
Alex memutar tubuhnya. Alex menghentikan langkahnya saat dia menginjak sesuatu.
Alex melihat ke bawah.
"Apa ini," ucap Alex sembari memungut sebuah kertas.
"Ini kan cek yang aku kasih ke Dara. Kenapa masih ada di sini. Apa Dara nggak ambil lagi cek ini."
Alex menatap cek itu lekat.
Dia kemudian memasukkan cek itu ke dalam sakunya dan pergi keluar dari kamarnya.
Alex kemudian kembali ke meja makan untuk menemui Doni. Namun Doni sudah tidak ada di meja makan.
"Ke mana Si Doni. Kenapa dia nggak ada di sini," ucap Alex.
Alex kemudian mencari Doni keluar. Ternyata benar kalau Doni sudah berada di teras depan.
"Don," ucap Alex
Doni menoleh ke arah Alex. Alex tahu kalau sejak tadi Doni menunggu bayaran darinya.
Alex mengambil cek dari dalam saku bajunya. Dia kemudian menyodorkan cek itu ke arah Doni.
"Ini, ambilah," ucap Alex.
Doni mengambil cek itu. Doni terkejut saat melihat nominal uangnya.
"Bos, kenapa anda memberikan saya Cek? apa nggak ada uang tunai bos?" tanya Doni.
"Nggak ada. Aku lagi nggak punya uang cash Don," ucap Alex.
"Ya udah Bos, nggak masalah. Yang penting anda mau membayar saya mahal. Terimakasih bos."
Alex mengangguk. Setelah mendapatkan cek, Doni pun kemudian pergi meninggalkan Alex. Doni masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Alex. Sementara Alex kembali masuk ke dalam rumahnya.
Alex berjalan ke ruang makan.
"Ratih..." seru Alex.
Ratih mendekat ke arah Alex.
"Iya Tuan."
"Aku mau ke kantor. Kamu nanti tolong, suapin mama aku. Karena dia belum makan."
Ratih terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Disuapin?"
"Iya. Kenapa? kamu takut? kalau kamu takut, biar saya suruh Mbak Mirna atau Lestari yang nyuapin."
__ADS_1
"Oh. Ngga Tuan. Aku nggak takut kok. Aku cuma mau tanya sama Tuan. Kemarin kan Tuan nyuruh aku pindah ke rumah Tuan Rajasa? jadi kapan aku mau dipindahkan ke sana?"
"Nggak jadi. Papa udah dapat orang baru. Lagian pembantu aku juga kurang. Dara aja nggak tahu, dia mau kerja di sini lagi atau nggak. Kalau kamu ada kenalan di kampung kamu, suruh aja dia datang ke sini. Karena aku lagi butuh orang."
"Tuan muda yakin lagi butuh pembantu baru? kalau gitu, aku punya kenalan banyak di kampung."
"Ya. Tapi harus yang masih gadis dan yang cantik seperti kamu."
"Apa! harus yang cantik. Tapi kenalan aku ibu-ibu semua dan sudah punya anak."
"Ya udah. Nggak usah! kamu beresin aja makanan ini. Aku mau langsung ke kantor. Dan jangan lupa, jagain ibu aku. Dan suapin dia kalau dia lapar. Terserahlah siapa yang mau nyuapin. Kamu Mbak Mirna atau Lestari."
"Iya Tuan."
Setelah berkata seperti itu, Alex pun pergi keluar dari rumahnya. Dia kemudian berjalan ke garasi mobilnya dan meluncur pergi dengan mobilnya.
****
Malam ini, Pak Rajasa masih duduk di sisi ranjangnya. Dia masih menatap kosong ke arah jendela kamarnya. Sementara sejak tadi Rita masih tampak memoles wajahnya dengan bedak.
"Mas, kamu kenapa diam aja? apa yang lagi kamu fikirkan?" tanya Rita sembari mengusap lipstik di bibirnya.
"Aku lagi kefikiran anak itu."
"Anak yang mana? Alex? untuk apa kamu mikirin Alex Mas? dia udah dewasa."
