
Malam ini Pak Rajasa masih berada di ruang makan bersama istrinya. Mereka masih menikmati makan malamnya. Pak Rajasa dan Rita masih saling diam. Hanya sendok dan garpu yang sejak tadi masih saling bersahut-sahutan.
"Rita, minggu ini aku mau ke Bali," ucap Pak Rajasa membuka pembicaraan.
"Kamu mau keluar kota minggu ini Mas?" tanya Rita di sela-sela kunyahannya.
Pak Rajasa mengangguk. "Iya Rita."
"Ya udah. Kamu mau berapa lama di sana?"
"Nggak tahu. Aku cuma mau melihat perkembangan perusahaan aku yang ada di sana."
"Oh."
'Kalau Mas Rajasa nggak ada di rumah, aku malah seneng, aku bisa melakukan sesuka hati aku di rumah ini. Aku juga bisa jalan-jalan sepuasnya keluar.' batin Rita.
Rita bahagia jika saja suaminya itu pergi jauh darinya. Karena selama ini Rita juga sangat mengharapkan Pak Rajasa itu pergi untuk selamanya dari dunia ini agar dia bisa menguasai semua hartanya.
Namun langkah Rita saat ini tidak bisa bebas, karena Alex sudah tahu niat busuknya. Dan Alex tidak akan pernah membiarkan Rita bertindak terlalu jauh untuk menguasai harta ayahnya.
Setelah Rita menghabiskan makanannya, Rita kemudian mengambil tisu dan mengusap bibirnya dengan tisu. Setelah itu Rita bangkit dari duduknya.
"Aku mau ke kamar dulu ya Mas," ucap Rita sebelum pergi.
"Iya Rita."
Rita kemudian berjalan untuk ke kamarnya. Sementara Pak Rajasa masih tampak menyantap makanannya.
Tiba-tiba saja, fikiran Pak Rajasa tertuju pada Dara dan ke dua adik kembarnya. Dan ke tiga gadis itu ternyata adalah anak dari sahabat masa kecilnya.
Namun Pak Rajasa tidak tahu, kenapa anak-anak Darma Aji itu bisa hidup dalam kemiskinan. Padahal dulu, Pak Rajasa melihat kalau Darma Aji adalah anak orang berada sama seperti dirinya.
"Darma Aji. Kenapa anak-anaknya bisa sampai tinggal ditempat kumuh seperti itu. Bagaimana sebenarnya kehidupan keluarga mereka," gumam Pak Rajasa di sela-sela kunyahannya.
Dia tampak penasaran dengan kehidupan Darma setelah dia dewasa dan punya anak istri. Karena Pak Rajasa mengenal ayah Dara sewaktu mereka masih duduk di bangku SD.
Dan setelah itu, mereka putus hubungan karena Pak Rajasa harus pindah ke luar negeri ikut dengan ke dua orang tuanya.
Ya, Pak Rajasa memang lulusan luar negeri. Masa mudanya dia habiskan di luar negri. Dan setelah menikah, baru dia menetap di Indonesia bersama Bu Vivi istrinya sampai sekarang.
__ADS_1
"Seandainya, Dara dan ke dua adik kembarnya memang benar-benar anak dari Darma Aji, aku janji aku akan membantu perekonomian mereka. Karena dulu Darma sudah sangat baik padaku," ucap Pak Rajasa.
Setelah menghabiskan makanannya, Pak Rajasa bangkit dari duduknya. Dia pergi ke dapur untuk memanggil pembantunya.
"Lastri...! Ella..." seru Pak Rajasa memanggil ke dua pembantunya.
Beberapa saat kemudian, Lastri seorang wanita yang usianya sudah empat puluh tahunan, mendekat ke arah Pak Rajasa.
"Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lastri.
"Tolong bereskan makanan yang ada di ruang makan ya. Saya mau langsung ke kamar."
"Iya Tuan."
Pak Rajasa kemudian pergi meninggalkan dapur dan berjalan untuk ke kamarnya. Sementara Lastri berjalan ke ruang makan, untuk membereskan meja makan.
Lastri mengambil piring-piring kotor yang ada di meja makan, dan membereskan makanan sisa yang ada di atas meja makan itu.
Sesampainya di depan kamarnya, Pak Rajasa masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak melihat Rita ada di dalam kamar.
"Ke mana istriku," gumam Pak Rajasa sembari menatap ke sekeliling.
"Ternyata Rita ada di kamar mandi," ucap Pak Rajasa.
Pak Rajasa kemudian menutup pintu kamarnya dan berjalan ke mendekati tempat tidurnya. Dia kemudian duduk di sisi tempat tidurnya.
