Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kebahagiaan Pak Rajasa


__ADS_3

"Senang bisa berkenalan dengan Mbak," ucap Dara.


Selly hanya melebarkan senyum. Sementara Dara mengambil tisunya dan menyodorkan tisu itu di depan Selly.


"Ini Mbak tisu. Siapa tahu tisu ini berguna untuk menghapus air mata Mbak," ucap Dara basa-basi.


Selly tampak ragu untuk mengambil tisu itu.


"Ambil saja Mbak. Nggak apa-apa," bujuk Dara.


Akhirnya Selly pun mau mengambil tisu itu. Dia kemudian menghapus air matanya dengan tisu itu.


"Makasih ya Dara," ucap Selly.


"Iya Mbak. Sama-sama."


Setelah hati Selly mulai tenang, dia kemudian menatap Dara lekat.


"Aku baru saja kehilangan bayi aku," ucap Selly tiba-tiba.


Dara menatap Selly lekat. Mencoba untuk mendengar cerita Selly.


"Maksud Mbak? bayi Mbak di culik? atau bagaimana?" tanya Dara penasaran.


Selly menggeleng.


"Bukan itu Dara. Aku dengar dari suster, kalau bayi aku sudah meninggal. Dan suamiku membohongi aku. Katanya bayi aku sudah dibawa pulang ke rumah," ucap Selly mengawali ceritanya.


Dara mencoba untuk mencerna semua ucapan Selly.


"Jadi Mbak habis melahirkan di rumah sakit ini. Dan bayi Mbak meninggal? terus suami Mbak membohongi Mbak dengan bilang kalau bayi Mbak itu hidup dan sudah dibawa pulang ke rumah?"


Selly mengangguk.


"Iya. Suami aku itu pembohong. Gara-gara dia aku kehilangan bayi aku. Waktu aku kontraksi, dia nggak ada di samping aku. Waktu aku mau lahiran, dia sedang pergi sama wanita lain. Sehingga aku telat dibawa ke rumah sakit. Dan bayiku meninggal waktu aku melahirkan," jelas Selly.


"Oh... " Dara manggut-manggut mendengar cerita pilu wanita itu. Dia merasa prihatin dengan kondisi wanita itu. Dara tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia yang ada di posisi wanita itu.

__ADS_1


Dara masih menatap Selly yang sejak tadi masih menangis.


Kasihan sekali Mbak Selly. Dia sudah dikhianati suaminya sendiri. Di saat dia mau melahirkan, suaminya malah pergi dengan wanita lain. Nggak kebayang deh, betapa sakitnya hati Mbak Selly. Di saat-saat mau melahirkan, namun suaminya nggak ada di sampingnya. Dia malah memilih jalan sama wanita lain, batin Dara.


Beberapa saat kemudian, seorang lelaki menghampiri Selly dan Dara.


"Selly, kenapa kamu ada di sini? aku cari di dalam, ternyata kamu ada di sini?" ucap Martin dengan sorot mata tajam. Dia tampak kesal pada Selly.


Selly bangkit berdiri.


"Untuk apa kamu nyariin aku Bang. Aku nggak suka suami pembohong seperti kamu Bang. Kamu bilang anak kita sudah di rumah. Tapi tadi suster bilang kalau anak kita sudah meninggal Bang. Kenapa kamu nggak bilang kalau anak kita sudah meninggal," ucap Selly dengan nada tinggi.


"Selly maafkan aku. Aku nggak bermaksud untuk membohongi kamu. Aku membohongi kamu, cuma karena aku nggak mau kamu sedih dan kefikiran terus tentang anak kita. Aku nggak mau kamu sampai stres dan menyalahkan aku karena kejadian ini."


"Ini memang salah kamu Bang. Kamu yang sudah membuat anak kita meninggal. Andai kamu ada di saat-saat aku kontraksi. Dan kamu mau membawa aku secepatnya ke rumah sakit. Pasti anak kita tidak akan meninggal," ucap Selly yang masih penuh amarah.


"Anak kita meninggal karena telat di bawa ke rumah sakit. Andai saja kamu nggak pergi, pasti kamu akan membawa aku ke rumah sakit secepatnya dan anak kita pasti akan tertolong. Tapi semua terlambat gara-gara kamu keasyikan sama wanita lain di luar sana...!"


