Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kamar hotel


__ADS_3

"Kamu tidak perlu takut denganku Dara. Aku akan memanjakan kamu untuk malam ini," ucap Alex yang semakin kencang saja saat menggenggam tangan Dara.


"Iya Tuan." Dara hanya bisa mengiyakan saja ucapan Alex itu.


"Jangan panggil aku Tuan. Panggil aku Alex saja."


"Kenapa? kenapa aku harus memanggil kamu Alex. Itu sangat tidak sopan. Apalagi, usia kita berbeda jauh."


"Karena saat ini, kamu bukan pembantuku. Tapi kamu, adalah teman kencan ku," jelas Alex.


Dara hanya mengangguk. Setelah itu dia menatap Alex.


"Aku tidak biasa memanggil lelaki hanya dengan sebutan nama. Tapi aku biasa memanggil Mas."


"Ya, terserah kamu saja Dara mau manggil aku siapa. Yang penting jangan panggil aku Tuan lagi di saat kita sedang berdua seperti ini."


"Iya Mas."


Alex tersenyum. Dia tersenyum jahat. Satu langkah lagi, dia akan bisa memiliki gadis itu seutuhnya.


"Sekarang, kita makan," ucap Alex sembari melepaskan tangan Dara.


Dara mengangguk. Setelah itu, Dara dan Alex mulai menyantap makanannya.


Alex tampak menikmati makanannya. Sementara Dara, hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Dara masih memikirkan ibu dan ke dua adiknya yang sudah seharian dia tinggalkan.


"Kenapa makanannya cuma di aduk-aduk saja Dara? apa makanannya nggak enak?" tanya Alex di sela-sela kunyahannya.


Dara menatap Alex sejenak sebelum dia menatap ke arah lain.


"Dara. Ada apa?" tanya Alex.


Dara yang ditanya hanya diam. Fikirannya saat ini, memang sedang tidak bersamanya. Dara memang sejak tadi masih memikirkan ibu dan ke dua adiknya.


"Apakah uang yang aku berikan masih kurang?" tanya Alex. "Aku bisa menambahnya lagi."


"Tidak Mas. Aku cuma lagi kefikiran ibu aku dan adik aku."


"Kamu tenang saja Dara. Setelah ini, aku akan antar kamu pulang. Tapi, kamu harus habiskan dulu makanannya."


"Baiklah. Kamu janji kan akan ngantar aku pulang setelah ini?"

__ADS_1


"Iya."


Dara dan Alex kemudian melanjutkan makannya.


Selesai makan malam, Alex dan Dara berjalan pergi meninggalkan cafe. Mereka menuju ke parkiran mobil dan masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan cafe.


"Kita mau ke mana lagi Mas? kamu mau ngantar aku pulang kan?" tanya Dara.


Alex yang ditanya hanya diam. Dia masih fokus menyetir. Sementara sejak tadi Dara masih mengoceh. berharap Alex mau mengantarkan dia pulang. Karena sudah seharian Alex mengajaknya jalan.


"Tuan, kamu mau antarkan aku pulang ke rumah kan ? aku ingin pulang. Adik-adik aku pasti sudah menungguku di rumah."


Alex masih diam. Entah dia mendengar atau tidak ucapan gadis yang ada di sampingnya.


"Tuan, atau kamu antarkan aja aku ke rumah sakit. Ibu aku lagi ada di rumah sakit. Bisa kamu antar aku ke sana? pasti sekarang ibu aku lagi nungguin aku." Dara sejak tadi masih membujuk Alex.


Namun Dara terkejut saat tiba-tiba saja, Alex membentaknya. "Dara! jangan banyak bicara! aku akan mengantarmu pulang besok!"


Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.


"Apa! besok? bukankah tadi Tuan bilang, Tuan mau langsung antar aku pulang. Kenapa Tuan bilang Tuan mau ngantar aku pulang besok? terus sekarang kita mau ke mana lagi?" tanya Dara yang sama sekali belum tahu apa tujuan Alex.


"Nanti, kamu juga akan tahu, ke mana aku akan membawamu. Pokoknya, aku akan memberikan kamu kejutan," ucap Alex.


Beberapa saat kemudian, Dara terkejut saat mobil Alex berhenti tepat di depan sebuah hotel bintang lima.


