku. Bukan merahasiakan ini dari aku. Aku juga kan berhak tau siapa orang tua kandung aku.