Martin meraih tangan Selly.


"Hiks...hiks... anak aku meninggal itu karena kamu Bang...!"


Dara bingung saat melihat pertengkaran Selly dengan Martin. Dara tidak mau ikut campur dalam masalah ke dua orang itu. Dara akhirnya pergi meninggalkan Martin dan Selly. Dia melangkah menuju ke ruangan Oca.


Sesampainya di depan ruangan Oca, Dara masuk ke dalam ruangan itu.


Alex menatap Dara tajam.


"Dara, kamu dari mana aja? kenapa beli tisu lama sekali?" tanya Alex.


"Maaf. Tadi ada masalah sedikit di depan."


"Masalah apa?"


"Nggak penting Mas Alex. Tadi aku cuma lihat suami istri lagi berantem."


Dara kemudian duduk di dekat Alex.

__ADS_1


"Mumpung Papa sudah ada di sini, aku mau bicara serius sama papa," ucap Alex tiba-tiba.


Dara mengernyitkan alisnya bingung.


Sebenarnya, Mas Alex mau bicara serius soal apa? batin Dara.


"Apa yang mau kamu bicarakan Alex?" tanya Pak Rajasa menatap Alex lekat.


Alex meraih tangan Pak Rajasa dan menggenggamnya erat.


"Pa, aku mau minta doa restu Papa. Aku mau seriusan sama Dara Pa. Dan dalam waktu dekat ini, aku ingin tunangan sama Dara. Aku ingin mengadakan pesta pertunangan aku dan Dara."


Pak Rajasa terkejut saat mendengar ucapan Alex. Baru saja Pak Rajasa mau menjodohkan Dara dengan Alex, tapi ternyata mereka sudah duluan saling jatuh cinta.


Pak Rajasa tersenyum. Dia masih tidak menyangka dengan apa yang sudah anaknya ucapkan.


"Kamu yakin Alex ingin tunangan sama Dara? apa telinga papa yang sudah salah dengar?"


"Nggak. Papa nggak salah dengar kok. Aku memang ingin mengakhiri masa lajang ku dengan menikahi Dara. Namun Dara nggak mau buru-buru nikah karena dia belum siap nikah. Dia masih mau fokus dengan kuliahnya. Makanya kami memutuskan untuk tunangan dulu aja Pa," ucap Alex.


Pak Rajasa tampak bahagia saat mendengar ucapan Alex.


"Papa seneng dengarnya Alex. Papa pasti akan merestui kalian berdua. Jangankan tunangan, nikah besok pun Papa akan selalu menyetujui dan merestui hubungan kalian. Memang Papa juga punya rencana untuk menjodohkan kalian."


Dara dan Alex saling menatap. Mereka saling melempar senyum. Tadinya Dara memang ragu untuk menerima cinta Alex. Namun karena Dara melihat kesungguhan Alex, akhirnya Dara mau juga menerima cinta Alex.


"Dara, apakah kamu benar-benar mencintai Alex?" tanya Pak Rajasa menatap Dara lekat.


Dara hanya tersenyum.


"Perasaan saya ke Mas Alex, sama seperti perasaan Mas Alex ke saya. Jika Mas Alex mau melamar saya, dan menjadikan saya tunangannya, saya mau. Tapi untuk menikah, saya masih butuh waktu untuk memikirkannya. Karena saya saja baru masuk di bangku perkuliahan."


"Iya Dara. Saya akan membantu kalian berdua untuk menyiapkan pesta pertunangan kalian. Saya akan mengundang tamu-tamu penting saya. Pokoknya pesta pertunangan kalian itu harus mewah. Dan harus banyak orang yang menyaksikannya. Bila perlu saya akan undang wartawan untuk meliputnya."


"Pak Rajasa, ini kan cuma pesta pertunangan. Alangkah baiknya, kalau pesta ini di adakan sederhana aja. Jangan ngundang orang banyak-banyak," ucap Dara.


"Nggak Dara. Alex itu kan anak saya satu-satunya. Saya harus buat pesta yang meriah untuk pertunangannya," ucap Pak Rajasa.

__ADS_1


__ADS_2