
"Kemarin malam, istrinya Pak Rajasa terjatuh dari tangga," ucap Dara yang membuat Vera dan Ranti terkejut.
"Apa! Bu Rita terjatuh dari tangga?" ucap Vera.
"Bukan Bu Rita. Tapi ibu kandungnya Tuan Alex," ucap Dara menjelaskan.
Ranti terkejut saat mendengar ucapan Dara.
"Bu Vivi maksud kamu Dara?" tanya Ranti menatap Dara lekat.
Dara mengangguk. "Iya."
"Bukannya Bu Vivi itu sudah bercerai ya dengan Pak Rajasa. Dan sekarang katanya dia ada di luar negeri atau di luar kota gitu," ucap Ranti.
Ya, selama ini yang orang-orang tahu tentang Bu Vivi, Bu Vivi itu sudah tidak ada lagi di kota ini. Dari desas-desus orang-orang di kantor, katanya Bu Vivi itu sudah bercerai dari Pak Rajasa. Dan sekarang dia sudah tidak tinggal di kota ini lagi. Ini benar-benar kabar yang sangat mengejutkan untuk Ranti.
Dara menatap Ranti.
"Saya kurang tahu soal itu Mbak. Karena saya juga baru mengenal keluarga Pak Rajasa. Mungkin Mbak Ranti yang lebih tahu soal ini," ucap Dara.
"Setahu saya, Bu Vivi itu sudah pergi jauh dari kota ini karena dia sudah diceraikan oleh Pak Rajasa. Karena Bu Vivi tidak mau hidup di poligami. Jadi dia memutuskan untuk cerai dari suaminya. Tapi entahlah aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Pak Rajasa." ucap Ranti.
Vera karyawan yang masih baru di kantor Pak Rajasa, tampak bingung. Karena yang dia tahu istri Pak Rajasa itu cuma Rita. Dia tidak tahu menahu soal Bu Vivi.
"Eh, maksudnya apa? Pak Rajasa punya dua istri ya? bukannya istri Pak Rajasa itu Bu Rita," ucap Vera.
"Rita itu istri ke dua Ver. Kalau Bu Vivi itu ibu kandungnya Pak Alex," ucap Ranti menjelaskan pada Rita.
"Tapi katanya istri pertamanya si bos udah meninggal. Jadi itu nggak benar ya?" ucap Vera lagi.
"Yang aku tahu nih ya, selama aku kerja jadi pembantu di rumah Tuan Alex, aku pernah dengar cerita dari salah seorang pembantunya Tuan Alex yang udah lama kerja di sana. Dan dia tahu semuanya tentang masa lalu Bu Vivi dan Pak Rajasa," ucap Dara.
"Apa sih masalah yang sebenarnya terjadi Dara? aku jadi kepo deh," tanya Vera.
"Sebenernya, Bu Vivi itu belum dicerai oleh Pak Rajasa. Dan dia selama ini masih ada di kota ini. Dan dia ikut di rumahnya Tuan Alex," ucap Dara menjelaskan.
"Oh.." Ranti dan Vera manggut-manggut tampak mengerti dengan ucapan Dara.
"Kamu tahu dari mana soal itu? apa sebelumnya kamu pernah kerja di rumahnya Pak Alex? " tanya Ranti.
"Iya. Satu bulan aku kerja di rumah Tuan Alex. Jadi tukang cuci gosok pulang pergi."
"Oh..." Vera mengerucutkan bibirnya.
Ring ring ring....
Di tengah-tengah perbincangan Vera, Dara dan Ranti, tiba-tiba saja ponsel Dara berdering.
"Tuh, telpon kamu bunyi," ucap Vera.
__ADS_1
"Iya."
Dara kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecilnya.
Dara terkejut saat melihat panggilan dari Pak Rajasa. Dara bingung, apa yang harus dia bicarakan dengan Pak Rajasa.
"Siapa Dara?" tanya Ranti.
"Si bos," jawab Dara.
"Bos Alex?" tanya Vera.
Dara menggeleng. "Bos besar yang nelpon."
"Pak Rajasa nelpon? ya udah kamu angkat aja Dara," ucap Ranti.
Dara mengangguk. Dara kemudian mengangkat panggilan dari Pak Rajasa. Sementara Vera dan Ranti pergi meninggalkan Dara dan mulai bekerja kembali.
"Halo, assalamualaikum," ucap Dara.
"Wa'alakiumsalam. Dara, kamu ada di mana sekarang?"
