Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Hampir ketahuan


__ADS_3

Sore ini, Dara masih berada di tempat kerjanya. Sejak tadi dia masih menunggu Pak Rajasa keluar dari kantor. Sore ini, Dara dan Pak Rajasa sudah janjian mau pulang bersama.


Pak Rajasa akan mengabulkan keinginan Dara untuk kuliah lagi. Pak Rajasa sudah memilihkan universitas yang cocok untuk Dara.


Beberapa saat kemudian, Pak Rajasa keluar dari kantor. Dia tersenyum saat melihat Dara sudah berdiri di depan kantor. Pak Rajasa mendekat ke arah Dara.


"Dara, kamu udah nunggu lama ya?" tanya Pak Rajasa.


"Oh, nggak kok Pak. Aku juga baru keluar,"jawab Dara.


"Ya udah, sekarang mana sopir saya?"


Pak Rajasa menatap sekeliling.


"Kok Anton nggak ada. Ke mana si Anton. Biasanya dia sudah ada di sini."


"Tadi saya lihat Bang Anton itu pergi Pak," ucap Dara menjelaskan.


"Pergi jalan kaki atau naik mobil?"


"Naik mobil. Mungkin mau isi bensin Pak."


"Oh. Mungkin ya. Ya udah Dara. Kita tunggu di sini saja."


"Iya Pak."


Beberapa saat kemudian, mobil Anton melaju ke arah di mana Pak Rajasa dan Dara berdiri. Anton menghentikan laju mobilnya dan turun untuk menghampiri majikannya.


"Maaf Tuan. Saya telat. Tadi saya baru isi bensin," ucap Anton.


"Iya. Nggak apa-apa."


Anton kemudian membukakan pintu mobil untuk majikannya.


"Silahkan Pak."


"Makasih Anton."


Pak Rajasa kemudian masuk ke dalam mobilnya. Seperti biasa, Pak Rajasa duduk di depan di samping Anton, sementara Dara duduk di jok belakang. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan kantor.


"Dara, kamu belum makan kan?" tanya Pak Rajasa.


Dara menggeleng."Belum Pak."


"Kita ke cafe dulu ya. Makan dulu,"


"Iya Pak."


Anton melajukan kendaraannya sampai di depan cafe. Setelah sampai di depan cafe, Anton keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Pak Rajasa.


"Silahkan Pak,"


"Makasih Anton."


Setelah Pak Rajasa turun, Dara juga ikut turun dari mobil. Setelah itu Pak Rajasa dan Dara melangkah masuk ke dalam cafe.


Mereka kemudian mencari tempat duduk di dalam cafe itu.

__ADS_1


"Kita duduk di sana saja Dara," ucap Pak Rajasa sembari menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di dalam cafe.


"Iya Pak."


Setelah itu Pak Rajasa dan Dara, berjalan dan duduk di kursi kosong itu.


Pak Rajasa kemudian memesan makanan untuk mereka makan sore ini.


"Silahkan Mbak, Pak," ucap pelayan cafe sembari meletakan menu pesanan Pak Rajasa di atas meja.


"Makasih ya Mbak," ucap Dara.


"Sama-sama."


Setelah itu, pelayanan pun pergi meninggalkan Pak Rajasa dan Dara.


"Ayo Dara, kita makan!"


"Iya Pak."


Dara dan Pak Rajasa kemudian makan.


Di sela-sela kunyahannya, Pak Rajasa menatap Dara.


"Dara, kamu yakin pengin kuliah lagi?" tanya Pak Rajasa.


"Iya dong Pak. Usiaku kan masih muda. Aku pengin mengenyam pendidikan sampai kuliah. Biar aku bisa kerja di kantor. Nggak jadi office girl terus seperti ini."


Pak Rajasa tersenyum. Sejak Pak Rajasa tahu kalau Dara adalah anak dari sahabat lamanya, Pak Rajasa sudah ingin menjadikan Dara anak angkat. Atau mungkin Pak Rajasa ingin menjadikan Dara menantunya kalau Dara mau sama Alex.


Dan Pak Rajasa ingin menjamin kehidupan Dara dan ke dua adiknya sampai mereka tumbuh dewasa. Karena Pak Rajasa tahu, kondisi Dara dan ke dua adiknya. Selama ini mereka sudah menjadi anak yatim dan hidup dalam kesusahan. Dan Pak Rajasa paling tidak tega jika melihat kondisi kehidupan Dara, apalagi Dara adalah anak dari sahabat karibnya.


"Tapi apa Dara?" tanya Pak Rajasa.


"Kayaknya udah nggak ada kesempatan untuk aku lagi mendapatkan beasiswa. Aku sudah bilang sama guru aku, kalau beasiswa itu sudah untuk orang lain Pak."


Dara menunduk sedih.


"Dara, kamu tenang saja. Saya sudah mendapatkan universitas yang cocok untuk kamu. Kamu tidak perlu kuliah pakai beasiswa."


