Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Menjemput Dara


__ADS_3

Tin tin tin...


Klakson mobil dari depan rumah Dara sudah terdengar. Dara bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah ke arah jendela kamarnya untuk melihat ke depan.


"Mobil siapa sih yang datang," ucap Dara.


Dara terkejut saat melihat keluar jendela. Ternyata itu mobil Alex.


"Tuan Alex, ngapain dia ke sini," ucap Dara.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah Dara.


Ica dan Oca yang mendengar ketukan itu saling menatap.


"Siapa ya yang datang. Jangan-jangan, itu Om Rajasa. Udah lama kan dia tidak ke sini," ucap Ica.


"Kak Ica. Apa Kakak lupa. Kalau Om Rajasa itu kan sekarang lagi ada di Bali. Dan ini juga belum ada satu minggu. Masak dia sudah pulang sih."


"Ya udah. Aku coba buka deh."


Ica melangkah ke ruang tamu untuk membuka pintu depan.


Ica terkejut saat melihat Alex.


'Ini bukanya majikannya Kak Dara,' kenapa dia ke sini. Apa dia mau cari Kak Dara.'


"Selamat malam," ucap Alex.


"Malam, maaf. Mau cari siapa ya?"


"Daranya ada ?"


"Oh, Kak Daranya ada di kamar."


"Dia udah tidur?" tanya Alex.


Ica menggeleng.


"Belum kok. Tunggu sebentar ya, aku panggilkan."


"Iya."


Ica masuk ke dalam untuk memanggil kakaknya. Dia kemudian masuk ke dalam kakaknya.


"Kak Dara, ada tamu..." ucap Ica.


Dara berjalan menghampiri Ica.


"Tamu siapa?"


"Cowok cakep?"


"Kamu bilang apa? apa kamu bilang kakak ada di dalam?"

__ADS_1


"Iya."


"Ih. Kenapa kamu bilang kakak ada di dalam. Harusnya tadi kamu bilang kakak nggak ada."


"Kok gitu. Aku nggak mau bohong Kak."


"Ya nggak apa-apa kalau bohong untuk kebaikan," ucap Dara. Dia tampak kesal dengan adiknya.


"Kebaikan siapa Kak? kebaikan kakak? kalau aku bohong, aku mau bilang apa sama lelaki itu? mau bilang kakak lagi keluyuran di luar gitu."


Dara akhirnya pergi juga ke depan untuk menemui Alex.


Alex tersenyum lebar saat melihat Dara. Sementara Dara membuang mukanya tak ingin menatap Alex.


Alex mengernyitkan alisnya bingung dengan sikap Dara. Alex kemudian mendekat ke arah Dara.


"Kenapa kamu pulang nggak bilang dulu sama aku Dara?" tanya Alex.


"Untuk apa aku bilang dulu sama anda Tuan?"


"Dara, kan aku belum ngizinin kamu pulang."


"Tapi aku udah pengin pulang. Risih aku lihat kamu mesra-mesraan sama wanita itu."


"Lho, itu ternyata alasannya kamu pulang tanpa pamit dulu sama aku. Padahal aku mau ajak kamu untuk ke rumah sakit lagi Dara."


Alex menatap ke dalam ruang tamu.


"Ya udah, kalau mau masuk. Masuk aja," ucap Dara mempersilahkan Alex masuk ke dalam.


Alex kemudian masuk ke dalam. Selama Alex mengenal Dara, baru pertama kalinya dia masuk ke dalam rumah Dara. Rumah yang terbilang sangat kecil untuknya.


"Nggak suruh aku duduk Dara?" tanya Alex lagi yang melihat Dara terdiam.


"Silahkan kalau Tuan nggak keberatan duduk di sofa butut rumah aku," ucap Dara.


"Tentu saja, aku nggak keberatan," ucap Alex sembari duduk di sofa ruang tamu rumah Dara.


Dara masih berdiri. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini. Mungkin dia merasa aneh saja dengan Alex. Karena Alex sudah mau masuk dan duduk di dalam rumahnya. Padahal dulu, setiap kali dia ngantar Dara, dia tidak pernah mau turun dari mobilnya. Apalagi untuk masuk ke dalam rumah Dara.


