Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Rekaman CCTV


__ADS_3

"Sudahlah Rita. Aku sudah tahu semuanya. Kamu itu memang wanita yang sangat licik. Tidak usah kamu jelaskan ini itu padaku. Karena aku tidak akan pernah percaya dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut kamu," ucap Alex dengan menunjukan jari telunjuknya ke arah Rita.


"Apakah sebegitu bencinya kamu sama aku Lex. Apakah kamu tidak ingat dengan semua masa lalu kita. Apakah kamu lupa, kalau kita dulu pernah saling mencintai.


"Andai, waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu Lex. Aku ingin selalu bersama kamu dan aku tidak akan mungkin menikahi ayah kamu," ucap Rita menatap Alex dalam.


Alex terkejut saat Rita meraih tangannya. Dengan sigap Alex segera menghempaskan tangan Rita.


"Nggak usah sentuh-sentuh tangan aku Rita!" ucap Alex dengan nada tinggi.


"Lex, berhentilah kamu untuk membenci aku. Aku sekarang istri ayah kamu. Belajarlah kamu menerima aku. Jika kamu tidak mau menerima aku sebagai ibu sambung kamu, setidaknya kamu mau menghormati aku. Kamu harus ingat Lex, kalau kita pernah menjadi sepasang kekasih."


"Aku tahu kenapa kamu bisa bilang seperti itu. Karena kamu melihat sekarang aku itu sudah jauh lebih sukses dari ayah aku. Makanya, kamu pura-pura baik di depan aku. Padahal sebenarnya, hati kamu itu busuk."


"Aku nggak pernah pura-pura baik sama kamu Lex. Aku memang tulus minta maaf sama kamu. Tolong jangan benci aku dan jangan bersikap dingin sama aku," ucap Rita dengan wajah memelas.


"Aku sudah bukan Alex yang dulu lagi Rita. Sekarang aku sudah tidak butuh wanita seperti mu. Karena wanita-wanita yang dekat denganku jauh lebih cantik dan jauh lebih kaya."


"Lex, kita nggak mungkin bisa seperti dulu lagi. Karena sekarang aku ini ibu sambung kamu. Kita sudah menjadi muhrim. Aku tahu kamu membenci aku. Tapi setidaknya kamu mau bersikap baik sama aku. Jangan dingin terus seperti ini."


Alex dan Rita sejenak saling diam.


Seandainya aku tahu, kalau Alex akan berubah menjadi orang sukses seperti ini, aku akan pertahankan dia dan tidak akan pernah melepaskan dia. Andai aku tidak memutuskan hubungan aku dengan Alex, pasti sekarang kami masih pacaran. Mungkin kami sudah menikah dan punya anak dan kami akan hidup bahagia dengan bergelimang harta. Kenapa takdir ku harus menjadi istri Pak Rajasa, bukan istrinya Alex.


"Alex...! Alex...!" seru Pak Rajasa.


Seruan Pak Rajasa sudah membangunkan Rita dari lamunannya.


Dengan sekejap, Pak Rajasa sudah sampai di dekat Rita dan Alex.


"Saya cariin kemana-mana, ternyata kalian ada di sini?" ucap Pak Rajasa."Saya senang lihat kalian akur seperti ini"


"Ada apa Pa?" tanya Alex mendekat ke arah ayahnya.


"Alex, katanya kamu mau cek CCTV rumah papa. Ayo Alex, kita cek sekarang!" ajak Pak Rajasa.

__ADS_1


Alex mengangguk.


Rita terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa.


Apa! Alex dan Pak Rajasa mau cek CCTV rumah ini. Gawat ini. Bagaimana kalau aku ketahuan pernah membawa Martin ke sini. Bisa mati aku kalau ketahuan selingkuh dibelakang Pak Rajasa.


"Cek CCTV? kenapa harus cek CCTV segala," ucap Rita tampak gugup.


"Kenapa emang Rita. Saya kan mau cek CCTV. Biar saya tahu, siapa-siapa saja yang tadi merampok di rumah saya. Saya mau lapor polisi dengan membawa bukti rekaman CCTV itu. Tidak mungkin kan kalau perampok itu merusak rekaman CCTV nya," ucap Pak Rajasa.


