
Dara bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menghampiri Ica dan duduk di sisi Ica.
"Ica sayang, kamu jangan sedih ya. Semua ini sudah takdir kita Ica. Kamu nggak perlu sedih seperti itu. Kita harus bersyukur, karena Oca masih bisa diselamatkan. Biarlah rumah kita ludes karena api itu. Yang penting nyawa kalian masih bisa terselamatkan," ucap Dara mencoba untuk menghibur adiknya yang sejak tadi masih sedih memikirkan rumahnya.
"Kamu harus percaya kalau Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba Nya. Percayalah kalau Tuhan kita, Maha baik. Dia pasti akan memberikan ganti rumah yang lebih baik lagi dari rumah kita," lanjut Dara.
Ica manggut-manggut mengerti mendengar ucapan Dara.
"Benar apa kata kakak kamu. Kamu nggak usah mengkhawatirkan soal rumah. Kalau rumah kamu ludes, Kak Alex bisa kok, sulap rumah kamu jadi lebih bagus lagi dari rumah kamu yang sebelumnya," ucap Alex.
Ica menatap Alex lekat.
"Rumah memang bisa bagus lagi. Tapi kenangan ayah dan ibu, tidak akan bisa dikembalikan lagi. Seperti barang-barang antik peninggalan ayah, piala ayah, foto-foto kenangan ibu dan ayah, semua ludes terbakar," ucap Ica.
Dara tampak berfikir.
Benar apa kata Ica, rumah memang bisa di renovasi lagi setelah hancur. Tapi, barang-barang kenangan ibu dan ayah, tidak akan bisa kembali lagi.
****
Siang ini Doni, Ratih dan Bu Vivi sudah sampai di depan rumah sakit. Doni memarkirkan mobilnya di parkiran mobil rumah sakit. Setelah itu dia turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Bu Vivi.
"Silahkan Bu," ucap Doni.
"Iya. Makasih ya Don," ucap Bu Vivi. Setelah itu Bu Vivi pun turun dari mobil.
Setelah Doni dan Bu Vivi turun dari mobilnya, Ratih pun mengikuti mereka turun. Ratih, Doni dan Bu Vivi kemudian melangkah masuk ke rumah sakit menuju ke ruangan di mana Oca di rawat.
Sesampainya di depan ruangan Oca, Bu Vivi, Ratih dan Doni kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
"Assalamualaikum," ucap mereka serempak.
"Wa'alakiumsalam."
Alex, Ica dan Oca, menatap ke arah pintu. Mereka tersenyum saat melihat kedatangan Bu Vivi, Doni dan Ratih.
Setelah masuk ke dalam ruangan itu, Bu Vivi langsung mendekat ke arah Oca.
"Oca, gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Bu Vivi yang merasa prihatin dengan kondisi Oca saat ini.
"Aku baik-baik aja Tante Vivi," jawab Oca.
"Kamu ada yang terluka Nak?" Bu Vivi menatap Oca lekat.
"Ada. Tapi sedikit."
"Di mana luka kamu?"
"Di bahu Tante. Bahu aku, terkena percikan api. Untung tadi pagi, Kak Alex datang tepat waktu untuk nolongin aku. Kalau nggak ada Kak Alex, aku nggak tahu bagaimana nasib aku Tante. Mungkin aku sudah gosong di dalam rumah itu. Aku udah berhutang budi sama Kak Alex," ucap Oca dengan menunjukan wajah sedih.
Bu Vivi tersenyum. "Untunglah, kamu dan Ica nggak apa-apa ya. Karena Alex sudah menyelamatkan kalian berdua."
__ADS_1
"Iya Tante."
"Terus, rumah kalian gimana?" tanya Bu Vivi menatap Dara, Ica dan Oca bergantian.
"Udah pasti lah, rumah itu ludes terbakar. Semuanya kenang-kenangan ayah dan ibu aku, juga sudah terbakar habis. Dan kita tidak tahu setelah ini kita mau tinggal di mana," ucap Ica.
Bu Vivi menatap Ica.
"Kenapa kalian harus sedih sih. Untuk sementara kalian bisa tinggal di rumahnya Tante Vivi. Jangan sedih ya."