Dara menatap Pak Rajasa lekat.


"Maksud Bapak?" tanya Dara yang masih tampak tak mengerti.


"Kamu bisa kuliah di tempat Alex dulu kuliah."


"Di mana?"


"Ya, di universitas internasional."


Universitas internasional, jangan-jangan, itu sekolah khusus orang-orang elite. Masa aku harus kuliah di situ sih.


"Dara, kenapa lagi?" tanya Pak Rajasa yang melihat Dara masih diam.


"Emang Mas Alex kuliah di mana dulu Pak?"


"Nanti saya akan tunjukkan lokasinya sama kamu Dara. Dan nanti saya akan daftarkan kamu untuk kuliah di situ. Kalau masalah biaya, saya yang akan tanggung semuanya."

__ADS_1


"Tapi Pak..."


"Sudah, nggak ada tapi-tapian. Kalau kamu masih ingin melanjutkan kuliah, bapak yang akan biayai kamu. Kamu nggak perlu mikirin macam-macam. Yang penting kamu daftar aja dulu, dan tinggal berangkat kuliah. Kalau kamu mau kerja paruh waktu, nanti saya yang akan atur jadwalnya."


Dara tersenyum saat mendengar ucapan Pak Rajasa, rasanya Pak Rajasa memang benar-benar tulus ingin membantu Dara. Dan ini seperti mimpi untuk Dara.


"Bapak serius mau menguliahkan saya?" tanya Dara.


"Ya serius lah Dara. Masa bohongan. Bila perlu, ke dua adik kamu juga harus kuliah."


"Makasih banyak ya Pak. "


"Lagian, anak bapak juga cuma Alex. Dan dia sudah jadi orang sukses. Sudah tidak butuh uang lagi dari bapak. Lalu, uang bapak untuk apa lagi Dara, kalau tidak untuk membantu orang-orang yang kesusahan seperti kamu dan ke dua adik kamu."


Dara tahu, kalau Pak Rajasa adalah orang yang baik. Dia juga orang kaya raya. Kemalingan ratusan juta pun tidak akan membuat Pak Rajasa bangkrut.


Dan Dara sangat bahagia saat ini. Cita-citanya untuk kuliah lagi, sebentar lagi akan tercapai.


"Ayo Dara, lanjutkan makannya. Nanti saya akan pesankan lagi makanannya untuk di bungkus dan kamu bawa pulang untuk ke dua adik kamu di rumah."


"Makasih ya Pak. Bapak udah baik banget sama aku."


Di saat makan, tiba-tiba saja pandangan Pak Rajasa tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk bersama seorang lelaki. Dan wanita itu mirip dengan Rita istrinya.


Rita. Itu bukannya istriku. Tapi sama lelaki siapa? batin Pak Rajasa.


Pak Rajasa sejak tadi masih memperhatikan sosok wanita yang mirip istrinya. Pak Rajasa yang penasaran, bangkit dari duduknya.


"Pak Rajasa, mau ke mana?" tanya Dara.


"Kamu tunggu sebentar Dara. Aku mau nyamperin seseorang."


Pak Rajasa kemudian pergi untuk melihat sosok wanita yang mirip istrinya. Pak Rajasa terkejut saat melihat Rita yang sedang duduk bersama seorang lelaki muda.


"Rita, siapa dia?" Pak Rajasa menatap Martin tajam.


Rita membulatkan matanya saat melihat suaminya ada di dalam cafe. Rita terkejut saat melihat suaminya.


"Mas Rajasa. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Rita yang masih syok saat melihat suaminya ada di hadapannya.


"Rita, kamu belum jawab pertanyaan aku. Siapa lelaki ini? apa jangan-jangan selama ini kamu sudah selingkuh dibelakang saya? apa lelaki itu selingkuhan kamu?"


Rita benar-benar bingung saat dia sudah kepergok oleh suaminya. Berduaan dengan Martin di cafe. Apa yang akan Rita lakukan sekarang.


Martin tidak tinggal diam. Dia punya cara, agar Pak Rajasa mau percaya padanya. Martin langsung bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Pak Rajasa.


"Kenalkan. Saya Martin. Saudara sepupunya Rita," ucap Martin.


Pak Rajasa kembali menatap Rita.


"Benar, dia sepupu kamu Rita?" tanya Pak Rajasa.


Dengan gugup Rita mengangguk.


"Benar Mas. Benar kalau dia sepupu aku," jawab Rita.


"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya sepupu di Jakarta?" tanya Pak Rajasa.

__ADS_1


"Maaf Mas. Sepupu saya ini, baru pulang dari luar negeri. Katanya dia mau menetap di sini."


"Oh..." Pak Rajasa hanya ber'oh ria mendengar ucapan Rita dan Martin. Tanpa dia curiga hubungan Rita dengan Martin.


__ADS_2