Rita sudah tidak bisa berkutik lagi sekarang. Dia hanya bisa diam agar Pak Rajasa dan Alex tidak mencurigainya.


Pak Rajasa dan Alex kemudian melangkah pergi dan masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di dalam rumah Pak Rajasa. Begitu juga dengan Rita yang mengikuti Pak Rajasa dan Alex masuk ke dalam kamar itu.


Pak Rajasa dan Alex akan melihat rekaman CCTV itu lewat komputer.


"Ayo Alex. Cepat nyalakan. Papa sudah nggak sabar ingin melihatnya."


Alex kemudian menyalakan komputer yang ada di kamar itu. Namun Pak Rajasa, Rita dan Alex terkejut saat melihat tidak ada gambar apapun di dalam rekaman CCTV itu.


"Kok bisa begini ya Lex. Jadi kita tidak bisa Lex, melihat wajah perampok itu."


"Pa, rampok-rampok itu ternyata sangat cerdik Pa. Mereka sudah mengatur semuanya. Mereka sudah merusak CCTV kita."


"Lalu bagaimana caranya Alex."


"Entahlah Pa."


Rita tersenyum saat Alex dan Pak Rajasa tidak menemukan gambar apapun di dalam rekaman CCTV itu.


Ah, syukurlah. Tapi kenapa bisa ya, CCTV itu bisa rusak dan nggak ada gambarnya. Aneh banget.


"Ya sudahlah Lex. Biarkan saja."


Tanpa banyak bicara, Pak Rajasa keluar dari kamar itu. Sementara Alex hanya bisa menatap Rita tajam.

__ADS_1


"Ka-kamu kenapa ngelihatin aku seperti itu Lex," ucap Rita.


"Jangan-jangan, kamu ya dalang dari semua ini."


"A-apa! kamu kok bisa sih nuduh aku seperti itu."


"Ya bisa aja. Kamu menyuruh orang bayaran kamu untuk merampok di rumah ini."


"Ya Tuhan Lex, aku sama sekali nggak tahu soal ini. Kenapa kamu tega banget sih memfitnah aku seperti itu."


"Sudahlah Rita ngaku aja. Belakangan ini, banyak banget kejadian aneh. Pertama Papa sudah kehilangan uang satu milyar di kantor. Sekarang ada rampok yang bisa merusak CCTV rumah. Kalau bukan kamu, siapa lagi dalangnya.


Rita diam.


Kalau uang satu milyar, memang aku yang udah mengambilnya. Tapi kalau rampok, siapa ya yang sudah berani merampok di rumah ini. Aku harus telpon Martin. Aku harus ceritakan semua kejadian ini sama Martin.


"Hei Rita. Kenapa kamu malah bengong, apa benar kamu pelaku yang sebenernya, apa kamu dalang dari perampokan ini?"


"Nggak. Jangan sembarangan kamu bicara Lex. Coba kamu fikir, untuk apa aku merampok perhiasan milik aku sendiri. Untuk apa. Jangan ngada-ngada kamu ya."


Rita sudah malas meladeni Alex. Dia kemudian pergi meninggalkan Alex dan keluar dari kamar itu.


Rita pergi ke kamarnya untuk mencari suaminya. Namun, Rita tak melihat Pak Rajasa di kamar.


"Kemana Mas Rajasa. Kenapa dia nggak ada di kamarnya. Pergi ke mana dia."


Rita menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia mulai berfikir.


"Kenapa ada yang aneh ya. Kenapa CCTV itu bisa rusak. Siapa yang sudah merusak CCTV itu. Atau rampok-rampok itu memang pernah datang ke sini. Karena mereka sudah hafal betul letak-letak barang-barang berhargaku," gumam Rita.


"Aku harus telpon Martin. Martin harus tahu soal ini."


Rita kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas ranjangnya untuk menelpon Martin.


Tut...Tut....Tut...

__ADS_1


"Duh, kemana ini Martin. Kenapa dari tadi aku nelpon nggak di angkat-angkat," ucap Rita.


__ADS_2