Beberapa saat kemudian, Rita keluar dari kamar mandi. Dia sudah memakai baju tidur lengkap.
Dia kemudian berjalan mendekati Pak Rajasa dan duduk di sisi Pak Rajasa.
"Ada apa Mas? kenapa kamu ngelihatin aku seperti itu?" tanya Rita.
"Rita, aku pengin punya anak dari rahim kamu Rita," ucap Pak Rajasa.
"Apa! kamu mau punya anak dari aku?" Rita terkejut saat mendengar ucapan suaminya.
"Kenapa Rita? kamu kok seperti terkejut begitu?" tanya Pak Rajasa.
"Em...bukan begitu Mas. Tapi usia kamu kan udah nggak muda lagi. Dan Alex itu kan sudah sangat dewasa. Lucu sekali jika kamu punya anak dan Alex punya adik lagi," ucap Rita.
__ADS_1
Pak Rajasa terkekeh.
"Lho, Rita. Apa masalahnya dengan usiaku dan usia Alex. Aku memang sudah tua. Tapi aku masih perkasa. Dan aku masih bisa memberikan kamu nafkah lahir batin."
Rita tersenyum kecut saat mendengar ucapan suaminya. Sebenarnya dia malas kalau suaminya harus membahas soal anak.
Rita tidak mau punya anak dari lelaki tua itu. Dia hanya ingin menguasai harta Pak Rajasa yang berupa rumah, mobil, perusahaan dan aset-aset berharga Pak Rajasa lainnya. Tapi sampai saat ini, Rita belum berhasil karena Alex yang selalu menghalanginya.
"Tapi aku belum siap punya anak Mas. Aku belum mau direpotin anak. Aku masih ingin bebas tanpa harus direcoki anak."
"Rita. Aku mau kamu hamil. Sekarang aku minta sama kamu, berhentilah pakai alat kontrasepsi. Kita sudah lima tahun menikah Rita. Mau sampai kapan kamu belum siap terus."
"Tapi Mas..."
"Rita. Untuk apa aku menikah kamu kalau kamu saja tidak bisa memberikan aku keturunan. Aku menikah lagi dengan wanita yang lebih muda, karena aku ingin punya keturunan. Tapi kenapa sih dengan kamu. Sejak pertama kali menikah denganku, kamu bilang belum siap terus punya anak."
'Aku nggak mau punya anak dari Pak Rajasa. Melayaninya saja sebenarnya aku malas. Dia lelaki tua yang sudah bau tanah. Usianya juga sudah lima puluh tahun lebih. Masih saja ingin punya anak. Kalau saja bukan karena harta, aku tidak akan mau menikah dengan lelaki tua ini.'
Rita bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan mendekati jendela kamarnya dan menatap ke luar jendela.
"Kalau aku punya anak, apa kamu mau memberikan semua kekayaanmu untuk anak aku?" tanya Rita tiba-tiba.
"Ya tentu dong. Aku akan memberikan apa saja untuk ahli waris aku."
Rita memutar tubuhnya dan menatap Pak Rajasa.
"Kalau begitu, jika aku punya anak, berikan seluruh harta kamu kepada anak aku. Dan jangan kamu kasih sepeser pun harta kamu untuk Mbak Vivi dan Alex."
Pak Rajasa terkejut saat mendengar ucapan Rita. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Rita.
"Rita. Nggak bisa begitu dong. Vivi itu masih sah istri aku. Dan Alex juga anak kandung aku. Aku harus adil memberikan harta warisan aku untuk anak-anak aku. Aku nggak mau berat sebelah. Kamu dan anak kamu akan mendapatkan separuh dari harta aku, Alex dan ibunya juga akan mendapatkan separuhnya."
"Ya udah. Kalau kamu cinta sama aku dan ingin seorang anak dari aku, aku minta sama kamu, kamu ceraikan Vivi dan kamu ganti nama rumah ini menjadi nama aku. Bila perlu, kamu ganti nama perusahaan kamu menjadi milik aku. Gimana?"
Pak Rajasa diam. Untuk soal itu, dia tidak bisa menjawab apapun.
"Kenapa kamu diam Mas? katanya kamu cinta sama aku? aku mau bukti cinta kamu ke aku. Aku ingin kamu mengganti nama perusahaan kamu dan rumah ini atas namaku."
"Maaf Rita. Kalau itu aku belum bisa. Karena di dalam rumah ini dan perusahaan aku, masih ada hak Vivi dan Alex," ucap Pak Rajasa.
__ADS_1
"Ya udah kalau begitu. Jangan nuntut aku untuk bisa memberikan kamu seorang anak. Kecuali kalau kamu mau memberikan seluruh harta kamu untuk aku dan anak kita nanti."