"Iya. Kalian bertiga nggak usah sedih. Kak Alex akan dengan senang hati, menerima kalian tinggal di rumah Kak Alex," ucap Alex menimpali.
Ica dan Oca bersamaan menatap Alex dan Bu Vivi.
"Makasih ya Kak Alex, Bu Vivi," ucap Ica dan Oca.
Bu Vivi dan Alex hanya mengangguk.
****
Sore ini, Dara masih sendiri di ruangan Oca. Sementara Ica sudah ikut Bu Vivi pulang ke rumahnya Alex.
Ring ring ring..
Suara deringan ponsel Dara mengejutkan Dara dari lamunannya. Dara mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Setelah itu dia mengangkat panggilan dari Pak Rajasa.
"Halo. Assalamualaikum."
"Pak Rajasa, maafkan saya. Saya ada halangan terus untuk datang ke kantor. Dan saya sekarang juga lagi di rumah sakit."
"Di rumah sakit? siapa emang yang sakit?"
"Oca sakit Pak Rajasa."
"Oca sakit apa Dara? kenapa kamu nggak bilang kalau adik kamu sakit?"
"Sebenarnya, ceritanya panjang Pak. Tadi pagi, rumah aku kebakaran. Ica dan Oca terjebak di dalamnya. Ica selamat dari kebakaran itu. Sementara Oca, dia terluka karena terkena percikan api."
"Astaghfirullah. Terus sekarang Oca masih di rumah sakit?"
"Iya Pak Rajasa. Aku dan Mas Alex yang lagi jagain Oca di rumah sakit."
"Ya udah, ini saya udah mau pulang. Nanti saya mampir deh ke rumah sakit."
"Iya Pak Rajasa."
"Sudah dulu ya Dara, saya mau siap-siap nih."
"Iya Pak. Saya tunggu di sini."
Setelah saluran telpon itu terputus, Dara memasukan kembali ponselnya di dalam tasnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Oca mengerjapkan matanya.
"Kak Dara, tadi sepertinya Kak Dara lagi telponan sama seseorang. Siapa tadi yang telpon?" tanya Oca pada Dara.
"Oh, tadi Pak Rajasa yang nelpon," jawab Dara.
"Om Rajasa mau ngapain telpon?"
"Kakak kan sudah dua hari ini, nggak masuk kantor. Dia tanya sama kakak kenapa kakak nggak masuk kerja."
"Terus kakak bilang apa?"
"Ya kakak bilang yang sebenarnya dong, kalau sekarang kakak lagi di rumah sakit nungguin kamu."
"Terus Om Rajasa bilang apa?"
"Terus, Om Rajasa mau ke sini. Katanya dia mau jengukin kamu di sini."
"Oh. Kalau Kak Alex, di mana?"
"Dia lagi keluar sebentar. Mau beli cemilan untuk kita."
****
Setelah membereskan semua berkas-berkasnya, Pak Rajasa bangkit berdiri. Pak Rajasa kemudian keluar dari ruangannya dengan membawa tasnya. Pak Rajasa melangkah sampai ke luar dari kantornya.
Pak Rajasa kemudian menghampiri Anton yang ada di depan kantornya.
"Ton, kita pulang sekarang."
"Baik Tuan. Saya mau ambil mobil dulu."
"Iya. Cepat sedikit ya."
"Iya Tuan."
Anton kemudian pergi untuk mengambil mobil. Setelah itu dia kembali dengan mobilnya.
Anton turun dari mobilnya. Setelah itu dia membuka pintu mobil untuk Pak Rajasa.
"Silahkan Tuan."
"Makasih Ton."
Pak Rajasa kemudian naik ke dalam mobil. Anton mengikuti majikannya itu masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mobil itu meluncur pergi meninggalkan kantor Pak Rajasa.
"Kita mau kemana Tuan? apakah kita mau langsung pulang?" tanya Anton di sela-sela menyetirnya.
"Kita ke rumah sakit dulu Ton. Saya mau jengukin adiknya Dara. Katanya dia ada di rumah sakit sekarang."
"Baik Pak."
__ADS_1
Anton dan Pak Rajasa kemudian meluncur ke rumah sakit.