"Saya ada di kantor Pak."
"Apa anak saya sudah datang ke kantor?"
"Belum Pak."
"Dari kemarin Tuan Alex nggak masuk kantor Pak."
"Nggak masuk kantor? kenapa? apa ada masalah sama dia? atau dia memang sengaja nggak ke kantor saya dan kerja di kantornya sendiri."
"Sebenarnya Pak Alex sekarang lagi ada di rumah sakit Pak."
"Apa! di rumah sakit? Alex sakit?"
"Bukan Pak Alex pak. Tapi ibunya yang sakit."
"Maksud kamu Vivi istri saya?"
"Iya Pak."
"Kenapa dengan Vivi?"
Dara diam.
Dia bingung untuk mengatakan yang sebenarnya pada Pak Rajasa. Karena Alex waktu itu sudah pernah melarangnya untuk menghubungi Pak Rajasa.
Tapi Dara juga tidak mungkin membohongi Pak Rajasa dengan masalah sebesar ini. Apalagi yang Dara tahu, Bu Vivi dari kemarin belum sadarkan diri dan Alex juga sangat terpuruk sekali.
__ADS_1
"Halo Dara. Kenapa kamu diam aja?"
"Lebih baik, bapak telpon langsung Pak Alex nya dan tanyakan sendiri padanya. Karena. saya tidak bisa menjelaskannya. Mungkin Pak Alex yang bisa menjelaskan semuanya.
"Dara, Alex itu tidak bisa dihubungi. Sampai sekarang saja Alex masih belum aktif nomernya. Apakah kamu bisa ke rumah sakit ? kamu temui Alex dan bilang kalau ayahnya ingin bicara."
"Baik Pak. Aku akan ke rumah sakit sekarang. Nanti aku kabari bapak lagi ya kalau sudah sampai di rumah sakit."
"Iya Dara."
Setelah bertelponan dengan Pak Rajasa, Dara kemudian berjalan dan mendekat ke arah Ranti.
"Mbak Ranti, aku pergi dulu ya," ucap Dara berpamitan pada Ranti.
Ranti menatap Dara lekat.
"Kamu mau ke mana? kamu kan baru datang?" tanya Ranti.
"Aku disuruh Pak Rajasa ke rumah sakit. Dari kemarin nomernya Bos Alex nggak aktif. Pak Rajasa ingin menghubungi bos Alex lewat hape aku," ucap Dara.
"Oh. Ya udah kalau itu perintah si bos. Pergi aja."
"Iya."
Dara kemudian pergi meninggalkan kantor untuk ke rumah sakit.
****
Setelah sampai di depan rumah sakit, Dara menatap rumah sakit yang dari luar tampak megah itu. Dara tampak masih ragu untuk masuk ke dalam rumah sakit dan menemui Alex.
Sebenarnya, Dara sudah tidak mau berurusan lagi dengan lelaki itu. Tapi Dara sudah terlanjur berada di tengah-tengah keluarga Pak Rajasa. Tidak mungkin Dara untuk membantah ucapan Pak Rajasa untuk menemui Alex.
"Kemarin aku sudah menemani Tuan Alex di sini. Tapi aku juga ingin tahu kondisi istrinya Pak Rajasa. Bagaimana kondisi Bu Vivi ya," ucap Dara.
Sepertinya Dara juga penasaran dengan kondisi Bu Vivi.
Tanpa banyak berfikir, Dara kemudian masuk ke dalam rumah sakit. Dia menuju ke ruang UGD. Namun Alex tak nampak ada di sana.
"Suster, lelaki yang kemarin duduk di sini ke mana ya?" tanya dara pada salah seorang suster.
"Lelaki yang mana Mbak? di sini kan lelaki banyak. Dan yang duduk di sini juga bukan cuma satu atau dua orang."
"Itu, Bu Vivi yang kemarin kritis di ruang UGD di mana ya sekarang? apakah dia sudah dipindahkan di ruang rawat?" tanya Dara.
"Oh, Bu Vivi pasien yang katanya jatuh dari tangga itu?"
"Iya."
"Dia sudah dipindahkan ke ruang ICU. Karena kondisinya semakin buruk dan dia juga lama sekali nggak siuman. Dan kata dokter, pasien itu sudah ditetapkan koma, dan kemungkinan untuk hidup sangat kecil. Hanya dua puluh persen."
__ADS_1
"Apa!" Dara terkejut saat mendengar ucapan suster.