'A-apa? ini kan hotel. Untuk apa Tuan Alex membawa aku ke hotel. Apa jangan-jangan, dia mau ngapa-ngapain aku. Duh, bagaimana ini. Kenapa buru-buru sekali dia bawa aku ke hotel? Dia sama sekali tidak memberikan aku waktu untuk berfikir'


Dara tampak panik saat menatap ke arah hotel itu. Alex sudah melepaskan sabuk pengamannya. Setelah itu, Alex turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil Dara.


"Ayo, turun Dara!" pinta Alex.


Dara yang disuruh turun, seperti ragu untuk turun. Dia masih tetap berdiam diri di dalam mobilnya.


"Kamu tidak lupa kan dengan janji kamu. Kamu sudah menerima cek dua puluh juta dariku. Sekarang, aku mau minta kamu, untuk temani aku malam ini," Alex menatap Dara lekat.


Deg deg deg ..


Jantung Dara berdebar kencang saat mendengar ucapan Alex. Keringat dingin sudah mulai membasahi kening Dara. Dara sejak tadi masih berdiam diri di dalam mobil. Sementara Alex sudah tidak sabar untuk membawa Dara masuk ke dalam hotel.


"Tuan, kenapa kamu nggak bilang dulu sama aku, kalau kita mau ke sini. Jadi aku kan bisa siap-siap dulu. Kalau malam ini, aku belum siap Tuan. Dan kamu juga bilang, kalau kita cuma mau dinner kan," ucap Dara.

__ADS_1


"Dara, sudahlah, jangan banyak bicara. Sekarang kamu turun dan ikut aku masuk ke dalam. Kita akan bersenang-senang di dalam sayang."


Dara menggeleng.


"Nggak, aku nggak mau Tuan. Kan Tuan bilang, malam ini kita cuma dinner aja."


"Dara. Jangan banyak protes. Aku nggak suka kamu terlalu banyak basa-basi Dara. Sekarang ayo turun dan kita masuk."


"Aku nggak mau Tuan. Aku takut..."


"Apa yang kamu takutkan. Kalau nggak malam ini, lalu kapan lagi Dara. Setelah mendapat cek itu, belum tentu kamu kembali lagi. Bisa saja kamu kabur kan."


"Aku kan udah janji, nggak akan bawa uang kamu kabur."


"Ya, bisa saja kamu berubah fikiran dan mengembalikan uang itu. Aku tidak mau kamu mengecewakan aku Dara"


Alex sejak tadi, sudah memaksa Dara turun. Namun, Dara tidak mau turun. Dia tampak ketakutan saat Alex akan mengajaknya masuk ke dalam hotel. Membuat kesabaran Alex habis.


"Dara, kamu mau turun sendiri atau aku paksa kamu dan seret kamu turun!" ucap Alex dengan nada tinggi.


"Ba-baik. Aku akan turun."


Perlahan Dara turun dari mobil Alex. Alex tersenyum dan langsung merangkul pinggang Dara. Alex dan Dara kemudian masuk ke dalam hotel itu.


Alex sudah memesan satu kamar hotel untuk malam ini.


Dara dan Alex sudah sampai di depan kamar hotel. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar itu. Dara terkejut saat melihat kamar hotel itu, dihias sangat indah.


Kamar itu, di hias sedemikian rupa menjadi seperti taman. Banyak bunga-bunga indah dan wangi yang bertebaran di dalam kamar itu. Ada juga lilin-lilin kecil yang menghiasi sekeliling kamar itu.


Di atas tempat tidur, juga sudah banyak bunga yang dihias menjadi bentuk hati. Sepertinya Alex memang sudah menyiapkan semuanya dari awal.


Dara bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dia tidak mungkin bisa lari jika sudah terperangkap di kamar hotel itu.


Dara masih menatap ranjang hotel itu. Dia masih terpaku pada keindahan kamar itu.


Dara terkejut saat tiba-tiba saja Alex mengunci pintu.


"Dara, apa kamu tahu, kalau aku sudah tertarik padamu sejak pertama aku melihatmu. Aku benar-benar menginginkan kamu malam ini Dara," bisik Alex tepat di dekat telinga Dara.


.

__ADS_1


__ADS_2