Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Makan bareng


__ADS_3

"Halo Mas...! kenapa kamu diam aja."


"Duh, Maria. Udah dulu ya. Aku lagi sibuk banget nih. Nanti kita telponan lagi ya."


"Yah sayang. Kok gitu sih. Aku masih kangen nih. Kapan kita bisa ketemu."


"Iya. Nanti kita ketemu. Kapan-kapan ya, kalau aku udah nggak sibuk."


"Yah, Mas. Kapan sih kamu nggak sibuk. Perasaan kamu setiap hari sibuk mulu."


"Ya maaf sayang. Aku juga kan setiap hari kerja di kantor. Udah dulu ya. Nanti kita telponan lagi bye..."


"Bye..."


Alex kemudian mematikan saluran telponnya.


"Cepat amat Mas, telponnya? dari siapa? cewek kamu ya?" tanya Dara.


Alex hanya mengangguk. Dia kemudian mulai melanjutkan makannya.


Ring ring ring...


Ponsel Alex kembali berdering. Namun lagi-lagi Alex membiarkannya.


"Siapa lagi mas? wanita itu lagi?" tanya Dara.


Alex menggeleng.


"Bukan."


"Terus dari siapa? kenapa nggak di angkat?"


"Biarinlah nggak penting."


Dara bangkit dari duduknya. Dia sebel sebenarnya jika dia harus duduk satu meja dengan Alex. Karena Dara berisik dengan bunyi ponsel Alex. Sekaligus dia muak dengan Alex yang masih berhubungan dengan banyak wanita.


"Dara, kamu mau kemana?" tanya Alex.


"Aku mau udahan Mas makannya. Aku mau ke kamar mama kamu," jawab Dara.


"Kok udahan sih. Kamu belum habiskan lho makanannya."


"Tapi aku udah kenyang. Kamu ngambil nasinya kebanyakan Mas."


"Dara, jangan gitu dong. Aku kan belum selesai makan. Kamu bisa kan duduk lagi dan temani aku sampai aku selesai makan?" Alex menatap Dara lekat.


"Maaf Mas. Aku nggak bisa temani kamu. Kenapa kamu nggak minta di temani cewek-cewek kamu aja."

__ADS_1


"Dara, kamu marah sama aku? karena banyak cewek yang menghubungi aku malam ini?"


"Siapa yang marah. Nggak kok. Itu juga kan bukan urusan aku."


Alex berdiri dan menghampiri Dara.


"Dara, ayolah. Habisin makanan kamu. Dari mama ada di rumah sakit, hape ini aku matiin. Baru ini aku aktifkan hapenya. Ya aku nggak tahu, kenapa banyak banget cewek-cewek yang nelpon aku."


"Itu karena kamu sendiri Mas. Karena kamu yang sudah banyak memberikan mereka harapan palsu."


"Dara, jangan marah dong. Oke aku akan nonaktifkan hape ini lagi. Biar nggak berisik ya. Tapi kamu duduk lagi ya. Temani aku makan."


"Aku nggak mau. Aku udah kenyang."


"Oke. Kalau kamu udah kenyang, nanti aku yang akan habisin makanan kamu. Kamu nggak usah habisin nggak apa-apa. Yang penting kamu temani aku ya."


Dara mengangguk. Dia kemudian duduk kembali di dekat Alex.


"Mau sampai kapan sih Mas, kamu PHP in itu cewek-cewek?" tanya Dara.


Alex diam. Dia masih tampak menikmati makanannya.


"Kamu nggak takut dapat karma?"


Alex menghentikan kunyahannya dan menatap Dara.


"Iya. Karma. Karena kamu sudah banyak nyakitin cewek-cewek kamu."


"Maksud kamu?"


"Dara, asal kamu tahu ya. Semua cewek yang dekat dengan aku itu nggak ada yang tulus cinta sama aku. Mereka cuma memandang aku dari segi tampang, fisik dan penampilan. Mereka dekat dengan aku cuma karena harta aku aja Dara."


"Masa sih? terus dari mana kamu tahu soal itu?"


"Ya karena kebanyakan dari mereka matre. Itu yang membuat aku malas untuk ngajak wanita untuk seriusan."