Alex tiba-tiba saja menarik tangan Dara sehingga Dara sampai terjatuh di pangkuan Alex.


Dara membelalakkan matanya saat wajahnya berdekatan dengan wajah Alex. Dengan sigap Dara langsung bangkit berdiri.


"Tuan Alex, apa yang kamu lakukan?" tanya Dara menatap Alex tajam.


Dara tampak kesal dengan apa yang sudah Alex lakukan. Untung saja, adik-adik Dara berada di kamar. Jadi mereka tidak melihat apa yang barusan terjadi pada Alex dan Dara. Jika sampai dua anak itu lihat, pasti mereka akan salah paham dengan hubungan kakaknya dan Alex itu.


"Yah, lagian kenapa kamu berdiri saja. Tadi kamu nyuruh aku duduk. Sekarang kamu malah berdiri aja begitu. Duduklah!" pinta Alex.


"Iya."


Dara kemudian duduk di sofa ruang tamu agak jauh dari Alex duduk. Dara tidak ma dekat-dekat dengan Alex. Karena Dara tahu, bagaimana mesumnya lelaki itu.

__ADS_1


Alex menatap jam yang ada di tangannya.


"Sudah jam sembilan Dara. Apa kamu mau menemani aku ke rumah sakit. Kasihan Ratih dan Lestari. Dia pasti pengin istirahat."


"Untuk apa Tuan ngajak aku. Aku nggak mau. Lagian, pacar Tuan kan banyak. Kenapa nggak ajak saja salah satu dari mereka."


"Maksud kamu apa Dara?"


"Kenapa nggak ajak saja pacaran Tuan yang tadi siang."


"Aku nggak mau ngajak -ngajak pacar aku. Aku cuma mau kamu aja yang temani aku ke rumah sakit Dara. Karena cuma kamu yang aku butuhkan saat ini."


Dara masih cemberut. Dia masih kesal saja jika dia terbayang Alex bersama Desi tadi siang.


"Dara, sebenarnya kamu kenapa sih? tadi kamu nggak seperti ini. Tapi kamu jadi jutek gini."


"Aku nggak apa-apa."


"Apa kamu cemburu dengan Desi?" tanya Alex yang membuat Dara terkejut.


"Apa! cemburu? aku cemburu sama Desi? untuk apa aku cemburu?"


Alex terkekeh.


"Barang kali kamu cemburu Dara, soalnya yang aku perhatikan, semakin ke sini kamu seperti mulai suka ya sama aku."


"Apa! ih. Kepedean banget sih kamu Tuan."


"Dara, bisa nggak sih jangan panggil aku Tuan. Panggil aku Mas aja Dara. Seperti waktu itu. Lebih romantis menurut aku."


"Mas?"


"Iya. Tapi terserah kamu sih, mau panggil aku apa saja. Yang penting jangan panggil aku Om, Pak, Bang, atau Tuan. Karena aku nggak suka."


"Kenapa nggak suka?"


"Tuan itu panggilan untuk pembantu aku Dara, kalau Om aku belum terlalu tua, kalau bang aku bukan tukang ojek atau orang jualan. Kalau Pak, bisa nggak panggil Pak kalau di kantor aja."


"Oke. Aku akan belajar panggil kamu mas."


Alex tersenyum.


"Nah gitu dong. Kan biar kita lebih akrab aja gitu," ucap Alex.


"Sebenarnya, kamu ke sini mau ngapain sih?" tanya Dara.


"Mau jemput kamu. Aku mau ke rumah sakit. Tapi aku mau aja kamu ke sana. Aku nggak punya teman di sana Dara. Kalau Ratih dan Tari, kamu tahu kan kalau dia harus kerja. Kasihan Mbak Mirna nya kerja sendirian aja."


"Baiklah. Aku mau. Tapi tunggu dulu ya. Aku mau ganti baju dulu."


"Iya Dara."


Dara bangkit dari duduknya. Dia kemudian berjalan ke arah kamarnya. Dia akan bersiap-siap untuk ke rumah sakit malam ini.

__ADS_1


__ADS_2