"Bukan Alex. Tapi Ica."
Rita terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa. Dia kemudian memutar tubuhnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.
"Ya."
"Untuk apa Mas mikirin anak itu?"
"Aku cuma prihatin saja sama kondisi rumahnya. Dia tinggal di komplek perumahan kumuh seperti itu, Rumahnya juga tampak kecil dan jelek. Andai aku bisa membantunya. Aku ingin membantunya Rit."
Rita bangkit dari duduknya.
"Membantu apa?" tanya Rita.
"Sepertinya Ica itu anak orang tak punya. Kemarin aku tidak sempat mampir dan masuk ke dalam. Andai nanti aku bagi-bagi sedekah, aku ingin ke rumah Ica lagi untuk memberikan dia sedekah."
"Sedekah sedekah sedekah terus yang Mas fikirin. Sekali-kali gitu Mas mikirin aku istri Mas. Sampai sekarang aja Mas belum mau membelikan aku mobil baru."
"Rita. Kamu kan sudah punya dua mobil. Untuk apa kamu membeli mobil baru lagi. Alex saja cuma punya satu mobil nggak masalah," ucap Pak Rajasa. Dia kadang bingung dengan Rita yang selalu banyak menuntut ini itu pada Pak Rajasa.
"Di sisa umurku, sebenarnya aku ingin berbuat baik kepada orang lain Rita. Aku ingin memberikan bantuan untuk anak-anak panti asuhan dan orang-orang miskin. Untuk tambah-tambah pahala di akhirat. Karena usia aku juga sudah tua. Dan aku ngga tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawaku."
Rita sebenarnya malas jika dia harus bicara dengan Pak Rajasa. Menurut Rita Pak Rajasa itu sudah terlalu baik terhadap orang-orang. Dan itu sangat tidak cocok dengan jalan fikiran Rita yang sampai sekarang saja masih ingin menguasai harta Pak Rajasa.
Rita ingin semua harta Pak Rajasa jatuh ke tangannya. Dan Rita saat ini sedang menjalankan misinya untuk mengeruk semua harta Pak Rajasa secara perlahan.
__ADS_1
Rita berjalan ke arah pintu.
"Mau ke mana Rita?"
"Aku mau keluar sebentar. Mau ambil minum Mas."
"Sekalian bawakan aku minum Rita. Aku juga haus."
"Iya."
Rita membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali. Setelah itu dia berjalan ke dapur untuk mengambil minum.
"Bik Lastri. Belum tidur?" tanya Rita pada Bik Lastri yang saat ini masih berada di dapur.
"Belum Non. Kerjaan bibi masih banyak."
"Kemana Mbak baru?"
"Dia sudah istirahat Non."
"Panggil dong, suruh dia bantuin bibik."
"Iya Non. Biarkan saja. Mungkin dia sudah capek."
Rita mengambil botol yang berisi air dingin yang ada di kulkas.
"Oh iya. Tuan Rajasa tadi ingin minum. Tolong ambilkan ya. Dan antar ke kamar."
"Mau minum apa Non?"
"Air putih biasa aja deh. Dia juga lagi batuk-batuk."
"Baik Non."
Rita berjalan ke ruang tengah. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Sementara Bik Lastri pergi menuang air minum ke dalam gelas besar untuk Pak Rajasa dan mengantar minuman itu ke kamar Pak Rajasa.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari kamar Pak Rajasa terdengar.
"Siapa?"
"Ini saya Lastri Tuan."
Pak Rajasa bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan untuk menemui Lastri.
"Kenapa kamu yang bawain minum Las? ke mana istri ku?"
"Non Rita lagi nonton tivi di ruang tengah tadi Tuan. Dia nyuruh saya yang ambilkan minum untuk Tuan."
"Kebiasaan banget dia seperti itu. Makasih ya Lastri. Taruh di meja saja."
__ADS_1
"Iya Tuan."
Bik Lastri masuk ke dalam kamar Pak Rajasa dan meletakan segelas air putih itu di atas meja.