Dara manggut-manggut mendengar ucapan Alex." Oh. Gitu ya Mas."


"Aku pengin menikah sekali seumur hidup aku. Aku nggak mau ada yang namanya perceraian dalam hidup aku. Dan aku mau memilih wanita yang benar-benar tulus mencintai aku. Wanita yang nggak matre dan suka berfoya-foya."


Dara sekarang mengerti kenapa Alex memilih untuk melajang sampau usianya mencapai 35 tahun. Mungkin karena dia belum mendapatkan wanita yang pas untuk dia.


"Jadi hubungan kamu dengan mereka, hanya untuk main-main mas? nggak ada wanita yang mau kamu ajak seriusan?"


"Ya karena aku belum mendapatkan wanita itu Dara."


"Semoga, kamu segera mendapatkan wanita itu ya Mas. Biar kamu cepat-cepat nikah dan bisa memberikan cucu untuk mama kamu."

__ADS_1


"Doain ya Dara. Biar ada wanita yang mau tulus mencintai aku. Karena jika aku menikah nanti, aku juga pengin istri aku mau sayang sama mama aku dengan tulus."


"Tapi aku yakin kok Mas. Di dunia ini pasti masih ada wanita yang tulus."


"Iya Dara. Aku tahu itu. Contohnya, wanita yang sekarang ada di dekat aku," ucap Alex.


Dara menatap sekeliling. Namun tidak ada siapa-siapa di sekeliling Dara. Dara kemudian menunjuk dirinya sendiri.


"Maksud kamu aku?"


"Ya, siapa lagi Dara."


Di sisi lain, Lestari masih menatap dari kejauhan Dara dan Alex di ruang makan.


"Ya ampun, kenapa Dara bisa seberuntung itu ya, di ajak makan semeja bareng dengan Tuan Alex. Padahal Dara saja penampilannya biasa saja. Wajahnya juga pas-pasan. Kok bisa ya, Tuan Alex mau dekat-dekat dengan dia. Apa jangan-jangan, Tuan Alex suka lagi sama Dara," ucap Lestari.


Lestari terkejut saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Tari. Kamu ternyata ada di sini? kamu lagi ngapain sih? ngintipin Tuan muda?" tanya Mbak Mirna.


"Em, nggak kok. Aku cuma lagi heran aja. Tuan Alex dan Dara itu baru saling kenal. Tapi kenapa mereka kelihatan akrab banget begitu ya. Punya apa sih sebenarnya Dara itu sampai Tuan Alex bisa mau dekat sama dia?"


"Punya apa? apa maksud kamu?"


"Siapa tahu Dara itu punya susuk yang bisa membuat lelaki terjerat sama dia."


"Hush, ngaco kamu. Nggak usah berfikiran yang aneh-aneh tentang Dara. Dara itu gadis yang baik dan tulus. Dia selalu ada untuk Tuan Alex di saat Tuan Alex terpuruk. Kita doakan saja semoga mereka berjodoh."


"Iya deh. Kalau Dara jadi Nyonya di rumah ini, aku yakin Dara itu akan jadi Nyonya Alex yang sangat baik. Karena Dara itu memang baik, beda dari pacar-pacarnya Tuan Alex. Mereka itu kan sombong dan sok cantik semua.


"Nah itu kamu tahu. Udah yuk, kita tinggalin mereka. Kita kan masih banyak kerjaan di dapur."


"Iya Mbak."


Lestari dan Mbak Mirna kemudian kembali ke dapur.


Setelah menghabiskan makanannya, Alex kemudian menatap Dara.


"Mas, kenapa ngelihatin aku seperti itu?" tanya Dara yang merasa tidak enak saat dilihatin Alex.


"Kamu mau ngapain? kenapa kamu beres-beres?"


"Aku mau cuci piring-piring ini dan bawa makanan-makanan sisa ini ke dapur Mas."


"Nggak usah Dara. Itu bukan kerjaan kamu. Itu kerjaannya Mbak Mirna dan Lestari. Kamu fokus aja sama mama."


"Iya deh. Sekarang kita temui mama kamu lagi ya."

__ADS_1


"Iya Dara."


****


__ADS_2